Post-Muhammadiyah: Kado Seabad Muhammadiyah - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
15/02/2010

Post-Muhammadiyah: Kado Seabad Muhammadiyah

Oleh Muhammad Asratillah Senge

Post-Muhammadiyah mewartakan jargon “kematian skripturalisme” karena skriptualisme adalah awal dari reduksi terhadap pengalaman keberagamaan baik secara individual maupun sosial. Post-Muhammadiyah mewartakan bahwa teks-teks agama--termasuk di dalamnya Alqur’an--bukanlah barang jadi dan senantiasa siap pakai. Teks-teks itu menunggu dan membutuhkan pembacaan manusia dengan segala pengalaman dan perangkat kemanusiaannya. 

15/02/2010 15:10 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Dan ini adalah janji yang juga amanah yang mesti dijalankan ertama, Alqur’an--bukanlah barang jadi dan senantiasa siap pakai. Teks-teks itu menunggu dan membutuhkan pembacaan manusia dengan segala pengalaman dan perangkat kemanusiaannya.
Kedua, ketidakmungkinan adanya hubungan yang transparan antara makhluk dengan Tuhan. Hubungan dengan Tuhan selalu mengimplikasikan aktivitas memanusiakan citra Tuhan. Ketiga, pluralisme realitas.  Nalar bukanlah satu-satunya cara untuk membuat paham, begitu pula teks keagamaan nan harfiah. Masih ada intiuisi ataupun imajinasi yang penting bagi kemanusiaan. Keempat, menolak monopoli kebenarandan menawarkan konsep kebenaran yang polyfonik dan berwajah banyak. Kelima, berpihak pada kaum tertindas dengan menghidupkan spirit surat al-Ma`ûn yang selama ini cuma jadi slogan. Memerangi watak borjuis yang ditentang semangat kenabian. Keenam, menolak jadi panopticon dengan memberikan hak otonomi para kader dan anggota untuk mengawasi diri sendiri. Post-Muhammadiyah menawarkan untuk membongkar semua ini dan melakukan perayaan kesadaran kapan pun, di mana pun. Selamat ulang tahun Muhammadiyah, alhamdulillah masih ada kader yang peduli akan kejumudan yang menimpa,semoga semua harapan diatas bisa terwujud.

#1. Dikirim oleh Iwan CH  pada  17/02   01:49 PM

AMIN. SETUJU.
Semoga Muhammadiyah betul-betul bisa berpegang pada apa yang dituliskan oleh Sdr. Iwan CH tsb diatas.

Kalau memang begitu, masalahnya sekarang tinggal bagaimana cara penyebaran (dissemination) amanah tsb diatas. Ini bicara konsep pengajaran & pendidikan.

Sebab selama ini yang terjadi adalah, “the silent majority” yang maaf, gaungnya kalah dari “the hard-liner minority”.

#2. Dikirim oleh Anton Isdarianto  pada  18/02   11:24 AM

SAYA MENOLAK ! itu namanya bid’ah Bung ?
ingat! Manusia itu di beri akal oleh Allah swt itu semata2 hanyalah untuk sebagai PELAKSANA di dalam memahami ayat2 Al QUR’AN tersebut.
jadi BUKAN untuk menggGAKAL-AKALI Al quran ITU sendiri,Juga bukan untuk menGUTAK ATIK AL QURAN tersebut dengan pemikiran manusia yang LEMAH dan TERBATAS apalagi saEnake wudele dewe ?
JADI POSISI AKAL MANUSIA di situ ADALAH ,DIA SEBAGAI PELAKSNA HUKUM BUKAN PEMBUAT HUKUM penGGOTAK -ATIK hukum!

#3. Dikirim oleh Hernomo Mu'arif  pada  19/02   11:39 PM

Saya mau cerita sedikit:

Dahulu, sebelum masa Renaissance abad ke 14-17, & disusul dgn the Age of Enlightenment Eropa di abad 18 (di abad ini muncul Revolusi Industri di Inggris), Kepausan Roma Katholik Vatikan selain sbg penguasa agama juga merupakan penguasa politik Eropa yg mengatasi para raja/pemerintah Eropa masa itu.

Pada saat itu lantaran kekuasaan rangkap Paus di urusan politik pemerintahan & agama yg begitu menentukan, Paus bisa menghukum siksa atau mati seseorang atau kelompok orang yg dicap nyempal/sesat dari hukum agama (mungkin ini yg disebut bid’ah).

Masa-masa itu lah yg kemudian sering disebut sbg “the Dark Ages” di Eropa. Banyak terjadi peristiwa-2 yg mengerikan yg berdarah-darah diantara sesama umat Kristiani.

Kemudian, belajar dari pengalaman sejarah pahit seperti diatas itu, maka setelah era Renaissance, masuk ke era Abad Enlightenment di Eropa, Paus di Vatikan mulai melepaskan otoritas politik pemerintahan di Eropa sampai hari ini dan hanya berfokus pada pemeliharaan keagamaan/rohani umat Katholik sedunia.

Setelah era Renaissance & the Age of Enlightenment maka di Eropa mulai lah muncul perkembangan ilmu pengetahuan (science) di bidang apapun, dan penemuan-penemuan serta inovasi-2 teknologi yg menakjubkan sbg hasil olah-pikir manusia yg membawa manusia pada kemajuan.

Allah menganugerahkan akal bagi manusia untuk mengembangkan kemampuannya melalui akal anugerah Allah tsb. Menurut saya, sepanjang manusia tidak bermaksud untuk melawan atau mengimbangi kekuasaan Allah dgn memakai akalnya, itu sudah sesuai dgn kodrat manusia sbg ciptaan-Nya.

Berbagai macam aliran agama Kristen yg nyempal dari Kristianiti yg murni, di masa kini, seperti gereja Mormon dan juga Jehovah Witness, tidak mendapat cap sesat atau bid’ah dari Paus di Vatikan. Cap “sesat” atau “bid’ah” memang pernah ada di agama Katholik, tetapi itu terjadi ratusan tahun yg lalu bahkan hampir 1000 tahun yg lalu. Dan model pencapan begini sudah tidak dipakai lagi sejak Renaissance berlalu.

Tuhan memberikan kepada manusia untuk bebas membuat pilihan masing-masing, dan konsekwensi atas pilihannya tsb, kelak akan dipertanggung-jawabkan di akherat, bukan di dunia ini.

#4. Dikirim oleh Anton Isdarianto  pada  23/02   07:41 PM

Ini namanya progresifitas bung. toh selama ini justru mistisisme (yang selalu dianggap manusia modern sebagai tradisional itu) menjaga manusia dari perbuatan merusak alam. segala hal tidak dilihat dari sudut pandang manusia. kenapa dalam perang Allah melarang beberapa hal yang salah satunya adalah menebang pohon? karena bagaimanapun pohon itu hidup. mistisisme yang selama ini kita kenal kan menawarkan agar kita menjaga lingkungan. misalnya dulu kakek saya melarang menebang pohon besar dibelakang rumah denfgan bilang:pohon itu ada penunggunya. dalam hal ini kemudian kami sekeluarga menghormati pohon tersebut, bukan menyembah. kami menganggap dia hidup. lihat sekarang akibat penebangan pohon secara liar (hanya demi kepentingan manusia) bencana alam terjadi dimana2.

kalau memang yang kita inginkan adalah perubahan menjadi lebih baik, kenapa kita selalu melihat fenomena kontemporer dengan cara pikir yang kolot? tidakah kita bisa berdialog dan menemukan cara yang lebih baik daripada tiba2 melarang atau menganjurkan? segala hal itu ada sejarahnya panjang. sekali lagi kalau kita hanya menimbang diri kita maka kita tidak akan belajar apapun. bagaimanapun di Indonesia situasinya beda dan lebih PLURAL. kita nggak bisa menyebut Indonesia itu orangnya homogen. sadari itu. muhammadiyah di jakarta dan di aceh sana pasti berbeda. dalam membuat keputusan menghakimi lebih baik pelajari dengan terbuka kebenaran orang lain. kalo hanya menggunakan sudut pandang diri sendiri ya sama saja kita hidup sendiri tanpa orang lain. terimakasih

#5. Dikirim oleh qomar  pada  13/03   01:42 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq