Perkawinan Ini adalah Langkah “Eksperimentasi” Saya - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
22/06/2003

“Kesaksian” Pasutri Islam dan Konghucu
Ahmad Nurcholish dan Ang Mei Yong
Perkawinan Ini adalah Langkah “Eksperimentasi” Saya

Oleh Redaksi

Persoalan di atas bermula dari perkawinan Nurcholish (27 tahun) dengan Mei (24 tahun) dua pekan lalu. Perkawinan tersebut dilakukan dalam “dua metode.” Ijab kabul secara Islam dengan mas kawin 8,8 gram emas dilakukan di Islamic Study Center Paramadina, Jaksel. Dr. Kautsar Azhari Noer bertindak sebagai wali Mei sekaligus yang menikahkan kedua mempelai secara Islam, sedangkan Ulil Abshar-Abdalla sebagai saksi. Sementara, perestuan secara Konghucu dilakukan di ruangan lithan Sekretariat Matakin di Sunter Jakarta Utara.

Ahmad Nurcholish mungkin sudah menduga bahwa perkawinannya dengan Ang Mei Yong, seorang perempuan Konghucu akan memantik reaksi keras dari pengelola Masjid Al-Azhar, Jakarta. Bagaimanapun aktivitas Nurcholish selama ini sebagai pengurus teras di Youth Islamic Studi Club (YISC) Al-Azhar jelas memancing keberatan dari pihak masjid bilamana Nurcholish bersikukuh menikahi Ang Mei Yong, pemudi Konghucu. Sebab, seperti dikatakan Heru Widiyanto, Ketua Umum YISC, “Misi dakwah YISC tak bisa melawan mainstream pemikiran yang ada di masyarakat” (Majalah Gatra, 21 Juni 2003, h. 18-19). Pekan lalu Nurcholish mengajukan surat pengunduran dari kepengurusan YISC, untuk mengindari kontroversi lebih jauh.

Persoalan di atas bermula  dari perkawinan Nurcholish (27 tahun) dengan Mei (24 tahun) dua pekan lalu. Perkawinan tersebut dilakukan dalam “dua metode.” Ijab kabul secara Islam dengan mas kawin 8,8 gram emas dilakukan di Islamic Study Center Paramadina, Jaksel. Dr. Kautsar Azhari Noer bertindak sebagai wali Mei sekaligus yang menikahkan kedua mempelai secara Islam, sedangkan Ulil Abshar-Abdalla sebagai saksi. Sementara, perestuan secara Konghucu dilakukan di ruangan lithan Sekretariat Matakin  di Sunter Jakarta Utara.

Demikianlah, perkawinan Nurcholish dan Mei telah digelar. Nurcholish yang pernah nyantri di Pesantren al-Faqih dan putra dari guru agama di sebuah desa di Grobogan ini memberikan “kesaksian” pada Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL). Ahmad Nurcholish datang ditemani sang istri tercinta, Ang Mei Yong. Wawancara berlangsung pada Kamis, 19 Juni 2003:

ULIL ABSHAR ABDALLA: Mas Nurcholish, Anda memutuskan untuk menikah dengan perempuan Konghucu. Apakah Anda yakin pernikahan Anda dengan Ang Mei Yong sah menurut agama Anda?

 
AHMAD NURCHOLISH (AN): Ya, pertama-tama saya berangkat dari asumsi bahwa pernikahan saya sah. Secara teologis, paling tidak menurut apa yang saya pelajari, pernikahan beda agama (PBA) antara laki-laki muslim dengan perempuan nonmuslim sah menurut Islam (larangan yang ada hanya atas orang musyrik. Lihat Alquran surat al-Baqarah ayat 221, Red).

Yang kedua, saya ingin menguji kebenaran asumsi yang berkembang di masyarakat yang mengatakan bahwa PBA akan memunculkan banyak konflik atau ditengarai rentan perceraian. Jadi, boleh dikatakan bahwa pernikahan ini merupakan sebuah “eksperimentasi” yang ingin saya buktikan sendiri.

ULIL: Anda berani bereksperimentasi dengan persoalan serius dan sesakral ini?

AN: Ya, sebelum ini saya pernah menjalin hubungan dengan penganut Katolik dan Protestan, tapi nyatanya tidak pernah berani hingga ke pelaminan. Jadi, ini kali yang ketiga saya menjalin hubungan dengan perempuan beda agama. Bahkan hubungan kami ini berlanjut hingga ke tahap yang lebih serius, yakni pernikahan.

ULIL: Mbak Mei, adakah konflik batin dalam diri Anda ketika memutuskan menikah dengan pemuda muslim?

ANG MEI YONG (AMY): Awalnya saya merasakan konflik batin, apalagi saya boleh dikatakan sebagai “korban eksperimentasi” suami saya ha..ha..ha..Tapi belakangan ini, saya sadar bahwa perkawinan ini memang wajar saja. Bukan hal yang perlu dikatakan haram atau apapun. Terlebih lagi, ada kakak kandung saya yang melakukan pernikahan beda agama. Secara otomatis, pernikahan beda agama ini bukan sesuatu yang baru dalam “tradisi” keluarga.

ULIL: Dalam pandangan Konghucu, apakah pernikahan Anda sah?

AMY: Sah. Setahu saya, hanya ada  satu ayat dari kitab suci Konghucu yang mengatakan bahwa “pernikahan itu harus dilakukan dengan orang yang berbeda marga.” Ajaran Konghucu, setahu saya, tidak banyak membahas tentang hal-hal yang berkenaan dengan pandangan agama mengenai perkawinan.

ULIL: Hukum fikih yang konvensional membolehkan laki-laki muslim menikahi perempuan nonmuslim dari golongan ahli kitab. Tapi Mas Nurcholish, Anda menikah dengan perempuan dari agama Konghucu. Apa Anda menganggap Konghucu sebagai ahli kitab?

AN: Kalau kita melihat beberapa tafsir, kebanyakan ahli tafsir memang membatasi ahli kitab hanya bagi penganut Yahudi dan Nasrani. Lebih dari itu, pembatasan itu pun lebih ketat lagi: yaitu pada Yahudi dan Nasrani yang hidup di zaman Nabi Muhammad saja. Saya kemudian bertanya, kalau itu hanya berlaku pada zaman Nabi saja, bukankah Yahudi dan Nasrani yang hidup di zaman Nabi itu sama saja dengan yang zaman sekarang? Kalau asumsinya, kitab suci Yahudi dan Nasrani telah terjadi tahrif (penyimpangan), bukankah tahrif telah terjadi pada zaman Nabi juga, bahkan sebelum Nabi Muhammad?

Lalu saya berpegang pada penafsiran yang mengatakan bahwa, siapapun yang percaya kepada Tuhan dan mempunyai kitab suci sebagai pegangan mereka dalam beragama, maka mereka masuk dalam kategori ahli kitab. Jadi, saya kira persoalan ini terpulang pada keyakinan masing-masing. Dan saya yakin, Konghucu juga ahli kitab.

ULIL: Pernikahan beda agama ini sampai sekarang masih disaput kontroversi di tengah masyarakat. Mas Nurcholish, bagaimana Anda menanggulangi kontroversi ini?

AN: Sebenarnya, jauh-jauh hari sebelum kami memutuskan untuk menikah, kami sudah mengkalkulasi sampai sejauh mana kira-kira respons dan reaksi yang bakal muncul. Tentu banyak orang yang menentang atau bertanya-tanya; apakah perkawinan beda agama ini dibolehkan atau tidak, secara teologis. Itu memang jauh-jauh hari sudah kita prediksi. Nah, saat sekarang muncul kontroversi, kita sebetulnya sudah menyiapkan diri kita masing-masing, paling tidak secara psikologis.

ULIL: Di kalangan Konghucu sendiri, apakah ada penolakan Mey?

AMY: Secara tegasnya saya belum pernah dengar. Dalam beberapa bulan ini saya tidak lagi berhubungan dengan orang-orang Konghucu. Bulan Mei awal kemarin, saya sudah mengundurkan diri dari Gemaku Matakin (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia). Salah satu alasan saya, karena mau menikah dengan seorang muslim.

ULIL: Mas Nurcholish, banyak yang terlalu yakin, bahkan tanpa studi sekalipun, bahwa mereka yang melakoni pernikahan beda agama tak akan pernah mengecap bahagia. Tanggapan Anda?

AN: Pertanyaannya adalah: apakah kebahagiaan itu melulu hadir karena faktor kesamaan agama? Saya pikir, banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kebahagiaan kita, dan itu tidak melulu masalah agama semata. Kalau kita lihat, banyak juga orang yang menikah seagama, tapi tidak merasakan bahagia. Saya kira, masalah kesamaan agama tidak secara langsung terkait dengan kebahagiaan dalam berumah tangga.

ULIL: Mbak Mei, ketika nanti punya anak, apa anak-anak Anda akan diberi kebebasan untuk memilih agamanya sendiri?

AMN: Saya pribadi, sebetulnya lebih senang kalau anak saya tidak perlu diajarkan “agama”. Sebab, yang saya lihat selama ini, agama justru sering memecah-belah persaudaraan kita. Banyak orang yang selalu mengatasnamakan agama untuk perdamaian dan segala macam niat baik, nyatanya itu semua omong kosong belaka. Bahkan, agama seringkali dipakai untuk menjustifikasi pertumpahan darah dan membunuh sesama manusia.

ULIL: Bagaimana pendapat Anda, Mas Nurcholish?

AN: Bagi saya, anak, seperti yang dikatakan Kahlil Gibran, bukan milik siapa-siapa. Anak milik diri mereka sendiri. Jadi, anak sebetulnya bukan milik orang tua juga. Nah, bagi saya, peran kita hanya sebatas bagaimana mengajarkan mereka supaya menempuh jalan yang benar, tidak menyimpang, dan secara sosial juga tidak merugikan orang lain. Yang memutuskan soal agama, biarlah anak saya sendiri.

22/06/2003 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (34)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

apabila seorang muslim menikah dengan wanita non muslim. maka setiap persetubuhan yang mereka lakukan adalah bernilai perzinahan....! lebih baik menikahi seorang budak yang hitam, jelek kumal tapi dia muslim dari pada wanita bangsawan yang cantik lagi kaya tapi dia kafir.....! kafir di sini saya artikan orang yang tidak mempercaya Allah swt. sadar anda bung.....! dunia ini dah mau Game Over anda malah membuat asumsi yang enggak-enggak.....!

Posted by ilham  on  04/17  at  04:42 PM

mas nurcholis dan istri

saya salut dengan kemantapan hati Anda berdua dan perjuangan Anda
saya sendiri sedang berjuang untuk hal yang sama dengan Anda
ternyata memang kita tidak sendiri yang mengalami ini

hanya terkadang saya miris melihat komentar orang orang yang memaki atau menghujat perkawinan beda agama
Bukankah cinta itu tidak memilih?
Bukankah apa yang kita alami sudah dituliskan sejak kita lahir dan sekarang saatnya kita berjuang untuk menjalani itu.

Saya mengalami sendiri
Tanpa dihujat dan dimaki dan diceramahi tentang kebenaran agama masing - masing
para pelaku perkawinan beda agama sudah mengalami konflik batin sendiri untuk menjalani hubungan ini

kalau muncul pertanyaan
“kalau sudah tau salah kenapa tetap dilakoni??”

salahkah kalau diumpankan pertanyaan kembali
“ anda hanya melihat, tidak ikut merasakan “

Bukan begitu??
memang mulut itu lebih mudah berbicara dan menghujat
tapi ketika mengalami sendiri sudah kabur duluan

saya salut sekali dengan anda
Perbedaan itu indah
Tuhan menciptakan segala perbedaan untuk saling melengkapi
manusia diberi akal budi seharusnya bisa berpikir tentang kenyataan itu
bukannya malah menenggelamkan otaknya pada wacana yang keliru yang menurut pandangannya sendiri

hanya satu kalmat penutup saya

“SEMUA AGAMA ITU BAIK ADANYA “

Posted by cupido_angelo  on  10/10  at  11:07 PM

membaca artikel ini merangsang stimulus ke"subjektif"an saya untuk berbagi cerita mengenai pengalaman pribadi saya sampai pada terbentuknya pemahaman baru yang moga-moga terlihat cukup objektif dan universal untuk dapat dipahami secara inklusif.

saya adalah seorang WNI “minoritas” berketurunan etnis Tionghoa yang kebetulan juga terlahir sebagai insan ber"Tuhan" yang memilih doktrin Trinitas dikarenakan keberadaan tradisi iman dalam keluarga saya. saya adalah seorang penganut Katolik Roma.

pada perjalanannya identitas iman yang saya miliki ternyata tidak berhasil membelenggu saya untuk berhenti menemui realita, ide-ide ataupun pengalaman batin yang memaksa saya untuk berani bergerak maju dari posisi identitas keimanan yang saya miliki.  banyak posisi-posisi keimanan baru yang mengajak saya untuk terus berpikir dan berperilaku dinamis diluar dari batasan-bataasan aturan agama yang saya miliki.  saya sempat menjadi seorang penganut paham Kristiani yang fanatik, bahkan saya sempat berpikir untuk menyebrang kepada agama Islam yang menawarkan konsep Tauhid absolut dari apa yang saya tangkap, saya juga sempat aktif dalam diskusi paham marxisme-leninisme, bahkan saya juga aktif dalam keanggotaan organisasi pemuda yang dianggap kiri oleh pandangan orang awam (saya sempat menjadi koordinator Litbang Aldera Bandung ketika masih menjadi seorang mahasiswa), dan setelah itu saya sempat menjadi seorang simpatisan ajaran “new age” nya anand krishna, seorang tokoh lintas agama yang buku2 nya banyak dilarang peredarannya.

itulah sekelumit perjalanan hidup saya yang mungkin hanyalah sebuah kepingan kecil dari begitu rumitnya proses pencarian dan pengenalan kita terhadap sang “Khalik” yang tidak akan pernah dapat dicapai oleh keterbatasan materi yang dimiliki oleh tubuh kita.  akan tetapi itu adalah KENYATAAN, banyak realita-realita lain dalam setiap detik perjalanan hidup saya yang membuat saya untuk terus bersikap skeptis dengan apa yang saya miliki.

termasuk dengan apa yang saya alami saat ini dalam permasalahan “pacaran beda-agama” yang mungkin akan berlanjut pada tahap yang lebih serius.

saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita yang kebetulan terlahir sebagai muslimah dan ber suku Sunda-Jawa alias pribumi.

mungkin adalah kebodohan “otak"saya untuk tidak berpikir bagaimana pandangan kami mengenai Tuhan adalah berbeda secara doktrinal, mungkin adalah kebodohan “intelektualitas” saya untuk tidak mengerti mengenai adanya ayat-ayat dari kitab suci yang melarang adanya kawin beda agama, mungkin juga adalah kebodohan “tafsir” saya untuk tidak mengerti bahwa saya adalah seorang “kafir” dipandangan beberapa orang, dan mungkin adalah kebodohan saya sebagai WNI yang tidak terlebih dahulu melihat identitas keagamaan saya dalam KTP (Kartu Tanda Penduduk) sebelum memutuskan untuk mencintai seseorang....

tapi MAAF, sekali lagi beribu maaf...kalau saya tidak pernah bisa memahami Hati Nurani, Perasaan, dan Jiwa Saya yang secara mendadak mendorong bahkan mencelakakan saya untuk mencintai seseorang muslimah yang “tidak staraf” bagi saya secara akidah.  saya tidak punya cukup kekuatan untuk memahami dan bahkan melawannya.

secara akademisi mungkin saya siap untuk berdebat mengenai keuniversalan dari paham setiap agama yang ada di dunia ini baik secara tekstual maupun secara logika dan filsafat. akan tetapi kadangkala hal-hal tersebut tidak lagi menjadi penting ketika berhala-berhala doktrin atapun penafsiran seseorang telah menjadi “Tuan’ yang di “Tuhankan” diatas nilai-nilai kemanusiaan yang dapat kita temui sehari-hari.

jadi saya tidak mau berdebat secara intelektual disini, walaupun saya akan menerima semua undangan untuk berdikusi mengenai pandangan keagamaan yang saya imanai kepada semua pembaca yang kebetulan membaca tulisan saya....

akhir kata seiring dengan pengalaman saya dalam menjalin hubungan orang yang berbeda agama, saya mungkin hanya dapat berkata “Mungkin Saya adalah seorang kafir, mungkin saya adalah seorang calon penghuni neraka..., tetapi adalah jaminan dari saya untuk tidak berbuat layaknya seorang penghuni neraka terhadap orang-orang yang saya cintai dan sayangi...berilah sedikit kesempatan itu sebelum neraka itu mendatangi saya....”

WASSALAM Salam Sejahtera Tuhan Memberkati
-----

Posted by yunarto wijaya  on  01/12  at  04:02 AM

Membaca artikel ini seperti menguatkan diri saya yang sedang mengalami situasi yang mungkin agak sama. Saya sendiri seorang muslim yang menurut diri saya sendiri moderat dan berusaha untuk bersikap universal. Saat saya masih kecil saya sempat “mencicipi” rasanya berada di agama lain (dalam hal ini katolik) karena faktor pendidikan formal. Namun ketika saya beranjak dewasa, maha suci Allah yang memberi jalan bagi saya untuk bisa mengenyam kembali Islam dan saya menjadi lebih “berpegangan” kepada Islam sebagai agama saya. Point penting yang dapat saya ambil dari pengalaman hidup ini, saya berusaha untuk menjadi lebih terbuka, fair, dan moderat ketika saya dihadapkan pada masalah beda. Saya menyadari bahwa tidak ada manusia yang tahu dalam kondisi /kultur / lingkungan seperti apa nantinya dia dilahirkan didunia, padahal faktor - faktor itulah yang berperan penting dalam pemilihan/ putusan untuk manusia itu sendiri untuk beragama (walaupun pilihan / keputusan itu sendiri tidak selalu berada ditangannya sendiri). Saya jatuh cinta pada seorang wanita yang kebetulan terbentuk di keluarga katolik. Saya menghormati, menghargainya, menyayanginya sebagai seorang wanita, di dalam pikiran saya timbul pertentangan untuk tetap menjalani perasaan cinta saya dengannya atau tidak, diantara banyak beda yang saya pahami (wanita ini seorang katolik yang berusia diatas saya dan dari ras keturunan cina) mengundang banyak kontra dilingkungan dimana hubungan cinta ini kami jalin. Jauh didalam lubuk hati saya, wanita ini tidak bersalah untuk tercipta di lingkungan katolik, dan saya juga memiliki keinginan untuk membawanya ke Islam tanpa ada paksaan / intimidasi kepadanya. Saya berusaha untuk menunggu kesediaannya / adanya pencerahan agar wanita yang saya cintai bisa bersama - sama dengan saya untuk berpegang pada Islam. Bukankah manusia diciptakan untuk berpasang - pasangan ? Jika pasangan yang tercipta untuknya ternyata dalam kondisi yang sulit untuk dinikahi, maka apakah saya wajib untuk menikah dengan seseorang? Diluar faktor materi dan kesiapan finansial, tetapi jauh dalam hati saya, saya tidak dapat menikah dengan orang yang bukan saya cintai (saya anggap ini pembenaran bahwa saya tidak siap secara mental) Yang saya takutkan adalah ketika wanita yang saya cintai memutuskan untuk berpegang pada Islam dan “tercabut” dari keluarga / lingkungannya, kami tidak memiliki lingkungan yang support kepada hubungan kami. Dan mungkin juga jika ternyata cerita tentang hubungan ini tidak berakhir dengan kesamaan agama. Maka alternatif lain yang mungkin saya ambil adalah dengan menikah diluar negeri dimana secara hukum kami diakui sah dan saya juga memiliki pemahaman bahwasanya tidaklah haram bagi seorang muslim laki - laki untuk menikah wanita non muslim. Ini jika waktu bagi kami untuk saling “berkompromi” tidak lagi ada dan kebutuhan untuk menikah tidak dapat lagi kami elakkan. Saya tidak takut untuk mempertaruhkan segala sesuatu yang dianggap ideal bagi kebanyakan orang. Mungkin juga ini dapat dikatakan meng-eksperimen kan perkawinan demi memperjuangkan apa yang saya yakini baik. (berusaha untuk memberikan pencerahan / Islam pada wanita yang saya cintai dan kebetulan terlahir sebagai seorang katolik karena keluarga dan lingkungan dimana dia lahir!)

Posted by andriyanto  on  10/09  at  05:10 PM

Mas Nur,

Pilihlah istri karena cantiknya, hartanya, keturunanya, dan karena agamanya. Yang paling baik dari keempat itu karena agamanya, bukan karena eksperimennya. Itu nda ada, lho!

Lha, kala sudah salah pilih, ya kalau mau masih dipakai ya silahkan, tapi nggak enak, tho? Lebih baik dibuang saja.

Pilih lagi yang benar. Wong milih boleh berkali-kali kok, seperti milih di ujian sekolah.

Kalau pilihannya tidak benar akan dikoreksi, dicocokan, dibetulkan.

Abu Ilyas Tambun

Abu Ilyas

Posted by abu ilyas  on  10/09  at  04:10 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq