Salâmun `alaika yâ al-Masîh! - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
27/12/2005

Salâmun `alaika yâ al-Masîh!

Oleh Novriantoni

Rasanya, di tengah meningkatnya semangat intoleransi beragama dewasa ini, tindakan-tindakan kecil seperti itu bisa menjadi oase di padang gurun. Mengucap selamat natal, rasanya tak akan pernah mendatangkan prahara dan tsunami akidah bagi umat Islam. Justru, harmoni sosial dan keakraban yang kemungkinan akan tercipta.

Setiap akhir tahun menjelang, sebagian umat Islam diperangkap oleh pertanyaan fiqhiyyah soal boleh-tidaknya menyampaikan selamat natal. Jawabannya beragam, tergantung ustad mana yang ditanya, dan seberapa terbuka sudut pandang keagamaan masing-masing ustad. Namun, jika rata-rata yang jadi patokan—meski belum ada survei—tampaknya lebih banyak yang melarang daripada membolehkan.

Alasannya beragam. Yang sering diungkap, biasanya soal implikasi terjauh dari ucapan tersebut. Mengucap selamat natal, dikiyaskan sangat jauh sebagai pembenaran atas keyakinan umat Kristen. Padahal, dalam pengetahuan umum umat Islam, beberapa aspek keyakinan umat Kristiani dianggap sudah menyimpang (muharraf) dari yang seharusnya.

Yang anti ucapan selamat natal dan punya sedikit pengetahuan sejarah, mungkin akan menambahkan sekelumit data sejarah. Tradisi natal, bagi mereka merupakan perpanjangan dari festival Natalis Sol Invicti (Latin: kelahiran matahari yang tak terkalahkan) yang menjadi ritus kaum pagan Romawi dahulu kala. Ritus itu lalu diadopsi menjadi tradisi umat Kristen. Dan sejak lama, tradisi itu jadi bagian dari doktrin kekristenan, meski perayaaannya jatuh pada hari yang berbeda-beda.

Gereja Katolik Roma, Protestan, dan Gereja Katolik Timur seperti Gereja Yunani dan Romawi Ortodok, merayakannya pada 25 Desember. Sementara mayoritas Gereja Ortodok Timur, seperti Gereja Koptik di Mesir, merayakannya pada tanggal 7 Januari. 

Tambahan fakta itu, biasanya digunakan sebagai penegas ketidakbolehan pengucapan selamat natal. Dengan begitu, umat Islam yang menoleransi praktik keagamaan umat Kristen, dengan menyampaikan selamat natal misalnya, setara dengan mengakui sesuatu yang tidak bisa dibenarkan Islam.

Tafsir populer tentang surat al-Maidah ayat 3 dan Ali Imran ayat 19, biasanya cepat-cepat dikemukakan. Dalam tafsiran yang populer, kedua ayat itu menegaskan bahwa satu-satunya agama yang paripurna dan direstui di sisi Allah hanyalah Islam.

Alasan pelarangan lain adalah anggapan bahwa mengucap selamat natal juga dapat menodai keyakinan awam Islam. Namun ada hal yang lupa diselidiki: apakah sekadar mengucap natal benar-benar akan mengguncang akidah awam Islam. Meski belum ada survei, saya merasa anggapan itu terlalu berlebihan dan jauh panggang dari api.

Dengan berbagai alasan pula, tahun lalu seorang kiai kondang di Jakarta, menyarankan presiden untuk tidak ikut serta menghadiri perayaan natal. Sebagai ganti, presiden dianjurkan menunjuk anggota kabinet yang beragama Kristen. Saya merasa, di negara-negara dengan tradisi Islam yang kuat seperti Mesir, Tunisia, Maroko, Yordania, dll. usulan seperti ini mungkin akan diabaikan.

Sebab, asumsinya terlalu berlebihan dan seakan meremehkan kemampuan umat Islam (bahkan presiden) dalam membentengi keyakinan agamanya. Padahal kita tahu, kalangan yang dianggap awam sekalipun, tak jarang lebih tahu bahwa mengucap selamat natal tak lebih dari tindakan etis biasa. Inisiatif itu bisa menjadi bumbu penyedap pergaulan sosial antar sesama umat manusia yang kebetulan berlainan agama. Ia mungkin juga bagian dari kearifan sosial orang biasa di dalam beragama.

Mungkin, inilah poin yang saban tahun kita alpakan. Kita kadang lupa, bahwa banyak sekali umat Islam yang sudah tidak tertarik membangun jarak sosial dengan mereka yang tidak seagama. Praktik pengucapan selama natal, oleh mereka—yang bahkan dianggap awam itu—mungkin tak punya muatan teologis apa-apa. Mereka tahu, ucapan itu tak lebih dari cara praktis dalam membangun harmoni antar umat beragama. 

Rasanya, di tengah meningkatnya semangat intoleransi beragama dewasa ini, tindakan-tindakan kecil seperti itu bisa menjadi oase di padang gurun. Mengucap selamat natal, rasanya tak akan pernah mendatangkan prahara dan tsunami akidah bagi umat Islam. Justru, harmoni sosial dan keakraban yang kemungkinan akan tercipta.

Atas pertimbangan itu, saya dengan tulus hati menyampaikan selamat natal dengan nada yang mirip redaksi Alqur’an surat Maryam ayat 33: “Semoga keselamatan selalu menyertaimu (Isa atau Yesus) pada hari engkau dilahirkan, dijemput maut, dan dibangkitkan untuk hidup kembali!”

27/12/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (36)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Aneh, mengucapkan selamat Natal saja kepada umat kristiani menjadi masalah. Sungguh membuang-buang waktu dan kontra produktif. Saya sebagai muslim akan tetap mengucapkan selamat Natal atau hari agama apapun kepada pemeluknya. Bagi saya mereka itu ciptaan Tuhan: Tuhan saya, Allah Subhanawatalaa. Menghina mereka, sama saja menghina Allah. Yang saya haramkan dalam diri saya adalah mengucapkan sesuatu hal (baik lebaran, natal, ulang tahun atau apapun) kepada orang yang sudah terbukti melakukan korupsi. Lebih mulia mengucapkan selamat Natal kepada umat kristiani, daripada mengucapkan suatu keselamatan kepada koruptor. Saya akan mempertahankan pendapat itu sampai kapanpun.

Salam alaikum. Salam sejahtera.

Posted by Iwan Kamah  on  08/08  at  12:01 PM

Dari yang saya ketahui dan saya pun memahami bahwa perayaan natal merupakan perayaan kelahiran Yesus sebagai anak tuhan. Ini pun masih menjadi perdebatan di kalangan umat kristiani sendiri akan ke-valid-annya hari kelahiran tersebut. Ketika kita mengucapkan selamat natal sama artinya kita mengucapkan selamat atas kelahiran anak tuhan (yesus). Di dalam alquran ada beberapa ayat yang pernah saya baca (terjemahan) yang menyatakan kemarahan Allah, bumi, langit, dan lautan ketika mereka mengucapkan Allah memiliki anak. Rupanya inilah yang menjadi alasan pengucapan selamat natal dilarang oleh beberapa ulama. Pengucapan selamat idul fitri berbeda dengan selamat natal karena idul fitri (fitrah kembali) tidak ada kaitannya dengan hakikat ke-Tuhan-an itu sendiri.
-----

Posted by Isa Ansori  on  03/20  at  03:04 AM

tidak jauh dari apa yang ditulis beberapa kawan di atas, kita memang masih terkungkung pada teori… saya pikir kebanyakan masyarakat kita lebih senang mengkaji teori daripada esensi. memang, penafsiran setiap orang itu berbeda-beda. tetapi apa salahnya sih kalau kita bisa mewujudkan harmoni kehidupan yang indah? toh, pada dasarnya kan agama diciptakan untuk kebaikan manusia. kalau karena agama kita justru tercerai-berai begini, apakah lalu tidak muncul pertanyaan bahwa agama telah melenceng dari esensinya? lagipula, bukankah manusia hanya sedikit sekali diberi pengetahuan oleh Tuhan? Wallahu alam… hanya Tuhan kan yang tahu segalanya? Tuhan-lah yang menentukan sesuatu, yang menilai sesuatu. bukan manusia…

Posted by galuh rarasanti  on  03/09  at  10:04 PM

Saya merasa pemahaman dilarangnya pengucapan selamat natal ataupun hari keagamaan umat agama lainnya adalah bentuk kekerdilan pikiran kita yang masih mengkotak2an sesuatu bahkan bersifat SARA. agama islam yang agung setau saya bahkan banyak menganjurkan upaya toleransi kepada umat agama lain, bahkan Nabi muhammad pun mencerminkannya dalam banyak hadis. sungguh saya sedih bila melihat fenomena ini, saya islam dan saya sangat yakin dengan kebenaran agama saya, dan mengapa saya tidak berbesar hati dengan hanya mengucapkan “selamat.. kepada orang2 yang notabene adalah keluarga saya, teman2 saya, yang bahkan di tiap Lebaran tidak pernah ketinggalan mengucapkan selamat hari raya kepada saya. Betapa angkuhnya.?>

Posted by Rir Puspita  on  12/24  at  10:13 PM

Memaknai ucapan, bisa dari seribu sudut pandang yang berbeda, namun memaknai ucapan selamat natal, bisa dari sejuta sudut pandang yang bebeda pula yang ditakar dengan intonasi dan niat dalam pengucapannya, itulah dinamika yang bila diletakkan dalam porsi yang positif. Selamat dalam menggulirkan toleransi yang positif bagi pembaca sekalian. Terima kasih...Wassalam

Posted by Bambang  on  12/20  at  11:13 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq