Pentingnya Pembaruan Islam - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
26/02/2006

Pentingnya Pembaruan Islam

Oleh Luthfi Assyaukanie

Dalam Islam sendiri, pembaruan bukanlah sesuatu yang baru dan sama sekali bukanlah agenda yang diciptakan oleh Amerika. Ia sudah ada sekurangnya sejak abad ke-19, ketika para pembaru Islam seperti Jamal al-Din al-Afghani (w. 1897) dan Muhammad Abduh (w. 1905) memulai gerakan ini di Mesir. Pada saat itu, agenda utama Reformasi Islam adalah membebaskan kaum mslim dari pemahaman agama yang sempit dan kaku.

Salah satu imbas positif dari peristiwa pengeboman gedung WTC (9/11) adalah munculnya wacana tentang Reformasi atau Pembaruan Islam. Wacana ini sesungguhnya bukanlah baru, karena para sarjana sudah sejak lama mendiskusikannya. Yang baru adalah bahwa wacana ini kini dibicarakan secara luas, tak hanya oleh kalangan akademis saja, tapi juga oleh media massa, politisi, dan para pengambil keputusan di negara-negara Barat.

Thomas L. Friedman, kolumnis terkenal asal Amerika, misalnya, menulis sebuah artikel menarik di New York Times, berjudul “An Islamic Reformation” (4/12/02). Menurutnya, pembaruan Islam adalah sebuah keharusan bagi kaum muslim sekarang ini, karena perang terhadap terorisme dan radikalisme akan percuma tanpa diikuti perbaikan dari dalam kaum muslim sendiri.

Baginya, Amerika “bisa membunuh Osama bin Laden dan para pengikutnya, tapi yang lain akan muncul menggantikannya. Satu-satunya yang bisa memerangi akar kekerasan itu adalah kaum muslim sendiri. Dan itu hanya mungkin terjadi jika mereka sendiri yang memperjuangkan demokrasi dan pembaruan agama.”

Dalam Islam sendiri, pembaruan bukanlah sesuatu yang baru dan sama sekali bukanlah agenda yang diciptakan oleh Amerika. Ia sudah ada sekurangnya sejak abad ke-19, ketika para pembaru Islam seperti Jamal al-Din al-Afghani (w. 1897) dan Muhammad Abduh (w. 1905) memulai gerakan ini di Mesir. Pada saat itu, agenda utama Reformasi Islam adalah membebaskan kaum mslim dari pemahaman agama yang sempit dan kaku.

Sejak abad ke-15, secara intelektual kaum muslim mengalami kemunduran serius. Berbeda secara diametris dengan orang-orang Eropa yang memulai masa kebangkitan dan pencerahan, kaum muslim sejak abad itu memulai tidur panjang dalam keterbelakangan dan kebodohan. Beberapa kerajaan Islam yang muncul selama masa ini -seperti Usmaniyah di Turki dan Moghul di India- hanya mampu memproduksi alat-alat perang dan sedikit seni arsitektur. Tidak ada pencapaian intelektual yang berarti selama periode itu.

Para pembaru Islam menyadari akan kondisi tersebut, dan atas dasar itulah mereka memulai gerakan pembaruan Islam, sebuah agenda yang sampai kini masih terus berlanjut. Di Indonesia, gerakan Pembaruan Islam dimulai dari Minangkabau, Sumatra Barat, oleh para tokoh pembaru agama seperti Abdullah Ahmad (w. 1933), Muhammad Djamil Djambek (w. 1947), dan Hadji Rasul (w. 1945). Gerakan ini kemudian diteruskan oleh para tokoh pembaru Islam di pulau Jawa, seperti K.H. Ahmad Dahlan (w. 1923), H.O.S. Tjokroaminoto (w. 1934), dan Hadji Agus Salim (w. 1954).

Setelah kemerdekaan, agenda pembaruan Islam diteruskan oleh para intelektual muslim liberal semacam Nurcholish Madjid, K.H. Abdurrahman Wahid, M. Dawam Rahardjo, dan M. Syafii Maarif. Tokoh-tokoh ini adalah para reformis sejati yang menyadari pentingnya pembaruan dilakukan dalam tubuh umat Islam.

Organisasi besar Islam seperti Muhammadiyah dan NU ketika dipegang oleh para tokoh pembaru itu, memainkan peran yang sangat besar dalam melakukan pencerahan kepada umat Islam. Sayangnya, setelah para tokoh reformis itu tak lagi berkiprah, organisasi-organisasi itu kini menjadi mandek, bahkan cenderung menjadi puritan dan anti terhadap reformasi keagamaan.

Kaum muslim harus tetap menjalankan agenda Reformasi Islam, untuk kebaikan diri mereka sendiri. Bahwa agenda itu kemudian mendapat dukungan dari Amerika dan negara-negara Barat, ini bukanlah sesuatu yang harus ditolak dan dicemooh, tapi justru harus disyukuri dan disambut baik. Para pembaru Islam memiliki kesamaan pandangan dengan negara-negara Barat karena mereka memang memiliki landasan berpikir yang sama, yakni tentang kemajuan, persamaan, toleransi, dan penghormatan kepada hak-hak dasar manusia.

Jika selama ini kita berbicara tentang dialog dan kerjasama dengan Barat, maka inilah saat yang tepat untuk melakukan dialog dan kerjasama itu. Negara-negara Barat memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi kejumudan, keterbelakangan, dan fanatisme agama. Sudah sewajarnya kaum Muslim belajar dari pengalaman mereka.

Musuh bersama umat beragama saat ini adalah otoritarianisme penafsiran terhadap ajaran-ajaran agama. Lembaga-lembaga agama yang otoriter, yang merasa benar sendiri, adalah musuh bagi kebebasan beragama. Kekerasan agama tidak dimulai dari Osama bin Laden atau Dr. Azahari, tapi dari ajaran-ajaran intoleran yang bibit-bibitnya disemai oleh para otoritas agama yang otoriter.

Pada akhirnya, semuanya terpulang kepada kaum muslim sendiri, apakah mereka tetap ingin memelihara pemikiran-pemikiran sempit yang berujung pada kekerasan agama dan terorisme, ataukah mereka ingin melanjutkan pembaruan Islam, sebuah agenda luhur yang telah disemai sejak abad ke-19. []

26/02/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Pembaharuan Islam sudah diatur oleh hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw. dan hujjah Kitab Suci-Nya:

1. Al Baqarah (2) ayat 148: Tiap-tiap kiblat umat beragama (aqidahnya, syariatnya, ritualnya, tempat ibadahnta dll.), PASTI Allah akan mengumpulkan.

2. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Allah akan menurunkan penggenapan Hari Takwil Kebenaran Kitab (Persepsi Tunggal Agama atau Tafsir ahad yang akan menggugurkan multi tafsir kitab suci.

3. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Dengan Hari Takwil Kebenaran Kitab akan memunculkan Hari Kebangkitan Semua Manusia oleh Ilmu Pengetahuan Agama Persepsi Tunggal untuk semuannya.

4. Al Maidah (5) ayat 67, Al An Aam (6) ayat 124,125 (oleh Allah), Al A’raaf (7) ayat 62,60 (oleh Nuh), 68,66 (oleh Hud), 79,77 (oleh Saleh), 93,88 (oleh Syuaib), 144,145,109 (oleh Musa), Al Ahzab (33) ayat 38,39,40 (oleh Muhammad), Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28 (oleh rasul yang dirido’i): Ilmu Pengetahuan Persepsi Tunggal Agama yang sama dan sebangun dibawa oleh para rasul/nabi sejak Adam samapai kiamat.

Wujudnya: Buku Panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Bonus lampiran:
“SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Penerbit: GOD-A CENTRE

Tersedia ditoko buku P.T. BUKU KITA
Telp. 78881850
Fax.  78881860

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi

Posted by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  on  10/17  at  04:58 PM

Assalamualaikum.

Karena dalam forum ini adalah mengupas tentang Islam, maka sangat teramat salah jika dikatakan bahwa pembaharuan baru saja terjadi pada akhir-akhir ini. Bukankah datangnya suatu agama itu sendiri adalah suatu pembaharuan. Yang tepat menurut saya adalah bukannya pembaharuan Islam, tetapi PEMBAHARUAN PEMIKIRAN FILSAFAT ISLAM.

Karena jika kita memperbaharui Islam dengan dalil apapun, hal tersebut adalah suatu pelangkahan akan kekuasaan dan kesempurnaan Tuhan YME. Jika kita ingin menyalahkan keadaan umat saat ini adalah dengan merekonstruksi ulang pemahaman-pemahaman mengenai hasil-hasil pemikiran filsuf-filsuf Islam pada zaman dahulu.

Islam tetaplah Islam, yang kita butuhkan adalah sudut pandang baru bukan Islam yang baru.

Wassalam.
-----

Posted by Syaifur Rizal  on  03/03  at  11:04 PM

Ass.. Tulisan saudara luthfi yang mencoba mengangkat sejarah kecil dari sejarah panjang yang pada awalnya tak terukur oleh alat ukur dan tak terhitung oleh alat hitung manapun,mengenai perjalanan umat islam yang sebenarnya. Hanyalah sedikit gambaran titik point dari ribuan, jutaan dan bahkan tak terhingga mengenai pembaharuan islam. Sebenarnya saya melihat kata “pembaruan” dilihat dari sudut pandang volume balok (satu bagian volume ruang dari pembalajaran ilmu matematika) terlalu panjang untuk dijangkau, terlalu lebar untuk diraih, dan terlalu tinggi untuk dilompati.

Saran saya sebagai orang biasa, pergunakanlah kata yang tepat dan bisa dicerna oleh semua lapisan. Salah satu contohnya--mungkin--adalah “berubah untuk menjadi lebih baik, walapun pada dasarnya ISLAM adalah baik, namun orang-orangnya yang harusnya lebih baik’

Mengenai isi tulisan tersebut, alangkah indahnya jika setiap orang yang berKTP islam (termasuk saya) atau bahkan orang yang tidak berKTP non islam mencoba menyadari dirinya tntang memperbaiki diri.

Sepengetahuan saya salah satu ajaran Islam yang dibawa oleh Rasululullah “Nabi MUhammad Saw’. Cara yang tepat memperbaiki sesuatu hal adalah mulai dari dirimu sendiri!

Wallahu A’’lam…

Maaf jika ada unsur menggurui,

Wass..

Posted by ghufo  on  03/01  at  08:03 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq