Problematika Quranik Pluralisme Agama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
06/08/2004

Problematika Quranik Pluralisme Agama

Oleh Abd Moqsith Ghazali

SESUNGGUHNYA pluralisme telah menjadi kesadaran agama-agama sejak mula. Agama umumnya muncul dalam lingkungan pluralistik dan membentuk eksistensi diri dalam menanggapi pluralisme itu. Bahkan, dikatakan bahwa setiap agama justru lahir dari proses perjumpaan dengan kenyataan pluralitas. Dus, pluralisme adalah fakta sosial yang selalu ada dan telah menghidupi tradisi agama-agama. Walau demikian, dalam menghadapi dan menanggapi kenyataan adanya berbagai agama yang demikian pluralistik itu, agaknya setiap umat beragama tidaklah monolitik. Mereka cenderung menempuh cara dan tanggapan yang berbeda-beda, yang jika dikategorisasikan terbelah menjadi dua kelompok yang saling berhadap-hadapan.

Tulisan ini pernah dimuat di Media Indonesia, 6 Agustus 2004

SESUNGGUHNYA pluralisme telah menjadi kesadaran agama-agama sejak mula. Agama umumnya muncul dalam lingkungan pluralistik dan membentuk eksistensi diri dalam menanggapi pluralisme itu. Bahkan, dikatakan bahwa setiap agama justru lahir dari proses perjumpaan dengan kenyataan pluralitas. Dus, pluralisme adalah fakta sosial yang selalu ada dan telah menghidupi tradisi agama-agama. Walau demikian, dalam menghadapi dan menanggapi kenyataan adanya berbagai agama yang demikian pluralistik itu, agaknya setiap umat beragama tidaklah monolitik. Mereka cenderung menempuh cara dan tanggapan yang berbeda-beda, yang jika dikategorisasikan terbelah menjadi dua kelompok yang saling berhadap-hadapan.

Pertama, kelompok yang menolak secara mutlak gagasan pluralisme agama. Mereka biasanya disebut sebagai kelompok eksklusivis. Dalam memandang agama orang lain, kelompok ini sering kali menggunakan standar-standar penilaian yang dibuatnya sendiri untuk memberikan vonis dan menghakimi agama lain. Secara teologis, misalnya, mereka beranggapan bahwa hanya agamanyalah yang paling otentik berasal dari Tuhan, sementara agama yang lain tak lebih dari sebuah konstruksi manusia, atau mungkin juga berasal dari Tuhan tapi telah mengalami perombakan dan pemalsuan oleh umatnya sendiri. Mereka memiliki kecenderungan membenarkan agamanya, sambil menyalahkan yang lain. Memuji agama diri sendiri seraya menjelekkan agama yang lain. Agama orang lain dipandang bukan sebagai jalan keselamatan paripurna. Mereka mendasarkan pandangan-pandangannya itu pada sejumlah ayat di dalam Alquran. Misalnya, [1] QS Ali Imran (3): 85, [2] QS Ali Imran (3): 19 [3] QS Al-Maidah (5): 3. [4] QS An-Nisa (4): 144.

Kedua, kelompok yang menerima pluralisme agama sebagai sebuah kenyataan yang tak terhindarkan. Kelompok ini biasanya berpandangan bahwa agama semua nabi adalah satu. Mereka menganut pandangan tentang adanya titik-titik persamaan sebagai benang merah yang mempersambungkan seluruh ketentuan doktrinal yang dibawa oleh setiap nabi. Bagi kelompok kedua ini cukup jelas bahwa yang membedakan ajaran masing-masing adalah dimensi-dimensi yang bersifat teknis-operasinal bukan yang substansial-esensial, seperti tentang mekanisme atau tata cara ritus peribadatan dan sebagainya. Terdapat ayat yang menjadi menu favorit di kalangan kelompok kedua ini. Misalnya, [1] QS Al-Kafirun (109):6 [2] QS Al-Baqarah (2): 256. [3] QS Al-Maidah (5): 69, [4] QS Al-An’am (6): 108.

Melihat hal di atas, maka muncul tarik tambang antara satu ayat dengan ayat yang lain. Betapa, dalam satu spektrum, pluralisme Quranik diungkapkan melalui janji penyelamatan terhadap orang-orang yang beragama selain agama Islam (QS Al-Baqarah (2):62). Sementara pada spektrum yang lain, absolutisme Islam juga terpampang dengan tegas dalam Alquran. Kontradiksi nyata antara beberapa ayat Alquran yang mengakui sumber-sumber penyelamatan otentik lainnya di satu sisi dan ayat-ayat lain yang menyatakan Islam sebagai satu-satunya sumber penyelamatan di sisi yang lain harus diatasi untuk memungkinkan tegaknya sebuah tata kehidupan berdampingan secara damai dengan umat agama lain.

Dalam kenyataannya sayang sekali tidak banyak para ulama dan cendekiawan muslim yang memiliki perhatian utama untuk coba menyelesaikan ayat-ayat kontradiktif tersebut, baik dengan cara memperbarui penafsiran maupun dengan menyusun sebuah metodologi tafsir yang baru. Hingga sekarang, sekelompok pemikir Islam yang concern pada gagasan pluralisme agama biasanya hanya mengutip satu-dua ayat yang mendukung pluralisme agama dan sering kali melakukan pengabaian bahkan terkesan “lari” dari ayat-ayat yang menghambat jalan pendaratan pluralisme agama. Demikian juga sebaliknya. Sembari merayakan ayat-ayat yang problematis dari sudut pluralisme agama, para ulama eksklusif kerap menafikan ayat-ayat yang secara literal jelas-jelas mendukung pluralisme agama.

Penyelesaian metodologis

Terhadap sejumlah kontradiksi antara satu ayat yang mendukung pluralisme agama si satu pihak dan ayat yang menolaknya di pihak yang lain tentu saja harus ada penanganan dan penyelesaian metodologis. Sebab, sebagai teks yang memiliki otoritas mutlak yang tak terbantahkan, Alquran adalah kunci untuk menemukan dan memahami konsep pluralisme agama dalam Islam. Pembacaan terhadap kitab Alquran sendiri secara cermat menyangkut tema pluralisme agama bukan saja sangat berguna, melainkan terasa sangat mendesak di tengah semarak kekerasan di Indonesia yang sering kali berbasiskan sejumlah teks agama, termasuk Alquran.

Untuk kepentingan itu, pada hemat saya, Alquran kiranya perlu dipecah ke dalam dua macam kategori.

Pertama, adalah ayat-ayat yang bersifat universal, ushul, ghayat (tujuan) dan lintas-batas yang meliputi batas historis, ideologi, etnis, suku, bahkan agama. Ayat-ayat seperti ini biasanya lebih banyak menjelaskan prinsip-prinsip dasar ajaran dalam Islam, seperti kemaslahatan, keadilan, kesetaraan (termasuk kesetaraan gender), pluralisme (termasuk pluralisme agama), dan penegakan hak asasi manusia (iqamah huquq al-insan). Dalam lansekap ini, maka ayat-ayat yang mendukung pluralisme adalah ayat-ayat ushul yang derajat relevansinya tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Kedua, adalah ayat-ayat Alquran yang tergolong sebagai ayat partikular, juz`iy, fushul, dan wasilah. Yaitu, ayat-ayat yang biasanya berbicara tentang hal-hal yang teknis-operasional dengan demikian ia terikat oleh konteks spasial. Masuk dalam kategori model ayat kedua ini, di antaranya, adalah ayat-ayat yang terkait dengan waris, ketidakadilan gender, perintah memerangi orang kafir-musyrik, diskriminasi terhadap perempuan dan nonmuslim, dan lain-lain. Dengan mengacu pada ayat yang demikian, maka dapat dimaklumi sekiranya para ulama fikih klasik mempunyai pendirian teologis yang eksklusif. Mayoritas pemikir fikih Islam klasik, misalnya, berpandangan bahwa (1) tidak diperkenankan bagi orang kafir dzimmi untuk tampil lebih unggul dari orang Islam; (2) nonmuslim tidak boleh menjadi kepala negara bagi umat Islam; (3) nonmuslim adalah warga negara kelas dua, dan sebagainya.

Menghadapi ayat-ayat partikular yang cenderung eksklusif bahkan diskriminatif itu, maka pada hemat saya tidak bisa lain kecuali harus segera ditundukkan ke dalam pengertian ayat dalam kategori pertama. Ayat partikular mesti ditaklukkan ke dalam sinaran ayat-ayat universal. Ayat yang fushul dapat direvisi oleh ayat-ayat yang ushul. Dengan demikian, ayat yang mendukung pluralisme agama dapat menganulir ayat yang tidak mendukungnya. Inilah yang dimaksud oleh kaidah ushul fikih sebagai naskh al-ayat bi al-ayat.  Satu ayat dapat dianulir oleh ayat yang lain. Menurut Ibnu al-Muqaffa, sayangnya umat Islam telah lama terlena oleh ayat-ayat yang fushul (partikular) dengan pengabaian yang nyaris sempurna terhadap ayat-ayat yang ushul (universal). Ia menyatakan, I’rif al-ushul wa al-fushul; fa inna katsiran min al-nas yathlubuna al-fushul ma’a idha’at al-ushul. Ketahuilah olehmu yang terperinci dan yang prinsip. Karena sebagian besar dari manusia, mencari yang ayat-ayat terperinci, sambil menggabaikan ayat-ayat yang prinsip.

Padahal, dalam konteks masyarakat yang semakin mengarah pada kehidupan demokratis dan pluralistik, maka mengacu pada model ayat kedua tadi kiranya tidak cukup menolong. Sebaliknya, dengan berpegangan pada prinsip dasar ajaran seperti yang tertuang di dalam model ayat pertama, diharapkan dapat membantu terciptanya masyarakat yang rukun-damai. Terlebih dalam kasus Indonesia. Bahwa Indonesia bukanlah negara yang hanya didirikan oleh komunitas muslim saja, melainkan oleh seluruh warga negara, baik yang beragama Hindu, Buddha, Kristen, maupun Islam. Indonesia berdiri di atas seluruh jerih payah seluruh warga negara Indonesia. Dengan demikian, memperlakukan umat nonmuslim persis seperti yang ada di dalam ayat-ayat partikular yang kemudian ditegaskan di dalam fikih Islam, bukan hanya tidak bijak bestari melainkan juga bertentangan dengan logika ayat-ayat universal yang mendukung pluralisme agama.

Abd Moqsith Ghazali, Mahasiswa Program S3 Universitas Islam Negeri

06/08/2004 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

sependapat dengan apa yang dipaparkan sdr Abd Moqsith Ghazali, pluralisme agama adalah kenyataan yang tak terhindarkan bagi setiap insan, dan karena itu sudah sepatutnya disikapi bukan dihindari. di lain pihak saya juga tidak menyalahkan sikap penolakan terhadap pluralisme, bisa saja sikap tersebut muncul akibat pengetahuan yang masih minim tentang pluralisme itu sendiri, sehingga sering menimbulkan pemahaman yang keliru tentang pluralisme.. salah satu dari sekian banyak pemahaman yang keliru - namun sering kali saya temui - adalah pandangan yang meng-konotasi-kan pluralisme agama (pada tingkatan tertentu) sebagai sinkretisme agama. karena itu melalui tanggapan singkat ini, saya mengusulkan kepada insan terpelajar seperti sdr Abd Moqsith Ghazali untuk coba mengkaji dan mensosialisasikan hakekat sebenarnya dari PLURALISME AGAMA. do’a dan harapan saya upaya saudara dapat bermanfaat bagi setiap insan yang cinta damai dan terus mencari misteri di balik karya Yang Maha Kuasa melalui kehidupan ini. amin.
-----

Posted by Deddy. I. B. Rondo  on  03/09  at  07:03 AM

Problematika Quranik Pluralisme Agama

SESUNGGUHNYA pluralisme telah menjadi kesadaran agama-agama sejak mula.  Oleh Abd Moqsith Ghazali

Pertama, adalah ayat-ayat yang bersifat universal, ushul, ghayat (tujuan) dan lintas-batas yang meliputi batas historis, ideologi, etnis, suku, bahkan agama.

Kedua, adalah ayat-ayat Alquran yang tergolong sebagai ayat partikular, juz`iy, fushul, dan wasilah. Mayoritas pemikir fikih Islam klasik banyak terdapat di Indonesia.

Assalamualaikum

Sdr Abd Moqsith Ghazali adalah seorang berpendidikan (S3), yang mengajukan hipotesis seperti yang tertulis di atas, dan tentunya perlu jawaban. Apa yang diungkapkan itu mencerminkan sdr Abd MG telah menguasai masalah, yang tentunya bertujuaan agar para umat yang berlainan agama dapat hidup berdampingan secara damai.

Saya setuju sekali apa yang disampaikan walaupun saya bukan berpendidikan dalam masalah agama Islam maupun agama lainnya, saya hanya berprinsip bahwa Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang (bismillah…), mungkin itu yang saya ucapkan pertama saat kanak-kanak menirukan apa yang diucapkan orangtua saya. Kemudian alhamdulilah saya masih hidup sampai sekarang, dan pada salah satu sisi dalam kehidupan saya terdapat sesuatu yang mengganjal yaitu merasa kecewa mengapa yang saya bayangkan mengenai Tuhan yang baik itu dalam penafsirannya ternyata dalam kehidupan dapat menimbulkan kontradiktif, padahal Tuhan itu maha esa. Saya berkelana dalam kehidupan ini, mencari-cari dan kebetulan ketemu , ku ikuti, dan hidup pun jadi bergairah ternyata bangsa Indonesia ada juga yang berpikiran seperti itu (diketahui dengan jelas perbedaan pendapat itu telah berlangsung karena diketahui akibat kemajuan yang mengagumkan dari bidang elektronik) walaupun di Indo-Pakistan telah berlangsung lama (diketahui dari terbitan buku-buku baru), dan kalau tidak salah dalam pemikiran bangsa Indonesia sebenarnya sudah ada, dan telah berlangsung sejak dulu seperti Siti Jenar, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Amengkurat IV yang telah memberikan kontribusi pada saya dalam cara berpikir, seperti saya selalu mengucapkan bismillah di setiap aku akan mulai bekerja, yang sebenarnya ditujukan pada diriku sendiri agar saya selalu melakukan sesuatu dengan kasih-sayang dan sesuai dengan prosedur, jangan sampai pekerjaan itu mencelakakan orang lain. Demikian pula saya sependapat dengan mantan presiden RI bahwa Allah (yang menguasai semesta alam demikian tidak terhingga) tidak memerlukan sembahan saya (hanyalah sesuatu yang jauh lebih kecil dari atom yang mendekati nilai nol), jadi sembahan saya tidak ada artinya. Jadi apa sih yang dimaksudkan keharusan untuk menyembah Allah swt, mungkin itu artinya bahwa saya harus mengingatkan diri sendiri untuk selalu berlaku kasih-sayang tadi. Masuk neraka/surga bukan urusan umat yang suka banyak mengobral ayat, biarlah Allah yang menentukan ketaqwaan saya. Jadi karena saya berprinsip seperti itu maka sekali lagi saya sangat setuju apa yang telah disampaikan oleh Abd MG maupun yang lainnya yang sepaham dengan itu.

Janganlah berputusasa terhadap pemikir fikih Islam klasik yang mayoritas masih berpegang teguh pada penafsirannya, mudah-mudahan idea sdr Abd MG (DR) berkembang terus menuju apa yang dicita-citakan, yang berguna bagi seluruh umat di Indonesia. Dengan demikian membantu pemerintahan SBY-Kalla menjaga stabilitas negara. Amien.

Wassalam

H. Bebey

Posted by H. Bebey  on  03/20  at  05:03 PM

Assalaamu’alaikum Wr.Wb

Saya rasa sederhana untuk memahami ayat yang dianggap kontradiktif oleh anda (yang menrut saya tidak). Kembalikan saja bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat memahami dan melaksanakan ayat-ayat tersebut..... Karena merekalah contoh teladan bagi pelakasanaan diin yang indah ini.

Wassaalaamu’alaikum Wr.Wb.

Posted by Rinaldi Tri Frisianto  on  08/08  at  06:08 AM

Pertama-tama mohon maaf bila dalam tulisan ini ada ketidak setujuan pembaca.  Ini bukanlah debat namun hanyalah pandangan awam terhadap pluralisme agama, dan mohon maaf bila tanggapan ini menyimpang dari tema nya. 

1. Pluralisme agama memang tidak dapat dihindarkan dimana-mana.  Saya mempunyai pemikiran bahwa agama yang dianut oleh setiap manusia adalah atas izin Allah SWT.  Adanya keaneka ragaman agama adalah atas izin Allah SWT, dengan segala konsekuensi yang akan ditanggung oleh pemeluk agama tersebut (dimana Allah SWT sudah menetapkan Islam sebagai agama yang selamat dan semua orang mengetahui adanya Islam).  Allah SWT akan memperlihatkan di hari pembalasan nantinya dimana pada hari itulah akan diperlihatkan satu agama yang mana yang sesungguhnya diridlai oleh Allah SWT.  Pluralisme agama adalah atas izin Allah SWT, hal apapun di bumi dan di langit tidak akan terjadi tanpa izin Allah SWT. Hanya saja bagi orang yang berfikir tentunya akan mengetahui mana yang salah dan mana yang benar.

2. Didalam Al Qur’an selalu disebutkan di beberapa surat yang isinya kurang lebih ada segolongan orang yang disesatkan oleh Allah SWT dan ada segolongan orang-orang yang diselamatkan.  Dan untuk segolongan orang-orang yang disesatkan tersebut tidak ada yang dapat memberi syafaat pertolongan bagi mereka melainkan hanya dengan Rahmat-Nya.  Dari ayat ini bila dikaitkan dengan pluralisme agama,bagaimanapun di bumi ini ada segolongan yang benar dan ada segolongan yang sesat.  Dan siapa yang akan disesatkan? Yaitu orang-orang yang menyukai, mendukung dan menjalankan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT seperti menyembah berhala, zinah, mabuk,durhaka kepada orang tua dll.  Siapa yang akan diselamatkan? Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, yang diberi Rahmat, yang menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan yang telah ditetapkan dalam AlQur’an.  Bisa saja kita dilahirkan di Rusia dengan agama Kristen, atau lahir di Jepang dengan agama Budha atau Shinto , atau terlahir di Arab dengan Agama Islam dan semua nya ini adalah urusan Allah SWT yang maha berkehendak. Semua orang baik muslim maupun non-muslim mempunyai kemungkinan diselamatkan Allah SWT dengan diberi petunjuk kebenaran Iman.  Bagi non muslim akan berpindah menjadi pemeluk Agama yang diridloi Allah SWT dengan rahmat-Nya.  Namun bagi pemeluk agama Islam pun memiliki resiko untuk menjadi sesat, bisa saja disesatkan oleh Allah SWT akibat menyukai dan menjalani hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT tanpa henti yang pada akhirnya Allah SWT menutup hati orang tersebut dari kebenaran, naudzubillahi min zaliq.  Jadi intinya adalah Allah SWT berkuasa dan berkehandak kepada siapa saja memberikan rahmat dan petunjuk.  Tidak ada yang dapat menentukan hari depan saat sakaratul maut menjemput apakah ia berada dam iman Islam atau dalam kesesatan.  Oleh karena itu bagi umat Islam hidup berdampingan dalam pluralisme dengan agama lain tidak bisa dielakkan, namun harus tetap memegang teguh prinsip dasar keimanan Islam. Dengan memahami uraian diatas semoga bisa membuaka pandangan terhadap konsep pluralisme agama.

3. Kontradiksi dalam Al-Quran? Saya kira tidak ada kontradiksi / tarik tambang dalam ayat-ayat Al Qur’an sesungguhnya tidak ada. Mungkin disebabkan oleh keterbatasan akal dan ilmu dan kemampuan manusia dalam menjangkau dan menterjemahkan ayat-demi ayat dalam AlQur’an. Oleh karena itu ada baiknya dalam memahami/menterjemahkan Al Qur’an hendaknya tetap merendah dihadapan Allah dengan berharap mendapat petunjuk Allah SWT sebenar-benarnya ke dalam kalbu, karena tidak mustahil godaan syaitan dengan tipu daya tipis namun menyesatkan akan mengkontaminasi proses pemahaman Al-Quran sehingga menjadi bias dan salah arti dan menimbulkan keraguan.  Dan juga keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia yang tidak bisa menjangkau semua Ilmu Allah yang meliputi lagit dan bumi dimana diantaranya ilmu yang tertulis dalam Al Quran, bisa saja membiaskan dan menjadikan keraguan.

5. Apa yang dikhawatirkan dari agama Kristen?  Yaitu kristenisasi.  Karena sudah menjadi kewajiban bagi seorang pemeluk agama Kristen yang taat untuk mengajak satu orang untuk memeluk Kristen dengan segala cara seperti pernikahan, bantuan kemanusiaan, dan mungkin dengan pemaksaan dll. Di sisi Islam sendiri ini menjadi bahan pembicaraan tanpa ada penyelesaiannya.

Mohon maaf bila ada kesalahan dan semoga Allah memberi petunjuk bagi kita semua.  Terimakasih.

Wassalaam.

Posted by Welly Lukmanulhakim  on  08/07  at  12:08 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq