Sakralisasi Menjadi Belenggu - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
26/07/2006

Diskusi JIL Bulan Juni Sakralisasi Menjadi Belenggu

Oleh Umdah El-Baroroh

Turunnya Alquran tentu saja berada pada masa sejarah penulisan telah mapan. Tetapi medium tulisan, seperti kertas belum banyak dikenal. Biasanya digunakan papyrus, lontar, atau parkemen. Ketika Nabi memerintahkan penulisan wahyu kepada beberapa sahabatnya, medium-medium itu pula yang digunakan.

“Kekristenan selama ini telah terlanjur menekankan bahwa Yesus itu Allah seratus persen; padahal di sisi lain kitab suci Kristen dan ajaran Kristen Ortodoks dengan kuat menegaskan bahwa Yesus itu seorang manusia.” Demikian tulis Ioanes Rakhmat, salah seorang pendeta Protestan, dalam makalahnya untuk diskusi Repro (Religious Reform Project) di Teater Utan Kayu, 27 Juni 2006 lalu.

Lebih lanjut ia menegaskan, pemaknaan atas Isa atau Yesus dalam Kristen bukan tunggal. Dalam Injil ortodoks terdapat berbagai macam versi tentang Isa. Injil Yohanes 1:1, misalnya, menyebutkan bahwa Yesus adalah sang Firman (ho logos) yang adikodrati, yang telah ada “pada mulanya” dan telah ada “bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah”. Tetapi dalam ayat lain dalam kitab yang sama dikatakan bahwa Yesus adalah Firman Allah yang sudah menjadi daging (menjadi manusia) dan diam di antara kita. Hal senada juga bisa diperoleh dari keterangan Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa sang Firman (Yesus) yang telah ada pada mulanya itu telah tampil dalam tubuh, masuk ke dalam sejarah dunia ini, sehingga ia dapat dilihat dan disaksikan dengan mata, dapat didengar dan “dapat diraba dengan tangan.

“Tanpa meyakini kemanusiaan Yesus, maka pengkajian terhadap Yesus sebagai figur insani yang hidup dalam sejarah manusia tidak akan mungkin.” “Kalau Yesus adalah Allah yang ada di sorga, yang tidak bersentuhan dengan realitas sejarah dunia manusia, maka ilmu manusia apapun tidak akan bisa menjangkaunya” tegas Iones.

Upaya pengkajian terhadap Yesus sebagai manusia menurut Ioanes telah menjadi tradisi dalam Kristen sejak lama. “Kita mengenal istilah Yesus sejarah.” “Maksudnya adalah usaha untuk merekonstrukdi kembali tentang siapa Yesus sebenarnya dengan memakai bahan-bahan yang ada dalam kitab suci dan lainnya”, jelasnya..

Pengkajian Yesus sejarah itu dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran yang lebih detil tentang pribadi Yesus yang sebenarnya agar dapat diteladani oleh umat manusia. Upaya rekonstruksi Yesus sejarah menurut dosen STT Jakarta ini mencakup beberapa unsur, di antaranya adanya penentuan awal terhadap bahan penulisan yang akan dijadikan rujukan, adanya kriteria yang jelas dalam menentukan keaslian bahan-bahan tulisan tentang Yesus (The Jesus Material), penentuan epistemologi, pemakaian disiplin-disiplin ilmu yang bisa saling mengisi dan lain-lain.

Pengkajian terhadap wacana Yesus sejarah ini juga telah melahirkan metode panduan dalam melakukan verifikasi terhadap teks-teks Injil, seperti dalam Markus, Matius, Lukas, Yohanes, ataupun Thomas Buku terkenal yang berjudul The Five Gospels dan The Act of Jesus yang diterbitkan oleh the Jesus Seminar, menurut Iones secara rinci telah membuat kode warna untuk menandai mana teks Injil yang merupakan ucapan Yesus sebenarnya dan yang tidak. Warna merah, misalnya, untuk menunjukkan sebuah teks sebagai kata-kata Yesus sesungguhnya. Warna pink untuk menandai teks yang diduga secara kuat sebagai kata-kata Yesus. Sementara untuk teks yang kurang diyakini atau bukan sama sekali firman Yesus harus diberi tanda warna abu-abu untuk yang pertama dan warna hitam untuk yang terakhir.

Namun ia menyayangkan bahwa gereja-gereja di Indonesia sepertinya kurang menerima konsep tentang Yesus sejarah ini. Mereka telah terjebak pada pengkultusan sang Yesus dan menganggapnya sebagai Allah semata. “Pandangan inilah yang menjadi mainstream di kalangan Kristen.” Pandangan itu umumnya dipengaruhi oleh kredo-kredo dan pengakuan-pengakuan iman yang dirumuskan pada abad IV atau V M. “Dalam rumusan-rumusan tersebut fakta tentang kemanusiaan Yesus benar-benar diabaikan”, tandasnya.

Pendeta yang dikenal kritis ini juga mengritik pandangan gereja yang mengabsolutkan kitab suci. “Pandangan bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang tidak bisa berisi kesalahan apapun, dalam bidang apapun, jelas sudah menginggalkan terlalu jauh apa hakikat Alkitab sebenarnya”, ucapnya tegas. “Karena Alkitab dalam Kristen sesungguhnya adalah kumpulan berbagai pandangan teologi yang dibuat oleh umat Israel kuno dan gereja-gereja perdananya”, tambahnya.

Kritik terhadap upaya pengkultusan kitab suci juga dilakukan oleh Luthfi Assyaukanie, Direktur Repro (Religious Reform Project) terhadap Alquran. “Alquran pada mulanya hanyalah kumpulan wahyu yang ditulis secara bertebaran oleh sahabat.” “Bahkan istilah Alquran sendiri belum dikenal saat itu”, tuturnya mengawali presentasinya. Untuk menyebut kumpulan wahyu itu sebagian sahabat mengusulkan untuk menamainya dengan “Injil” (seperti dalam Kristen), ada pula yang mengusulkan nama “Sifr” (merujuk tradisi Yahudi). Abdullah ibn Mas’ud, salah seorang sahabat terdekat Nabi mengusulkan nama Mushaf. Nama inilah yang digunakan oleh umat Islam saat itu untuk menyebut kumpulan wahyu itu. Istilah mushaf ini menurut Luthfi diadopsi dari bangsa Etiopia yang digunakan untuk menyebut Injil yang telah dibukukan.

Istilah mushaf menjadi Alquran yang mengalami penyucian luar biasa, menurut dosen Paramadina ini, melewati proses yang sangat panjang. Proses itu menyangkut sejarah periwayatan, pengumpulan, penulisan, hingga kodifikasi. “Bahkan sebutan mushaf pun pada masa Nabi bukanlah Alquran yang utuh seperti sekarang, tetapi sebuah upaya pengumpulan wahyu dalam satu bundel buku”, jelas Luthfi. “Tapi proses ini seringkali dilupakan oleh kaum agamawan yang lebih banyak mementingkan dogma.” “Mereka seringkali menganggap Alquran sebagai sesuatu yang sudah taken for granted”, keluh Luthfi. “Mereka tidak menyadari bahwa di sana terdapat proses yang cukup rumit dan panjang.”

Dalam pengamatan Luthfi, sejarah Alquran tidak bisa dipisahkan dari sejarah kitab suci dan asal-usul tulisan. “Manusia tak pernah bisa membayangkan sebuah konsep tentang “kitab suci” jika dia tidak punya pengetahuan dasar tentang konsep kitab dan medium tulisan. “Kitab suci” adalah konsep baru yang dikenal umat manusia setelah mereka berkenalan dengan tradisi tulisan”, tulis Luthfi dalam makalahnya malam itu. Konon manusia baru mengenal tulisan pada abad 1500 SM ketika orang Foenisia (Phoenicia) menemukan alphabet. Penemuan ini menurut Luthfi sekaligus juga menandai revolusi besar dalam sejarah tulis-menulis. Sebelumnya hanya dikenal tanda-tanda dalam system hiroglif yang digunakan orang Mesir kuno atau logograf oleh orang China yang digunakan dalam komunikasi.

Turunnya Alquran tentu saja berada pada masa sejarah penulisan telah mapan. Tetapi medium tulisan, seperti kertas belum banyak dikenal. Biasanya digunakan papyrus, lontar, atau parkemen. Ketika Nabi memerintahkan penulisan wahyu kepada beberapa sahabatnya, medium-medium itu pula yang digunakan.

Dalam diskusi yang bertema Pemaknaan Baru Terhadap Konsep Kitab Suci itu, Luthfi juga menyinggung upaya-upaya sakralisasi terhadap teks yang berlangsung pada masa awal Islam. Menurutnya sakralisasi itu telah berlangsung dengan begitu massif. Salah satunya adalah melalui pembakuan mushaf yang berlangsung pada masa Usman dan setelahnya. Selain itu juga terjadi dalam gerakan penafsiran Alquran yang berubah dari sekadar menjelaskan menjadi apologi terhadap agama. “Para penafsir-panafir itu mirip dengan para teolog”, sindir Luthfi. Bukan hanya itu, upaya sakaralisasi juga dilakukan dengan menciptakan tabu-tabu dalam Alquran. Al Suyuthi dalam Al Itqon sebagaimana dikutip Luthfi mencatat kurang lebih sepuluh tabu yang menyangkut Alquran. Misalnya, anggapan bahwa Alquran tidak boleh dibaca oleh orang yang tidak berwudlu, larangan memegang Alquran dengan tangan kiri, larangan menaruh Alquran di bawah, dan sebagainya.

Memahami sejarah panjang itu Luthfi menyimpulkan bahwa sakralisasi Alquran sesungguhnya berkaitan erat dengan proses pembentukan dan perjalanan wahyu sebagai kitab suci. “Penyucian pada akhirnya adalah konstruksi sebuah masyarakat. Dia tidak datang begitu saja. Alquran dianggap suci karena ada sekelompok masyarakat yang menganggapnya suci.” “Dan sikap seperti itulah yang seringkali menghalangi mereka untuk mengkritisi agama”, tegas Luthfi mengakhiri diskusi.[]

26/07/2006 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (12)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

1. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak mampu meng-kristen-kan umat Israel dimana ia menjalankan misi dan tugas keagamaannya?

Fakta: mayoritas umat Israel tetap beragama Yahudi hingga sekarang.

2. Jika Yesus adalah Tuhan Semesta Alam, mengapa ia selama hidupnya hanya berkeliling di wilayah Israel saja, padahal manusia pada waktu itu sudah tersebar luas di seluruh penjuru bumi?

Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15:24)

3. Jika Yesus adalah Tuhan Semesta Alam, mengapa ia melarang kedua belas muridnya untuk berdakwah ke negeri lain selain negeri Israel?

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke negeri orang-orang non Yahudi atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. (Matius 10:5-6 - DRB 1582, KJV 1611)

4. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia ketika tangan dan kakinya dipaku di tiang salib memohon pertolongan kepada Allah/Bapa?

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46)

5. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia ketika hendak membangkitkan Lazarus dari dalam kubur di depan umat Israel memohon pertolongan kepada Bapa?

Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” (Yohanes 11:41-44)

6. Jika Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat, mengapa ia tidak mampu menyelamatkan dirinya dan kaumnya dari dominasi penjajah Romawi, tetapi malah ia diserahkan oleh penguasa Romawi (Pontius Pilatus) untuk disalibkan?

Lalu ia (Pontius Pilatus) membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan. Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!” Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan. (Matius 27:26-31)

7. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat?

Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak (Yesus) pun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Matius 24:36)

8. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia sujud menyembah dan memohon perlindungan kepada Bapa?

...Maka mulailah Ia (Yesus) merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:37-39)

9. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena kejadiannya sebelum Abraham, mengapa Yeremia yang juga mengalami kehidupan sebelum manusia tidak menjadi Tuhan?

Firman TUHAN datang kepadaku (Yeremia), bunyinya: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yeremia 1:4-5)

10. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena ia lahir tanpa ayah, mengapa Adam yang lahir ke dunia tanpa ayah dan ibu tidak menjadi Tuhan?

ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu (Adam) dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kejadian 2:7)

Posted by Mr xxx  on  06/10  at  02:03 PM

Keyakinan adalah Kelemahan manusia yang menjadikan sesuatu yang TIDAK ADA menjadi ADA. Termasuk AGAMA. Agama hanyalah hasil dari sebuah Peradaban Manusia, dan yang pasti jika sebuah Peradaban akan BERGANTI maka Agama juga akan Berganti Fungsi.

Posted by johannes  on  06/06  at  11:54 AM

jika smua mengaku benar maka siapa yang paling benar? apakah Tuhan atau manusia itu sendiri? apapun agamanya yang benar adalah diri sendiri…

Posted by johanes  on  06/06  at  11:47 AM

KESOMBONGAN BANI ISRAEL ke DUA kalinya
“Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi Ini DUA (2) kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan KESOMBONGAN yang besar....” (QS al-Israa’ : 4-8)
1./ kerusakan PERTAMA pada jaman KESOMBONGAN FIRAUN (BANGSA ISRAEL)
Nb: kesombongan bani israel/yahudi yang pertama pada jamannya
2./ kerusakan KEDUA pada jaman KESOMBONGAN ISRAEL (YAHUDI) dan sekutunya AMERIKA (NASRANI) pada saat ini.
Firman-Nya: Sebagian besar Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran, setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran ... (QS 2: 109)
kemudian ayat berikut;
“......,Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) PERTAMA dari KEDUA (kejahatan) itu, kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan ITULAH KETETAPAN YANG PASTI TERLAKSANA. Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali....” (QS al-Israa’ : 4-8)
> sejarah terulang pada masa jaman firaun.. kaum bani israel terkalahkan.
> kedua kalinya bangsa israel akan kalah “Itulah ketetapan yang pasti terlaksana.”
“....dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang KEDUA, (Kami datangkanorang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada KALI PERTAMA dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya kami kembali (mengazabmu) dan kami jadikan NERAKA Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS al-Israa’ : 4-8)

janji ALLAH PASTI...!.... Itulah ketetapan yang pasti terlaksana.”

Posted by SANG_JIWA  on  01/23  at  03:21 PM

kalau bukan dari bahasa arab trus dari bahasa apa?
Allah memang tidak berawal dan berakhir karena ia kekal abadi.

Posted by yuartanto  on  07/23  at  02:51 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq