Salah Kaprah Fitna - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
01/04/2008

Salah Kaprah Fitna

Oleh Saidiman

Harus diakui bahwa memang ada segelintir orang Islam yang melakukan dan mempropagandakan kekerasan dengan dalih agama, tetapi itu adalah fenomena umum di setiap agama. Yang harus dilakukan adalah melakukan identifikasi masalah terhadap fenomena kekerasan agama yang dilakukan oleh segelintir penganut agama tersebut, bukan dengan memberangus eksistensi agama secara umum.

Artikel ini telah dimuat di Koran Tempo, 2 April 2008

Fitna, film yang digarap oleh seorang anggota parlemen Belanda, Geert Wilders, menarik perhatian masyarakat dunia. Pelbagai kecaman muncul bukan hanya dari masyarakat Islam yang merasa terhina oleh gambaran Islam di film tersebut, kecaman juga muncul dari masyarakat Kristen Eropa dan Amerika. Film ini dinilai sebagai bentuk provokasi dan penyebaran rasa kebencian. Meski pemerintah Belanda menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam yang merasa tersinggung oleh film
tersebut, tetapi mereka bersikukuh untuk tidak menggunakan kekuasaan menghentikan peredaran film tersebut dengan landasan Konstitusi.

Film yang berdurasi 17 menit itu berisi pidato seorang ulama yang diselingi dengan pelbagai gambar kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang Islam di pelbagai penjuru dunia. Dengan visualisasi seperti itu, Wilders hendak mengungkap wajah Islam yang penuh dengan kekerasan: Islam adalah agama kekerasan. Bukan hanya fakta kekerasan atas nama agama yang terjadi belakangan ini yang dipotret oleh Wilders, tetapi juga fakta teologis yang ada dalam Kitab Suci umat Islam sendiri.

Islam, bagi Wilders, adalah sesuatu yang berbahaya, yang oleh karenanya harus ditolak dalam peradaban modern Eropa. Lebih jauh Wilders mengatakan bahwa al-Qur’an tidak lebih dari kitab intoleran dan pengabsah kekerasan. Wilders bahkan mempersilahkan warga Muslim Belanda meninggalkan negara itu. Jika masyarakat Muslim Belanda tetap ingin tinggal di Belanda, seru Wilders, mereka harus merobek separuh isi al-Qur’an.

Sudah bisa diduga, gelombang protes muncul dari pelbagai belahan dunia. Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad, bahkan menyeru pemboikotan produk-produk negeri Belanda. Gelombang protes ini diprediksi akan semakin membesar seperti yang pernah terjadi pada kasus pemuatan sejumlah karikatur Nabi Muhammad di sejumlah media Denmark.

Tokoh-tokoh Islam dari pelbagai negara mengecam dengan mengatakan bahwa apa yang dikemukakan Wilders dalam film dan di sejumlah pernyataannya tidak hanya bersifat rasis, melainkan juga tidak akurat. Sikap ini dikemukakan oleh Syekh Hamza Yusuf Hansona (sarjan Muslim Amerika), Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah), dan Pangeran Hassan bin Talal (Presiden Arab Thought Forum dari Yordania).

Ketidak-akuratan kesimpulan Wilders mengenai Islam juga terbantah dalam sebuah hasil survei mutakhir yang dirilis Gallup Poll. Survei yang dilaksanakan di 39 negeri Muslim itu menemukan bahwa 92 persen masyarakat Islam menyatakan bahwa aksi-aksi kekerasan tidak memiliki legitimasi teologis dalam al-Qur’an. Pada tingkat tertentu, menurut Ulil Abshar-Abdalla, pakar teologi Islam dari Universitas Harvard Amerika Serikat, apa yang dilakukan oleh Wilders tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kalangan fundamentalis Islam itu sendiri. Keduanya membaca doktrin Islam secara literer, dengan membuang konteks historisnya. Jika kalangan fundamentalis memeluk doktrin yang dipahami secara literer itu, maka Wilders melakukan penolakan dengan keras. 

Menurut Ulil, apa yang dilakukan Wilders tidak bisa disimpulkan sebagai sikap umum masyarakat Eropa atau Barat. Ini adalah semacam penyimpangan dari fenomena umum di masyarakat Eropa yang mulai memandang positif terhadap dunia Islam. Minat terhadap kajian keislaman di Barat adalah salah satu bukti kuat mengenai pandangan positif ini. Melalui kajian-kajian itu, Islam tampil dengan wajah yang lebih objektif. Islam bukanlah identitas tunggal yang bisa disimpulkan secara sederhana.

Sarjana-sarjana Barat mutakhir bahkan melangkah lebih jauh dengan mencoba memandang dunia Islam dengan memakai perspektif yang tidak lagi bias. Jika sebelumnya masyarakat Islam dipahami secara negatif sebagai masyarakat barbarian yang tidak beradab yang ditandai dengan penolakan terhadap rasionalitas dan prinsip demokrasi, maka belakangan begitu marak kajian yang justru menyimpulkan bahwa secara umum masyarakat Muslim juga bergerak dinamis ke arah ketercerahan.

Spiritualisme yang berkembang pesat di dunia Islam pasca Revolusi Islam Iran, bagi sarjana-sarjana baru ini, tidak dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya bagi demokrasi dan kebebasan berekspresi. Justru fenomena itu adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap para tiran. Legitimasi religius bagi sebuah gerakan sosial melawan kediktatoran justru sangat positif bagi gerakan demokratisasi itu sendiri. Itulah yang terjadi di Turki, Mesir, Arab Saudi, Aljazair, Malaysia, dan dalam tingkat tertentu juga Indonesia.

Adapun aksi kekerasan atas nama agama adalah sebuah penyimpangan dari bentuk religiositas yang terlalu ekstrim. Dari semua penelitian ilmiah yang dilakukan di negara-negara tersebut ditemukan bahwa kasus-kasus kekerasan itu dilakukan dan diamini oleh hanya segelintir masyarakat Islam.

Jika ditinjau dari sudut teologi, maka akan sangat sulit menemukan jenis teologi yang menghalalkan kekerasan, kecuali yang dilakukan oleh gerakan teologi Wahhabi. Wahhabisme sendiri memiliki banyak sekali varian.  Menurut data yang dikemukakan oleh pakar Wahhabisme, Hamid Alghar, hanya sekitar 10 persen dari total masyarakat Muslim yang bisa diidentifikasi sebagai penganut Wahhabi di seluruh dunia dalam pelbagai variannya. Kelompok Wahhabi terbesar di Arab Saudi juga terbelah ke dalam pelbagai varian dalam menanggapi isu modernitas. Mayoritas Wahhabi yang tertindas oleh kediktatoran penguasa Arab Saudi bahkan melakukan gerakan sosial menuntut pembukaan ruang kebebasan yang lebih luas. Bahkan mayoritas penganut Wahhabi Arab Saudi bukanlah gerakan politis, melainkan gerakan kultural spiritual.

Stephen Sulaiman Schwartz, Two Faces of Islam, mengidentifikasi bahwa Islam memiliki dua wajah. Ada segelintir umat Islam yang memang menghalalkan kekerasan, dan itulah yang dilakukan oleh sebagian kelompok Wahhabi. Tetapi mayoritas besar umat Islam adalah kelompok spiritual yang mengedepankan semangat perdamaian. Kelompok mayoritas ini disebut sebagai kalangan sufi. Kelompok inilah yang mewarnai masyarakat Muslim di Iran, Turki, Indonesia, dan hampir semua masyarakat Islam lainnya.

Harus diakui bahwa memang ada segelintir orang Islam yang melakukan dan mempropagandakan kekerasan dengan dalih agama, tetapi itu adalah fenomena umum di setiap agama. Yang harus dilakukan adalah melakukan identifikasi masalah terhadap fenomena kekerasan agama yang dilakukan oleh segelintir penganut agama tersebut, bukan dengan memberangus eksistensi agama secara umum. Meski kerapakali agama memang bisa dijadikan legitimasi kekerasan, tetapi tidak jarang agama juga menjadi
ruh bagi gerakan sosial untuk mencapai kemajuan peradaban manusia.

01/04/2008 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

@all:
sudahlah, ga perlu gontok2an.. smua agama sama, ga ada yg paling benar.. karena kebenaran sejati hanya milik yang Empunya Surga & Dunia.. Agama hanya fasilitas untuk sampai ke atas, yg bikin buruk adalah kelakuan penganut agama masing2.. hindari fanatisme, coba utk berbesar hati, saling toleransi & menghargai, maka akan terjadilah DAMAI..

Posted by Nurani  on  08/25  at  01:50 PM

Untuk mbak ade teresia dan terutama mas Anton,…
sebelumnya aku minta maaf mungkin akan menyinggung perasaan anda,
anda memang belum mengerti Islam atau bahkan mungkin hanya hal makan dan hal duniawi saja yang ada dipikiran anda. jangan-jangan anda juga belum menikah.. tapi merasa tahu tentang dalamnya pernikahan..
Adek kelas 3 SMP rata-rata belum cukup ilmu untuk mentafsirkan dunia apalagi soal ruhiyah. Wong anda saja sepertinya belum mampu.
Contoh saja jika seorang perempuan udzur tidak mampu melayani suaminya, maka suami boleh menikah lagi, bila si suami mampu menahan diri itu akan menjadi kebaikan sendiri baginya-demikian sebaliknya bila si suami yang udzur menafkahi istrinya, diperbolehkan si istri mangajukan cerai untuk meikah lagi.
perihal poligamipun tidak semua orang mampu melakukannya, oleh sebab itu ayat tentang dibolehkannya poligami ada persyaratannya.

sudah terbukti isi Al Quran tetap jadi jawaban bagi setiap permasalahan umat manusia.
coba anda pakai kitab agama lain, adakah yang bisa menjelaskan lebih detail, tentang diri manusia? Adakah yang bisa menjelaskan terjadinya alam semesta dan apa yang terjadi, kemana manusia sesudah mati?
seperti undang-undang, jika sudah ada undang-undang yang lebih sempurna maka undang-undang yang lama akan diganti dng undang-undang yang baru. kitab yang dibawa rosul yang dahulu sudah tidak murni lagi, sampai saat ini Al-quranlah pedoman yang paling sempurna.

tentang sebutan kafir, saya belum bisa menerangkan karena ilmu saya masih kurang. silahkan anda bertanya pd orang yang lebih berilmu.
yang perlu pula anda ketahui, al Quran adalah tuntunan, islam sebagai way of live-nya. mungkin ilmu kita yang tidak cukup menalarkan apa manfaat setiap ayat dalam al-Quran.
Semoga Allah memberi bimbingan dan hidayah. Amin.

Posted by wahyu sri  on  11/29  at  07:59 PM

menyanggah komentar kakanero pada 23/10

terserah anda mau bilang kalau alquran itu ADALAH FIRMAN ALLAH SWT YANG MURNI DAN SUCI DAN DAPAT DIINTERPRETASI PADA SEMUA JAMAN SELAMA BUMI INI MASIH DIPIJAK. itu hanya isapan jempol aja.. buktinya alquran itu adalah “ pemecah belah persatuan antar umat beragama di seluruh dunia “ karena ada alquran umat islam berani menilai agama lain “ kafir “ .. itu yg membuat umat islam benci dg agama lain dan merasa diri paling suci ..
itulah sebenarnya awal dari banyaknya pertempuran antar umat beragama.. lihat saja di indonesia betapa sulitnya agama lain mendirikan tempat ibadah.. krn takut meng kafirkan umat islam di sekitarnya.. hehe… lucu… terus ttg poligami… gitu kok firman Tuhan… skrg tanya aja adek kamu yg masih kelas 3 smp .. mau gak kalau pacarnya selingkuh / punya pacar lain… jelas gak mau padahal msh pacaran apalagi dah menikah… jelas gak sesuai blas ama zaman skrg… di stipo aja ayat nya.. selesai..

Posted by anton sutopo  on  11/15  at  07:40 PM

untuk menyanggah komentar ade teresia panjaitan;

Sekedar untuk di ketahui bahwa ; Al Quran Itu berbeda dengan kitap2 sebelumnya, (baik itu zabur, taurat, dan injil yang dibuat oleh utusan Allah sebagai tatanan nilai sosial bagi kaum dijaman itu saja. jadi setiap jaman harus di rubah...sehingga bentuk dan hakikat dan konteksnya yg orisinilnya pudar), kitab2 tersebut yang diyakini oleh penganut2nya saat ini bukanlah firman Tuhan yang murni, melainkan tulisan2 dan ide2 peikiran2 manusia yang di buat berdasarkan konspirasi yang terjadi.sehingga banyaklah ayat2 yang menjelaskan hal2 yang jauh dari kesucian2 kekudusan dari sang pencipta, dan terkesan sangatlah liberalis. padahal kebenaran firman Tuhan itu adalah kebenaran yang ABSOLUT, bukanlah kebenaran relatif. nah..Al Quran itu sendiri merupakan murni Firman Tuhan yang tidak boleh diubah karena ayat-ayat yang tersirat dalam Al Quran merupakan kebenaran yang Absolut bukan relatif, dan Perlu di ingat Al Quran itu di turunkan untuk semua umat bukan hanya Islam, atau bangsa arab saja dan Al Quran Sendiri berlaku untuk semua masa/jaman, bukan hanya untuk jaman dulu saja. karena kalo dipelajari secara mendalam semua ayat2 al quran itu sangat bisa menjawab semua problem2 jaman dan terdapat tata nilai sosial, pada segala ruang dan waktu.jadi intinya ALQURAN ADALAHA FIRMAN ALLAH SWT YANG MURNI DAN SUCI DAN DAPAT DIINTERPRETASI PADA SEMUA JAMAN SELAMA BUMI INI MASIH DIPIJAK, OLEH UMAT MANUSIA. DAN ALQURAN DITURANKAN BUKAN HANYA UNTUK UMAT ISLAM ATAU BANGSA ARAB, MELAINKAN UNTUK UMAT MANUSIA, YANG BERNAUNG DI KOLONG LANGIT INI.

Posted by kakanero  on  10/23  at  07:02 AM

tidak terlihat nilai positif di filim itu,hanya bentuk intervensi secara tidak langsung, dan penghinaan serta penistaan,pembuatan fimil itu seperti genderang perang terhadap suatu agama. hal itu yang akan merusak tatanan dan nilai sosial yang ada dalam masyarakat. kekerasan itu pasti terjadi dimana saja, dalam film itu islam seolah2 di jadikan sebagai objek tontonan(pmbuat kekerasan), padahal kalo kita melihat di sebuah tempat di thailand yang mana ada sebuah prosesi ritual keagamaan pada salah satu keyakinan didaerah tsb, yg mana penyembelihan manusia itu sering dilakukan pada saat2 tertentu, bahkan lebih ironisnya lagi orang yang disembelih itu berasal dari agama lain. contoh lainnya lagi seperti di wilayah irlandia utara, dimana daerah tersebut merupakan mayoritas agama khatolik, namun angka kekerasan dan kriminalitas sangatlah tinggi, begitu juga didaerah2 negara bagian di amerika lainnya, padahal perlu diketahui, gereja2 yang di bangun dengan megahnya didaerah2 tersebut sangatlah banyak, nah...kenapa angka kekerasan/kriminalitas wilayah tersebut sangatlah tinggi? apakah agama khatolik diwilayah tersebut yang harus di jadikan kambing hitam dalam mengatasi konfik/permasalahan wilayah tersebut.
contoh lainnya lagi, coba kita bayangkan...kalo kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat baik itu kepolisian ataupun satpol PP, kalo dikumpulkan semua vidoe2 kekerasannya dan diedit dengan mendramatisir, ataupun kekerasan yang dilakukan oleh umat kristen di ambon, diposo (pembunuhan,penganiayaan,bahkan pemerkosaan hak2 umat islam diPalestina), kemudian difilmkan. PASTILAH TERLIHAT SANGAT KEJI.....jadi perlu diketahui...bahwasannya sebuah akibat tidaklah mungkin terlepas dari sebabnya, dan KEKERASAN ITU TERJADI KARENA ADANYA KEKERASAN2 YANG SEBELUMNYA, DAN KEDAMAIAN ITU ADA KARENA ADANYA KEDAMAIAN PULA. JADI JANGANLAH KITA MENCIPTAKAN KEKERASAN ATAUPUN HAL2 YANG MENGARAH PADAH KEKERASAN, KARENA ITU AKAN MERUGIKAN KITA SENDIRI, HAL ITU SEPERTI MENABUH GENDERANG PERANG UNTUK MENUJU KEKERASAN YANG LEBIH BESAR. JADI TIDAK ADA NILAI POSITIF YANG TERSIRAT DALAM PESAN FILM ITU. dan siapapun kita, pastilah tidak akan terima kalo apa yang kita yakini atau kita belain, dilecehkan2 atau dinistakan, entah ISLAM, KRISTEN,HINDU,BUHDA,BAHKAN ATHEIS SEKALIPUN.

Posted by kakanero  on  10/23  at  05:26 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq