Sejarah Al-Qur’an: Rejoinder - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
08/12/2003

Sejarah Al-Qur’an: Rejoinder

Oleh Luthfi Assyaukanie

Mengkaji sejarah Al-Qur’an dengan melihat proses-proses pembentukannya, baik pada masa Nabi dan masa-masa sesudahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa Al-Qur’an adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga kitab-kitab suci lainnya di dunia ini, Al-Qur’an memiliki keterbatasan-keterbatasan pada lingkup kebahasaan dan kesejarahan di mana ia diturunkan.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada siapa saja yang telah memberikan komentar dan kritik terhadap artikel saya tentang “Merenungkan Sejarah Al-Qur’an” yang dipublikasikan di website Jaringan Islam Liberal (JIL). Pada mulanya, artikel itu adalah bagian dari refleksi kegiatan spiritual saya selama bulan Ramadhan. Pada bulan itu, saya mencoba membaca Al-Qur’an dengan model bacaan saya sendiri yang menurut saya lebih berkesan dan mempengaruhi intensitas keberagamaan saya. Secara khusus, saya membaca beberapa buku Nasr Hamed Abu Zayd dan juga beberapa artikel yang ditulis oleh sarjana Al-Qur’an dari Barat. Saya selalu terobsesi untuk membaca karya-karya semacam ini, sebagai “balance” (penyeimbang) dari bacaan saya selama ini yang terlalu banyak dengan karya-karya apologetis. Saya pikir, rasanya kurang adil kalau saya hanya mensuplay ke dalam memori pikiran saya pengetahuan apologetis saja.

Inilah latar belakang mengapa artikel itu saya tulis. Semula saya ragu menuliskan apa yang saya baca. Tapi, rasanya masih terus ada yang mengganjal kalau belum ditulis. Ketika menulis artikel itu, saya mendapat panduan dari karya-karya sarjana Al-Qur’an dari Barat untuk membuka kitab-kitab klasik seperti kitab al-masahif, al-fihrist, al-itqan, dan al-burhan. Saya beruntung karena semua kitab itu bisa saya dapatkan, sehingga saya bisa merujuk setiap klaim yang dibuat oleh para sarjana Al-Qur’an dari Barat itu.

Saya pikir, para sarjana Al-Qur’an dari Barat atau yang biasa disebut dengan nada permusuhan sebagai “orientalis” itu telah banyak berjasa bagi tradisi kesejarahan Al-Qur’an. Saya bukan tidak sadar bahwa sebagian dari mereka, seperti dengan baik telah diperlihatkan oleh para kritikus orientalis semacam A.L. Tibawi dan Edward Said, adalah para sarjana yang bekerja untuk kepentingan proyek kolonialisme dan penaklukkan dunia Islam. Tapi, saya meyakini, tidak semua mereka seburuk apa yang dicurigai kaum Muslim. Dunia sekarang ini sudah sangat terbuka dan tanpa batas. Akses kepada informasi bisa diperoleh semua orang dengan mudah. Apa yang dikatakan oleh para orientalis itu bisa kita rujuk dan buktikan ke sumber-sumber aselinya. Dan ini yang saya coba lakukan dalam menulis artikel itu.

Untuk menulis artikel singkat itu, saya merujuk semua buku yang disebut para orientalis, khususnya kitab al-masahif karya Ibn Abi Daud, al-Fihrist karya Ibn Nadiem, dan al-Itqan karya al-Suyuthi. Dalam artikel itu, sengaja saya tidak menyebut nama orientalis satupun, karena saya sadar bahwa kaum Muslim memiliki apriori dan prasangka yang luar biasa pada nama-nama mereka. Saya pikir, kalau saya kutip nama-nama orientalis itu, paling-paling artikel saya akan dicampakkan begitu saja. Agaknya, ini yang pernah terjadi dengan rekan saya, Taufik Adnan Amal, yang lebih piawai, lebih ahli, dan lebih produktif dari saya dalam menuliskan sejarah Al-Qur’an. Namun, hanya karena tulisan-tulisan dia sarat dengan nama-nama seperti Jeffrey, Wansborough, dan semacamnya, tulisan-tulisan itu tampaknya tidak banyak diperhatikan orang. Di website JIL sendiri, ada tiga artikel Taufik, yang menurut saya, memiliki pesan yang sama dengan refleksi yang saya buat.

Para pengkritik dan pengecam artikel saya berusaha dengan tak sabar ingin mendengar pengakuan dari saya bahwa saya merujuk kepada orientalis, agar kemudian mereka bisa berteriak: “tuh kan Luthfi ujung-ujungnya pake orientalis.” Saya sedih jika ada yang berkomentar seperti ini. Seolah-olah, ilmu itu milik umat Islam saja, dan yang boleh meneliti sesuatu hanya orang Islam saja. Sedangkan orang lain, apalagi orang di luar Islam, meskipun mereka punya keahlian untuk itu, dianggap tak layak, dan bahkan kalau perlu dianggap “najis” yang harus dicampakkan. Padahal Sayyidina Ali jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita: Undzur ma qaala wa la tandhur man qaala (lihat apa yang dikatakan, dan jangan lihat siapa yang berkata). Para ulama mantiq (ahli logika) jauh-jauh hari juga sudah mengingakan agar kita jangan mudah terjatuh pada apa yang mereka sebut sebagai ughluthat al-askhash (ad hominem), yakni menghukumi sebuah pendapat semata-mata melihat siapa yang berkata, dan bukan apa yang dikatakan.

Bagi saya, kajian para orientalis telah membuka banyak dimensi tak terpikirkan dari sejarah Al-Qur’an selama ini. Pada gilirannya, kerja keras dan temuan-temuan mereka bisa digunakan untuk menjelaskan apa yang selama ini menjadi concern ulama dan intelektual Muslim. Bagaimanapun, kritik teks (khususnya teks-teks suci) adalah disiplin baru yang tak memiliki preseden dalam sejarah intelektualisme umat manusia. Di masa silam, teks-teks suci dianggap sebagai korpus tertutup yang sudah selesai dan tak boleh diganggu-gugat. Siapa saja yang mencoba mengkritisinya, dia akan dianggap “murtad,” “kafir,” “zindiq,” atau istilah-istilah lain yang sejenis. Untuk membentengi kesucian dan kemaksuman kitab suci, mitos-mitos pun diciptakan, misalnya seperti masalah i’jazul Qur’an (e.g. angka 19, dll). Siapa saja yang menolak mitos-mitos ini, juga akan dicap dengan istilah-istilah seram di atas. Itulah yang terjadi dengan banyak ulama dan intelektual Muslim yang mencoba “membaca” Al-Qur’an dengan perspektif lain, seperti yang dialami oleh Arkoun, Syahrour, dan Abu Zayd.

Kajian historis terhadap Al-Qur’an membantu kita, di antaranya, untuk menjelaskan persoalan-persoalan klasik hubungan antara wahyu, kitab suci, dan risalah kenabian, secara umum. Selanjutnya, masalah ini juga dapat membantu kita menjelaskan peran dan fungsi agama-agama di dunia ini bagi umat manusia. Saya menganggap kajian Al-Qur’an dengan melihatnya sebagai sebuah satu-kesatuan kitab suci dan sekaligus melihat detil-detil peristiwa kesejarahannya yang manusiawi, seperti kita memahami sejarah alam semesta. Menurut para astrofisikawan, alam semesta tak bisa dipahami kecuali kita menggabungkan dua teori utama: (i) yang berkaitan dengan hal-hal maha-besar seperti big bang, gravitasi, dan ekspansi; dan (ii) hal-hal maha-kecil seperti quantum, singularity, dan string. Begitu juga Al-Qur’an, ia tak bisa dipahami dengan baik jika kita hanya melihat satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi lainnya. Menurut saya, dimensi historis Al-Qur’an adalah modal penting bagi kita memahami fungsi dan peran Al-Qur’an yang sesungguhnya.

Dari kajian sejarah pembentukan Al-Qur’an, kita mengetahui bahwa kitab suci ini berkembang dengan sangat dinamis, berinteraksi dengan kehidupan umat manusia, yang kadang sangat bersifat lokal dan temporal. Ayat-ayat yang dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan para sahabat Nabi, misalnya (yas’alunaka anil khamr, anil ahillah, anil mahidh, dan seterusnya), adalah refleksi dari kehidupan yang dijalani Nabi dan para sahabatnya. Kasus-kasus seperti minuman keras dan menstruasi (yang disebutkan dalam ayat yas’alunaka itu), adalah persolan manusia di dunia yang muncul tiba-tiba karena desakan situasi yang dihadapi para sahabat nabi saat itu. Dengan kata lain, jika tidak ada situasi yang mendesak tersebut, maka ayat-ayat tentang khamar dan menstruasi akan absen dari Al-Qur’an.

Fenomena lokal-temporal yang dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an telah lama menjadi kajian para ulama dan ilmuwan Muslim. Dalam ‘Ulum al-Qur’an dan juga Ushul al-Fiqh, mereka menciptakan kaedah-kaedah yang tujuannya meuniversalkan pesan-pesan Al-Qur’an, seperti al-‘ibrah bi ‘umum al-lafdh la bi khusus al-sabab (mendahulukan kata-kata yang umum di atas sebab-sebab yang khusus). Kaedah-kaedah seperti ini sangat membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, tapi tidak membantu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang lebih substansial yang umumnya dihadapi oleh para filsuf Muslim di masa klasik dan intelektual Muslim di masa modern, menyangkut hubungan antara risalah kenabian, kitab suci, posisi Allah, wahyu, dan beragamnya agama-agama di dunia.

Para filsuf Muslim klasik mencoba menjelaskan persoalan-persoalan itu dengan menggunakan analisa-analisa yang rumit yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu, khususnya mereka yang mempelajari disiplin filsafat. Al-Farabi misalnya menjelaskan proses turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad sebagai proses yang sepenuhnya bersifat psikologis (al-nafsiyyah). Agen penyampai wahyu yang umumnya disebut “Jibril” hanyalah salah satu daya (quwwah) saja yang ada dalam diri manusia. Setiap manusia, secara potensial (bil quwwah), memiliki daya kenabian, hanya saja intensitas kenabian itu berbeda satu dengan lainnya. Daya kenabian yang dimiliki Nabi Muhammad merupakan yang terbesar, sehingga dia mampu mengaktualisasikan wahyu Tuhan dari potensi (bil quwwah) menjadi kenyataan (bil fi’il).

Dalam proses aktualisasi wahyu dari bil quwwah menjadi bil fi’il ada sejumlah proses reduksi. Hal ini lumrah belaka, karena pesan-pesan Allah yang universal disampaikan dalam bentuk bahasa manusia, yakni bahasa Arab, yang tunduk pada aturan-aturan retoris, gramatis, semantik, leksikal, dan sintaks. Bahasa Arab bukanlah bahasa baru yang muncul tiba-tiba karena Al-Qur’an. Bahasa ini telah ada sejak lama dan digunakan oleh masyarakat Arabia sebagai alat komunikasi dalam interaksi sosial, bisnis, puisi, literatur, graffitti, kecaman, dan juga obrolan-obrolan porno. Puisi-puisi jahiliah yang banyak mengumbar syhawat dan pornografi diekspresikan dalam bahasa Arab. Puisi-puisi dan literatur yang dianggap “menyimpang” dari Islam juga ditulis dalam bahasa Arab.

Persoalan utama Al-Qur’an, menurut saya, bukanlah persoalan penafsiran semata, tapi memahaminya sebagai sebuah produk ilahiah (al-intaj al-ilahy) yang berada dalam ruang sejarah manusia yang tidak suci dan terbatas. Teks-teks yang tertulis dalam bahasa Arab yang kemudian disebut “Al-Qur’an” adalah artikulasi manusia terhadap kalamullah yang abadi dan eternal. Kalamullah yang abadi dan eternal inilah yang terus dijaga oleh Allah, seperti dijanjikan dalam salah satu ayatnya (Inna nahnu nazzalna al-dhikra wa inna lahu lahafidhun Q.S. 15:9). Adapun Al-Qur’an, pada dasarnya adalah sesuatu --meminjam istilah para pemikir Muktazilah-- “yang diciptakan” (makhluq) dalam kebaharuan (muhdath), dan karenanya, ia tidak eternal dan tidak abadi.

Upaya koleksi, modifikasi, dan unifikasi, yang dilakukan baik oleh para sahabat maupun orang-orang yang sesudahnya adalah contoh dari proses-proses keterciptaan Al-Qur’an dalam ruang yang tidak permanen dan tidak abadi. Menurut Al-Qur’an, Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah (message), dan risalah itu bernama “Islam.” Sebagai sebuah risalah, Islam, seperti diberitakan Al-Qur’an, bukanlah agama yang baru, dan Muhammad bukanlah satu-satunya pembawa risalah. Sebelumnya, risalah itu telah disampaikan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa (Q.S. 42:13). Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab. Tidak ada yang unik dari bahasa ini, karena seperti kata Al-Qur’an sendiri: “Tidaklah kami utus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka” (Q.S. 14:4). Dengan kata lain, alasan mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab karena semata-mata ia diturunkan kepada orang-orang Arab. Tidak lebih dan tidak kurang.

Bahasa manusia adalah instrumen komunikasi yang terbatas pada budaya, tempat, dan waktu di mana ia digunakan. Kosakata dari bahasa selalu berkembang, sesuai dengan perkembangan zaman. Keterbatasan kosakata Al-Qur’an bukanlah keterbatasan pesan-pesan Allah (kalamullah) yang universal, tapi keterbatasan bahasa Arab yang tunduk pada situasi dan kondisi saat Al-Qur’an diturunkan. Sejarah pembukuan Al-Qur’an adalah sejarah pereduksian kalamullah yang universal dan eternal. Seperti juga yang terjadi pada kitab-kitab suci lainnya, seperti Taurat, Injil, Zabur, Al-Qur’an adalah manifestasi dari kalamullah yang eternal dan universal. Karena manifestasi dilakukan dalam bahasa manusia yang beragam dan tidak sempurna, maka terjadilah perbedaan-perbedaan di antara kitab-kitab suci itu (dan selanjutnya juga di antara para pemeluk agama).

Al-Qur’an sendiri adalah produk pemanusiaan (humanizing) pesan-pesan Allah (kalamullah) yang universal dan eternal. Dalam sejarahnya, ada dua tahap pemanusiaan kalamullah itu hingga menjadi bentuknya yang kita lihat sekarang. Tahap pertama adalah tahap pengaturan ayat-ayat yang diturunkan secara kronologis (tartib al-nuzul) menjadi urutan bacaan seperti kita kenal sekarang (tartib al-tilawah). Ini dilakukan pada masa Nabi dan dilengkapi pada masa Uthman bin Affan. Tahap selanjutnya adalah pemberian tanda baca (tasykil) yang dilakukan sepanjang sejarah Islam hingga digunakannya mesin cetak pada masa modern.

Seperti kita ketahui, susunan Al-Qur’an yang diturunkan secara kronologis berbeda dengan susunan yang kita lihat sekarang. Perubahan susunan ini memiliki dua dampak yang cukup penting: pertama, ia menghancurkan konteks peristiwa dan kesejarahan setiap wahyu yang diturunkan; dan kedua, ia menjadikan Al-Qur’an sebagai sebuah bacaan “magis” (karena yang ditekankan bukan makna kronologisnya, tapi struktur kebahasaannya). Dampak yang terakhir ini kemudian mendorong sebagian ulama untuk membesar-besarkan apa yang mereka sebut sebagai “i’jaz al-balaghi al-Qur’ani” (mu’jizat sastrawi Al-Qur’an).

* * *

Dalam tulisan saya yang ringkas itu, saya telah berusaha memperlihatkan bahwa hingga abad ke-4 (masa Ibn Nadiem dan Ibn Abi Daud) dan bahkan hingga abad ke-10 (masa Jalaluddin al-Suyuthi), persoalan penulisan dan penertiban ayat-ayat Al-Qur’an tetap menjadi isu hangat yang terus diperdebatkan. Tidak ada yang tabu bagi ulama Islam kala itu untuk mendiskusikan kesejarahan Al-Qur’an. Ibn Nadiem bebas-bebas saja membuat pernyataan bahwa Mushafnya Ibn Abbas tidak memiliki al-Fatihah, dan al-Suyuthi bebas-bebas saja meriwayatkan Hadith ‘Aisyah bahwa Mushaf Uthmani telah menghilangkan surah al-Ahzab dan karenanya Al-Qur’an yang dibuat Uthman menjadi lebih ramping dari Mushaf yang dimilikinya.

Menurut saya, keyakinan akan imanensi dan permanensi Al-Qur’an, selain bertentangan dengan prinsip tauhid yang paling asasi (yakni hanya Allah yang imanen dan permanen, adapun yang lainnya hanyalah manifestasi dari kalam-Nya), juga bertentangan dengan konteks kesejarahan Al-Qur’an sendiri yang dinamis, progresif, dan manusiawi.

Mengkaji sejarah Al-Qur’an dengan melihat proses-proses pembentukannya, baik pada masa Nabi dan masa-masa sesudahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa Al-Qur’an adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga kitab-kitab suci lainnya di dunia ini, Al-Qur’an memiliki keterbatasan-keterbatasan pada lingkup kebahasaan dan kesejarahan di mana ia diturunkan. Namun demikian, sebagai sebuah manifestasi dari kalamullah, Al-Qur’an memiliki kesamaan-kesamaan dengan kitab-kitab suci lainnya (yang juga merupakan manifestasi kalamullah). Aspek kesamaan inilah (dalam bahasa Al-Qur’an disebut “kalimatun sawaa”) yang harus selalu ditekankan oleh kaum Muslim secara khusus dan seluruh umat beragama secara umum.

Imani billahi akbar wa huwa khayrul musta’an.

08/12/2003 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (13)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Assalamu’alaikum, Kita memang bebas untuk berfikir dan apalagi menela’ah serta mengkaji setiap pemikiran orang lain, selagi kita mampu untuk menggedalikan diri baik secara obyektif or subyektif ....maka tidak ada salahnya bagi kita untuk selalu terbuka mnerima kritik dari orang lain baik itu kawan maupun lawan. Sebuah pepatah mengatakan” Satu musuh lebih baik dari seribu teman”. demikian ..jika saudara berkenan..setiap tulisan anda AINAA tunggu di E-MAil, Syukron Jazil.
Wassalam.

Posted by Al-Aina Al-Mardliyah  on  05/25  at  03:57 PM

maaf kalau sebelumnya hal ini dapat membuat saudara tidak enak. marilah kita bertaubat kepada Alllah yang maha pencipta. ingat Allah akan membalas semuanya. bertaubatlah saudara selagi masih ada kesempatan umur yang Allah berikan kepada saudara. berbuatlah yang baik dan jangan menyesatkan dan membingungkan orang lain dengan artikel anda.
-----

Posted by ewl  on  10/15  at  02:10 AM

Alhamdulillah; lewat Saudara Luthfi dan orang-orang kritis seperti dia,menurut saya, sepanjang zaman Allah SWT telah mengaktualisasikan firman-Nya “wa inna lahu lahafidun”. Bagi saya, al-Quran yang ada sekarang itu pula lah juga wujud dari firman Tuhan “dan sesungguhnya Kami lah yang akan menjaganya”. Tetapi al-Qur’an yang sekarang pun -sebut saja mushaf usmani - yang terjaganya dalam bentuk yang dibaca dengan ‘qiroah yang beragam’ itu. Dari segi penulisan pun, jika kita cermati pada mushaf yang sekarang saya menemukan hal-hal yang ‘aneh’. Coba telaah penulisan “bimushaitirin” dengan huruf sha’pada surat al-Ghasyiah; kemudian cari di munjid! Telaah pula penulisan Shirot dan Ibrahim ada yang pakai alif ada yang tidak. Bayangkan ketika al-Qur’an belum pakai syakal (noktah) seperti sekarang ini (saya tidak ragu pada al-Qur’annya tapi meragukan kredibilitas usman dalam membentuk panitia penulisan al-Qur’an saat itu. Wallohu a’lam!. Oleh karenanya, sekali lagi: ditemukannya riwayat-riwayat nyeleneh di kalangan ahlussunnah maupun syi’ah tentang ayat-ayat al-Qur’an yang tidak ada pada mushaf sekarang adalah bukti bahwa Allah SWT telah menjaganya. Apa pun tulisannya, al-Qur’an yang ada dan terbaca sekarang adalah: ASLI lho! Saya yakin Asli!

Posted by Edi Hendri Mulyana  on  04/20  at  01:04 AM

assalamu’alaikum

Menarik juga tulisannya, cuman sedikit agak konyol

1. Sekedar perbandingan. klo kita terbiasa makan dan minum yang bergizi apa adil klo tidak pernah mengkonsumsi racun walau sebotol aqua selama hidup. saya kira klo penulisnya konsen harusnya meminum sebagai perbandingan agar tubuh merasakannya apa itu racun, gimana rasanya, bukan sekedar di cerita ama orang tapi ndak pernah rasa. saya kira yg lebih selamat bagi tubuh adalah menghindarinya walau itu menurut perkataan orang atawa sekedar penelitian. daripada mencoba lantas mati !!! Khan berabe

2. Masalah orientalis, saya kira jelas kali --utk kepentingan kolonial-- dengan kalimat itu saja saya kira baiknya kita menjauhinya. semua kita tahu apa tujuan kolonial. taruh semacam snough hugronye di aceh itu semua jelas. Memang benar mereka meneliti tentang islam. tapi penelitian ini dlm rangka merusak islam, yaa jelas yg namanya merusak hasilnya juga rusak. yg jadi pertanyaan apa haril karya mereka ttg islam bisa dipertanggung jawabkan !!! hingga kita bebas menjadikannya sebagai rujukan?

Sebagai contoh, jika menerima laporan/informasi dari tukong bohong dan orang jujur, saya kira yg lebih selamat adalah tidak mempercayainya kecuali setelah di lakukan penelitian mendalam tentang informasi yg di sampaikannya bukan malah dijadikan rujukan utk penelitian lainnya. Adapun orang jujur, yg lebih selamat adalah menerimanya walau pada saat itu dia sedang berbohong, dan kebohongnnya itu bisa terlihat langsung oleh penerima informasi klo memang dia orang yg jujur.

3. Mengenai kaidah yg saudara bawakan --jangan melihat orangnya-- itu adalah kaidah umum dlm Islam ketika orang2 yg akan kita ambil informasi jujur, kaidah itu dipakai umum oleh kalangan shahabat sebelum terjadi fitnah dan merajalelanya penyimpangan dlm islam. Setelah masa shahabat timbul fitnah dan keluar kaidah baru “sesungguhnya ilmu adalah dien kalian, maka telitilah darimana kalian mengambilnya (kaidah ini terkenal sekali di kalangan para shahabat yg akhir hidupnya dan dikalangan tabiin dan orang2 sesudahnya). hingga ibnu abbas pernah berkata : dulu jika kami mendengar hadits kami langsung mengambilnya, tapi sekarang setelah terjadinya fitnah kami meneletinya dulu, jika memang dari orang terpercaya, adil dan jujur maka kami akan mengambilnya, jika tidak maka kami tinggalkan. dan kaidah ini hampir mampir kesemua buku ahli ilmu dan fiqih. jadi kaidah yg saudara katakan tadi boileh dipakai jika orang2 yg hidup pada masa kita mengamalkan kaidah itu hampir semuanya jujur hingga kita dapat simpulkan kemungkinan bohongnya kecil. tapi untuk masa sekarang saya kita itu hal yg sulit, karena kita tak tau orang itu jujur apa tidak sementara kita menggunakan perasaan saja ketika mengambilnya, atau kadang kita mempebandingkan dgn penulis lain yg lagi2 kita tidak bisa mendeteksi kejujurannya. saya kira yg lebih selamat adalah meninggalkannya dari pada berada dlm ketidak pastian sambil meraba kebenaran. dan itu memerlukan waktu yg lama, mementara kita dihadapkan pada berbagai persoalan tentang kewajiban dlm hidup. klo kajian saya dari berbagai reverensi karangan orientalis lebih kepada akal akalin saja, atau kadang memutarbalikkan fakta, atawa yg lebih sering pendapat yg lemah dan kadang di buang oleh para ulama bertentangn dgn dalil shohih di hidupkan kembali seolah sebagai pendapat terkuat dengan sedikit di poles hingga polesan ini kadang merunbah ke makna dasarnyu. alias di putarbalikan

3. Tentang klain kafir dll. saya kira itu betul klo kita percaya teks al-quran itu asli. “kami yg menurunkan al-quran dan kami pula yg akan menjaganya” semua ulama sepakat teks al-qran tetap akan terjaga sampai kiamat klo kita percaya tadi.pengumpulan al-quran adalah salah satu janji allah yg terpenuhi di ayat itu. kenapa tidak di zaman rasulullah. bukankah rasulullah sudah menyuruh menuliskannya dan sebagian shahabat menulis dalam bentuk mushaf. knapa utsman menggabungkan al-quran dlm satu mushaf ini salah satu penjagaan allah terhadap quran yg diilhamkan kepada para shahabat sebab klo dibiarkan dgn ejaan masing2 akan berakhir seperti kitab samawi yg terdahulu. sehingga masa 30 tahun sebelum quran dikumpulkan semua ulama sepakat itu masa dimana allah memberi tolerir kepada manusia dlm rangka mempelajari al-quran sebab semua orang arab waktu itu tidak terlalu paham dialek dan tata bahasa qurasy. tapi setelah islam menyebar dan bahasa quraisy di pelajari dimana2 dan dalam rangka tidak terjadi salah penafsiran maka dipatenkanlah alquran.

4. Lo satu kesatuan kitab suci dgn menganggap bahwa al-quran dan kitab yg lain saling menyokong saya kita ini terlalu dibuat2 karena kenyataannya tidak demikian dlm semua kitab suci yg dianut manusia. taruh dlm kejadian alam semesta saja semua semua kitab suci memberikan pemahaman yg berbeda dan saling kontradiksi dan bagi saya yg benar hanya dari islam. dan penggunaan dgn dua dimensi tidaklah seluruhnya benar karena dgn ilmu pengetauan saja kita kadang sudah mengetahui detail sesuatu, misal ttg racun: orang bisa meneliti ttg racun sedetail2nya tanpa menggunakan perbandingan kitab suci, hasil juga toh luar biasa. Dan masalah kajian alquran dalam berbagai dimensi itu juga patut dipertanyakan dimensi mana saja yg perlu digunakan, apa memakai cara pandang orang kafir, orang bodoh, pengikut hawa nafsu, orang2 yg membenci islam dll sementara dimensi pandangan seseorang tergantung latar belakang, agama, pendidikan dan masih banyak faktor lain. bukankah yg lebih selamat menggunakan punya sendiri daripada punya musuh.

wassalam

Posted by Abu_Abdillah  on  03/26  at  10:03 PM

Dari artikel Anda, ada satu pertanyaan mengganjal yang kalau dipikirkan sungguh - sungguh akan meresahkan jika kita meyakini bahwa Al-Qur’an dan kitab - kitab lainnya adalah manifestasi manusiawi terhadap kalam Illahi. Karena jika seperti itu artinya seluruh kitab suci itu benar, karena toh kitab suci itu adalah Firman Tuhan semuanya. Adapun perbedaan - perbedaan yang ada pada setiap kitab suci atau dalam satu kitab suci itu sendiri karena keterbatasan dunia manusia yang relatif.

Jika seperti itu, maka saya ambil contoh sederhana saja. Misal dalam satu kitab suci menyatakan kehidupan manusia itu ada reinkarnasi, maka ini tidak bisa disalahkan, sedang di kitab suci lain mengatakan tidak ada, atau dalam suatu kitab suci mengatakan banyak Dewa sedang yang lain tidak. Atau ada yang mengatakan Tuhan itu tiga yang lain tidak.

Jika mengikuti cara berpikir Anda maka semua itu benar. Dan inilah yang bagi akal sehat saya tidaklah logis. Karena agama tidak hanya mengajarkan yang tampak - tampak saja. Namun hal - hal yang bersifat keakheratan, seperti surga, neraka, tentang jumlah Tuhan, tentang hari pengadilan, tentang proses perhitungan amal, tentunya hanya akan ada 1 yang benar. Karena jika semua benar maka akan kacau balau jadinya kerajaan Tuhan.

Posted by Martha Yoga  on  08/31  at  04:08 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq