Pro-Demokrasi Tak Sebesar Pro-Toleransi - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
22/11/2004

Dr. Saiful Mujani, Direktur Freedom Institute,
Beberkan Survei Fenomena Islam Radikal
Pro-Demokrasi Tak Sebesar Pro-Toleransi

Oleh Redaksi

Ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kaitan antara sikap dan persepsi masyarakat terhadap fenomena gerakan dan isu-isu “Islam radikal” dengan tindakan mereka. Untuk lebih jauh mengetahui persolan ini, Ulil Abshar-Abdalla berbincang-bincang dengan Direktur Riset Freedom Institute Dr. Saiful Mujani itu pada Kamis, 11 November 2004. Berikut petikannya.

22/11/2004 04:18 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Saya serang yang awan tentang masalah toleransi dan radikalisme. Saya tanya Mas:

1. Apakah sikap toleransi juga bisa sampai pada titik radikal dan

ekstrim sehingga merusak dan menggangu publik?

2. kita tahu bahwa Puritanisme bisa menjadi radikal dan ekstrim,

apakah kemudian puritanisme (entah agama, bahasa, tradisi adat dll) itu tak boleh sama sekali? Kalau tak boleh nggak adil dong, tolernsi dan juga plurisme kok boleh dan sangat dianjurkan.

Tolong dijawab ya mas. Kalau nggak layak ditampilkan di situs JIL yang keren ini, tolong dikirim ya mas jawabannya ke email saya di atas.

Salam Mas, Semoga saya dan kita selalu kembali ke jalan yang lurus. Abu Izfar

#1. Dikirim oleh Abu Izfar  pada  23/11   01:11 AM

Alhamdulillah, ini bukti kekuasaanNya bahwa ndak ada Ia ciptakan manusia dengan sia-sia. Wawancara ini memberikan kesempatan kita semua untuk berpikir tanpa poros, tanpa sakit hati, tanpa kecurigaan. Terutama yang dibincangkan adalah hasil survey yang metodologinya matematis. Bisa jadi akan ada yang menuding, bagaimana cara bertanyanya, bagaimana kalimat pertanyaannya, dst.

Tapi bagi saya pribadi, ini kenyataan, bahwa semakin banyak bangunan Masjid dan keagamaan lainnya, dengan alasan keumatan, tidak dapat dengan mudah memanusiakan orang yang jelas Muslim-Islam. Bisa jadikan ia mengaku Muslim tapi KTP lain kan?. atau karena tindakannya tidak Islami ?. semua barangkali karena bangunan2 keagamaan itu hanya fisik saja tak bisa merasuki rongga dada kita. Seharusnya web ini sudah termuatkan apa saja yang diproses dalam Survey bang Saiful Mujani ini, dan dapat dilanjutkan dengan survei lainnya.

#2. Dikirim oleh Hastadi Prijatmoko  pada  23/11   11:11 AM

Sudah sering saya mendengar, membaca dan melihat. begitu juga Sering dikemukakan, dibahas dan disolusikan tentang Toleransi dan Intoleransi

1. Tolong jabarkan tentang Toleransi dan Intolenransi 2. Apa toleransi menyangkut masalah Ibadah 3. Jika beribadah dilingkungan yang mayoritas warganya tidak seagama dengan kita sedangkan tempat tersebut bukan tempat ibadah bisa disebut Intoleransi

Terima kasih atas jawabanya, jika tak keberatan tolong ke e-mail saya

#3. Dikirim oleh Topik  pada  23/11   09:11 PM

Masyarakat muslim Indonesia memiliki banyak “versi” tentang Islam. Hal ini mungkin dikarenakan islamnya mereka diperoleh dari bermacam-macam cara, ada yang Islam sejak lahir, karena pengaruh lingkungan atau memang berniat masuk islam karena mempelajari islam itu sendiri.

Akibat yang terjadi adalah munculnya ke-khas-an tersendiri pada masing-masing kelompok muslim di Indonesia yang juga memiliki beberapa “ritual islam” yang berbeda dengan kelompok lainnya. Ciri Ke-khas-an ini kemudian mengelompok sehingga membuat suatu komunitas yang kemudian diperkuat oleh hadirnya tokoh kharismatik yang menjadi panutan bahkan icon perjuangan islam masing-masing.

Konsekuensi dari hal tersebut diatas adalah dalam menyikapi toleransi keislaman pun akan terjadi perbedaan. Kalangan yang lebih “moderat” yang mungkin lebih kental dengan sisi intelektualnya bisa jadi akan lebih toleran dibandingkan kelompok “konservatif” yang lebih bernuansa tradisional. Hal tersebut bisa dimaklumi mengingat adanya perbedaan referensi beragama pada masing-masing kelompok islam di Indonesia. Maksudnya adalah ada beberapa tergantung pada referensi exklusif sang tokoh kharismatik, namun ada juga yang mendapatkan referensi dari jendela luas di luar

Namun satu hal yang menjadi ciri yang tidak mungkin berbeda pada masyarakat Islam di Indonesia adalah sikap dan ikatan emosional. Jika dalam level tertentu masalah emosional religius ini diusik, maka secara kompak mereka akan memiliki sikap yang sama, yaitu membela islam, apapun bentuk yang mengusiknya. Tidak demikian halnya pada tingkat tindakan, karena kelompok islam “moderat” cenderung akan lebih “cool” dibandingkan yang “radikal”.

#4. Dikirim oleh A.S. Dalimunthe  pada  26/11   01:11 AM

Saya ingin menambahkan tanggapan saya pada hasil wawancara/perbincangan antara Dr. Saiful Mujani dan Bung Ulil Abshar-Abdalla tentang hasil survei: Pro-Demokrasi Tak Sebesar Pro-Toleransi. Saya tahu survei ini hanya di dapat dari pendapat/tanggapan umat Islam di Indonesia, tidak termasuk suara minoritas Indonesia, atau masyarakat beragama Kristen/Nasrani, Hindu, Budha, dan Konghuchu.

Terutama pada hasil survei yang mengatakan bahwa 50% umat Islam yang keberatan jika ada gereja di bangun di wilayah mereka. Betapa menarik kalau Dr. Saiful Mujani juga mensurvei minoritas, seperti masyarakat Hindu di Bali, dan masyarakat yang mayoritas didaerah/pulau yang mayoritas beragama Kristen/Nasrani, apakah merekapun ikhlas jika Mesjid/Mushola di bangun diantara mayoritas yang beragama non-muslim. 48% umat Islam di survei keberatan kalau Kristen melakukan kebaktian di wilayah mereka. Mungkinkah juga masyarakat/umat Hindu di Bali atau umat Kristen di daerah/pulau yang mayoritas beragama Nasrani/Kristen juga keberatan mendengar pengajian mengumandang di wilayah mereka?

Kadang memang kita tidak merasakan perasaan umat minoritas yang harus “terpaksa” hidup dengan para intoleran karena mayoritas politikus dan pemimpin bangsa adalah beragama Islam. Tidakkah terbayangkan bagi masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu, atau masyarakat Kristen/Nasrani yang hidup di daerah yang mayoritas beragama Nasrani/Kristen untuk “menentang” pembangunan masjid/mushola, bukan?

Hasil survei menyatakan bahwa 24.8% keberatan kalau orang Kristen mengajar di sekolah Negri. Lalu kalau sekolah Negri itu ada di Bali, atau di daerah yang mayoritas beragama Kristen/Nasrani, apakah para guru-guru di daerah-daerah itupun harus diganti dengan guru beragama Islam?

Kadang saya bertanya pada diri sendiri, kalau saya tidak bisa hidup bertoleran dengan umat lain, masihkah saya mati masuk surga? Kalau saya intoleran pada sesama manusia, lain agama, bukankah hubungan kita dengan Allah Yang Maha Pengasih, Lagi Maha Penyayang, dan Maha Pengampun adalah KEBOHONGAN belaka? Bukankah hubungan damai dan kasih terhadap sesama manusia, dan keikhlasan menerima mereka adalah bagian dari Ibadah kita di dunia?

Kalau kita mengatakan bahwa kita menjalankan hukum Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kenapa kita benci umat lain, bukankah ini kebalikan dari hukum Allah?

Makanya saya berdoa, kalau surga dipenuhi umat yang intoleran, ya Allah, carikan saya tempat yang lain. Kalau Surga tak ada bedanya dengan Neraka, kenapa harus masuk Surga, bukan?

Terimakasih.

#5. Dikirim oleh Galuh S  pada  28/11   07:11 PM

Menurut saya riset yang dilakukan Saiful Mujani ini positif.  Ternyata orang Islam di Indonesia yang menurut bahasa Saiful Mujani ini memiliki sikap yang radikal tidak diwujukan menjadi tindakan yang radikal juga.  Bahwa pemahaman mereka tentang agama mungkin sangat radikal, tetapi ketika begitu harus bertemu dengan kenyataan, mereka sangat toleran. Itu mungkin yang menjelaskan mengapa PKS mendapat peningkatan suara yang signifikan ketimbang PBB.

Dalam wawancaranya yang lain di IslamLib ini juga, Saiful Mujani bahkan sangat optimis dengan menyatakan bahwa Ideologi Politik Islam Sudah Pudar.  Sekarang saya mengerti maksud Saiful Mujani ini. Orang Islam Indonesia—kalau kita percaya pada keabsahan riset Saiful Mujani—kalau disodori pernyataan apakah anda setuju dengan hukuman potong tangan (etc.. yang btw sangat karikatural), kemungkinan besar akan menjawab Ya lebih karena kesalehan pribadi, dan akan dikompromikan dengan kesalehan sosial mereka.

Kesimpulannya, positif riset. Bravo.

#6. Dikirim oleh Anwar Rizal  pada  30/11   02:12 AM

Saya rasa memang sikap toleransi semakin menipis, karena semua aspek dalam kehidupan masyarakat harus dikait-kaitkan dengan agama. Sebenarnya tidak apa-apa, cuma masalahnya, agama yang saya anut yang juga menjadi agama mayoritas ini, kok kesannya jadi semakin bersikap tidak toleran. Boro-boro kasus Sang Timur, di kota tempat saya tinggal sekarang, ada larangan pembangunan gereja! Jadi tidak ada 1 gereja pun disini. Padahal ada juga komunitas kristiani. Jaman saya kuliah, ada proses penjegalan terorganisir oleh kelompok mahasiswa HMI terhadap teman kristiani yang secara kemampuan sangat layak untuk jadi ketua klub bahasa Inggris. (sekali lagi, ini klub bahasa inggris!!).  Makanya, saya hanya bisa berharap, semoga Indonesia tetap seperti Indonesia seperti saat saya masih SD, masa tahun 80-an, indonesia yang bangga dengan budaya bangsa sendiri, Indonesia yang penuh toleransi, yang tidak curiga terhadap kelompok lain.  Saya rasa nilai-nilai yang sekarang menguat (berkurangnya toleransi) bisa dikurangi dari tingkat paling bawah. Mbok di pengajian ibu2 jangan sampai lagi ada kyai yang bilang : Kalo sakit jangan opname di RS kristen, siapa tahu pas mau mati disuruh pegang Salib. Kalo melahirkan jangan ke dokter non muslim. Di sekolah juga jangan sampai anak-anak cuma dicekoki cerita kafir vs non muslim, tapi jelaskan juga bahwa bahkan Nabi pun punya sahabat yahudi. Dilarang mendzolimi itu bukan hanya pada kaum muslim, tapi harus untuk sesama umat di dunia. Kalau saudara senegara kena gempa, dahulukan saudaranya, jangan orang perang di luar negeri yang didahulukan walaupun itu sama-sama muslim. Sungguh saya rindu Indonesia yang penuh toleransi. Kalau kita memang Rahmatan lil alamin, kenapa sering sekali wajah permusuhan yang kita kedepankan?
-----

#7. Dikirim oleh Tri Putri  pada  08/12   12:12 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq