Run Away World - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
04/10/2004

Run Away World

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Kecepatan, kecepatan, kecepatan. Itulah kata kunci yang menjadi ciri kehidupan kita sekarang. Seorang sosiolog Inggris terkemuka saat ini, Anthony Giddens, menyebut dunia kita saat ini sebagai ”run away world” atau dunia yang mberot, lari cepat, tunggang langgang.

04/10/2004 02:19 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (9)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Massa sich, hidup seperti lari tunggang langgang, emang lagi dikejar anjing, nggak semua gitu kok,itu hanya sebagian kecil saja,termasuk Anda, kita disini masih santai -santai saja, masih banyak kehidupan damai yang bisa kita nikmati dengan tenang, tidak ada ketergesa-gesaan, lihat juga kehidupan yang tenang di pesantren di pedesaan, Anda merasa semua serba cepat karena Anda terlalu berkiblat ke barat, padahal Anda masih di Timur, coba dech sebulan ini,pulanglah ke Pesantren Mertua Anda, Gus Mus, singkirkan semua peralatan “Barat” Anda seperti Laptop,telepon,mobil, dan lainnya. Nikmati kehidupan yang menurut Anda mungkin lambat, tapi nikmat. coba dech )

#1. Dikirim oleh Joko Santoso  pada  05/10   03:11 PM

“Kecepatan, kecepatan, kecepatan” yang dibilang Ulil adalah benar (JP, 03/10). Kita (umat Islam) sungguh ketinggalan dengan Barat (non-Islam). Saat membaca tulisan Ulil Run Away World saya tercengang dan tertegun. Seketika itu, memori saya langsung terbayang-bayang dengan masa lalu, tatkala Islam menjadi kiblat peradaban dunia.

Dalam benak saya, mungkin yang dialami oleh Barat dulu sama kondisinya dengan yang dialami oleh Islam sekarang. Barat yang dulu kering dengan tokoh-tokoh sains sekarang bak cendawan di musim hujan. Sementara yang dialami Islam justru sebaliknya. Nama-nama semisal Ibnu Sina, al-Khawarizmi, al-Jabar, Ibnu Khaldun, Ibnu Maskawaih adalah bagian dari sarjana Islam yang tersohor tatkala itu. Bagdad (Irak) yang dulu menjadi kota seribu satu malam, dengan segala kegemerlapannya, sekarang berbalik menjadi kota yang banjir dengan air mata dan darah. Lalu saya bertanya, sebegitu cepatkah sejarah itu dilipat?

Keadaan ini, harus menjadi cambuk bagi umat Islam untuk “memperbaiki diri” sebagai bekal bertarung “melawan” Barat. Perlawanan yang dilakukan adalah dengan mencetak sarjana-sarjana sains yang handal. Bukan dengan cara melakukan bom bunuh diri (kamikaze) dan menjadikan Barat sebagai sasaran target, sebab gerakan perlawanan semacam ini dinilai kontraprodukif. 

Kalau saya amati, orang-orang yang banyak begelut di dunia sains dan teknologi adalah mahasiswa yang kuliah di kampus-kampus umum (untuk tidak mengatakan kampus sekuler). Sebut saja ITS, UNAIR, ITB, IPB, UI dan kampus sejenis lainnya. Kampus tersebut banyak menelorkan sarjana-sarjana di bidang sains dan teknologi. Berkali-kali mahasiswanya menjuarai “perhelatan akbar” di pentas dunia, semisal lomba kreasi robot, lomba matematika, lomba penelitian dan lain-lain. Seandainya mereka tidak menang, paling tidak, mereka telah mampu “unjuk gigi” di hadapan dunia.

Ini membuktikan, masih adanya eksistensi “resistansi sehat” yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Islam. Anehnya, kebanyakan dari mahasiswa-mahasiswa itu adalah sering dituding Ulil sebagai aktivis gerakan fundamentalis, aktivis yang memandang rendah potensi akal. Sebab, kampus-kampus tersebut adalah lahan subur berkembangnya aktivis KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia).

Sementara di kampus-kampus liberal (sarang aktivis PMII, Forkot, GMNI, GMS, HMI) semisal IAIN dan UIN, sampai detik ini masih belum ada yang bisa dibanggakan. Mereka hanya pandai berbicara di awang-awang; Islam harus begini dan begitu, agama harus ditafsiri seperti ini dan seperti itu, umat Islam tidak boleh ini dan itu. Yang terpenting adalah bukti, manakah “hasil karya” para aktivis di “kampus liberal” yang diagung-agungkan oleh Ulil itu?

Kalau berteriak “bebas tafsir”, berapa kitab tafsir yang telah ditulis? Sejauh mana telah mempengaruhi “perubahan” kognisi umat Islam? Kalau berbicara kemajuan teknologi informasi, manakah sumbangan karya orang-orang yang mengatakan dirinya liberal itu? Jangan-jangan, dalam realitasnya, mereka (termasuk Ulil) lebih fundamental dari aktivis fundamentalis. Wallahu a’lam.<div align="center">***</div>

Abduallah Ubaid, Alumnus PP. Qoamaruddin Jawa Timur

#2. Dikirim oleh Abduallah Ubaid  pada  05/10   06:10 PM

Membaca tulisan Ulil mengingatkan kita pada peristiwa usaha “mengkampanyekan” memboikot produk-produk dari barat yang terjaaadi beberapa tahun yang lalu. Peristiwa itu awalnya dimulai dengan tragedi 11 September yang mengorbankan ribuan manusia. Berlanjut kemudian dengan kebijakan pemerintah AS untuk memerangi segala bentuk terorisme di dunia. Kebijakan tersebut tidak sepenuhnya mendapat respon positip dari masyarakat dunia karena oleh beberapa kalangan dianggap menyudutkan salah satu agama. Hal ini pun mendapat reaksi keras termasuk di Indonesia. Kampanye untuk memboikot produk barat-pun bergema, bahkan beredar kabar akan terjadi sweeping terhadap warga negara tertentu yang berada di Indonesia. Yang berkembang kemudian adalah kebencian terhadap ‘Barat’ yang dianggap ‘kafir’. Keadaan Umat Islam yang seringkali bersikap “reaktif” ini tentu menjadi renungan tersendiri karena fasilitas teknologi canggih yang kita nikmati justru lebih banyak dihasilkan oleh mereka yang diberi ‘stempel kafir’. Ini tentu menjadi sesuatu yang teramat paradoks. Bagi umat Islam, semestinya tidak kemudian menolak teknologi yang dihasilkan mereka karena fakta dilapangan memang demikian bahwa umat Islam seringkali tertinggal dalam mencipta teknologi modern. Maka yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana kita mampu mengerti, memahami dan kemudian memanfaatkan teknologi itu sehingga tidak “gatek” alias gagap teknologi lebih-lebih membenci perkembangan itu sendiri. Bukankah nabi sendiri juga menganjurkan untuk selalu menimba ilmu dengan tidak melihat siapa yang bicara tetapi apa yang dibicarakan?. Dengan berpegangan pada keyakinan ini tentu umat Islam akan lebih terbuka dan kritis terhadap setiap perubahan bukan malah mengasingkan diri dari perubahan yang memang menjadi realitas.

#3. Dikirim oleh Taroji Ibnu Abdussyukur  pada  06/10   07:10 AM

Menarik sekali artikel mas ulil, saya baru saja keluar dari lokal kuliah langsung baca ini persis seperti yang saya pelajari baru saja dari pak imam cahyono dosen sosiologi. Memang teknologi telah banyak menyihir kehidupan kita. Banyak hal yang dulu adalah khayalan kini jadi kenyataan. Kalau dulu orang bisa melakukan sesuatu serba cepat karena ilmu ghaib, seperti kiay yang bisa khotbah di dua tempat karena punya ilmu wali. Sekarang tanpa ilmu yang nggak jelas itu, kegitan itu sudah bisa dilaksanakan dengan sangat masuk akal dan bahkan lebih cepat. Ini adalah mimpi bagi orang dulu.

#4. Dikirim oleh Moh. Hanifuddin Machfudz  pada  08/10   07:10 AM

jika ustad berkata bahwa barat harus menjadi “sparing partner”. untuk mengukur sedangkal apakah pengetahuan ummat islam hari ini ,maka saya sepakat jika hal tersebut ,dijadikan sebagai cambuk untuk lebih giat belajar .(dlm hal yang positif ),namun disisi lain kita pula jangan terlalu mematok bahwa barat adalah parameter sebuah kemajuan peradaban . ustad dapat melihat betapa kekejaman negara adidaya barat hari ini “mereka muncul sebagai penindas -penindas baru.

#5. Dikirim oleh abdul gafur idris  pada  09/10   06:11 AM

Eksistensi seorang mujtahid yang di ilustrasikan oleh hadits bahwa keberadaannya siklus 100 tahun mengindikasikan bahwa Islam akan selalu bergerak mengikuti perkembangan zaman. Periode klasik perkembangan Islam, telah dimulai dengan penetapan qualifikasi seorang mujtahid, diantaranya: Hafal AlQur’an, menguasai ilmu tauhid, fiqh, dan ilmu alat lain serta tidak cacat moral.  Memasuki abad 19 ketika Islam sudah mulai mengkristal dari adanya mujtahid-mujtahid kelompok, dan diperparah dengan isue perang salib yang vis a vis adalah komunitas barat, maka semakin melebar dan tidak adanya pemersatu yang konkret untuk Umat Islam. Era modern, dengan Run Away World seperti ditulis Sdr. Ulil Abshar sepertinya akan semakin sulit menelurkan seorang mujtahid modern yang diterima oleh semua komunitas Islam yang sudah tercerai-berai ini yang menguasai tehnologi modern dan IT. Pemahaman saya didasarkan pada beberapa alasan: Alumni Al-Azhar Mesir sebagai perguruan tinggi Islam tertua-pun tidak mampu; qualifikasi seorang mujtahid seperti yang disyaratkan oleh ulama klasik belum mampu direvisi di masa kini; terjadinya friksi-friksi umat Islam sendiri yang sepertinya sulit untuk menyatukan visi tentang Islam yang berperadaban modern; mudahnya Umat Islam diadu domba; dll. Namun solusi untuk mengejar =dunia yang lari tunggang-langgang= ini menurut hemat saya adalah bahwa setiap muslim harus menjadi mujtahid yang menguasai iptek.

#6. Dikirim oleh Mustain  pada  10/10   07:11 AM

Dunia indonesia sekarang sudah sangat berbeda denagn apa yang kita rasakan ketika masa pemerintahan suharto, perbedaan itu sangat kentara dalam perkembangan teknologi, sehingga saat seakan-akan sebagai abad yang luar biasa secara teknologi dari mulai telivisi, HP, INternet dll sebagainya yang semuanya canggih dan yang pasti hal itu akan bertambah canggih lagi pada tahuan yang akan datang. Cuman yang menjadi maslah kadang bagi kita umat islam, sudahkah kita siap untuk berubah dengan tanpa meninggalkan etika budaya timur kit, kiranya hal itu yang perlu kita garis bawahi, agar teknologi tersebut dapat bermakna positif, itu satu , yang kedua sejauh mana peranan umat islam dalam andilnnya ke dunia teknologi bagimana? umat islam sekarang seperti orang kampung yang serba gumunan benarkah demikian dan pada kenyataannya kita hanya sebagi pengkonsumsi saja, bahkan tak pernah menemukan temuan teknologi baru, untuk saat ini kiranyA Kita juga ikut menikmati apa yangmereka temukan, namun bagaimana mungkin kita akan seperti itu terus, sedang kiat juga punya akal yang sama dengan mereka mampu berinovasi dan menemukan alat-alat baru sedangkita apa yang sudah kita peran dlm hal ini. saudara ulil albab al abada, apa yang anda tulis sebenar sebuah kenyataan obyetif yang seharusnya kita sikapi dan atasi bersama-sama sebagi umat islam, kalau mungkin banyak orang -orang kita yang saat in banyak yang bertentangan dengan barat , namun dalam masalah teknologi kita seakan masih berkiblat dengan barat, saya berfikir secra akliayah saya bahwa kita harus lebih banyak belajar dari barat untuk yang satu ini.  lihatlah kesekitar kita betapa banyak alat alat atau produk produk yang di import dari luar, hal itu menunjukkan bahwa kiat saaat ini masih ketinggalan jauh oleh mreka.  Oleh hal ini umat islam harus mengkader generasi dalam hal ini , saya yakin dengan pengkaderisasi denagn baik itu akan memunculkan habie-habie baru dalam perkembangan TI kita , dengan cara mengirimkan mereka belajar dibarat dan negara negra yangmaju dalam biadang teknologi, wal hasil manfaatnya akan kembali kepada kita semua khhususnya uamt islam itusendiri.  untuk menggapai hal itu umat haruslah lebih berfikir logis dan rasional sehingga umat islam tampak akan lebih dewasa dalam memegang peran sebagai komunitas yang kearah perdamaian.  hal ini jelas akan sesui deng islam itu sendiri yang bermakna “damai” . oleh karean itu , kedepan islam akan menyerukan “perdamaian” melalui tehnologi dan diharapkan menjadi pioner dalam teknologi muthakir. 

atas perhatian anda dan sempatnya anda membaca ini saya ucapkan terima kasih, saya yakin anda orang sibuk , tapi tolong baca dong....:

pengirim M. Nafi’udin A Mahasiswa pasca sarjan UNY

#7. Dikirim oleh muh. nafi'udin al jahid  pada  13/10   10:10 AM

Menarik, membaca tulisan-tulisannya kang Ulil ini. Membuat saya merasa seperti anak kecil yang diperlihatkan pelangi yang dibentuk dari cahaya mentari yang dibiaskan prisma. Waaaaaah...Saya hanya melongo, menganga alias calangap.

Tapi, ada beberapa hal yang mengganjal, yang menyisakan beberapa tanya, betul-betul tanda tanya untuk beberapa pernyataan kang Ulil:

Fakta ini perlu digaris bawahi untuk menjawab sinisme kaum agama (terutama yang fundamentalis) yang biasanya memandang rendah potensi akal manusia...

Betulkah kaum agama biasanya memandang rendah potensi akal? Seinget saya di pengajian, di masjid, saya selalu diajarkan dua hadist yang maksudnya kurang lebih: agama adalah akal, tiada agama untuk orang yang tidak berakal & tuntutlah ilmu hingga kenegeri cina. Jika memang demikian ada kaum agama yang memandang rendah akal, kamu agama yang mana? Kang Ulil menulis dalam kurung terutama yang fundamentalis. Wow! Saya jadi bertanya kaum yang fundamentalis itu yang bagaimana? Apakah Kang Ulil faham, bukan hanya tau, tentang kaum fundamentalis? Seinget saya yang agak pelupa ini kaum fundamentalis adalah kaum agama yang menginginkan kembalinya islam kepada nilai-nilai dasarnya. Dan karena dasar-dasar islam itu diambil dari qur’an dan hadist maka kembali kepada dua hadist yang saya sebutkan tadi.

Jika, pernyataan kang Ulil ini didasarkan pada kenyataannya yang Kang Ulil lihat, Kang Ulil melihatnya dimana?Atau pertanyaannya menjadi berubah: Kang Ulil sudah melanglang kedunia Islam bagian mana saja sehingga bisa menghasilkan pernyataan tersebut? Jika pernyataan itu diambil dari kenyataan di Indonesia, akan menjadi sangat tidak relevan sebab saya kira semua orang sudah tahu bagaimana Islam di Indonesia (kasarnya saya ingin mengatakan:Indonesia hanya sedikit yang benar-benar mengamalkan keislamannya alias islam KTP, jika mengamalkan juga penuh “kotoran”:klenik, musyrik, sisa-sisa kepercayaan de-el-el).

Jika kang ulil mengatakan terutama kaum fundamentalis islam di Indonesia, pertanyaan saya menjadi kaum fundamentalis yang mana? Berapa banyak sih kaum fundamentalis di Indonesia? Bisakah sample yang kang Ulil amati mewakili pandangan umum seluruh kaum fundamentalis Islam Indonesia?

Kedua, tentang pernyataan Kang Ulil:

...di manakah sumbangan umat Islam dalam perkembangan teknologi yang kian cepat ini. Islam dikenal sebagai agama yang pro-pengetahuan. Tetapi, lihatlah betapa terlambatnya perkembangan dunia sains dan teknologi di dunia Islam saat ini..

Kalau untuk pernyataan ini saya kira sebaiknya kang Ulil riset ulang dech, bukan apa apa saya hanya khawatir Kang ulil menjadi seperti anak kecil yang siang hari melototin matahari karena terpesona oleh terangnya, melototin hingga buta dan tak bisa mengamati banyaknya bintang lain diangkasa yang kenyataannya banyak yang lebih besar dan lebih terang dari matahari ( matahari juga bintang kan? satu bintang:aljabar dari islam kan?).

Saya mengakui dan sangat percaya pada kenyataan bahwa saat ini iptek ada ditangan barat. Tapi saya percaya pada pergiliran takdir. Bahwa dahulu Islam menjadi “matahari” iptek dunia, sampai kemudian beralih kebarat, InsyaAllah kedepan taqdir itu akan dipergilirkan kepada kita. Saya bisa optimis karena saya telah melihat rekan-rekan ( termasuk kang ulil  ) yang sangat konsen pada iptek plus imtaq yang “wah, ruar biasa...”

OK kang Ulil? 

#8. Dikirim oleh Insan  pada  24/10   04:11 PM

Mengapa kita tak punya Taji? kemanakah kita? sejauh manakah kepedulian pemimpin kita untuk memperhatikan pendidikan dinegeri ini?
-----

#9. Dikirim oleh ayubcharter  pada  22/04   07:04 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq