Sains, Agama, dan Misteri - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
30/01/2005

Sains, Agama, dan Misteri

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Beberapa saat setelah terjadi bencana di Aceh, budayawan Goenawan Mohamad berkirim SMS kepada sejumlah teman, termasuk saya. SMS itu selalu terngiang di telinga saya sampai kini: “Orang yang percaya bahwa tsunami adalah cobaan dari Tuhan, maka dia percaya kepada Tuhan yang buas. Itu bukan Tuhan saya.” Saya menyertai Goenawan, tak percaya kepada Tuhan yang buas. Tuhan yang saya imani bukan Tuhan yang buas semacam itu.

Beberapa saat setelah terjadi bencana di Aceh, budayawan Goenawan Mohamad berkirim SMS kepada sejumlah teman, termasuk saya. SMS itu selalu terngiang di telinga saya sampai kini: “Orang yang percaya bahwa tsunami adalah cobaan dari Tuhan, maka dia percaya kepada Tuhan yang buas. Itu bukan Tuhan saya.” Saya menyertai Goenawan, tak percaya kepada Tuhan yang buas. Tuhan yang saya imani bukan Tuhan yang buas semacam itu.

Tetapi, jika Tuhan Mahabaik dan Welas, kenapa bencana itu terjadi juga? Apakah bencana itu bukan perbuatan Tuhan? Apakah kita harus menyalahkan Lucifer untuk kejadian ini? Jika begitu, apakah kita percaya kepada dua Tuhan: Tuhan kebaikan yaitu Allah, dan Tuhan kejahatan yaitu Lucifer? Tetapi, dengan begitu pula, apakah kita tidak lagi mempercayai konsep tauhid? Bukankah Tuhan hanyalah satu jua, Tuhan yang memberi kita sesuap nasi setiap hari, tetapi juga yang sekaligus menimpakan bencana di Aceh kini?

Saya hanya mau mengatakan: terhadap pertanyaan seperti ini, kita tak bisa memberikan jawaban. Kita terdiam. Dan mungkin tak semua hal harus dijelaskan. Ada saatnya kita lebih baik menyerahkan diri kepada misteri.

Dalam satu titik, sains dan agama punya kesamaan. Dua-duanya ingin menahbiskan diri sebagai “Penjelas Agung” untuk semua hal. Dua-duanya tak membolehkan adanya suatu misteri. Semua hal harus bisa diringkus dalam satu-dua penjelasan yang sederhana. Kegelapan misteri harus diusir jauh-jauh dari dunia yang “beradab”. Seluruh wilayah kehidupan haruslah diterangi, entah oleh ilmu atau oleh wahyu. Misteri adalah ancaman, karena itu harus diatasi.

Baik sains maupun agama, keduanya mengutuk zaman “jahiliah”, zaman di mana misteri yang gelap mengatasi seluruh bidang kehidupan. Karena itulah, abad dimulainya penemuan-penemuan ilmiah disebut sebagai abad “pencerahan”. Karena itulah, saat turunnya wahyu disebut sebagai bermulanya “cahaya” (nur) dan sirnanya “kegelapan” (zhulumat). Sains dan agama mempunyai pretensi yang kurang lebih sama: yaitu mengakhiri zaman “jahiliah”. Baik sains maupun agama menghendaki sejenis “Allah” sebagai “Theory of Everything”.

Apakah saya sedang menyarankan suatu fatalisme, sikap menyerah?

Mungkin. Sekurang-kurangnya untuk bencana seperti di Aceh ini. Kita tahu mengapa ini semua terjadi dari sudut sains. Tetapi, kita tak tahu, untuk apa semua ini terjadi? Cobaan? Kenapa cobaan sedahsyat itu? Dan mengapa anak-anak harus ikut dicobai?

Kita tak tahu. Saatnya kita diam, kita menyerah. Yang bisa kita lakukan hanyalah membantu mereka yang terkena bencana, semampu kita, dengan apa saja.

Tulisan teman kita, Marco Kusumawijaya, di Tempo beberapa waktu lalu sangatlah baik: intinya, mari kita membangun sebuah kota di Indonesia yang mulai mempertimbangkan bencana sebagai salah satu hal penting. Bencana alam, kata Marco, adalah seperti flu dan batuk. Setiap saat dia bisa datang, oleh karena itu, kita harus siap-siap menghadapinya.

Untuk itu, marilah kita membiasakan diri hidup bersama bencana. (Ulil Abshar-Abdalla)

30/01/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (56)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Ternyata, konsep theodisi yang dibangun oleh dogma-dogma agama dan bahkan yang ditoreh dalam teks Kitab Suci harus dipahami kembali, tafsir-ulang dan dibongkar. Selamatkepada mas GM dan mas Ulil yang memulai memproklamirkan tahapan itu. Tuhan memberkati. Salam. Pendeta Budiman-Gereja Kristen Indonesia di Bandar Lampung

Posted by Budiman  on  10/13  at  07:50 AM

assalaaumu’alaikum

he he..maaf batur/ikhwan mau ikut sedikit nah..
Arah yang dituju mungkin ada banyak yang sama akan tetapi kalimat yang diterjemahkan dari hasil fikiran,rasa,pengetahuan serta pemahaman itulah titik tolak yang dipastikan sedikit berbeda-beda atau dengan kata lain tiap pribadi akan ada sedikit atau banyak merespresentasikan ketauhidan.
Nah...penerimaan pemahaman diluar diripun misal dari orang lain perlu waktu untuk jujur mengiyakan atau menolak.
lalu he..he..kaitanya dengan hal diatas saya ikut saja pada pendapat semua teman yang ikut gabung,kenapa? sebab tambah rizki referensi, jare dewek sih..lagi belajar kenal hidup terus bae tiada akhir sampai umur beakhir.
makasih wassalaam…

Posted by satori  on  06/19  at  11:19 PM

Jika Tuhan Maha Kuasa dapatkah ia membuat Segitiga jadi Bujur sangkar? Tentu tidak, Bukan karena ia Tidak mampu tetapi karena kita tidak akan pernah bisa membuktikan bujursangkar itu berasal dari segitiga.

begitu pula, menurut saya, kepercayaan terhadap Tuhan. Tuhan itu harus tidak dapat dibuktikan, mengapa?

-. Ketika Tuhan dapat dibuktikan, itu bukan lagi kepercayaan tapi pengetahuan. Kepercayaan tidak butuh bukti, pengetahuan harus dibuktikan. mungkin kita mengetahui sesuatu tetapi kita tidak ingin percaya, tetapi kita sudah pasti tahu.

-. Sesuatu yang dapat dibuktikan selalu dapat dijadikan obyek, ketika Tuhan dapat dibuktikan maka kita dapat melakukan manipulasi terhadapnya dengan atau tanpa sepengetahuannya.

-. Pertentangan kelas, yang menurut saya, merupakan roda penggerak alam semesta menjadi suatu kesatuan ide, dengan demikian alam menjadi statis, mati.

Sebuah titik singular tidak dapat disentuh dari spektrum manapun. kualitas dan kuantitasnya adalah independen dari spektrum2 tersebut, maka dari itu hukum yang berlaku pun bersifat independen.

Menurut saya Tuhan itulah titik Singular, Maha segalanya, kebijakannya pun Tak terdefinisi.

Bukankah lebih banyak orang yang masih hidup disekitar kita yang lebih menderita selama hidupnya.

Bukankah kita sering melakukan aniaya yang lebih dahsyat dari pada gempa tersebut.

Adakah yang dapat menjamin bahwa mereka yang meninggal di aceh menderita? Ataukah justru mereka itu yang mendapat Hidayahnya? Bukankan pelajaran yang datang melalui darah mereka telah menjadikan kita lebih bijak dalam memahami dunia? Bukankah itu amalan yang paling tinggi nilainya(berguna bagi orang lain)?

Mereka adalah pionir, seharusnya kita mendoakan, menghormati dan menghargai mereka dengan membantu pemulihan diaceh, menolong orang2 yang ditinggalkan dan yang paling utama mawas diri. Mempolitisir bencana ini adalah perbuatan yang paling menyakitkan korban dan kerabat yang masih hidup.

Masalah korelasi bencana tersebut dengan kualitas Tuhan, itulah Singular Point.

Ass. Wr Wb.

Maha Besar ALLAH dengan segala kebijakan-NYA
-----

Posted by zufar  on  10/28  at  07:10 AM

“QS. 4/78 menyatakan bahwa segala kebaikan dan keburukan berasal dari sisi Allah. Tetapi pada QS. 4/79 kebaikan saja yang berasal dari Allah, sedangkan keburukan yang menimpah manusia berasal dari dirinya sendiri (lihat juga QS. 42/30).” (dr tanggapan sdr. insanul karim)

Kalau saya lihat dari terjemahan Al Quran punya saya, maka QS. 4/79 berbunyi: “Apa saja nikmat yg kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yg menimpamu, maka dari (kesalahanmu) sendiri. Kami....”

Maka saya berkesimpulan memang kebaikan dan keburukan semua datangnya dari Allah, tetapi “bencana yg menimpamu” (saya cerna sebagai kesusahan yg menimpamu, harap bedakan dgn “disaster") itu adalah dari kesalahanmu sendiri. Dan juga menurut cerna saya memang sesungguhnya kesusahan yg menimpa itu semata2 kesalahan kita juga, konsekwensi dari KETIDAKTAHUAN kita. Dan hikmah dari bencana2 alam dan keburukan2 di muka bumi ini (e.g. tsunami, gempa bumi, topan badai, virus, bakteri, kriminalitas dll) adlh sebagai katalis n motivator bagi kita utk lebih memahami perilaku alam serta meningkatkan kemampuan memanage/meminimalisir segala potensi “bencana yg menimpamu” lewat sarana AKAL.

Not necessarily juga bencana ini mengusik iman ketauhidan kita. Not necessarilly juga dgn bencana ini kita melihat kemungkinan adanya tuhan yg buas, tuhan yg baik, tuhan yg pencipta, dst. Saya percaya ada batas2 yg kita sbg manusia tidak bisa utk menjangkaunya. Sebagian orang mungkin sekarang sdh tergoda pemikiran atheisme berbulu materialisme. Kalau saya sih sederhana aja..memang saya tidak bisa memberikan hard evidence kalau tuhan itu ada so silakan anda berikan hard evidence kalo tuhan itu tidak ada..bisa nggak? Kalo anda tidak bisa berikan, ya saya pilih percaya tuhan itu ada saja..jauh lebih bermanfaat buat kesehatan jiwa dan raga 

Akhirul kata saya ingin bilang kalo saya sangat berbahagia bisa menjadi umat Islam, I hope you all share the same feeling. Walaupun saya belum termasuk muslim yg taat tetapi alhamdulillah saya dilahirkan dalam Islam, semoga hidayahNya hadir pada kita semua. Peace and prosper to you all, brothers/sisters!!!

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Posted by Yasser Fahmi  on  02/26  at  09:02 PM

Kalau ada yang berkomentar bahwa askripsi terhadap Tuhan sebagai “biang keladi” dari bencana di Aceh adalah sama dengan menciptakan gambaran yang mengerikan tentang diri Tuhan, saya pikir itu adalah gambaran yang naif. karena: 1. kalau bukan Tuhan yang mengijinkan bencana itu terjadi di Aceh, bagaimana mungkin bencana itu bisa terjadi padahal Tuhan itu Maha Kuasa? Namun di sisi lain. 2. Kalau Tuhan mengijinkan bencana itu terjadi, bagaimana mungkin itu bisa dilakukan oleh seorang Tuhan yang welas asih (rahman dan rahim)?

Jawabannya terletak pada keterbatasan dari konsep “welas asih” itu sendiri. Menurut bahasa manusia, seseorang dikatakan “welas asih” jika dia dihadapkan pada sekian banyak pilihan dan kemudian memilih pilihan(-pilihan) yang lebih ringan atau lebih memudahkan bagi orang lain. Misalnya, jika seorang polisi dihadapkan pada situasi dimana ia bisa menilang seorang pelanggar dan kemudian tidak jadi menilang karena berbagai alasan (misalnya karena pelanggar itu sedang terburu-buru mengantarkan istrinya yang lagi hamil), maka sang polisi dikatakan welas asih. Perhatikan: dalam konsep welas asih ini, ada asumsi keutuhan, yaitu bahwa pihak yang membuat penilaian welas asih ini diasumsikan tahu SEMUA pilihan yang tersedia. Nah, dalam kasus bencana di Aceh, kita jelas-jelas tidak tahu pilihan-pilihan apa saja yang dihadapi Tuhan sebelum Dia menjatuhkan bencana itu pada Aceh. Karena Tuhan itu Maha Kuasa, maka jelas bahwa jumlah pilihannya tidak terbatas. Dengan kata lain, tetap ada kemungkinan bahwa bencana lain yang JAUH lebih buruk daripada sekedar tsunami bisa menimpa Aceh. Maka kewelasasihan Tuhan adalah tetap ada sebagai sebuah kemungkinan, biarpun bukan sebagai aktualitas (in potentia dan bukan in acto). Dan karena kita tahu bahwa kita para manusia ini adalah mahluk yang terbatas, maka kita tidak berhak mencabut gelar “welas asih” itu dari Tuhan, karena sebuah alasan yang sederhana saja, yaitu bahwa kita tidak tahu kemungkinan-kemungkinannya.

Maka saya pikir kita tidak perlu bersikap sentimental dalam menghadapi bencana. Karena bencana sudah terjadi, ya dihadapi saja dan diperbaiki sedapat mungkin, sejauh yang bisa dilakukan manusia. Tuhan yang menimpakan bencana itu adalah tetap Tuhan yang rahman dan rahim dan tetap Tuhan yang Maha Kuasa, karena kita tidak mungkin dapat memahami seluruh keputusan-keputusanNya. Bahkan sekalipun Tuhan menghancurkan seluruh bumi dalam sepersekian detik tanpa memberi “hak jawab” kepada manusia, Tuhan tetap Maha Adil, tetap Maha Kuasa dan tetap Maha Penyayang: mengapa? Karena Dia mampu menciptakan kembali semuanya dalam sepersekian detik ... kalau Dia berkenan ...

Posted by Akhmad Santoso  on  02/26  at  08:02 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq