Scripture Minded dalam Pendidikan Agama Kita - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
03/06/2010

Scripture Minded dalam Pendidikan Agama Kita Reportase Diskusi "Pendidikan Agama di Sekolah"

Oleh Saidiman Ahmad

Melek agama tentu saja baik belaka. Persoalannya adalah melek agama diikuti dengan hilangnya nalar dalam beragama. Hilangnya nalar beragama itu terlihat dari kebiasaan masyarakat Muslim yang selalu ingin mencari pendasaran doktrin agama atas segala sesuatu. Mereka menganggap bahwa secara verbal agama bisa memberi solusi terhadap segala sesuatu. Ada fenomena scripture minded dalam beragama.

Reportase Diskusi JIL
“Pendidikan Agama pada Sekolah”
Teater Utan Kayu, 25 Mei 2010
Pembicara: Pdt. Albertus Patty dan Ulil Abshar-Abdalla
Moderator: Abd. Moqsith Ghazali

Pendidikan agama pada sekolah di Indonesia sejatinya adalah upaya untuk menciptakan manusia Indonesia yang bermartabat. Tujuan pendidikan agama ini tertuang secara eksplisit dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Belakangan, tujuan mulia itu tercoreng oleh dampak negatif dari sistem pendidikan agama yang berlaku di sekolah-sekolah selama ini. Terorisme dan gejala fundamentalisme agama adalah bukti kegagalan pendidikan agama menciptakan manusia Indonesia yang bermartabat. Pendidikan agama justru menyuburkan konservatisme dan radikalisme.

Diskusi bulanan Jaringan Islam Liberal (JIL) mengupas sejumlah persoalan yang melingkupi pendidikan agama di Indonesia. Acara ini diselenggarakan di Teater Utan Kayu, 25 Mei 2010. Pdt. Albertus Patty dan Ulil Abshar-Abdalla hadir sebagai pembicara.

Diskusi yang dipandu oleh Abd. Moqsith Ghazali ini diawali dengan pemaparan sejumlah persoalan dalam pendidikan agama. Moqsith mengemukakan sejumlah hasil penelitian tentang meningkatnya gerakan radikalisme agama di lingkungan sekolah. Survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta juga menunjukkan bahwa lebih dari 80% kurikulum di lembaga-lembaga pendidikan agama berpotensi mengarahkan anak didik menjadi radikal dan konservatif. Agama yang diajarkan pada pendidikan adalah agama yang mengabaikan eksistensi agama lain. Pendidikan semacam ini berbahaya bagi masyarakat dengan tingkat pluralitas yang tinggi. Alih-alih mengajarkan sikap saling menghormati dan menghargai, pendidikan agama justru menjadi dakwah kebencian terhadap kelompok dan agama lain.

Albertus Patty membenarkan adanya ajaran pembenaran diri sendiri yang pada akhirnya mengarahkan kepada kebencian terhadap yang lain dalam pendidikan agama. Patty mengurai dua persoalan besar dalam pendidikan agama: persoalan teologi dan politik. Pada ranah teologi, menurut Patty, sudah sejak awal agama-agama besar yang ada di Indonesia sekarang ini datang dengan tujuan untuk menyebarkan misi keagamaan. Misi keagamaan itu dilakukan berdasar kepada keyakinan bahwa hanya ajaran agama yang mereka bawalah yang paling benar, semua yang lain harus ikut.

Kristen masuk ke Indonesia dengan semangat untuk mengubah masyarakat Indonesia memeluk kekristenan. Menurut Patty, apa yang disebut sebagai Kristen sesungguhnya tidak tunggal. Misi Kristenisasi tidak hanya ditujukan kepada masyarakat non-Kristen, melainkan juga antar-sesama Kristen. Klaim kebenaran hanya milik kelompok sendiri yang mendasari misi Kristenisasi, baik untuk kalangan luar Kristen maupun kalangan dalam Kristen sendiri. Asumsi semacam itu masih terus terbangun di masyarakat Kristen dan agama secara umum di Indonesia. Dan itu pulalah yang terus dilembagakan dalam bentuk pendidikan agama pada sekolah.

Pada ranah politik, persoalan harmoni antar-masyarakat dirusak oleh politik segregasi. Selama tiga puluh tahun, stigma mengenai Partai Komunis Indonesia, menurut Patty, menyebabkan masyarakat saling mencurigai dan memusuhi. Politik pengharaman terhadap isu SARA juga menjadikan masyarakat Indonesia terkotak-kotak tanpa bisa saling memberi tempat.

Belakangan, muncul sejumlah peraturan perundang-undangan yang melembagakan segregasi dan pengkotak-kotakan masyarakat berdasarkan agama. UU PNPS, UU Sisdiknas, UU No. 1 1974 tentang larangan perkawinan beda agama, dan sejumlah Perda menjadikan masyarakat Indonesia terkotak-kotak dan terus menerus berada dalam ketegangan rasial.

Ulil Abshar-Abdalla mengemukakan fenomena peningkatan melek agama di kalangan masyarakat. Melek agama tentu saja baik belaka. Persoalannya adalah melek agama diikuti dengan hilangnya nalar dalam beragama. Hilangnya nalar beragama itu terlihat dari kebiasaan masyarakat Muslim yang selalu ingin mencari pendasaran doktrin agama atas segala sesuatu. Mereka menganggap bahwa secara verbal agama bisa memberi solusi terhadap segala sesuatu. Ada fenomena scripture minded dalam beragama.

Scripture minded bermasalah karena seolah-olah al-Quran memiliki solusi untuk semua persoalan. Ketika al-Quran berbicara tentang sesuatu, maka segala persoalan dianggap selesai. Matinya nalar di dalam kehidupan beragama menjadikan Kitab Suci seperti Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) saja.

Menurut Ulil, pendidikan agama di Indonesia mengambil pendekatan scripture minded. Alih-alih diajak untuk menalar, anak didik justru dipaksa menghafal. Ulil menceritakan sebuah buku ajar yang diajarkan di sebuah sekolah. Buku ajar agama itu sebetulnya berisi ajakan untuk beragama secara toleran dan terbuka. Persoalannya ada pada pendekatan yang ia gunakan. Buku itu selalu mencari pendasaran dalam al-Quran dan hadits untuk semua argumen yang ia kemukakan. Kesimpulannya mungkin baik, tetapi pendekatan yang ia gunakan bermasalah. Masalahnya adalah karena kebenaran sebuah argumen selalu diukur pada apakah ada dasarnya dalam Kitab Suci, bukan berdasarkan penalaran atau logika.

Menurut Ulil, ayat dan hadist tidak bisa langsung menyelesaikan persoalan kongkrit, karena ia memiliki keterkaitan dengan kompleksitas sejarah dan penafsiran yang melingkupinya. Tentu saja tidak semua orang harus mengetahui sejarah Kitab Suci. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menalar. Kemampuan untuk menalar ini yang lalai dalam pendidikan agama di Indonesia. Persoalan ini sudah merasuk ke dalam system pendidikan. Anak-anak didik tidak diajak untuk bertanya. Acapkali malah pertanyaan dicurugai sebagai pembangkangan.

Filsuf pragmatisme Amerika Serikat, John Dewey, menyatakan bahwa seharusnya basis pendidikan adalah pengalaman. Persoalan dalam pendidikan agama di Indonesia, menurut Ulil, adalah bahwa pendidikan agama sama sekali lepas dari pergumulan pribadi. “Pendidikan bukan untuk menanamkan doktrin, tetapi menyiapkan orang untuk bisa menghadapi kenyataan yang terus berubah,” demikian Ulil. “Dengan begitu,” lanjutnya, “seharusnya anak didik bisa menginterpretasikan diktum-diktum agama dengan pengalaman yang terus berubah.”

03/06/2010 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (26)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Masyarakat kita, begitu mendengar agama, maka yang ada dalam bayangannya adalah sesuatu yang telah ditetapkan dan harus dijalankan. Sami’na wa Atho’na. Terlepas sesuai dengan nalar maupun tidak. Tidak peduli justru mempersulit atau mempermudah. Terlebih lagi adanya ancaman neraka ataupun reward surga dengan bidadari2-nya. Kesemuanya itu menambah kakunya ajaran agama yang ada. Apakah hal ini salah ?? Untuk tahap tertentu tidaklah terlalu salah, dalam hal ini mungkin untuk kaum awam atau yang baru belajar. Akan tetapi bagaimanapun juga orang harus terus-menerus belajar, menggali lebih jauh pemahaman keagamaannya. Sebagai contoh agama Islam. Syari’at-syari’at yang kini berlaku, merupakan hasil proses yang panjang dari taqlid maupun ijtihad dari para ulama. Dan hasil interpretasi-nya pun beragam dari berbagai ulama. Di sini menunjukkan bahwa agama Islam belum mempunyai aturan yang benar2 pasti atau yang benar2 tunggal mengenai sesuatu. Lalu yang seperti apakah yang benar dan manakah yang salah ? Pada dasarnya semuanya benar, asal didukung hadits yang kuat. Tapi relevan atau tidaknya dijalankan, harus disesuaikan lagi dengan konteks yang kita hadapi saat ini. Untuk itulah, kita harus pahami bahwa ajaran agama ini adalah sebuah proses, belum ada titik final, atau mungkin tidak akan ada titik akhir, karena jaman ini terus berubah. Karena tidak adanya kepastian ajaran2 itu, maka kita harus menghargai pemahaman yang berbeda, karena kita yakin bahwa yang berbeda dgn kita itu, juga memiliki landasan pikiran dan secara nalar juga bisa dibenarkan. Hal ini tidak ada bedanya dengan umat agama lain. Kita tidak bisa menyalahkan mereka selama apa yang mereka kerjakan adalah sesuatu yang baik. Terlebih lagi dalam hubungan sosial kemasyarakatan, batasan2 agama seperti itu mungkin bisa dihilangkan.
Semangat seperti inilah yang hendaknya ditanamkan dalam pendidikan. Bahwa kita hidup dalam masyarakat dengan kultur dan agama yang beragam.
Agama adalah hak asasi tiap manusia. Manusia diberikan kebebasan untuk memilih agamanya. Adalah tidak dibenarkan meng-klaim agama kita yang lebih benar di atas agama yang lain, dalam konteks kehidupan masyarakat dengan keyakinan yang beragam. Hal ini akan memicu konflik yang sangat serius. Dan jika sampai timbul kekerasan, maka orang lain akan bisa melihat, agama A identik dengan kekerasan. Jika sampai seperti ini, umat lain akan menertawakan, kita begitu kuatnya memegang ajaran agama tapi juga begitu senang dengan kekerasan. Sesuatu yang ironis.

Posted by M. ARCHAM UBAIDILLAH  on  08/23  at  10:19 AM

saya sependapat juga bahwa dengan adanya pendidikan agama justru menjadikan siswa semakin fundamental dalam memahami agamanya. dalam hal ini tentu sekilas akan menyalahkan pemerintah yang mengatur pendidikan di Indonesia. saya kira kalau melulu dan selalu menyalahkan pemerintah tidak akan menyelesaikan masalah, memang kalau kebijakan tentang pendidikan yang saat ini berlaku akhirnya diganti dengan kebijakan yang lebih selaras dengan perkembangan agama hal ini tentu akan lebih mampu memberi peluang untuk menjadikan setiap siswa mampu menjadi seorang beragama dan lebih toleran.menurut saya sekarang ini yang dapat dilakukan adalah mencari cara untuk mampu menyiasati undang undang ini agar sesuai dengan perkembangan agama dan ini sulit sebab biasanya orang yang punya kesadaran berkaitan dengan ajaran yang benar justru tidak memiliki akses yang memungkinkan untuk membuaat semacam perubahan dalam penyajian kurikulum pendidikan.

Posted by delonn  on  08/02  at  10:24 AM

@eko : akal terbatas?, seberapa terbatasnya akal, anda tau? (btrapa liter kah, kilokah, kubik kah?) kalo akal terbatas jangan malah dibatas2 dong, geber dong sampe batas kemampuannya, manusia abad 17 mn ad yg mengira manusia abad 20 bisa ke bulan?!!! akal terbatas tp toh mampu merangkai kompleksitas cyber problem (UU kriminalitas dunia maya, orang2 barat telah menciptakannya ; indonesia mengadopsinya) mslh manusia abd 21. sudah saatnya odel pengajaran yg menekankan superioritas teks kita koreksi, karena terbukti menjadkan kita tidak kreatif, mendorong kecurigaan dan misoginis

Posted by surya  on  07/19  at  09:43 AM

Untuk membuat peserta didik menjadi belajar/ mampu bernalar memang sulit. Ini tergantung pada kapasitas dan kualitas pendidik sendiri. Belakangan ini banyak sekali guru-guru yang mengajar ilmu Igama (Islam) sebatas apa yang tertera dalam buku cetak maupun LKS. Guru-guru itu memang lulusan S1 PAI (Pendidikan Agama Islam), tetapi mereka tak mampu mencari, menggali dan memahami sendiri terhadap literatur utama, yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Akhirnya menjelasan yang disampaikan cenderung leterlek, kaku dan mematikan nalar siswanya. Ketika siswa mencuba bertanya dengan nalarnya sendiri, guru hanya menjawabnya sesuai yang ia tahu dari buku cetak yang jadi pegangannya

Posted by ZAINUL QUDSI  on  07/17  at  04:18 PM

Bismilahirohmanirohim, Jika dengan keterbatasan akal dan pikiran manusia dalam menguraikan firman-firman Tuhan YME dijadikan alasan untuk tidak memperdebatkan kebenaran sebuah ajaran agama saya pribadi sangat tidak menyetujui itu. karna agama diturunkan untuk manusia sehingga firman-firman yang diturunkan Tuhan pun pastinya sudah disesuaikan dengan kemampuan akal dan pikiran manusia itu sendiri… Sehingga jika dilakukan perdebatan kebenaran sebuah agama maka agama yang masih sesuai hingga saat ini ialah agama yang ajarannya dapat diurai dengan logika manusia. jadi hanya agama yang paling kompleks dan dinamis (Islam) lah agama yang paling benar… karena hanya Islam yang semua ajarannya dapat di urai dengan logika manusia.

Posted by Muhammad doni  on  07/06  at  05:20 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq