Qur’an dan Spider Man - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
12/07/2004

Qur’an dan Spider Man

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Selama ini, perhatian umat Islam dalam mengkaji Qur’an cenderung lebih tertuju pada ayat-ayat hukum atau “ayat al-ahkam”. Kita juga melihat adanya tendensi untuk memandang Qur’an semata-mata sebagai suatu kitab hukum, suatu dokumen yang hanya memuat aturan-aturan yang kurang lebih mirip KUHP. Qur’an direduksi hanya sebagai suatu qanun yang memuat aturan tentang halal-haram.

Selama ini, perhatian umat Islam dalam mengkaji Qur’an cenderung lebih tertuju pada ayat-ayat hukum atau “ayat al-ahkam”. Kita juga melihat adanya tendensi untuk memandang Qur’an semata-mata sebagai suatu kitab hukum, suatu dokumen yang hanya memuat aturan-aturan yang kurang lebih mirip KUHP. Qur’an direduksi hanya sebagai suatu qanun yang memuat aturan tentang halal-haram.

Saya kira, tendensi semacam ini amat kurang baik, karena jelas bersifat reduksionistik, serta mendangkalkan perspektif kita tentang kitab suci itu. Sebagaimana kita baca dalam literatur tentang “ulum al-tafsir”, ayat-ayat hokum dalam Qur’an hanyalah sedikit sekali, kurang lebih 200-an ayat. Ayat-ayat lain berbicara tentang tema yang amat luas spektrumnya: kisah para nabi terdahulu, kisah kosmis tentang penciptaan Adam, kritik-kritik sosial atas masyarakat Arab pada masa Nabi, etika sosial, fenomena alam, dunia binatang dan tumbuhan, dsb. Aspek yang cenderung dilupakan dalam Qur’an adalah kisah, atau kalau mau memakai bahasa Qur’an, “qashash”. Qur’an memuat banyak sekali kisah dengan spektrum tematik yang juga warna-warni. Aspek ini sepertinya cenderung diabaikan oleh umat Islam. Saya mengendus adanya pandangan yang implisit di kalangan umat, bahwa ayat-ayat tentang kisah kurang begitu penting jika dibandingkan dengan ayat-ayat yang berbicara tentang hukum atau “ayat al-ahkam”. Kita bisa mengetes kebenaran hal ini dengan menengok literatur Islam, entah yang ditulis pada masa klasik atau modern. Literatur tentang “ayat al-ahkam” sangat banyak jumlahnya. Dari masa klasik, kita mengenal dua ulama klasik yang mengarang dua kitab tentang ayat-ayat hukum, yaitu Ibnu al-Arabi dan Al-Kiya al-Harrasi. Pada masa modern, kita mengenal nama Muhammad Ali al-Shabuni yang menulis buku “Rawa’iu al-Bayan”.

Saya baru saja menonton film “Spider Man 2”. Tentu film ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kajian Qur’an. Tetapi, setelah menonton film itu, saya mengirim sms pendek ke sejumlah teman, bahwa pada akhirnya manusia membutuhkan dongeng ataupun kisah. Kita mengira bahwa citra utama manusia modern adalah sepenuhnya rasional, memandang rendah hal-hal yang sifatnya “pinggiran” seperti fiksi. Industri hiburan yang nilainya milyaran dolar sangat bertumpu pada dongeng itu. Jutaan orang di seluruh dunia berbondong-bondong mengunjungi gedung teater untuk menyimak dongeng-dongeng. Selama ini, kita sudah mengenal sejumlah dongeng Hollywood yang sudah melegenda: Super Man, Batman, dan Spider Man.

Memang peran dongeng dalam masyarakat modern tidak lagi sepenting seperti dalam masyarakat pra-modern. Dongeng, dalam masyarakat modern, mungkin dipandang hanya sebagai “hiburan” yang sifatnya kurang serius, kurang penting, sekurang-kurangnya jika dibandingkan dengan sain atau teknologi. Tetapi, dalam kenyataannya, manusia modern tetap membutuhkan dongeng. Pada akhirnya, dongeng adalah sesuatu yang “indespensable”, tak bisa diabaikan. Kenapa dongeng dan kisah penting, saya kira bisa diterangkan dengan pelbagai penjelasan. Kisah dan dongeng memberikan kepada kita suatu “prototipe” tentang dunia ideal yang kita angankan. Manusia selalu hidup dalam tegangan antara dunia rill dan dunia yang seharusnya, antara ide dan kenyataan. Dunia riil, biasanya, tidak seindah dunia “seharusnya”. Dongeng memberikan contoh bagaimana dua dunia itu harus dikelola dalam konteks naratif yang seolah-olah nyata.

Dongeng juga memberikan “model” tentang “yang baik” dan “yang buruk”. Kita kurang tertarik jika ajaran tentang yang baik dan yang jahat dikemukakan dalam bentuk preskripsi, dalam daftar “do and don’t”. Ajaran itu akan lebih menarik jika disampaikan dalam bentuk narasi atau kisah. Kisah tentang Adam yang terusir dari sorga adalah salah satu contoh paling populer tentang kerentanan manusia yang berada dalam tegangan antara “yang baik” dan “yang jahat”. Tetapi kisah Adam, dalam versi Qur’an, mengandung wawasan yang amat positif tentang manusia. Meskipun Adam terjatuh dalam dosa, ia bertobat dan pertobatan itu diterima oleh Tuhan. Dalam kisah itu, terkandung suatu “model kosmis” tentang manusia yang tergoda untuk berbuat salah dan menyimpang, tetapi pada akhirnya ia akan kembali ke jalan yang benar lagi. Dalam wawasan Qur’ani, berbeda dengan Kristen, “firdaus” sebetulnya tidak seluruhnya hilang. Firdus Adam bisa di-reclaim dengan tobat. 

Dongeng-dongeng Hollywood, bagi saya, kurang begitu menarik, karena terlalu menekankan aspek-aspek heroik dalam manusia. Kita tengok Superman, Batman, dan Spiderman: semuanya adalah manusa --meminjam istilah Iwan Fals-- “setengah dewa” yang begitu raksasa dan bisa menyelesaikan dilema kejahatan-dan-kebaikan dengan begitu gampang. Saya kira, Qur’an memberikan contoh yang ebih realistis tentang manusia: Adam sebagai manusia yang rentan, tetapi kembali menjadi kuat karena tobat.

Walhasil, kita perlu mengeksplorasi isi Qur’an seluas-luasnya, dan berhenti memandang Qur’an sebagai semata-mata kitab hukum yang kering. Dengan begitu, Qur’an menjadi khazanah yang kaya dan memberikan inspirasi yang kreatif buat Muslim sekarang.[Ulil Abshar-Abdalla]

12/07/2004 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Keterpurukan kaum muslim zaman sekrang disebabkan oleh karena,kebodohan ,kemiskinan,IPTEK yang tertinggal jauh. Yang jadi pertanyaan beasar kita kenapa islam sepeti itu. padahal kemajuan-kemajuan dalam ilmu apa-pun ternyata semuanya ada di islam atau al-qur’an, ilmu kedokteran misalnya proses-proses pembuatan manusia dan ilmu biologi, kima, fisika juga banyak lainnya.Dan hal ini ini telah dibuktikan pada saat zaman Abbasyiah. tapi kenapa sekarang islam itu buruk dan ama-amat tertinggal.ternyata penyebabnya adalah cara berpikir islam yang terkebiri dengan atauran-aturan islam sendiri yang salah, seperti para ilmuan islam sekrang (ulama) hanya mempelajari ilmu-ilmu syariat saja, dan salah satu bukti bahwa Ulil Absyor mengumukakan pendapat yang didasari kebebasan bergfikir langsung dijegal oleh lembaga-lembaga keislaman.Karena inilah islam jadi mandeg, memang akibat dari kebebasan berfikir bnyak akbitanya seperti banyak aliaran dan faham-faham lainya, tapi justru dari situlah fakotor utama yang bisa memajukan umat islam.mengenai akibat dari kebebasan berfikir kita harus memepunyai lembaga yang dapat menjembatani atau memfilter fikiraan-fikiran baru tersebut dengan catatan tidak mengkebiri cara berfikir umat kecuali telah keluar dari ajaran kita yaitu al-qur’an juga sunnah
-----

Posted by Eman Sulaeman  on  10/13  at  10:11 AM

Saya ingin mengkritik bukan pada apa yang ingin disampaikan Ulil. Itu masih sangat jauh sekali dari sebuah upaya komunikatif.

Kritik saya lebih pada gaya bahasa Ulil yang terasa represif dan tidak kreatif. Ketika dipintu gerbang ini saja sudah tidak bisa dinikmati, bagaimana bisa memuncratkan sebuah kegairahan ide yang ingin di sampaikan.

Menurut saya, Ulil terlalu menghakimi dan menjeneralisir cara pandang umat islam. Ulil tidak bicara berdasarkan data dan bukti. Tapi langsung memetakan sekejam developer menggusur tanah rakyat.

Siapa bilang umat Islam hanya menggunakan AlQur’an hanya sebagai Kitab Hukum??

Ulil tidak bicara bagaimana dengan Kitab sebagai bantal atau bahkan obat santet. Ulil tidak melihat kitab sebagai karya sastra yang dibaca secara ekstasif ditengah malam.

“Tidak ada yang bisa ditertawakan kecuali diri kita sendiri, kawan.”

Posted by zarathustra  on  07/29  at  04:07 PM

Bung Ulil, Saya termasuk penggemar tulisan2 Anda. Ketika baca Quran & Spider Man, saya sempat tercenung pada contoh yang Anda buat: ‘Literatur tentang “ayat al-ahkam” sangat banyak jumlahnya. Dari masa klasik, kita mengenal dua ulama klasik yang mengarang dua kitab tentang ayat-ayat hukum, yaitu Ibnu al-Arabi dan Al-Kiya al-Harrasi.’

Saya perlu pertanyakan sedikit tentang kitab Ibnu al-Arabi yang Anda golongkan kepada ayat-ayat hukum itu kitab yang mana? Dua kitab beliau yang termasyhur Al-Futuhat al-Makiyya dan Fusus Al-Hikam lebih cenderung kepada esoteris (hakikat/marifat) daripada ke hukum. Di beberapa bab dalam Futuhat yang ribuan halaman itu memang disinggung tentang masalah hukum misalnya tentang thaharah, tetapi beliau lebih mengupas “makna batinnya” dibandingkan “syariah” nya dan menghindari perdebatan pemahaman hukumnya yang terjadi sebelum dan ketika masa itu.

Saya kira contoh yang Anda ambil kurang begitu tepat untuk Ibn al-Arabi. Bukankah beliau lebih dikenal sebagai Syekh al-Akbar yang lebih masuk ke area sufi/mistis dibanding ke hukum?

Mungkin hal ini akan mengoreksi Anda ataupun bisa mengoreksi saya kalau ternyata pemahaman saya belum lengkap.

Wassalamualaikum, M.R.Thantowi

Posted by Muhammad Thantowi  on  07/28  at  02:08 PM

Kadang saya iri dengan saudara2 kita yang beragama lain, mereka bisa mengambil hikmah dan menginterpretasikan ajaran agamanya hanya dari cerita2 fiktif dari kitab sucinya, atau bahkan dari cerita legenda saja. Mungkin apresiasi satra umat Islam memang rendah, seperti yang ditulis sdr. As’ad Alf dalam tanggapan artikel ini tanggal 17/07/2004.

Bayangkan saja: umat Hindu bisa menjalankan ajaran agamanya --baik dalam aras pribadi maupun sosial-- hanya dari kitab-kitab yang berisi cerita-cerita seperti Uphanisad, Ramayana, Mahabharata, dan Bagavath Gita. Orang Yunani kuno agamanya juga hanya didasarkan dari cerita2 mithos. Kitab Tripithaka bagi umat Budha juga banyak berisi cerita2 dan renungan2 dari Sang Budha Gautama. Dalam kitab kitab Yahudi dan Nashrani, kita mengenal banyak cerita2 yang oleh umat Islam disebut cerita Israeliyat, yang banyak disadur ke dalam Al-Quran, tetapi ceritanya tidak sedetil dalam kitab aslinya.

Jadi kapan kita bisa mengejar ketertinggalan kita dari umat yang lain dalam apresiasi Sastra terhadap cerita2 dalam kitab suci? Mingkin kita masih harus banyak belajar dari mereka.

Posted by Kustiyadi  on  07/25  at  09:07 AM

Kurangnya perhatian Umat Islam terhadap ayat-ayat tentang kisah dibanding ayat al-ahkam barangkali dapat dibandingkan dengan rendahnya apresiasi masyarakat terhadap (seni) sastra. Perbandingan ini mempertimbangkan banyak kalangan yang menyatakan al-Qur’an sebagai sebuah karya sastra. Jika dalam sastra ada kategori berat dan ringan, maka al-Qur’an lebih tepat tergolong kategori pertama. Untuk kategori kedua biasa disebut sastra populer yang untuk mengapresiasinya tidak cukup sulit. Namun, semudah apa pun apresiasi sastra tetap saja membutuhkan curahan pikiran dan kepekaan intuisi, bahkan –dalam taraf dan persoalan tertentu– membutuhkan kecerdasan spiritual. Hal ini berbeda dengan persoalan hukum yang lebih menekankan aspek rasional. Singkatnya butuh energi ganda. Apalagi jika apresiasinya diarahkan tidak hanya pada reproduksi makna sesuai dengan kehendak the author (Dilthey) tetapi sampai pada reproduksi makna baru yang lebih kontekstual (Gadamer). Untuk itu, saya kira terlalu berlebihan jika dalam kondisi seperti ini diendus adanya suatu pemahaman yang implistis tentang kurang pentingnya ayat qashash.

Namun saya sepakat jika kesadaran terhadap kondisi ini dijadikan sebagai titik awal gerakan pembedahan terhadap kisah-kisah dalam al-Qur’an, dilanjutkan dengan menjadikannya sebagai inspirasi untuk mencipta kisah-kisah baru yang dapat dinikmati dalam bentuk bacaan atau tontonan, hingga dapat memperkaya budaya umat Islam. Hal ini yang disadari memang belum banyak (kalau tidak sama sekali) dinikmati oleh anak-anak kita, sebagai pembanding Super Man, Batman, Spider Man, dll.

Posted by As'ad Alf  on  07/16  at  08:08 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq