Saya tidak Percaya Agama, tapi Percaya Tuhan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
09/01/2005

Julia Indiati Suryakusuma: Saya tidak Percaya Agama, tapi Percaya Tuhan

Oleh Redaksi

Agama muncul ketika spiritualitas menurun. Ketika keimanan dan kedekatan manusia pada Tuhan sudah melenceng kemana-mana, agama direkacipta—atau mungkin diturunkan—untuk membentangkan jalan menuju spiritualitas yang hakiki. Tapi sayang, agama kemudian juga menjelma menjadi berhala. Agama lalu turut disembah, dan Tuhan raib entah kemana.

Agama muncul ketika spiritualitas menurun. Ketika keimanan dan kedekatan manusia pada Tuhan sudah melenceng kemana-mana, agama direkacipta—atau mungkin diturunkan—untuk membentangkan jalan menuju spiritualitas yang hakiki. Tapi sayang, agama kemudian juga menjelma menjadi berhala. Agama lalu turut disembah, dan Tuhan raib entah kemana.

Itulah sekelumit keprihatinan Julia Indiati Suryakusuma, sosiolog dan salah seorang tohoh perempuan yang pernah melontarkan tesis yang menggambarkan konstruksi identitas perempuan pada zaman Orde Baru: state ibuism atau ibuisme buatan negara. Kepada Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL), penulis buku Sex, Power, and Nation, itu menumpahkan keluh kesah keimanannya, Kamis (6/1) kemarin.

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Mbak Julia, bagaimana pertama kali Anda berkenalan dengan agama?

JULIA INDIATI SURYAKUSUMA: Saya sebetulnya berasal dari keluarga priayi-Sunda yang Islamnya agak formalistik, cenderung tidak terlalu mendalam. Saya sendiri berlatarbelakang internasional, karena ayah saya seorang diplomat. Jadi sejak kecil saya sudah tersosialisasi dengan pelbagai ragam budaya, bahkan agama.

ULIL: Bagaimana sekolah Anda waktu kecil?

JULIA: Pendidikan saya pertama kali di Inggris, di sekolah sekuler, Public School, sekitar tahun 1959-1962. Setelah itu pindah ke Hongaria dan masuk sekolah Katolik dengan lingkungan yang agak agamis. Itu ketika saya masih berumur 6-8 tahun.

ULIL: Anda tumbuh dalam keluarga Islam. Ketika masuk sekolah Katolik, apa tidak ada konflik batin?

JULIA: Tidak ada sama sekali. Keluarga saya cukup liberal. Apalagi waktu tinggal di Barat, iklim kebebasan itu bisa dirasakan betul. Ketika kembali ke Indonesia, baru iklim tradisionalisme muncul kembali. Apalagi, ketika itu kakek dan nenek saya cukup santri dan menjalankan kaidah Islam yang macam-macam. Saya dan orang tua pulang-pergi dalam dan luar negeri. Saya pulang dari Hongaria ke Indonesia ketika berumur 9 tahun, sekitar tahun 1965. Lalu saya masuk SD Sumbangsih Setia Budi, Jakarta. SMP juga masih di Sumbangsih, lalu tahun 1968 pindah lagi ke Italia.

ULIL: Bagaimana Anda menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah Katolik tadi?

JULIA: Saya ketika itu ikut arus saja. Waktu di Italia, tepatnya di Roma yang dekat Paus itu, saya ikut iklim yang menjadi lingkungan saya. Itu salah satu kultur yang saya ikuti. Ketika itu saya merasa no problem, dan orang tua saya juga tidak mempermasalahkannya. Secara pribadi maupun sebagai sosiolog, minat saya kepada agama memang sangat besar. Ketika saya berumur 9-10 tahun, saya sudah merasa ada yang aneh dalam diri saya. Saya pandangi diri saya di depan cermin, merasakan keberadaan saya, dan merasa menjadi makhluk dalam tubuh saya. Lalu memandang segenap anggota tubuh saya, terus bertanya pada diri sendiri: siapa kamu ini?! Kalau kamu tidak lahir dari orang tua ini, bukan dari keluarga ini, dan tidak ada stimulus apa-apa, apa jadinya kamu?

ULIL: Kenapa Anda bertanya begitu?

JULIA: Saya tidak tahu, aneh saja. Ketika itu, saya hanya merasa itu merupakan salah satu pertanyaan yang logis saya tanyakan. Pikir saya kemudian, itu pertanyaan eksistensialis. Tapi ketika ngobrol-ngobrol dengan Frans Parera, dia mengatakan kalau itu sudah bentuk pertanyaan religius, menyangkut origin, asal-usul dari mana kita datang. Tapi buat saya, sebetulnya itu bukan pertanyaan religius, tapi lebih tepat pertanyaan spirituil. Jadi secara sadar, itulah awal mula pencarian jati diri saya. Jadi saya sudah ke mana-mana, dari ekstrem satu ke esktrem lain.

ULIL: Apa pengalaman yang menarik ketika belajar di sekolah Katolik itu?

JULIA: Waktu di sekolah Katolik tadi, saya senang-senang saja. Seumuran itu, kita ikut prayer group. Waktu natal, saya ikut dalam lakon sebagai malaikat Jibril. Ketika itu perasaan saya biasa saja, tidak ada masalah sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan tentang agama, asal usul dari mana datangnya kita, menjadi pertanyaan sepanjang hidup saya, tapi intensitasnya selalu berubah-ubah dan tidak terus menerus.

ULIL: Anda pernah mengatakan sempat mengalami periode ateis dalam hidup Anda. Bisa diceritakan?

JULIA: Betul. Itu terjadi waktu saya sedang di sekolah Katolik itu, ha-ha. Ketika itu juga, saya sudah belajar ilmu perbandingan agama. Di sana, kami yang non-Katolik dimasukkan ke kelas Religion B. Yang Religion A, yang nomor satu yang Katolik. Setelah satu semester belajar perbandingan agama, kami merasa sudah tahu semua yang patut diketahui mengenai perbandingan agama. Terus guru kami, yang sebetulnya guru bahasa Perancis merangkap perbandingan agama, bertanya: “Lantas kalian mau belajar apa, dong?!” Kami lalu mengacungkan tangan dan mengatakan, “Kami mau belajar filsafat, Miss!” Pengalaman itu, waktu itu rasanya biasa-biasa saja. Tapi kalau sekarang saya pikir-pikir ulang, saya merasa geli juga.

ULIL: Mbak Julia, ketika pulang ke Indonesia, Anda tentu berhadapan dengan pola keberagamaan yang sedikit berbeda, yang tadi Anda sebut tradisional. Apa yang Anda rasakan waktu itu?

JULIA: Sebetulnya waktu itu, yang saya anggap sebagai Islam hanya kakek dan nenek saja, ha-ha. Maksudnya, di masa itu, ketika saya kembali dari Italia (tahun 1971), secara sosial, fenomena keberagamaan di masyarakat kita belum seperti sekarang. Jadi masih cukup sekuler. Dan kita harus mengaitkan masa itu dengan keadaan sosial-politik ketika itu. Dulu, belum ada perbincangan yang ribut-ribut soal kebangkitan agama dan seterusnya.

ULIL: Sebagai sosiolog, bagaimana Anda melihat fenomena agama saat ini, ketika sudah menjadi simbol-simbol sosial, bahkan identitas kelompok?

JULIA: Saya kira ini memang perkembangan yang menarik. Kelihatannya, sekarang ini juxtaposition atau pemisahan antara yang sekuler dan non-sekuler itu berlangsung tajam sekali. Dan menurut saya, agama saat ini bukan saja simbol-simbol sosial, tapi juga simbol tradisionalisme dan identitas. Sekarang, rasanya nuansa politik identitas itu kuat sekali.

ULIL: Apa yang Anda maksud dengan agama sebagai politik identitas?

JULIA: Politik identitas itu misalnya pemisahan yang amat tajam antara “agama orang itu” dan “agama saya”. Jadi, saya beragama ini, dan mereka bukan. Jadi ada pemisahan yang tajam antara “kami” dan “mereka”. Pengelompokan berdasarkan agama itu seolah-olah berhadap-hadapan betul secara diametral. Ini mungkin bukan hanya terjadi pada agama, tapi juga kultur dan juga ras. Misalnya, kalau saya seorang feminis, saya juga mungkin akan mengatakan bahwa feminisme itu bagian dari politik identitas.

ULIL: Bagaimana Anda menanggapi fenomena bangkitnya agama sebagai identitas yang kadang-kadang bertabrakan dengan identitas “yang lain” itu?

JULIA: Menurut saya, ini bagian dari gejala sosiologis, tepatnya gejala sosial-politik. Jadi ini bukan gejala religius.

ULIL: Jadi tidak terkait dengan agama sama sekali?

JULIA: Tergantung kita mengartikan agama sebagai apa, karena agama bisa diartikan sangat luas, baik sebagai medium peningkatan spiritualitas maupun sebagai identitas kelompok atau institusi. Saya pribadi mengatakan, saya tidak terlalu percaya pada agama. Yang saya percayai adalah Tuhan. Mungkin akan banyak orang yang marah dengan pernyataan seperti ini.

Tapi saya juga sudah jauh dari periode ateis. Jauh sekali. Dan perlu kita ingat, orang ateis itu sebetulnya secara diam-diam juga percaya Tuhan, cuma malu-malu saja. Atau dia sedang menguji keyakinannya sendiri. Adakalanya, tipe orang yang mengklaim ateis itu seperti itu, meski tidak semua. Tapi saya kira, jenis ateisme yang pernah ada dalam diri saya adalah tipe itu. Makanya, agama itu bagi saya sebetulnya alat saja; alat kultur, alat politik, dan lain-lain. Wah… kita bisa melihat gejala ini sangat jelas sekali di Indonesia dewasa ini.

ULIL: Anda melihat itu negatif, positif, atau menyesalkannya, karena potensial berdampak buruk?

JULIA: Sebagai pribadi, tentu saya menyesalkan itu, karena saya hanya percaya pada kemanusiaan dan ketuhanan. Kemanusiaan itu ‘kan bagian dari hal yang sama antara kita. Kita semua berasal dari sumber yang sama. Yang namanya manusia, apapun warna kulitnya, dari manapun asalnya, sebetulnya sama-sama berasal dari Tuhan. Makanya, yang saya percayai hanya kemanusiaan dan ketuhanan itu.

ULIL: Anda tadi mengatakan tidak terlalu percaya agama, tetapi percaya Tuhan. Dalam pandangan umum, agama dan Tuhan itu satu-serangkai. Bagaimana Anda menjelaskannya?

JULIA: Agama menurut saya adalah wahana menuju Tuhan. Jadi dia sarana saja. Memang, sampai sekarang cara saya melakukan kegiatan spiritual masih belum bisa diterima lingkungan keluarga. Rasanya memang masih ada yang ngeganjel gitu.

ULIL: Tanpa terlalu mempercayai agama, bagaimana Anda sampai kepada Tuhan, dan kepada Tuhan yang mana Anda sampai?

JULIA: Saya kira, mungkin Tuhannya sama dengan Tuhan Anda, ha-ha. Saya yakin, Tuhan kita sama, cuma penghayatan kita yang berbeda-beda. Saya pribadi, barangkali pencariannya bersifat eksistensial. Setelah menjadi ateis, saya berkenalan dengan Christian Science, terus juga salat, kembali kepada ajaran keluarga saya yang tidak terlalu fanatik seperti kakek dan nenek. Dari situ saya lalu belajar sosiologi di Inggris, kemudian belajar marxisme, dan menjadi marxis. Saya memang tidak terlalu memikirkan soal ketuhanan waktu itu.

Pada tahun 1982, diam-diam sebenarnya saya terus mencari Tuhan. Di tahun itu saya berkenalan dengan Brahma Kumaris, sebuah kelompok spiritual dari India. Ini adalah organisasi spiritual yang berbasis di India, dan aktif melakukan kampanye perdamaian dan kemanusiaan di dunia. Dan itu satu-satunya organisasi spiritual yang dipimpin perempuan. Saya lupa memberi tahu kalau saya lahir di India, dan saya percaya pada karma dan reinkarnasi. Jadi mungkin bukan suatu kebetulan kalau saya kembali ke tradisi itu.

ULIL: Mbak Julia, Anda sudah berjumpa dengan banyak tradisi agama dunia. Lalu apa yang Anda simpulkan dari pelbagai perkelanaan itu?

JULIA: Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa agama itu muncul ketika spiritualitas menurun. Jadi, tepat ketika keimanan dan kedekatan manusia kepada Tuhan sudah melenceng ke mana-mana. Jadi agama itu diciptakan –saya tidak tahu, tepatnya diturunkan atau diciptakan-- untuk memberi suatu wahana menuju spiritualitas itu tadi. Tapi sayangnya, agama juga kemudian menjadi berhala. Jadi agamanya yang disembah, dan Tuhannya sudah ke mana tahu. Saya sangat prihatin melihat gejala keberagamaan seperti ini, bukan hanya di luar negeri, tapi juga di sini. Coba pikirkan, bagaimana kita menafsirkan orang-orang yang mengatasnamakan tuhan untuk merusak dan melakukan hal-hal yang sarat dengan kekerasan itu?!

ULIL: Ini mungkin soal fanatisme beragama. Apa inti fanatisme itu menurut Anda?

JULIA: Sebetulnya fanatisme itu ada di mana-mana, tidak hanya dalam bentuk agama, tapi juga ras, ideologi, dan lain-lain. Inti fanatisme itu tidak percaya diri. Mereka yang terjebak fanatisme buta tidak yakin diri soal siapa dia sebenarnya. Orang yang begitu, biasanya mesti gembar-gembor, menjelekkan dan menyalahkan orang lain, dan lain sebagainya. Kalau seseorang punya self- esteem, harga diri yang kuat, dia tidak akan perlu menjelekkkan orang lain dan tidak perlu merusak.

ULIL: Setelah berkelana sedemikian rupa dalam ranah spiritualitas, apa definisi yang tepat untuk diri Anda?

JULIA: Kalau saya ditanya apakah beragama Islam, saya memang Islam KTP. Saya kira, banyak orang Indonesia yang seperti saya. Mungkin definisi yang tepat untuk diri saya adalah seorang spiritualis, dan saya senang menyebut diri seperti itu. Saya sangat percaya Tuhan. Jadi ingat, Tuhannya tidak lagi pakai lima waktu, tapi setiap saat.

ULIL: Apa ritual yang Anda lakukan?

JULIA: Saya melakukan meditasi. Itu terus saya lakukan, dan yang pasti setiap pagi. Saya bangun jam lima pagi untuk melakukan meditasi dan doa sekitar setengah atau satu jam. “Perjumpaan” dengan Tuhan itu bagi saya anytime. Kalau saya lagi bingung, saya kembali ke Tuhan. Biasanya, kalau sudah begitu saya merasa diberi jalan. Saya merasakan Dia betul-betul dekat dan rasanya bisa diajak berdialog. Saya bicara ini bukan lagi sebagai sosiolog, tapi pribadi dengan pengalamannya. Itulah yang saya rasakan.

ULIL: Kalau boleh bertanya agak pribadi, Anda merasakan damai dengan begitu?

JULIA: Sangat damai. Saya melihat Tuhan di mana-mana. Sebetulnya kedamaian itulah inti Islam. Dan kalau saya cek pengalaman saya ke teman saya, Neng Dara, dia selalu saja bisa menemukan ayat atau sitiran dari penggalan kisah para sufi yang mendukung pengalaman serupa.[]

09/01/2005 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (43)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Seandainya tidak ada agama, Indonesia ini sudah maju. Kenapa? Karena banayk waktu hilang tanpa manfaat. Coba hitung berapa persen total penduduk Indonesia yang waktunya habis untuk ngurus agama? Kalau mereka ini mengurus teknologi mungkin kita sudah bisa bikin produk berbagai macam?

Posted by Triadi  on  12/28  at  03:48 PM

Agama saya. “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Posted by Se Justice  on  08/11  at  05:06 PM

Dulu orang percaya Tuhan karena manusia butuh jawaban.

Hari ini, google sebetulnya lebih banyak menyediakan jawaban.

Ketika saya mencari tahu (dengan google) mengapa manusia masih percaya Tuhan sampai hari ini, jawaban yang saya temukan cukup mengagetkan, walaupun sebetulnya hanya mengkonfirmasi keyakinan saya selama ini.

Ternyata keyakinan kepada Tuhan sangat erat berkaitan dengan kecerdasan. Kebodohanlah, atau ‘keterbelakangan mental’ atau ketakutan yang menyebabkan manusia memerlukan dan oleh karenanya percaya adanya Tuhan. Alasan yang sama, kecerdasan, yang menentukan apakah orang masih percaya pada tahayul, mistik, ramalan tarot, juga kepada karma, takdir, dan reinkarnasi. Sama saja sebetulnya semua itu. Hanya ada Tuhan besar, seperti yang dikonstruksi dalam agama, dan ada Tuhan indie, yah, Tuhan kelas kaki limalah, semacam ramalan kartu tarot. Tuhan itu tahayul besar, yang lain, bisalah disebut tahayul kecil.

Banyak orang merindukan sesuatu yang mutlak, seperti Tuhan, merindukan yang Tak Bisa Salah, seperti Tuhan karena kecewa dengan dunia yang serba retak, rengas, rengat, reot, dan bengkok serta tak tertebak (unpredictable).

Kecerdasan manusia, pengalaman manusia, sejarah manusia, kebudayaan manusia, daya analisis manusia, daya kritis manusia, pada dasarnya bisa mengatasi ketakutan dan kebutuhan kita, tentunya dengan kemauan melepas keinginan mendapatkan kesempurnaan, sesuatu yang sempurna dan abadi. Sayangnya dengan menggunakan itu semua, kita harus mengakui bahwa tidak ada gading yang tak retak. Bahwa tidak ada yang sempurna. Semua yang (mengaku dan dianggap) sempurna harus ditolak. Termasuk menolak Tuhan.

Butuh lebih dari sekadar kecerdasan, setidaknya pada hari ini, untuk menolak Tuhan, meninggalkan Tuhan. Itu juga perlu keberanian. Apalagi di Indonesia.

Sebaiknya tidak usah coba-coba meyakinkan bahwa saya salah dengan pendapat semacam, “Buktinya banyak ilmuwan cerdas yang percaya Tuhan, atau malah fanatik terhadap agamanya.” Misalnya siapa? Harun Yahya? Wah maaf, sekalipun kecerdasannya, taruh kata di bidang fisika mendapat pengakuan setingkat Nobel, kalau masih percaya Tuhan, buat saya belum cerdas.

Tapi apa orang tidak cerdas yang masih percaya tahayul dan Tuhan itu tidak berhak hidup di bumi? Saya tidak bilang begitu. Boleh saja, asal jangan megeroyok dan menggunakan kekerasan dalam menghadapi mereka yang cerdas dan tidak percaya tahayul serta Tuhan.

Dan tugas bagi mereka yang sudah lepas dari tahayul untuk mencerdaskan ummat manusia. Kebodohan adalah sebuah dosa. Bukan dosa karena bersalah kepada Tuhan dan hukumannya neraka. Tapi dosa pada nurani diri sendiri.

Kalau memang Tuhan perlu disosokkan, lihatlah ke dalam hati nurani sendiri di kala jernih. Di situlah sebetulnya apa yang selama ini disebut sebagai Tuhan berdiam.

Posted by Dewi Rainny Drupadi  on  07/11  at  08:31 PM

Heran hari gini masiiiih aja percaya Tuhan. Ndak bisa ya menjadi baik tanpa harus ada Tuhan. Apa kalo ndak ada Tuhan manusia trus jadi binantang? Apa tidak ada hati nurani dalam diri manusia yang bisa dijadikan pembeda yang baik dan buruk? Kenapa buku lecek dari berabad silam masih saja jadi referensi.

Belajar sejarah tidak ada salahnya, tapi ya ndak usahlah gara-gara beda tafsir buku lecek yang katanya berasal dari Tuhan yang sama, seseorang bisa punya hak memonopoli kebenaran, memonopoli Tuhan dan lebih para mengesahkan penggunaan kekerasan atas nama Tuhan.

Posted by Malin Kundang  on  07/11  at  08:04 PM

Setiap orang pada akhirnya akan kembali kepadaNya, akan dihakimi olehNya, barangsiapa menerima dan mengikuti perintahNya selama didunia, ia akan masuk ke dalam kerajaanNya yang kudus. Ia yang telah turun kedalam dunia untuk menebus dosa setiap manusia, dengan cara menderita dan mati bagi manusia, Ia yang tidak berdosa dihukum karena dosa manusia, menggantikan manusia. Sebab upah dosa ialah maut. Namun Ia bangkit pada hari ketiga dan menyatakan menang atas maut. Ia Hidup. Barangsiapa percaya kepadaNya, ia akan hidup oleh karena iman kepadaNya. Dia yang oleh banyak orang disebut Yesus, telah menebus dosa saya dan saudara. Percayalah, minimal disaat akhir hidupmu. Jangan menolak Dia. Dia telah menebus dosa kita.

Posted by teman  on  04/29  at  03:00 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq