Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

13/07/2009

Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Mungkinkah ada defisit kharisma dan kian merosotnya otoritas ulama sehingga warga NU tak lagi mendengarkan himbauan atau tawshiyah politik para kiai yang selama ini menjadi panutan mereka? Penting diketahui bahwa dalam kurun lima belas tahun terakhir telah terjadi perubahan mendasar dalam diri warga NU seiring dengan semakin membaiknya derajat keterdedahan mereka terhadap arus-arus informasi. Kaum nahdliyyin sekarang kian rasional, cerdas, dan otonom. 

Pilpres berlangsung 8 Juli 2009 lalu secara umum berjalan lancar, aman dan damai. Ada tiga pasangan yang bertarung dalam pemilu presiden dan wakil presiden RI kali ini. Masing-masing adalah Mega-Prabowo, SBY-Budiono, dan JK-Wiranto. Sekalipun KPU belum mengumumkan hasilnya, berbagai lembaga survei telah menyimpulkan bahwa pasangan SBY-Budiono tampil sebagai pemenang dengan dukungan suara 60 %. Sementara di urutan kedua adalah Mega-Pro dengan suara kurang lebih 28 %, dan yang ketiga adalah JK-Wiranto dengan perolehan suara sekitar 12 %.

Kekalahan telak JK-Wiranto ini di luar perkiraan sebagian pihak. Sebab, publik tahu bahwa JK-Wiranto disokong oleh berbagai ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Ratusan kiai dan pengasuh pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah membubuhkan tanda tangan dukungan demi kemenangan JK-Wiranto. Pernyataan dukungan kiai-kiai itu diedarkan ke kantong-kantong NU. Dimana-mana direklamekan bahwa dalam tubuh Jusuf Kalla (JK) telah mengalir darah NU. Karena itu, pantas dan bahkan seharusnya warga NU menjatuhkan pilihan politiknya pada JK, bukan pada yang lain. Namun, exit poll yang dilakukan LSI (Lembaga Survei Indonesia) menunjukkan bahwa 60 % warga NU memilih SBY-Budiono. Suara JK-Wiranto hancur di daerah-daerah basis NU seperti Bondowoso, Banyuwangi, Jember, Pasuruan, dan Madura. Di Jawa Tengah juga setali tiga uang.

Pertanyaannya, bagaimana kita meletakkan kekalahan JK ini di tengah dukungan para kiai NU? Mungkinkah ada defisit kharisma dan kian merosotnya otoritas ulama sehingga warga NU tak lagi mendengarkan himbauan atau tawshiyah politik para kiai yang selama ini menjadi panutan mereka? Penting diketahui bahwa dalam kurun lima belas tahun terakhir telah terjadi perubahan mendasar dalam diri warga NU seiring dengan semakin membaiknya derajat keterdedahan mereka terhadap arus-arus informasi. Kaum nahdliyyin sekarang kian rasional, cerdas, dan otonom. Dalam urusan keagamaan mungkin mereka masih menyerahkan urusannya pada kiai. Pandangan keislaman kiai masih dianggap sebagai sabda pandhita ratu. Tapi, dalam soal ekonomi-politik dan sosial, kiai tak lagi menjadi acuan satu-satunya.

Jika puluhan tahun lalu kiai menjadi jangkar dan referensi di berbagai kehidupan warga NU, maka beberapa tahun terakhir terjadi diversifikasi rujukan. Jika sakit, mereka tak lagi ke kiai melainkan ke dokter. Dalam soal politik pun, putusan dan pilihan politik kiai hanya salah satu kompas untuk membaca peta. Mereka menentukan preferensi politiknya setelah melakukan amatan berdasarkan data-data dan informasi yang mereka kunyah dari berbagai sumber seperti televisi dan koran. Sekiranya pilihan politik kiai sesuai dengan perhitungan politiknya, mereka akan mengikutinya. Tapi, jika tak selaras, mereka tak ragu untuk menolak pilihan politik sang kiai. Dalam soal politik, pendapat kiai tak lagi dipandang sebagai doktrin agama yang mengikat, melainkan instrumen duniawi yang berguna sejauh dibutuhkan.

Fenomena ini yang tampaknya tak segera dipahami secara nastiti oleh para kiai pesantren dan pengurus NU, baik di pusat maupun di daerah. Mereka menyangka bahwa warga NU hari ini sama belaka dengan warga NU puluhan tahun lalu; warga NU yang illiterate dan lugu; warga NU yang seluruh nafas dan jiwanya dipasrahkan (taslim) sepenuhnya pada kiai. Dalam waktu lama, keluguan dan keterbelakangan nahdliyyin dipakai sebagai alat mobilisasi politik dalam pemilu. Kini, dengan caranya sendiri, kaum nahdliyyin melakukan koreksi dan kritik terhadap modus perpolitikan NU yang top-down dan satu arah. Mereka tak menghendaki adanya dikte politik dari atas untuk memilih salah satu pasangan tertentu. Mereka ingin diakui sebagai manusia merdeka yang bebas menentukan arah politiknya sendiri. 

Ini adalah pertanda baik bagi kemajuan NU di masa depan. Secara eksternal, kekalahan JK merugikan, tapi secara internal sangat relevan bagi pengembangan kapasitas dan kemandirian kaum nahdliyyin. Karena itu, kekalahan JK dalam konteks NU mestinya disyukuri bukan malah diratapi. []

13/07/2009 | | #

Komentar

Komentar Masuk (21)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

pergeseran paradigma sedang terjadi dikalangan masarakat nu.kiai,dulu pandang sebagai pandita nya ratu disegalabidang sudah mulai berubah.
masarakat sekarang ini,melihat hanya asfek keagamaan saja yang masih bisa mumpuni tapi dalam soal lain sekarang ini lebih otonom.ada beberapa hal yang terjadi dimasarakat tentang ikut campurnya kiai dalam peta politik nasional.
pertama.kiai sekarang ini sudah jarang melibatkan masarakat dalam berpolitik,masarakatpun sudah menyadaribahwa partisipasinya dalampolitik masih sering dimanfaatkan oleh kiai tersebut demi kepentingan ambisi pribadi.
kedua.tentang dunia politik kadang kiai suka keliru,masarakat sudah mulai jenuh tentang sepak terjang politiknya.
jadi saya sengat setuju dengan kebebasan masarkat nahdliyin dalam berpolitiknya,nanti ada semacam rasa kedewasaan dalam memnentukan pilihannya,kaum nahdliyiin tidak akan dibohongi lagi oleh pemimipinya,kedepan.

Posted by ardani  on  10/12  at  11:55 AM

ini benar2 pelajaran bagi kita semua apalagi buat para kyai yang ingin maju sebagai kepala daerah atau sejenisnya sebaiknya menyadari fungsinya masing2. Para santri perlu dibimbing bukan digiring. Kembalilah ke asalnya masing2 karena mereka (para santri) menuntut ilmu bukan karena kyainya seorang pejabat, tetapi lebih ditekankan pada ilmu pengetahuan agama dan kharisma sang guru. Kalau para kyai sudah berlomba-lomba ingin menjadi pejabat, sebaiknya kita semua sebagai rakyat tidak memilih kyai tersebut. Ingat Pak Kyai bagaimana dulu sewaktu mau mendirikan Pondok Pesantren dengan susah payah setelah berdiri malah diserahkan pada orang kepercayaannya untuk mengelola, sedangkan Pak Kyai lebih fokus mengurus pemerintahan. Kalau sudah begini mana Kyai mana Umara’?

Posted by faisal stany  on  08/21  at  09:04 AM

peran politik para kyai sudah tdk didengAR oleh umatnya...cuma elit parpol aja yg bodoh.mau dimanfaatkan para kyai,,lgpula kyai bukan nabi yang harus didengar petuahnya??mending para kyai ngrurusin umat yang msh berantakan.kasihan umat dibodohi terus,oleh kyai&elit;parpol,apalagi kyai NU...inget Tuhan kita

Posted by joe  on  08/18  at  09:33 PM

Sebenarnya gejala independensi kaum Nahdliyin ini sdh tampak pd Pilpres 2004, yakni ketika KH Hasyim Muzadi dijadikan “vote getter” oleh Megawati! Logikanya, krn Ketua Umum PBNU yg dicalonkan sbg Wapres maka sebgn besar kaum Nahdliyin akan memilihnya! Nyatanya? Nah, kesalahan dlm “menangkap sasmita” ini ternyata diulangi oleh elite NU dlm Pilpres 2009, bahkan skrg ditambah dgn elite Muhammadiyah! Menurut saya, kl organisasi NU (plus skrg Muhammadiyah!) “tanggap ing sasmita”, maka tdk akan terjadi situasi konyol dmn ELITEnya dikooptasi oleh Capres tertentu tapi umatnya mbalelo! Sehrsnya spt NU atau Muhammadiyah itu netral saja, serahkan kpd masing2 pemilih, mrk sdh cukup pintar kok!

Posted by asmaradahana  on  08/15  at  11:52 AM

tuk para kyai NU belajarlah dari pengalaman itu bahwasanya politik praktis hanya akan memecah belah umat Islam, dalam hal ini adalah umat NU, juga terkikisnya wibawa kyai.
tuk kyai lagi : katakan yang benar itu benar dan katakanlah yang salah itu salah biarpun pahit adanya. jangan tafsirkan kebenaran berdasar kepentingan golongan ataupun pribadi.
tuk warga NU : kyai juga manusia...ada salah...ada khilaf maka berpedomanlah pada Qur’an dan Hadist (soheh) insya Allah benar adanya.
tuk semua mohon maaf bila ada yang tidak berkenan semua hanya tuk kebaikan semua.
“Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”.

Posted by race  on  08/07  at  11:34 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq