Prospek Partai-Partai Islam dalam Pemilu 2009 - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

23/09/2008

Prospek Partai-Partai Islam dalam Pemilu 2009

Oleh Burhanuddin Muhtadi

Mengikuti asumsi politik aliran, kelompok abangan yang diidentifikasi sebagai penganut muslim kurang taat cenderung memilih partai nasionalis. Sedangkan kelompok santri dipercaya akan menyalurkan suaranya pada partai Islam. Warga NU lebih nyaman mencoblos partai yang dekat dengan NU. Sebaliknya, pendukung Muhammadiyah dan organisasi modernis lain cenderung memilih partai yang berlatar belakang Islam modernis. 

Peta politik di Indonesia sulit dilepas dari pertarungan kelompok Islam versus nasionalis. Polarisasi Islam-nasionalis ini biasanya merujuk pada politik aliran yang diteoritisasi Clifford Geertz pada 1950-an. Inti dari teori ini adalah adanya kesamaan ideologis yang ditransformasikan ke dalam pola integrasi sosial yang komprehensif Mengikuti asumsi politik aliran, kelompok abangan yang diidentifikasi sebagai penganut muslim kurang taat cenderung memilih partai nasionalis. Sedangkan kelompok santri dipercaya akan menyalurkan suaranya pada partai Islam. Warga NU lebih nyaman mencoblos partai yang dekat dengan NU. Sebaliknya, pendukung Muhammadiyah dan organisasi modernis lain cenderung memilih partai yang berlatar belakang Islam modernis.

Pertanyaannya, apakah politik aliran masih relevan untuk menjelaskan pemilu pasca Orde Baru? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada dua penelitian pada skala nasional. Pertama, studi R. William Liddle dan Saiful Mujani yang menyimpulkan politik aliran telah pudar. Tesis Liddle dan Mujani ini didasarkan pada survei skala nasional pada 1999 yang menyebutkan bahwa mayoritas pemilih PDIP (63%) dalam pemilu 1999 adalah santri.

Kedua, studi Dwight Y. King yang menyimpulkan bahwa politik aliran masih viable pada tingkat grassroot. Dengan data hasil Pemilu 1955 dan 1999, King menyatakan bahwa partai Islam dan Golkar mendapatkan suara di daerah-daerah yang pada tahun 1955 merupakan kekuatan utama partai-partai santri (misalnya Masyumi, NU). Sementara partai nasionalis seperti PDIP mendapatkan dukungan di daerah-daerah yang pada tahun 1955 merupakan lumbung suara partai abangan (misalnya PNI dan PKI). Jika studi King benar, maka perlu redefinisi politik aliran. Bahwa parameter menjalankan shalat dan ritual lainnya tak lagi akurat untuk membedakan afialiasi politik Islam dan nasionalis. Juga, pertanyaan semisal “apakah anda sering, cukup, atau tidak pernah menjalankan shalat” termasuk kategori socially desirable. Kalau politik aliran berlaku, seharusnya suara partai Islam melonjak pada pemilu 1999 dan 2004. Karena, sebagaimana dalam survei Liddle dan Mujani (1999), tingkat ketaatan umat Islam Indonesia dalam menjalankan ibadah makin tinggi.

Faktanya, perolehan partai Islam pada pemilu 1999 dan 2004 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan pemilu 1955. Gabungan partai Islam pada pemilu 1955 sebesar 43.7%, sedangkan total suara partai-partai nasionalis sebanyak 51.7%. Pada pemilu 1999, total suara partai Islam (PKB, PPP, PAN, PK, PKNU) anjlok menjadi 36.8%. Pada pemilu 2004 lalu, suara partai Islam naik menjadi 38.1%. Perlu dicatat, total suara ini masih memasukkan PAN dan PKB. Jika PAN dan PKB dikeluarkan dari partai Islam, maka suara partai Islam lebih sedikit.

Karakteristik partai Islam biasanya dilihat dari dua hal, asas dan basis massa. Dari asas partai, PPP, PBB dan PKS bisa disebut partai Islam karena asas dan ideologinya adalah Islam. Sementara PKB dan PAN bisa dikelompokkan Islam karena meskipun menjual ideologi pluralis, dua partai itu mengandalkan basis massa muslim. Namun, partai Islam tak homogen. PKS, PPP, dan PBB bisa dikategorikan Islamis. Ketiganya memosisikan Islam bukan semata-mata konstruksi teologis, tapi juga menyediakan perangkat sosial politik yang tak memisahkan agama dan negara (Monshipuri, 1998; Roy, 1993). Tak heran jika ketiga partai itu masih memiliki agenda semisal penerapan Piagam Jakarta atau mendukung pelaksanaan perda Syariat. Sebaliknya, PAN dan PKB tak bisa disebut Islamis karena keduanya lebih menitikberatkan pada nilai-nilai niversal Islam dan tak punya agenda menghidupkan Piagam Jakarta.

Uniknya, perbedaan karakter ideologis Islamis dan non-Islamis itu tak terlalu berpengaruh dalam perolehan suara partai Islam. Hasil korelasi pemilu 1999 dan 2004 yang dilakukan Baswedan, suara PDI-P beralih ke partai nasionalis. Sementara, peningkatan suara PKS berasal dari partai berbasis Islam (PAN dan PPP). Suara PKB relatif tetap karena partai ini menangguk suara dari kalangan Islam tradisionalis di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah.

Kesimpulan Baswedan di atas sejalan dengan exit polls yang diadakan LP3ES pada hari pemilu 5 April 2004; bahwa peningkatan suara PKS merupakan hasil migrasi dari suara pemilih berbasis Islam, kecuali PKB. Sebanyak 16 persen PAN dan PPP pada pemilu 1999 berpindah ke PKS. Tingkat loyalitas pemilih tertinggi juga jatuh ke PKS (56%), disusul pendukung PKB (54%). Ini menunjukkan, kenaikan suara satu partai Islam lebih disebabkan turunnya suara partai Islam lain. Papartai Islam tidak atau belum berhasil meluaskan pangsa pasarnya. Hubungan antara satu partai Islam dengan partai Islam yang lain bersifat zero-sum game.

Bagaimana prospek partai Islam pada pemilu 2009? Hasil survei opini publik yang diadakan lembaga jajak pendapat menunjukkan bahwa perolehan suara partai Islam tak akan jauh dari hasil pemilu 2004. Survei CSIS Jakarta misalnya, bisa dipakai sebagai tolok ukur untuk melihat pemilu tahun depan. Benar bahwa suara yang belum menentukan pilihannya (undecided voters) masih cukup besar, 30%. Ini artinya, jika ditanyakan partai apa yang dipilih pada saat survei itu digelar, sepertiga pemilih belum menentukan pilihan. Di antara yang sudah menentukan pilihan, menurut survei CSIS, 20.3% menyatakan akan memilih PDI-P. 18.1% memilih Golkar, 11.8% sudah menyatakan pilihannya ke PKS. Pemilih yang sudah menentukan pilihan ke PKB sebesar 6.8%, PD sebesar 5.2%, PPP sebesar 2.7%, dan PAN sebesar 1.7%.

Sementara itu, dilihat dari tingkat loyalitas pemilih, pemilih PKS pada pemilu 2004 yang akan tetap memilih PKS pada pemilu 2009 sebesar 75,4%. Ini rekor tertinggi loyalitas pemilih. Peringkat kedua, Golkar (61%), disusul PDI-P (55,1%) PKB (48, 5%). Sementara tingkat loyalitas PAN terhitung rendah; 31% pemilih PAN pada pemilu 2004 yang akan tetap memilih PAN pada 2009 nanti. Uniknya, ada sekitar 22,5% pemilih PAN pada pemilu 2004 yang akan menjatuhkan pilihan pada PKS pada pemilu 2009 nanti. Tingkat loyalitas pemilih partai Demokrat terhitung paling rendah (18.7%). Ini bukti bahwa pemilih partai Demokrat adalah swing voters dan fenomena sesaat.

Suara PKS yang menanjak menurut hasil survei ini sebagian besar mengambil dari suara PAN dan PPP. Ini berarti, pangsa suara PKS bersinggungan langsung dengan partai Islam modernis lain; PAN, PPP dan PBB. Suara PKB yang akan jatuh ke PKS diprediksi kecil. Di samping karena pemilih PKB memiliki loyalitas tinggi, juga karena karakteristik sosio-religious dan demografis pemilih PKB dan PKS berbeda. Pemilih PKB rata-rata berdomisili di wilayah rural, berpendidikan rendah dan berpendapatan menengah ke bawah.

Mengaca pada hasil jajak pendapat tersebut, partai-partai yang berasas Islam atau berbasis massa Islam perlu mencari strategi yang matang untuk mengembangkan suara di luar suara tradisional Islam. Cara yang paling tepat adalah dengan membidik suara pemilih pemuda karena segmen suara inilah yang relatif bebas dari historical baggage dan immune dari polarisasi Islam dan nasionalis. Apakah partai-partai Islam mampu mengembangkan jaringan suaranya? Kita lihat hasilnya nanti! 

23/09/2008 | | #

Komentar

Komentar Masuk (51)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

ASsalamu’alaikum wr wb.

ALLAH memperingatakan umat Islam lewat Rasul;
Setiap yang tertimpa bencana, kerugian, kemunduran adalah disebabkan perbuatannya sendiri,…

PARTAI2 ATAU ORMAS2 ISLAM GARIS KERAS ADALAH GOL ISLAM TRANSNATIONAL FUNDAMENTALIS DARI TIMUR TENGAH YANG INGIN MENDIRIKAN NEGARA AGAMA ISLAM DGN PAKSA.ARTINYA HUKUM2 ALLAH DIPAKSAKAN KEPADA RAKYAT, BUKAN BERDASARKAN KE IKHLASAN.

Kalau kita lihat dlm pemilihan Umum baru baru ini, semua partai2 Islam Garis Keras tidak bisa muncul menjadi pemenang, tapi malah menjadi pion2 dari Partai2 nationalis, yang Pro demokrasi, Secular, anti diskriminasi,justice for all and freedom of religious.

Malah Partai yang sangat anti Amerika, anti Ham, dan Ahmadiyah yaitu partai PBB malah sudah habis, tidak mendapat kursi lagi di DPR.. PKS yang juga anti ahmadiyah,Liberal, Secular dan Amerika, yang tadinya di harapkan mendapat suara 20%, namun mundur dari sebelumnya.

Kenapa ini terjadi di negara yang penduduknya 90 % umat Islam/
1.Pertama tama rakyat makin pintar,cerdas dan tidak mau lagi ditipu tipu dgn simbolis2;negara syariat Islam, Hizbut tahir, Khilafah Islamiyah, Ikhawan muslimin .......anti korupsi,anti Amerika, anti Demokrasi dll, Mereka melihat malah negara2 Islam sesama muslim saling bunuh membunuh dan miskin ekonominya.

2.Kedua rakyat makin kritis dgn perjuangan ulama2, usztad2 yang berasal dari partai2 Islam Keras yang mana Ulama2 dan Usztad2 dalam menegakan amar makruf nahi mungkar dgn kekerasan seperti FPI Cs menzolimi ratusan ribu muslim Ahmadiyah, merusak properti2 ,kafe2 dll mereka sangat menderita sampai hari ini atas perbuatan2 zolim dari ulama2,usztad2 dan Partai2 Islam serta MUI yg mengharamkan keyakinan orang lain.

3. Ulama2 dan pemimpin2 Islam Transnational ini tidak bisa membuktikan mereka bisa mensejahterakan umat islam yang banyak ini dengan dakwah2 Islam.Mereka semua adalah golongan2 lemah ekonomi dan membenci Amerika yang mengusai ekonomi dunia. Kalau memusuhi Amarika artinya miskin,karena uang tidak akan mengalir lewat2 business Islam Transnational Fundamentalis.Mana ada pemimpin2 Partai2 Transnational yg mempunyai industri2, tidak ada bukan?

4.Pada umumnya ulama2 dari golongan transnational fundametalis ini sangat bersympati dgn perjuangan Taliban,Al Qaida, dgn tujuan yang sama yaitu mendirikan negara Agama, atau khalifah islamiyah dan membenci Amerika steriotype.dan suka membunuh orang2 civil yg tidak berdosa.
Membenci Amerika artinya juga membenci 7 juta umat Islam moderat Amerika.

Saya berkeyakinan berdasarkan kepada ayat ALLAH diatas itu umat Islam tidak mau memberikan suaranya lagi. Karena orang2 yang suka menzolimi dan menindas golongan lain, ALLAH tidak akan memberkahinya,mereka akan menerima azab kehinaan di dunia, azap yang pedih di akirat...sebagaimana Taliban, al,Qaida dll

Marilah saya ajak anda menyebarkan ajaran2 islam yang santun dan toleransi seperti Aa Gym itu.

Wassalamu’alaikum wrwb.
http://www.islamliberal.net/

Posted by alatif  on  07/22  at  10:40 PM

islam pecah, buktikan persatuan islam di indonesia

Posted by rama  on  05/04  at  01:36 PM

Assalamu’alaikum,
Saya setuju dengan paiman,Sedikit tambahan dari saya :
Saya tahu dari beberapa ulama bahwa pemilu dan partai politik bahkan demokrasi sebenarnya tidak ada dalam Islam dengan artian tidak ada satupun dalil sharih yang melarangnya dan membolehkannya. Hal tersebut hanya merupakan perkembangan politik dan zaman seiring dengan berkembangnya kebudayaan dan pola pikir masyarakat.
Pendapat saya, manfaatkanlah pemilu dan partai politik sebagai media da’wah untuk menegakan kalimat Allah apapun partainya yang penting berbasis atau berorientasi Islam seperti PKS, PBB, PBR, dan sebagainya.

http://www.persatuanislam.wordpress.com

Posted by Yd.I  on  04/14  at  03:46 PM

kehancuran partai-partai berbasis idiologi Islam dikarenakan telah terjadi “kanibalisme” suara. udah pangsa pasarnya dikit, yg ngerubutinya banyak lagi. kalau pun terjadi semua partai Islam bersatu, tetap aja blm bisa menyaingi gabungan PG&PDIP;.

PKS sepertinya sudah menyaadari hal ini. mungkin ini alasanya PKS bisa bertahan

Posted by riadhy  on  04/12  at  12:58 AM

emang PKS pny figur pemimpin yg baik? bagus? yang saya liat cm skumpulan orang yang udah merasa pny tiket surga. sok eksklusif!!! semua itu cm bikin perpecahan dan kecemburuan aja. apa mau NKRI ini harus bubar???

Posted by setiawan  on  03/22  at  02:21 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq