Puasa, Bengkel Kepekaan Sosial - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
18/10/2004

Puasa, Bengkel Kepekaan Sosial

Oleh Abdullah Ubaid

Sejatinya harus ada keseimbangan antara aspek yang teosentris dan antroposentris dari kegiatan manusia. Melalui ibadah puasa, kita berharap hubungan manusia dengan Tuhannya, dan hubungan manusia sesama manusia (dan lingkungannya) terjalin apik. Jika tidak, integrasi pesan puasa terasa pincang dan berakibat mendisorientasi agama.

Selain menahan makan dan minum, puasa mengandung pesan sosial yang luhur. Puasa bukan hanya ibadah berorientasi vertikal (teosentris), tetapi horisontal (antroposentris). Memaknai puasa secara teosentris (pahala bagi yang menjalankan dan dosa bagi yang meninggalkan) adalah pemaknaan sempit. Dalam Al-Fikrul Islâmy: Naqd wa Ijtihâd, Mohammad Arkoun mengingatkan kuatnya model “nalar teologis” (al-’aqlul aqâ’idî) dalam soal keagamaan. Cirinya: pemusatan segala aktivitas dan persoalan apapun pada Tuhan, tanpa menghiraukan harkat dan martabat manusia dan problem kemanusiaan.

Sejatinya harus ada keseimbangan antara aspek yang teosentris dan antroposentris dari kegiatan manusia. Melalui ibadah puasa, kita berharap hubungan manusia dengan Tuhannya, dan hubungan manusia sesama manusia (dan lingkungannya) terjalin apik. Jika tidak, integrasi pesan puasa terasa pincang dan berakibat mendisorientasi agama. Pemahaman agama yang tidak utuh, hanya akan menjadikan agama sebagai candu masyarakat. Artinya, agama hanya memberi iming-iming pahala dan surga, tanpa terlibat dalam dimensi kemanusiaan (baca: pembebasan manusia).

Tentu agama hadir untuk mengangkat harkat, martabat, serta membela hak asasi manusia. Karena itu, agama tidak bisa diam begitu melihat realitas sosial yang timpang. Melalui puasa, umat Islam pertama-tama akan terlatih untuk berempati pada manusia lainnya. Empati itu bukan karena sama-sama lapar dan haus, tapi terkait dengan setiap derita kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan ini menjadi bagian terpenting yang perlu diupayakan dan disebarluaskan umat beragama. Saling menghormati, toleransi, hidup damai, harmonis dan ramah menjadi bagian terpenting kehidupan sosial-keagamaan. Dengan begitu, agama diharap lebih mencerminkan dimensi kemanusiaan ketimbang selalu terbelit simbolisme ritual.

Kedua, mengikis egoisme dan menumbuhkan sikap kebersamaan. Dalam perspektif Islam, kebersamaan merupakan makna hidup yang sejati. Karena itu, setiap individu (Eaton 2002: 505) harus menjadikan orang lain tidak ubah dirinya sendiri. Artinya, jika orang lain merasa tidak betah hidup dalam penderitaan, setiap Muslim harus berempati, dan mencari solusi untuk melepaskan mereka dari jerat penderitaan. Makanya, menurut Fazlur Rahman (1987: 125), Alquran mengajak manusia menerima Tuhan Maha Esa dan kemanusiaan yang tunggal sebagai dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Hanya melalui keyakinan semacam itu, kebersamaan dan solidaritas sosial dalam kerangka kesederajatan dapat berpijak kuat pada pandangan hidup umat Islam.

Ketiga, puasa menggugah kesadaran progresif dalam beragama. Keluar dari belenggu menuju pembebasan. Orang yang berpuasa tidak akan tega melihat tetangganya lapar. Inilah salah satu upaya pembebasan dari belenggu kemiskinan. Pembebasan yang dimaksud di sini secara umum berarti “pembebasan dari” (free from) segala belenggu dan kooptasi, dan “pembebasan untuk “(free for) cita-cita luhur kemanusiaan. 

***

Jelaslah bahwa puasa bukan sekedar ritual yang teosentris, tapi ikut menumbuhkan kesadaran untuk melakukan pembacaan agama secara antroposentris (agama untuk manusia, bukan sebaliknya). Lantas mengapa harus antroposentris? Sebagaimana ditegaskan Essack (1997), antroposentrisme membawa dua implikasi. Pertama, pembacaan yang selaras dengan misi dan kepentingan umat manusia keseluruhan. Kedua, pembacaan itu juga dibentuk oleh pengalaman dan aspirasi umat manusia keseluruhan, bukan sebagian atau segelintir mereka.  Pemaknaan seperti ini sejalan dengan misi profetik para Nabi, yaitu pembebasan manusia dari segala bentuk kooptasi tirani dan ketertindasan. Dalam sejarah, Nabi Muhammad tidak pernah melakukan gerakan pembebasan atas pertimbangan agama atau suku. Nabi melakukan misi pembebasan atas dasar-dasar kemanusiaan.

Makanya, bagi Engineer (1990) pembacaan terhadap perjalanan (sirah) Nabi Muhammad akan menghasilkan tiga jenis pembebasan. Pertama, pembebasan sosio-kultural. Sebelum Nabi Muhammad diutus, struktur masyarakat Arab dikenal feodal, paternalistik, dan selalu melahirkan penindasan. Secara garis besar, mereka terbagi dalam dua kelas saling bertentangan; kelas terhormat yang menindas (syarif/the oppressor) dan budak dan orang miskin yang tertindas (mustadh’afin/the oppressed).

Kedua, keadilan ekonomi. Sejak diturunkan pertama kali, Alqur’an amat menekankan soal pemerataan dan keadilan semua, bukan untuk segelintir orang saja. Alqur’an amat menentang penimbunan dan perputaran harta pada orang-orang kaya saja (QS. 59: 7), sementara orang miskin tertindas secara struktural dan sistemik. Untuk keperluan ini, Alqur’an menganjurkan orang berpunya menafkahkan sebagian hartanya kepada fakir miskin (QS. 2: 219).

Ketiga, sikap adil terhadap agama lain. Keterbukaan, toleransi, dan respek pada agama lain merupakan elemen liberatif lain dalam Islam. Alqur’an telah membuat diktum tegas, tidak ada pemaksaan dalam beragama (QS. 2: 256), bagimu agamamu, bagiku agamaku (QS. 109: 6). Alqur’an juga mengajarkan penghormatan atas semua Nabi yang diturunkan Allah (QS. 4: 150-51). Nabi manapun, dengan misi profetiknya jelas memberi kontribusi yang besar pada pembebasan manusia untuk menjadi manusia yang sesungguhnya (humanum).

Ironisnya, kini keadilan di negara ini masih seperti barang mewah dan milik orang berduit saja. Padahal masyarakat kita adalah masyarakat “berketuhanan”. Karena itu, kepekaan, tanggung jawab sosial baik dari pemerintah maupun masyarakat diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang kita hadapi. Anak jalanan, korban pengungsian, korban kekerasan dan penggusuran, bencana alam, dan lain-lain. Puasa Ramadan diharapkan menjadi media melatih dan menggembleng diri untuk menjadi pribadi-pribadi yang peka akan realitas sosial. Dengan puasa, kita berlatih menangkap nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap ritual dan mengimplementasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa pandang agama apa dan suku mana. []

Abdullah Ubaid, Peneliti di Lembaga Studi Agama dan Sosial (eLSAS) Jakarta

18/10/2004 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Tulisan Anda bagus. Moga menyentuh setiap nurani kaum Muslim yang hampir lumpuh sensitifitas sosialnya. Mabruk alaik!

Posted by Muhammad Qorib  on  08/18  at  02:15 PM

Yang saya tahu pada waktu jaman Rasul SAW beliau apabila berbuka dan makan sahur,beliau hanya memakan kurma dan minum air,lain dengan kita umat Islam saat ini yang cenderung apabila berbuka puasa dengan makanan yang lebih dari biasanya se-olah2 balas dendam karena siangnya tidak makan dan minum,harus ada kue harus ada syrup dll,yang mengakibatkan kebutuhan akan belanja jadi meningkat,dan kita tidak mengerti apa sebenarnya yang menjadi tujuan dan manfaat puasa.
-----

Posted by adlian p  on  10/24  at  04:11 AM

Seharusnya puasa dapat membuat pihak lain terselamatkan, tetapi yang terjadi di negeri kita, bulan puasa menjadi alasan untuk memasang pengeras suara keras-keras baik menjelang magrib maupun menjelang subuh atau malah saat-saat sahur dengan alasan “syiar islam”. Padahal banyak juga tetangga kanan kiri yang mungkin non muslim yang sedang nyenyak tidur atau muslim yang tidak puasa karena sakit. Dengan suara dari pengeras suara masjid-masjid yang cukup keras, bukankah sangat mengganggu kenyamanan pihak lain. Ini yang seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama. Alasan “syiar islam” bukan dengan gede-gedean suara, tetapi bagaimana diri kita menjadi teladan bagi pihak lain, bahwa menjadi muslim adalah membuat pihak lain merasa aman dan nyaman. Itulah tujuan kita berpuasa.

Posted by ismail  on  10/22  at  11:11 AM

Apapun makna dan essensi puasa bagi kita, hanyalah sebatas syarat atau peraturan untuk tetap tunduk patuh dan taat terhadap hukum yang diberlakukan. Adapun mengenai toleransi atau bagaimana ia menjalankan ritualnya dalam melaksanakan puasa, nilainya hanya sebatas yang telah kita kerjakan karena nilai absolut puasa ada pada Khaliknya.

Posted by indra DJUMNA  on  10/21  at  05:11 AM

Kalau puasa disebut bengkel kepekaan sosial, saya kira betul, cuma yang mengherankan, kenapa justru pada bulan puasa ini, secara nasional, selalu menjadi isu yaitu kenaikkan harga barang sembakao, yang bermula dengan naikknya jumlah permintaan barang tersebut, padahal dengan puasa, seharusnya yang terjadi yaitu berkurangnya aktifitas makan memakan, yang ujungnya menurunnya jumlah konsumsi makanan secara nasional dan imbasnya turunnya harga-harga sembako, itu logikanya. tapi kenyataannya sebaliknya, contoh : produksi mie instan “ Indomie” justru menaikkan produksinya menjadi empat kali lipat untuk memenuhi suply pasarnya. Atau memang bulan puasa adalah bulan untuk memberi makan fakir miskin dengan makanan yang sederhana dan juga bagi si kaya adalah saatnya makan yang enak-enak diwktu malam?, jaman nabi seperti ini juga nggak yach? tolong jelasin dong puasa dijaman nabi )

Posted by Joko Santoso  on  10/19  at  04:10 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq