Reorientasi Misi Agama dalam Bencana Global - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
20/02/2005

Reorientasi Misi Agama dalam Bencana Global

Oleh Fajar Riza Ul Haq

Hemat penulis, titik temu kedua gagasan liberatif-kritis tersebut dengan model keberagamaan subjektif-dialogis adalah redefinisi misi agama dimana selama ini agama, khususnya dalam tradisi Abramic Religion, lebih dilihat sebagai kekuatan misionaris. Bantuan kemanusian yang direcoki kepentingan misi agama tidak lepas dari tiadanya sensitivitas tanggung jawab global kemanusiaan.

Catatan:
Rubrik Kajian di Jawa Pos sejak 11 Februari 2005 dimuat setiap hari Jumat

Artikulasi agama dalam setiap lintasan kesejarahan tidak bisa dipisahkan dari tingkat keberadaan sosio-budaya masyakatnya. Dapat dipastikan bahwa kelahiran serta kehadiran agama pada satu periode tertentu merupakan manifestasi respon sekaligus kritik terhadap dominasi tata sosial-politik yang sedang berjalan. Dari sini, mungkin kita dapat memahami mengapa fase-fase pertumbuhan agama selalu melegitimasi diri dengan problem nasikh-mansukh, pemurnian-penyelewengan maupun pembaharuan-distorsi. Jika ini yang mungkin biasa terjadi, maka ini sesungguhnya berangkat dari sudut pandang subjektif-monologis.

Tentunya ini akan menjadi berbeda bila kaca mata yang dipakai adalah subjektif-dialogis. Konvergensi kedua perspektif tersebut adalah sama-sama menekankan kehadiran subjektivitas keimanan dalam mempersepsi realitas. Namun subjektivitas keimanan yang bersifat dialogis mengakui pengalaman (human experience) dan kehadiran entitas lain (the other) sebagai bentuk panggilan keimanan (the call of faith) dalam proses transendensi nilai-nilai kemanusian yang bersifat universal. Keimanan, pengalaman dan kemajemukan merupakan lingkaran keberagamaan yang akan terus mengafirmasi spirit agama itu sendiri.

Berbeda dengan pendekatan subjektif-dialogis, subjektivitas yang monologis tidak memberi ruang dialog antara keimanan itu sendiri dengan “tuntutan” realitas sosial, yang dalam bahasa Paul Knitter disebut human suffering, atau social misery dalam kamus Leonardo dan Clodovis Boff - dua garda depan Teologi Pembebasan di Amerika Latin. Kesadaran keberagamaan yang berbasis subjektif-monologis ini cenderung mengabaikan aspek dinamika pengalaman lokalitas dan keunikan keberagaman. Pendefinisian substansi dan misi agama dalam cara pandang ini hanya akan berpusar pada kepentingan dakwah atau missionaris, yaitu bagaimana kita (we/us) mengislamkan/ menginjilkan mereka (them), dan lain-lain.

Contoh teranyar yang dapat dirujuk adalah kasus bantuan kemanusiaan yang “disusupi” kepentingan agama tertentu untuk korban bencana tsunami di Sri Lanka dan Aceh. Terungkapnya hal tersebut jelas telah memicu kontroversi yang justru kontra produktif dengan upaya penggalangan solidaritas kemanusiaan untuk para korban. Seperti dilaporkan International Herald Tribune (IHT), Komunitas Gereja Antioch asal Waco yang berafiliasi dengan kelompok Evengelis Amerika secara terang-terang mencampuradukkan bantuan kemanusiaan terhadap korban bencana di Sri Lanka dengan misi agama. Keadaan ini justru mengundang kritik langsung dari pemimpin Kristen setempat. Mereka sangat khawatir langkah komunitas Gereja Antioch dapat memancing amarah kelompok garis keras Buddha (Gatra, 05/02/05).

Untuk kasus Aceh, pernyataan Worldhelp yang dimuat harian Washington Post tidak lama setelah bencana tsunami menghebohkan masyarakat muslim Indonesia. Upaya pengangkutan dan adopsi anak-anak muslim Aceh untuk kemudian dikristenkan telah menjadi isu panas di tengah musibah kemanusiaan. Namun perwakilan umat Kristen Indonesia melalui KWI dan PGI menyatakan penolakannya terhadap sikap misionaris Worldhelp. Lebih jauh mereka menyerukan agar bentuk-bentuk bantuan pasca bencana dari organisasi keagamaan non Islam dapat disalurkan melalui ormas-ormas Islam, seperti Muhammadiyah dan NU.

Kedua kasus di atas mencerminkan bahwa cara pandang beragama terhadap masalah-masalah kemanusiaan yang bersifat global seperti bencana alam, kelaparan, kemiskinan, korban kekerasan pun krisis lingkungan, masih didominasi karakter beragama yang subjektif-monologis. Artinya belum ada usaha-usaha kolektif dari berbagai kalangan beragama untuk mendefinisikan ulang sekaligus merumuskan paradigma tanggung jawab global beragama. Secara lebih detail, Knitter menyoroti masalah ini sebagai fokus untuk mencari titik temu dialog lintas iman untuk kemanusian global dalam One Earth Many Religions (2001). Sejalan dengan Knitter, Boff bersaudara mengupas signifikansi keseimbangan antara konsep iman dan kepentingan keberpihakan dalam Salvation and Liberation (1984).

Mencari Common Action

Hemat penulis, titik temu kedua gagasan liberatif-kritis tersebut dengan model keberagamaan subjektif-dialogis adalah redefinisi misi agama dimana selama ini agama, khususnya dalam tradisi Abramic Religion, lebih dilihat sebagai kekuatan misionaris. Bantuan kemanusian yang direcoki kepentingan misi agama tidak lepas dari tiadanya sensitivitas tanggung jawab global kemanusiaan. Dalam koridor tanggung jawab global (globally responsibility) inilah, human suffering seperti kemiskinan, musibah, krisis ekologi, maupun social misery seperti penindasan, tirani, kolonialisme, dan ketidakadilan merupakan titik pangkal untuk bergerak bersama (common action). Dengan lain kata, dalam literatur Islam ini merupakan reinvensi makna kalimatun sawa` yang berpihak pada pengalaman manusia. Sehingga konsep kalimatun sawa’ tidak hanya dilihat dalam kerangka teologis-doktriner, namun juga dalam arena kenyataan sosial yang tidak adil.

Dalam Islam sendiri terma dakwah sangat populer karena setidaknya Alquran berulang kali menyebutnya dalam beberapa tempat. Secara lughawy, dakwah biasa dipahami “menyeru” atau “mengajak”. Namun dalam aktivitas beragama dakwah lebih dipahami sebagai sikap mengajak sesama iman untuk memperbaiki kualitas amal saleh dan menyeru orang yang berbeda iman untuk meyakini Islam – dalam institusi formal- sebagai agama terakhir. Tidak dipungkiri cukup banyak ayat Alquran yang mendukung garis pemahaman itu. Namun akan menjadi terfragmentasi bila konsep dakwah tidak disangkutpautkan dengan konsep kebajikan universal, atau dalam bahasa Alquran, “berlomba-lombalah dalam kebaikan” (fastabiqul khairat). Konsep terakhir ini memberi perspektif yang lebih luas, terbuka, sekaligus membebaskan terhadap rekonstruksi orientasi dan tujuan dakwah.

Krisis lingkungan yang menghantui, kemiskinan global yang sudah sampai pada batas kritis, dan bencana kemanusiaan yang terus mendera mayoritas penduduk (miskin) bumi merupakan tiga realitas sosial yang paradoks dengan semboyan kemakmuran yang didengung-dengungkan globalisasi. Dalam perspektif keberagamaan yang subjektivitas-dialogis, semuanya merupakan panggilan universal kepada semua pemeluk agama maupun keyakinan, terutama Islam dalam konteks ini, untuk merevisi orientasi dan misi dakwah. Problem otentisitas keimanan dan kepentingan mengislamkan pihak lain agar seiman bukan merupakan alasan pembenar untuk terus bersiasat menundukkan kemajemukan pengalaman keberagamaan dalam satu platform tunggal. Karena langkah ini justru memandulkan dimensi kreativitas dan kompetisi dalam beragama sebagaimana pesan Alquran.

Oleh karena itu, dakwah seharusnya mulai dipahami sebagai bentuk tanggung jawab global masyarat muslim terhadap isu-isu kemanusiaan tanpa terjebak oleh sekat perbedaan latar belakang suku, ideologi, bangsa bahkan agama. Pada akhirnya, dakwah adalah seruan kesadaran kolektif yang bersifat lintas budaya dan iman untuk mengafirmasi tindakan bersama. Betapa kasus Aceh telah menyadarkan kita semua bahwa gerakan solidaritas kemanusiaan pascabencana adalah pilihan prioritas dalam model kehidupan majemuk.

Dengan begitu, misi agama bukan lagi semata-mata sebagai upaya-upaya sistemik konversi namun lebih merupakan ikhtiar bersama merumuskan fokus-fokus sensitivitas lintas iman secara dinamis. Mencuatnya isu-isu kepentingan partikular agama dalam kasus-kasus bantuan kemanusiaan seyogyanya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.[]

Fajar Riza Ul Haq, staf Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS dan mahasiswa Program Pascasarjana Center for Religions and Cross Cultural Studies (CRCS) UGM.

20/02/2005 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Dengan segala kerendahan hati kami bermaksud mohon bantuan anda untuk membantu pengobatan kakak saya yg tlah 2 tahun menderita kanker,seberapapun bantuan anda sangat berarti bagi kami.bantuan mohon ditransfer ke bank MANDIRI cab.batulicin A/n B.waskito NO.Rek 0310004417195,semoga amal baik anda tuhan yg membalasnya.sebelum dan sesudahnya kami sampaikan banyak terimakasih
-----

Posted by santho  on  04/21  at  09:04 PM

Buat saudara Yuhyiana salam anda hebat sekali bung!

Sayang anda mengambil ayat al-qur’an yang tegas-tegas saja. seharusnya memahami al-qur’an secara menyeluruh, bukan ayat per ayat, bayangkan kalau kita paham satu ayat kemudian langsung merespon dengan kekuatan penuh.

Contoh ayat zina, apa para pezina saat ini langsung dirajam semua, seperti yang dilakukan ja’far umar thalib.  Jawabannya, ironis sekali. Kita belum mampu melakukan itu. Harus dibuat dulu negara seperti Saudi, Iran, dll.

Harusnya kalimat dakwah, kita tujukan tidak kepada orang Islam saja. Agama lain juga perlu kita dakwahi. Logika ini bagi wilayah Indonesia, memang kita tdk butuh orang non Islam karena minoritas sekali. Tapi di lain negara Indonesia, menjadi perlu mendakwahi mereka, supaya mereka mau belajar Islam.

Bayangkan kalau anda sudah berpikiran seperti itu di Australia atau Amerika. Anda berkeyakinan bahwa mereka tukang buat onar terhadap Islam. Mereka juga berkeyakinan kalau Islam juga senang buat onar kepada mereka. Apa yang terjadi? masing-masing kokoh pada pendirian dan tidak bertegur sapa serta saling serang. Anda akan menjadi minoritas. Kalaupun anda punya semangat fanatik. Mereka juga punya rasa fanatik. Kalau anda merasa masuk surga, mereka juga merasa masuk surga karena membela keyakinan mereka. Jadi bagaimana, dudukkan manusia sebagai manusia, dia punya nalar, rasa, sosial budaya, dll.

Rasul mengajak kaummnya dengan semua kondisi kemanusiaan. Rasul memanusiakan manusia. Beliau juga berbuat baik kepada mereka, dan bahkan juga berbuat keras kepada mereka. Jadi yang dilakukan bukan hanya yang keras dan kasar saja.

Sekarang ini banyak buku yang ditulis Wahabi, Salafi, Al-Qaida, Persis, dll yang bawaannya pengen berantem dan suka sekali menghujat,menyesatkan orang walaupun sesama muslim mereka juga tidak segan melakukan itu.  Padahal mereka bukan nabi.

Saya kutib pesan terakhir anda: “Marilah kita telusuri al-Qur’aan dan hadith tidak dengan rasio saja.” Saya akan menambahkan “Marilah kita telusuri al-Qur’aan dan hadith tidak dengan rasa saja.” Sekarang bagaimana membedakan rasio/aqal, rasa/nurani, hawa nafsu/emosional.

Al-qur’an memberikan penghargaan yang tinggi kepada manusia atas penggunaan aqalnya. Aqal hanya alat, yang mengambil keputusan nurani dan hawa nafsu. Aqal berfungsi mem-verifikasi data. Jadi kerja aqal sangat jujur. Kalo ada orang hanya akal-akalan, bisa dipastikan ia telah mengikuti hawa nafsu dan menolak rasa/nurani.

Ia meyakini sesuai nurani/rasa atau ia mengingkari mengikuti hawa nafsu/emosi.

Ayo berlomba dalam kebaikan kepada makhluk ciptaan Allah Selamat belajar dan bekerja Wassalam

Posted by mutimma  on  03/14  at  05:04 PM

benar sekali bahwa seseorang yang berdakwah bukan hanya pada kaumnya saja, tapi juga kepada non muslim. tetapi masalah lintas iman ini fungsinya apa?mengapa kita terkecoh dengan pemikiran yang bukan islam tetapi mau mencampur adukan antara ajaran islam dengan ajaran non Islam, dengan dalih agar semua sama tidak ada perbedaan. padahal jelas beda antara islam dan agama lain kalau tidak salah Q.S Ali Imran :18-21. didalam surat tersebut dijelaskan bahwa mereka mau menyamakan dengan agama islam, padahal memang beda. cobalah pdahal mereka ingin menyamaratakan agama karena ada maksud-maksud tertentu.hal ini dalam al-qur’an pun sudah jelas bahwa “orang-orang Yaaudi dan Nasrani tidak akan rida kepada kita sampai kita orang Islam mengikuti agama mereka.  memang kita sama-sama masih harus mencari dan lebih memahami makna yang terkandung dalam al-qur’an dan as-sunnah secara keseluruhan dan masih banyak sekali kewajiban-kewajiban yang masih belum kita jalani. kalau masalah dakwah sebenarnya itu masalah metode saja bagaimana kita bisa menyampaikan Islam kepada orang lain dan mereka mau menerimanya. selamat menelusuri al-qur’an dan Hadist tidak hanya dengan rasio. wassalam

Posted by yuhyiana  on  03/02  at  09:04 PM

Assalamualaikum

Jiwa artikel ini demikian indahnya, merasuk kedalam kalbu yang memberikan kesejukan yang menimbulkan keseimbangan jiwa kembali, yang sebelumnya kegelisahan yang bertumpuk akibat pengalaman kehidupan yang dialami dalam menghadapi kaum seiman yang demikian beraneka ragam, yang menimbulkan pro-kontra.

Alangkah sejuknya apabila outcome yang diharapkan penulis artikel ini dibaca dan disadari oleh para umat sehingga dalam menjalani kehidupan sehari-hari pada kondisi saat ini tidak begitu ditonjolkan sifat keegois individu, yang diaplikasikan dalam menaati peraturan yang sudah disepakati secara UU, karena yang dirasakan saat ini bahwa peraturan itu hanya berlaku pada masyarakat lemah, sedangkan bagi mereka merasa kuat apakah itu orang miskin apalagi orang kaya berlaku seenaknya. Hasutan demi hasutan dilemparkan demi mencapai keinginan pribadi maupun kelompok, dan mengapa masyarakat tidak memberi kesempatan pada pemerintah yang sedang berjalan, yang tentunya apa yang diberlakukan itu merupakan hasil pemikiran yang terbaik dalam menangani masyarakat majemuk di Indonesia yang kita cintai. Mengapa saran sang penulis itu tidak terpikir (?) oleh para pendakwah, dan alangkah indahnya apabila saat kita (PNS. TNI, parpol, orang yang berpengaruh dsb) menjalankan ritual agama mendengarkan khotbah seperti jumatan merasakan kesejukan, dan bertekat untuk mempraktekannya dengan demikian kita ikut berpartisipasi dalam usaha mensejahterakan umat, bukan mendiamkan pribadi yang serakah, sehingga harapan bangsa Indonesia keluar dari kemiskinan dapat segera terwujud. Amien.

Wassalam

Posted by H. Bebey  on  03/01  at  06:03 PM

bantuan kemanusiaan yang direcoki kepentingan misi agama, adalah wajar. Bahkan, bantuan kemanusiaan dengan membawa misi agama tidak hanya terjadi saat suatu tempat hunian manusia dilanda bencana. ketika segelintir orang yang beriman pun akan luruh ketika dilibat kemiskinan, akhirnya mau menerima bantuan finansial untuk mengentaskan kehidupannya dengan menukarnya keimanannya sesuai misi pemberinya. ini artinya, setiap agama dalam tradisi yang disebut abraham religion sesungguhnya sarat dengan misi. kini tinggal, bagaimana setiap insan agama itu mempertahakan konsistensi dan amanah yang sudah digariskan sejak agama itu lahir demi penyelematan manusia di akhirat pada negara berkembang seperti indonesia, misi semacam ini agah lengah dilakukan karena ketika demokrasi bagaia air bah tsunami pasca reformasi menyebabkan tokoh-tokoh agama, khususnya islam emnjadikan politik sebagai panglima. politik jadi aliran baru pergerakan yang bermata ganda, yakni ibadah dan memperbaiki sosio ekonomi yang terlibat didalamnya. JIL begitu pula yang peduli terhadap kemanusiaan sudah watunya mereposisi diri. JIL saya kira tidak hanya sekedar membuka wacana yang berkembang dan telah dipelopori mosionaris monco negoro itu, tapi juga membuka aktif para pendekar langitan yang menjadi tlatah pergolakan pembaruan islam liberal supaya tidak terjebak tiadanya sensitivitas tanggungjawab global kemanusiaan.

Posted by cak narto  on  02/23  at  07:02 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq