Perlu Wawasan Misiologis Baru dalam Kristen - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara,
23/01/2005

Pdt. Ioanes Rakhmat: Perlu Wawasan Misiologis Baru dalam Kristen

Oleh Redaksi

Menyikapi kontroversi World Help yang dikabarkan telah membawa 300 anak-anak korban Tsunami di Aceh, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menggelar konferensi pers dengan menyatakan bahwa jika kabar World Help yang bermarkas di Virginia, Amerika itu benar adanya, maka cara-cara seperti itu telah melawan semangat Kekristenan itu sendiri. Berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Pdt. Ioannes Rakhmat tentang topik ini:

Menyikapi kontroversi World Help yang dikabarkan telah membawa 300 anak-anak korban Tsunami di Aceh, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menggelar konferensi pers dengan menyatakan bahwa jika kabar World Help yang bermarkas di Virginia, Amerika itu benar adanya, maka cara-cara seperti itu telah melawan semangat Kekristenan itu sendiri. Pengabaran Injil yang distimulasi dengan diakoni bukan hanya menurunkan derajat pelakunya, tapi juga menciptkan mentalitas keberagamaan yang rendah karena dimotivasi iming-iming material. Berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Pdt. Ioanes Rakhmat, staf pengajar Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta dan ahli tentang “Yesus Sejarah” pada 20 Januari 2005 di Jakarta:

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Secara umum, bagaimana tanggapan balik dari kalangan Kristen terhadap isu kristenisasi?

PDT. IOANES RAKHMAT: Kita bisa mulai dari arti kristenisasi itu sendiri, yakni mengkristenkan, atau membuat orang yang belum Kristen menjadi Kristen. Dalam level kehidupan spiritual individual, memang setiap orang Kristen yang telah menjadi pengikut Yesus Kristus, yang telah dibaptis dan resmi menjadi pengikut gereja, diwarisi oleh semangat dari kitab suci, untuk menjadikan segala bangsa menjadi murid Yesus. Dia diminta untuk mengabarkan Injil.

UAA: Jadi kristenisasi merupakan kewajiban dan tugas keagamaan?

IR: Ada teks literer dalam kitab suci yang menstimulasi ke arah situ dan ada kalangan tertentu yang mengeksploitir teks-teks seperti ini. Pendek kata, ada basis kitab sucinya dalam gerakan kristenisasi. Dalam hal ini, sebetulnya juga sama dengan Islam, ada islamisasi, ada panggilan yang berbasis kitab suci yang menyeru orang Islam agar menyebarkan agama Islam.

Setiap agama itu misioner, dan didorong untuk mengabarkan apa yang diyakininya itu kepada orang lain. Dalam level individual, keinginan untuk mendakwahkann imannya kepada orang lain itu, mungkin tidak bisa dicegah. Saya merasakan kehadiran Tuhan yang seperti ini, kemudian saya teruskan kepada orang lain, supaya mereka mengalami hal yang sama seperti yang saya alami.

UAA: Sejak kapan istilah kristenisasi ini muncul? Apakah ada kaitannya dengan motif politik?

IR: Istilah itu muncul pada pengabaran Injil. Ada Komisi VI tentang pengabaran Injil atau evangelisasi. Pengabaran injil juga bertujuan agar seseorang menjadi pengikut Yesus Kristus, masuk dalam persekutuan gerejanya. Dari sudut kata, pengabaran Injil dan kristenisasi itu memiliki isi yang sama. Mungkin ada yang berbeda pendapat dengan saya karena kristenisasi itu dianggap dimotivasi oleh materi untuk memperbesar pengikut yang dipakai adalah istilah pengabaran Injil. Tapi dalam praktiknya, ujung-ujungnya dengan hasil yang sama.

Soal motif politik, setiap tindakan mendakwahkan agama orang lain yang berujung pada kuantifikasi pengikut, pada akhirnya akan menyentuh masalah politik. Akhirnya pertobatan masal itu yang terjadi. Kalau pertobatan itu terjadi secara individual mungkin tidak menjadi masalah. Tetapi ketika itu menjadi gerakan massif dan terprogram, di situlah terjadi masalah.

UAA: Kadang metode kristenisasi yang kerap dituduh tidak fair. Misalnya melalui bantuan material.

IR: Nah, di situ akar masalahnya. Kalau dikaitkan dengan iming-iming atau janji-janji material tertentu, yang dalam istilah gereja disebut bantuan diakoni, bantuan pelayanan berupa kebutuhan sehari-hari, beasiswa, pengasuhan anak-anak dipanti asuhan dsb, itu baru persoalan.

Di dalam kitab suci, selain ada mandat untuk mengkristenkan, ada juga mandat-mandat lain, misalnya mandat untuk mengasihi sesama manusia tanpa pamrih. Nah kalau kita sorot dari sudut ini, maka memberi bantuan-bantuan tanpa pamrih pun, itu termasuk misi Kristen. Misi menjalani hidup seperti yang Yesus jalani dulu. Jadi tanpa perlu embel-embel orang menjadi Kristen,  pelayanan-pelayanan kemanusiaan bisa dijalankan tanpa hambatan.

Tapi masalahnya, hidup dalam interaksi internasional itu tidak bisa dicegah. Ada kelompok-kelompok di luar negeri yang dahulu “operasi” pengabaran Injil hanya terjadi di lingkungan mereka sendiri, karena dorongan sekularisasi di “rumah tangga” mereka begitu kuat, maka gerakan misionaris ini dialihkan jauh ke negeri-negeri lain.

UAA: Tentu semua agama ingin menyebarkan ajarannya. Masalahnya, bagaimana kalau misi-misi ini saling bertabrakan satu sama lain?

IR: Dalam masyarakat majemuk, di mana agama para pengikutnya belum mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi, tapi masih pada tahap awal menjadi Kristen atau muslim, dengan adanya dorongan yang sangat kuat untuk mengagamakan, memang akan timbul masalah, dan karena itu, harus diatur.

Sejauh aturan tersebut bukan menyangkut kehidupan spiritual-individual, saya kira, tak masalah. Gerakan misionaris yang punya program sistematis, jangka panjang, dan punya sebuah jaringan dan dukungan internasional, seharusnya diatur.

UAA: Ada berita tentang 300 anak korban Tsunami di Aceh yang dibawa kelompok World Help. Muncul persepsi yang buruk terhadap bantuan-bantuan yang diberikan orang asing, termasuk kelompok-kelompok Kristen. Bagaimana Anda memahami ini?

IR: Berita tentang itu dimuat di Washington Post pada 13 Januari 2005 yang kemudian diralat oleh kelompok World Help itu sendiri setelah terjadi kontroversi. Itu berarti mereka memang belum memiliki program yang solid. Mungkin hal ini baru dalam level wacana di antara mereka sendiri, tetapi karena situasi di mana mereka ingin mendapatkan dukungan secepatnya dari luar negeri, mereka sudah mengumumkannya secara terang-terangan di Washington Post.

UAA: Apalagi situasi di Aceh sangat sensitif. Isu-isu tentang kristenisasi itu sudah muncul sejak 2-3 hari pasca-bencana. Bagaimana Anda melihat sensitivitas masyarakat terhadap isu kristenisasi?

IR: Saya kira, orang Aceh memang sedang terganggu secara mental-psikologis karena bencana yang begitu besar. Mereka ingin sesuatu yang dapat mengembalikan keberanian mereka untuk hidup, dan ini haruslah diangkat dari nilai-nilai budaya dan religi yang mereka miliki. Kisah-kisah yang hidup di tengah masyarakat tentang perjuangan dan hidup yang mesti diangkat

Di tengah situasi seperti ini, kalau ada pihak-pihak tertentu yang ingin memanfaatkan situasi dengan memancing di air keruh, entah itu kepentingan politik apalagi kepentingan agama, tentu mengakibatkan gesekan-gesekan yang sangat serius.

UAA: Bencana dahsyat di Aceh tentu mengetuk banyak orang untuk membantu karena alasan kemanusiaan. Apakah kalau ada orang non-muslim ingin membantu, apakah harus dianggap melakukan kristenisasi?

IR: Seorang Kristen yang melakukan kebajikan, membantu orang-orang yang terkena bencana di Aceh, sejauh itu dalam kerangka kemanusiaan justru harus didorong. Seorang Kristen yang memberi bantuan itu jangan lantas menurunkan martabat bantuannnya itu menjadi lebih rendah karena ada pamrih lain, misalnya untuk pindah agama dan lain-lain.

Kalau itu terjadi, atau ada orang yang masuk Kristen karena ada imbalan, dia tak lebih seorang Kristen kacangan. Itu berada dalam jenjang spiritual yang sangat rendah sekali. Seperti anak-anak yang mau menurut kalau diiming-imingi permen. Kalau kita beragama hanya karena kita ingin masuk surga atau terhindar dari neraka, itu masih beragama pada level anak-anak. Kalau orang beragama bukan karena motif surga atau neraka, tetapi karena dalam dirinya teralami cinta kasih ilahi yang membuat ia tidak takut pada neraka dan tidak tergiur pada surga, itulah derajat yang lebih tinggi. Beragama seperti ini membuat cinta kasih itu mengalir dalam diri kita, dan menerobos batas-batas agama, kesukuan, kedaerahan, kebangsaan, tingkat sosial dsb.

Saya pribadi menyesalkan bahwa isu kristenisasi terjadi di Aceh. Hal ini tidak sehat. Yang harus dikembangkan kepada semua orang adalah bahwa semua orang terketuk hatinya dan memberikan bantuan harus dianggap sebagai bantuan kemanusiaan. Kalau ada beberapa kelompok yang memasukkan bantuan sebagai alat propaganda kelompok, saya kira, tidak etis dan itu berlawanan dengan semua agama.

UAA: Isu kristenisasi itu bukan merupakan program yang seragam yang dilakukan oleh semua kelompok Kristen. Anda bisa jelaskan kompleksitasnya, dan juga mana kelompok yang paling semangat mengkristenkan orang?

IR: Nah pada prinsipnya semua orang Kristen adalah pengabar Injil. Tapi ini menjadi masalah kalau pengabaran Injil itu menjadi program massif dan substansial untuk sebuah kawasan. Kalau ini terjadi, saya yakin, tidak dilakukan oleh seluruh orang Kristen di Indonesia. Begitu banyak aliran di gereja. Ada spektrum dalam kekristenan di Indonesia.

UAA: Terakhir, jika semua agama memiliki semangat misionaris, perlukah kita melakukan kritik terhadap misi agama yang berorientasi memperbesar jumlah?

IR: Kritik terhadap wawasan misiologis yang diwarisi dari agama memang harus dinilai kembali dan dicari apakah masih relevan atau tidak. Itu harus dilakukan secara serentak dengan sebuah wawasan misiologis yang baru. Dalam pandangan saya, misi yang baru ini harus diarahkan pada keyakinan bahwa semua agama bekerja dalam kasih Allah, semua agama baik, tidak mendorong ke arah kekerasan. Agama yang membebaskan orang menjadi lebih baik, lebih sejahtera, pasti di dalamya Allah akan hadir. Kalau setiap agama memberikan pengalaman spiritual terhadap individu dengan Allah, dan membuat dirinya mengasihi orang lain, kenapa harus ada semangat untuk memindahagamakan orang lain dengan cara-cara yang eksesif dan menurunkan martabat sendiri? []

23/01/2005 | Wawancara, | #

Komentar

Komentar Masuk (9)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Masalah Kristenisasi sebenarnya buat teman-teman muslim tidak ada yang perlu ditakutkan. Reaksi tidak usah terlalu berlebihan. Hanya satu kuncinya, perkuat iman anda, yang namanya godaan itu akan selalu terus ada. Jadi Perkokoh Iman Anda!
——-

Posted by andros hasugian  on  05/31  at  03:06 AM

Tanggapan yang saya tulis tgl 25 Jan 2005, sebenarnya terkait dengan pernyataan Bp. Pendeta Ioanes yang menyatakan adanya ayat dalam Al Qur’an yang mendasari dakwah Islam, setara dengan dasar ayat Injil dalam urusan kristenisasi. Adalah suatu tindakan yang logis, kalau saya kemudian mencoba mengecek kedua kitab suci tersebut, apakah benar apa yang dikatakan oleh Bp. Pendeta.

Saya sendiri sangat awam terhadap Injil, pengetahuan sayapun terbatas, namun dari ayat yang saya temukan pada Matius 28 tsb, saya mengartikan secara tektual, implementasi dari ayat tsb adalah :

Setiap umat Kristen diwajibkan menyebarkan ajaran Kristus terhadap orang lain, berusaha untuk membawa mereka ke gereja untuk dibaptis dan mengajarkan/mendidik mereka apa-apa yang diperintahkan, yaitu menyangkut ibadah ritual Kristen.

Apabila seorang Kristen hanya mencoba mengkhabarkan Injil, berkomunikasi dengan orang lain, kemudian terserah apakah orang tsb mau menerima atau menolak, hanya sampai disitu, jelas ayat tersebut belum diterapkan secara utuh karena tuntutannya adalah sampai orang tersebut dibaptis (tentunya di gereja) dan dididik upacara ritual yang ada.

Sedangkan penafsiran terhadap surat An Nahl dan surat Ali Imran, pada umumnya adalah :

Setiap muslim diperintahkan untuk memberitahukan ajaran Islam, apabila mendapat perlakuan yang negatif diperbolehkan untuk memberikan tanggapan yang setimpal, namun lebih diutamakan untuk bersabar, apabila mereka berpaling/tidak menanggapi maka seorang muslim diperintahkan untuk menyerahkan urusan kepada Allah.

Itu adalah penafsiran sederhana dan merupakan urutan tindakan yang logis dari bunyi ayat-ayat tersebut, bukankan setiap umat Islam maupun Kristen akan melakukan hal sama apabila mendengar perintah tersebut??

Berdasarkan hal itu saya kemudian menyatakan tidak sependapat dengan statement dari Bp. Ioanes yang menyatakan adanya basis pada Al Qur’an tentang Islamisasi yang SETARA dengan kegiatan Kristenisasi, karena berbeda dalam batasannya, kalau umat Islam diwajibkan menyerukan ajarannya, masalah apakah orang lain mau mendengar atau berpaling merupakan urusan Allah, sedangkan buat umat Kristen ada beban dakwah untuk menyebarkan ajaran termasuk usaha untuk membawa orang lain ke gereja untuk di baptis dan menjalankan ritualnya (dalam ayat tersebut juga tidak dijelaskan apakah ini menjadi kewajiban untuk umat Kristen seluruhnya atau hanya beban bagi para pendeta).

Mengenai Islamisasi di Eropah, tentunya bukan dimaksud umat Islam disana menyumbang roti keju, sweater untuk musim dingin atau 1 krat bir untuk menarik non muslim agar masuk Islam. Berdasarkan ayat yang digambarkan adalah, apakah orang Muslim disana menyebarkan Islam juga sampai kepada tindakan ‘menggiring’ orang lain ke mesjid untuk mengucapkan syahadat?? Mungkin ada segelintir Muslim berdakwah dengan ‘gaya’ missionaris tersebut, namun itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Al Qur’an

Dalam tulisan saya terdahulu maupun saat ini, TIDAK ADA satupun penilaian diberikan terhadap kegiatan kristenisasi, apakah buruk, baik, menentang?? sekali lagi :yang ada adalah tanggapan saya terhadap pernyataan Bp. Pendeta Ioanes tentang kristenisasi dan Islamisasi yang sama-sama mempunyai basis ayat dalam kitab suci, hanya itu..

Secara pribadi, saya tidak begitu peduli tentang kristenisasi dan hasilnya, apakah akibatnya di Indonesia umat Islamnya akan berkurang dan umat kristen bertambah, 10%, 30% atau berapapun, itu hanya soal statistik, bagaimana mungkin keimanan seseorang bisa digambarkan dengan statistik?? bukankah iman itu ada dalam hati manusia?? siapa yang bisa mengukurnya selain Allah??

Katakanlah seorang muslim berniat meng-Islamkan orang lain, kemudian dia menempelkan pedangnya dileher dan memaksanya mengucapkan syahadat, karena ketakutan orang tersebut kemudian mengucapkannya dan resmilah dia masuk Islam (mengucapkan syahadat setara dengan baptis dalam agama kristen). Secara statistik umat Islam memang telah bertambah, namun apakah hatinya betul-betul beriman??

Sebaliknya ada kegiatan kristenisasi dengan mengiming-imingi anak-anak jalanan dan orang miskin dengan sekardus mie instan, atau sekarung beras, atau uang 30 ribu agar mau di baptis. Hasilnya adalah ratusan orang miskin dan anak jalanan tersebut mau ke gereja dan dibaptis dan mulai saat itu secara statistik bertambahlah umat kristen di Indonesia. Percayalah.. mereka itu tidak otomatis beriman kepada Yesus Kristus karena pada dasarnya : mie instan, beras, uang..itulah yang menjadi tuhan mereka.

Statistik jumlah umat beragama sebenarnya lebih berhubungan dengan sistem administrasi pemerintah dan sistem kependudukan, sama sekali tidak terkait dengan agama itu sendiri. Islam tidak akan berkurang keagungannya sekalipun tercatat penganutnya hanya 5% atau 10% di Indonesia, sebaliknya tidak mungkin pula kadar kebenaran Kristen bertambah akibat berkembangnya jumlah pengikut. ajaran agama, konsep ketuhanan, konsep ritual tentu tetap dan tidak berubah sesuai apa yang diajarkan oleh masing-masing kitab suci.

Dalam hal ini kita mungkin sependapat, bagaimana mungkin ada dikalangan Islam maupun Kristen sangat peka dengan jumlah penganut, dan berusaha mati-matian menghalalkan segala cara untuk memperbanyaknya? Sdr. Galih mengatakan bahwa di Belanda tidak ada konflik yang berarti dan saling hidup rukun antara penganut Islam dan Kristen, tentunya itu pula yang menjadi mimpi kita di Indonesia. Kita memimpikan adanya kebebasan menyuarakan kebenaran agama masing-masing, kebebasan berdakwah melalui media massa misalnya. Masalah apakah ada yang ikut dan ada yang tidak setuju kita serahkan kepada individu. Tidak ada lagi penipuan dalam menyebarkan agama, tidak ada lagi iming-iming, biarlah setiap orang yang condong kepada satu agama, datang sendiri ke tempat ibadah atas dasar niat dari hatinya sendiri. Hal tersebut benar-benar sejalan dengan ajaran Islam karena dalam Al Qur’an dinyatakan : “tidak ada pemaksaan dalam agama”, “urusan seseorang beriman atau tidak, semata-mata menjadi urusan Allah, tidak seorang manusiapun mampu mencampurinya”. “kamu hanya diwajibkan menyampaikan ayat-ayat Allah, kalau terjadi penolakan maka berserah dirilah kepada Allah ” Itulah mimpi kita semua….

Posted by Arda Chandra  on  02/04  at  04:02 AM

menanggapi Sdr.  Arda Chandra dalam “Islamisasi? Kristenisasi?”

Saya bukanlah seorang yang mendalami Kitab Suci, namun saya meyakini bahwa Tuhan itu satu, tidak ada istilah Tuhannya orang Islam, Katolik, Kristen, maupun agama2 yg lain.

Menurut saya, Matius 28: 18-20 bukan dimaksudkan untuk membawa orang lain menjadi pengikut “Yesus” dalam konteks Kristiani, melainkan menjadi pengikut Allah, Allah yang universal.  Ada banyak jalan menuju Allah, bisa melalui agama2 (tidak peduli agama apapun, bisa Islam, Kristen, atau bahkan Yahudi sekalipun), maupun sekedar berbuat kebaikan. Demikian juga kata “Kerajaan Allah” yang bisa ditemukan dalam Alktab bukanlah dimaksudkan sebagai kerajaannya Yesus (dalam konteks eksklusif Kristiani), melainkan kerajaan Allah yang universal dan terbuka bagi semua orang tanpa kecuali.

Agama ada untuk membantu manusia mengimani Tuhan, bukan untuk menggantikan Tuhan itu sendiri.  Akan tetapi, dewasa ini (sejauh pengelihatan saya) banyak orang yang men-Tuhankan agama, dan Tuhan yang asli entah kemana. Agama dan kepercayaan adalah hak asasi manusia. Orang bisa mempraktekkan Islamisasi, Kristenisasi, Hinduisasi, dll, tapi keputusan akhir tetap ada ditangan individu yang bersangkutan itu sendiri. Seseorang berhak menolak atau menerima pengajaran suatu agama, sebagaimana orang itu berhak untuk menolak maupun mengimani suatu agama. Jadi kita tidak berhak untuk protes ketika ada orang yang pindah agama. saya pribadi tidak akan keberatan seandainya ada famili saya yang beralih agama, selama jalan yg dilalui adalah jalan yang “benar” (bukan melalui kekerasan atau pemaksaan).

Mengenai Islamisasi dan Kristenisasi, saya tidak menyangkal bahwa ada sebagian kelompok yang menjalankan Kristenisasi di Indonesia. Akan tetapi, saya juga bisa berkata bawa ADA Islamisasi di Indonesia (saya pernah mengalaminya).

Menurut saya (sekali lagi “menurut saya”), istilah-istilah Kristenisasi, Islamisasi, dan lainnya timbul karena “ketakutan” akan terganggunya eksistensi suatu agama oleh penyebaran agama lain.  Jika benar-benar berpegang pada asas HAM, tentunya kata-kata tersebut bisa mulai dihilangkan dari kamus keagamaan kita. Sekali lagi, agama ada untuk membantu manusia mengimani Tuhan, bukan untuk menggantikan kedudukan Tuhan.  Bahkan, agama itu bersifat opsional dalam mengimani Tuhan.

Menanggapi paragraf terakhir tanggapan Sdr Arda Chandra tentang Islamisasi di Eropa dan Amerika, semuanya kembali pada pandangan masing-masing individu tentang Islamisasi (atau Kristenisasi) itu sendiri.  Jika pemberian bantuan kemanusiaan dianggap sebagai Kristenisasi (seperti yang terjadi di Aceh dimana ada pihak yang mencurigai bantuan asing sebagai upaya Kristenisasi), maka bisa dibilang tidak ada (atau mungkin sangat sedikit) ada “Islamisasi” karena rata-rata negara Eropa dan Amerika tidak membutuhkan bantuan materiil lagi. Sebaliknya, di Indonesia bisa ditemukan banyak praktek Kristenisasi. Jika kalangan Kristen memberi bantuan kemanusiaan dianggap Kristenisasi, mengapa ketika ada bantuan dari kalangan Muslim tidak dianggap Islamisasi? Jawabannya sederhana, karena kalangan Kristen adalah minoritas (berarti sebagian besar bantuannya diterima kaum mayoritas) dan Muslim adalah mayoritas (yang berarti bantuannya akan jatuh ke kalangan mayoritas = kalangan sendiri).  Kita harus benar-benar bisa mengkoreksi kata-kata Islam/Kristenisasi yang ada di pikiran kita, sebagaimana kita harus bisa menyeleksi yang mana bantuan kemanusiaan murni dan yang mana yang dengan embel-embel tertentu.

Saya baru sekitar 7 bulan tinggal di Belanda, tapi saya tidak menjumpai konflik keagamaan yang berarti. Pemeluk agama yang satu mulai melupakan/ tidak memandang perbedaan-perbedaan agama.  Satu-satunya konflik agama yang terjadi ketika ada pembunuhan (bermotif agama) Theo van Gogh oleh Mohammed B, seorang Muslim berdarah Maroko. Akan tetapi, dalam waktu yang tidak lama, konflik itu bisa dipadamkan karena masing-masing pihak (Muslim dan Kristiani) bisa menahan diri dan berdialog.

Akhir kata, saya mohon diri bila ada kata-kata yang salah atau tidak berkenan di hati pembaca. Dunia ini akan semakin damai bila kita semua bisa semakin memahami tujuan mulia yang ada dibalik masing-masing agama.

Salam,  Galih Prasetya Amsterdam, the Netherlands.

Posted by R. Galih Prasetya  on  01/29  at  02:01 AM

Dalam menanggapi wawancara Bung Ulil dan Pdt. Rakhmat, saya hanya ingin menanggapi kontroversi KRISTENISASI di Aceh atau di wilayah Sumatra Utara ini dengan opini saya pribadi.

Menurut saya yang tinggal di USA, dimana Islam dan Kristen bisa hidup saling berdampingan tanpa ada usaha atau kecurigaan Kristenisasi dan Islamisasi, karena di USA ada free religion and free speech yang menghormati hak individu.

Golongan atau Kelompok tidak bisa melarang individu untuk pindah agama atau murtad. Kalau orang Islam di USA mau jadi Kristen, atau orang Kristen mau jadi Islam, tiada intimidasi dari golongan Islam maupun Kristen. Terserah pada individu.

Tidak seperti di Indonesia. Bahwa intimidasi dari golongan atau kelompok pada keputusan individu untuk pindah agama masih terjadi. Bisa intimidasi berupa fitnah, seperti fitnah Kristenisasi misalnya. Hal ini tidak terjadi di USA, maupun di Eropa, atau di Australia.

Lucu memang kalau kelompok berusaha membatasi keinginan individu untuk pindah agama, sehingga yang terjadi adalah phobia, atau kecurigaan. Contohnya, setelah kontroversi kristenisasi oleh worldhelp atas 300 anak-anak Aceh, phobia terjadi, saya baca di Koran Indonesia, bahwa korban Tsunami di Aceh yang beragama Kristen harus mengucap kalimat syahadat sebelum memperoleh bantuan kesehatan. Ini khan lucu dan ironis sekali.

Saya tak ingin berdebat soal isi Injil atau isi Al Quran, karena bagi saya agama adalah hak individu. Individu yang pindah agama atau murtad karena diberi super mie, atau obat-obatan itu artinya imannya pada agamanya tidak kuat dari semula. Individu yang kuat imannya, baik beragama Kristen atau Islam, walaupun ada yang berusaha “memurtadkan” dari agama yang mereka yakini dengan cara menyiksa mereka sampai mati, mereka tidak akan pindah agama. Jadi kalau ada individu yang goyah imannya karena super mie, atau bantuan pakaian, tentu memang imannya tidak kuat dari semula.

Kalau demokrasi yang kita yakini benar-benar ada, dan kita memang menjamin HAM individu, Kristenisasi atau Islamisasi menjadi hak individu, bukan kelompok, negara, atau golongan, seperti di USA, Australia, atau Eropa.

Sekian. Terimakasih.

Posted by Galuh S.  on  01/27  at  07:01 PM

inilah problema yang dihadapi hampir semua agama, bukan hanya islam. diluarpun yang negaranya mayoritas bukan Islam sangat khawatir dengan adanya komunitas islam yang cukup “militan”. buat para ustadz, kiai, pendeta, pastor dll coba jangan hanya berfikir bangaimana memperbanyak komunitas, yang mesti, harus, kudu ditekankan pada setiap agama misi adalah kebajikan, kebenaran, HAM, kesalehan dll. untuk apa mencari pengikut yang banyak kalau tidak berkualitas. umat Islam juga seharusnya berfikir, kenapa seperti kebakaran jenggot jika ada isu seperti ini. lebih baik introspeksi diri dulu, sudahkah kepedulian umat Islam terhadap saudaranya yang lain sudah baik? sangat naif sekali kalau paradigma mayoritas menjadi kebanggaan dan dijadikan legalitas untuk melakukan penekanan kebebasan kepada yang lain, dan seperti yang dudah saya katatan di atas ini hampir terjadi disetiap pelosok negara, bukankah ini termasuk perilaku jahiliyah?

Posted by gunawan  on  01/25  at  07:01 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq