Sejarah dalam Sastra Pram dan Mahfouz - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
22/05/2006

Sejarah dalam Sastra Pram dan Mahfouz

Oleh M. Guntur Romli

Saya termasuk orang yang kurang beruntung mengenal Pramoedya Ananta
Toer (selanjutnya disingkat Pram). Mungkin saya hanya salah seorang
dari sekian banyak generasi muda Indonesia yang mengalami nasib
sama: terhambat membaca karya-karya Pram. Saya membaca karya-karya
Pram justru jauh dari Indonesia: saat melakukan studi di Mesir dan
setelah jatuhnya Orde Baru (1998). Jamak diketahui, iklim pendidikan
dan politik selama Orde Baru tidak memberi celah sedikit pun untuk
bisa menikmati karya-karya Pram. Indonesia adalah rumah kaca Orde
Baru, dan Pram adalah musuh yang senantiasa diintai untuk dibantai.

Koran Tempo Rubrik Ide, Minggu, 21 Mei 2006

Oleh Mohamad Guntur Romli
penikmat sastra dan pernah tinggal di Mesir

Saya termasuk orang yang kurang beruntung mengenal Pramoedya Ananta
Toer (selanjutnya disingkat Pram). Mungkin saya hanya salah seorang
dari sekian banyak generasi muda Indonesia yang mengalami nasib
sama: terhambat membaca karya-karya Pram. Saya membaca karya-karya
Pram justru jauh dari Indonesia: saat melakukan studi di Mesir dan
setelah jatuhnya Orde Baru (1998). Jamak diketahui, iklim pendidikan
dan politik selama Orde Baru tidak memberi celah sedikit pun untuk
bisa menikmati karya-karya Pram. Indonesia adalah rumah kaca Orde
Baru, dan Pram adalah musuh yang senantiasa diintai untuk dibantai.

Nama Pram dikucilkan dalam pelajaran sastra di sekolah-sekolah.
Dalam Garis-garis Pokok Pengajaran kurikulum 1994, namanya lenyap.
Buku-bukunya tidak pernah dijumpai di rak-rak perpustakaan sekolah.
Pesantren, sebagai pendidikan agama saya selanjutnya, juga tidak
mungkin mengenalkan karya-karya Pram. Tudingan terhadap Pram sebagai
orang komunis menjadikannya musuh semua agama. Pun karya-karyanya
dituduh anti-agama. Lengkap sudah konspirasi rezim politik dan agama
memusuhi Pram dan karya-karyanya. Jadi jangan heran, meski nama Pram
sudah ingar-bingar di kalangan sastra internasional, namanya tidak
seramai di negerinya sendiri jika dibandingkan dengan sederet nama
sastrawan Indonesia lainnya. Sialnya, saya lahir dari hasil
perselingkuhan dua rezim tersebut. Sepasang rezim yang berusaha
melumat dan mengubur Pram. Rezim yang mewarisi kebencian dan dendam.

Saya membaca karya-karya Pram dari tetralogi Bumi Manusia, Anak
Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Selanjutnya Arok Dedes,
Arus Balik, Gadis Pantai, dan Mangir. Sederet karya Pram itulah yang
disebut sebagai novel sejarah. Dan saya sering membandingkan karya-
karya Pram tersebut dengan karya-karya novelis peraih Nobel Mesir,
Naguib Mahfouz. Ada persamaan yang mempertemukan karya-karya mereka,
dan ada pula perbedaan yang menjadi ciri khas mereka masing-masing.

Dalam melahirkan karya-karyanya, keduanya tidak lepas dari risiko.
Seperti risiko seorang perempuan yang melahirkan bayinya dengan
menyabung nyawa. Tapi nasib Mahfouz tidaklah setragis Pram. Mahfouz
tidak pernah dipenjara, meskipun ia pernah ditikam hingga nyaris
tewas. Semua novelnya bebas beredar di Mesir, kecuali satu, Awlad
Haratina (Anak-anak Kampung Kami), karena dituding menghina agama.

Namun, Pram dan Mahfouz memiliki persamaan konteks saat melahirkan
karya, yaitu kolonialisme dan rezim militer. Dalam sejarah Mesir,
Inggris adalah kolonialis, sementara Belanda adalah kolonialis di
Indonesia. Kekuasaan feodal raja-raja Jawa bisa disamakan dengan
kekuasaan feodal masa khadewi dan raja Mesir. Setelah kekuasaan raja
lenyap, mereka digantikan oleh kekuasaan militer yang otoriter dan
despotik, yaitu kekuasaan militer Soeharto dan kekuasaan militer
Gamal Abdul Nasser.

Konteks negeri mereka yang diserbu multikrisis menyebabkan mereka
mencoba menengok kembali ke belakang, mengais serpihan pelajaran
dari masa lalu. Meski demikian, ketika mereka menulis novel-novel
sejarah, tujuannya bukan untuk mempelajari alur dan menyelidiki data
sejarah. Mereka membaca sejarah sesuai dengan kebutuhan dan
menggunakan perspektif konteks mereka (qira’ah al-tarikh min khilal
al-waqi’).

Saya mencoba membaca novel-novel sejarah Pram dan membandingkannya
dengan novel-novel sejarah Mahfouz yang merupakan periode awal dari
karya-karyanya. Sebutlah ‘Abats al-Aqdar (Permainan Takdir), Radubis
(Rhadopis dari Nubia), dan Kifah Thiba (Pejuang dari Thebes), yang
merupakan cerita-cerita sejarah tentang Mesir kuno yang ditulis pada
1930-an hingga 1940-an. Novel-novel bertema sejarah Mesir kuno
merupakan periode awal karya Mahfouz sebelum berpindah pada tema-
tema sosial. Sedangkan novel-novel sejarah Pram, yang disebut karya-
karya Pulau Buru, justru lahir pada pengujung periode kepenulisan
Pram.

Selain perbedaan periode tersebut, masalah estetika penulisan sastra
menjadi perbedaan yang sangat jelas antara Pram dan Mahfouz. Seperti
yang diakui sendiri oleh Pram, estetika dalam sastra tidak menjadi
fokus, tapi dia lebih menekankan pada fungsi sastra sebagai applied
art, seni yang memikul tugas sosial. Dia berkomentar dalam Realisme
Sosialis (2003), “… Keindahan terletak pada kemanusiaan, yaitu
perjuangan untuk kemanusiaan, pembebasan terhadap penindasan. Jadi
keindahan terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-
atik bahasa.” Sedangkan Mahfouz dalam Hawl al-Adab wal Falsafah
(Seputar Sastra dan Filsafat, 2003) menegaskan sastra sebagai
ungkapan tertinggi perasaan, sekaligus puncak keindahan. Sementara
itu, bahasa adalah perwujudan ide penulis yang menggunakan kekuatan
kata-kata sebagai sihir kebenaran. Sastra tidak menghidangkan
kebenaran secara telanjang, tapi menutupinya dengan tabir-tabir yang
tipis.

Jika kita membaca karya-karya Pram bisa dianggap berusaha menggerus
anasir-anasir estetika dalam karya sastra, tidak hanya dalam masalah
estetika bahasa saja, tetapi juga, estetika metode penyampian. Pram
melakukan demitologisasi dengan mengurai kode-kode sejarah. Misalnya
dalam
Arok Dedes, tidak ada mitos kutukan Keris Mpu Gandring. Pun dalam
Mangir
tidak ada kesaktian tombak Kyai Baru Klinting. Di sini letak
perbedaan
antara Pram dan Mahfouz, meskipun keduanya dianggap sebagai penganut
mazhab realisme, namun Pram lebih pada realisme sosialis, sementara
Mahfouz realisme simbolis. Karya Mahfouz sangat kaya dengan permainan
simbol dan alegori. Simbolisme sejarah dalam `Abats al-Aqdâr, Kifâh
Thîbah, simbolisme sosial dalam Trilogi, simbolisme jender dalam
Zuqâq
al-Midaq (Lorong Midaq), dan simbolisme agama dalam Awlâd Hâratinâ
(Anak-anak Kampung Kami).

Ketika membaca karya-karya Mahfouz kita benar-benar membaca karya
sastra
sehingga perlu melakukan penafsiran, mengelupasi simbol-simbol itu.
Namun
membaca Pram, seperti membaca buku tafsir terhadap sejarah dalam
versi
kisah. Aktivitas tafsir adalah proses dari rasionalisasi. Melalui
karya
Pram juga, saya diajari membaca simbolisme Mahfouz. Hemat saya
perbedaan
cara penyampaian dua sastrawan ini berpulang pada perbedaan posisi
mereka
dalam kehidupan sosial. Keduanya sama-sama melakukan pembangkangan
terhadap konteks sosial dan politik, namun dengan gaya yang berbeda.
Pram
tampak tampil lebih sebagai aktivis pergerakan, daripada sekedar
sastrawan, sehingga dia menganggap sastra `hanya’ sebagai sarana
untuk
mencapai tujuan. Dia ingin pesannya cepat diterima dan bisa
berpengaruh
menuju perubahan, tidak perlu bersusah-payah menafsirkan karya-
karyanya.

Karya-karya Pram bisa dianggap berusaha menggerus anasir-anasir
estetika dalam karya sastra, tidak hanya dalam masalah estetika
bahasa, tapi juga estetika metode penyampaian. Pram melakukan
demitologisasi dengan mengurai kode-kode sejarah. Misalnya dalam
Arok Dedes, tidak ada mitos kutukan keris Empu Gandring. Pun dalam
Mangir, tidak ada kesaktian tombak Kiai Baru Klinting. Di sini letak
perbedaan antara Pram dan Mahfouz, meskipun keduanya dianggap
sebagai penganut mazhab realisme, Pram lebih pada realisme sosialis,
sementara Mahfouz realisme simbolis. Karya Mahfouz sangat kaya
dengan permainan simbol dan alegori. Ada simbolisme sejarah
dalam ‘Abats al-Aqdar, Kifah Thibah, simbolisme sosial dalam
trilogi, simbolisme gender dalam Zuqaq al-Midaq (Lorong Midaq), dan
simbolisme agama dalam Awlad Haratina (Anak-anak Kampung Kami).

Ketika membaca karya-karya Mahfouz, kita benar-benar membaca karya
sastra sehingga perlu melakukan penafsiran, mengelupasi simbol-
simbol itu. Namun, membaca Pram seperti membaca buku tafsir terhadap
sejarah dalam versi kisah. Aktivitas tafsir adalah proses dari
rasionalisasi. Melalui karya Pram juga saya diajari membaca
simbolisme Mahfouz. Menurut hemat saya, perbedaan cara penyampaian
dua sastrawan ini berpulang pada perbedaan posisi mereka dalam
kehidupan sosial. Keduanya sama-sama melakukan pembangkangan
terhadap konteks sosial dan politik tapi dengan gaya yang berbeda.
Pram tampak tampil lebih sebagai aktivis pergerakan, daripada
sekadar sastrawan, sehingga dia menganggap sastra “hanya” sebagai
sarana untuk mencapai tujuan. Dia ingin pesannya cepat diterima dan
bisa berpengaruh menuju perubahan, tidak perlu bersusah payah
menafsirkan karya-karyanya.

Cita-cita Pram dan Mahfouz melalui karya-karya mereka adalah
perubahan bagi negeri mereka. Meskipun mereka mengisahkan sejarah,
bukan untuk sejarah itu sendiri, tapi perubahan konteks mereka
sendiri. Mereka meniupkan kembali ruh sejarah sebagai alat perubahan
dan perlawanan. Karya-karya mereka ingin menumbuhkan dan memperkuat
ide nasionalisme guna melawan kolonialisme sebagai rongrongan dari
luar dan otoritarianisme militer yang menggerogoti dari dalam.

Dalam ‘Abats al-Aqdar, seorang firaun bernama Khufu (Cheops) ingin
mengubah alur takdir yang mewartakan bahwa ia adalah akhir dari
penguasa Mesir. Takdir itu juga yang menetapkan tidak ada satu pun
dari keturunannya yang bisa melanjutkan tugasnya. Namun, kegigihan
Khufu mampu memainkan gerak takdir. Setelahnya, keturunan Khufu
masih memimpin Mesir untuk beberapa dinasti. Pun ia berhasil
membangun piramida terbesar dari tiga piramida yang saat ini berdiri
kukuh di Giza. Piramida menjadi simbol kebesaran negeri sebagai
hasil dari kerja sama antara raja dan rakyat.

Dalam kisahnya, Mahfouz menepis anggapan bahwa piramida dibangun di
atas penderitaan dan penindasan rakyat kecil. Mahfouz ingin
menyampaikan satu babak sejarah dari nasionalisme Mesir yang pernah
ada. Dengan semangat tersebut, sebuah piramida terbesar sebagai
karya “nasional” Mesir hadir sepanjang sejarah manusia. Sedangkan
Minke dalam Tetralogi adalah tokoh pemimpin yang berusaha melakukan
perubahan nasib dengan melawan takdir kaum penjajah. Minke adalah
suluh dari kebangkitan nasionalisme baru Indonesia yang membangun
organisasi pergerakan modern dan media pers bagi kemerdekaan
Indonesia.

Dalam karya lain, Rhadopis adalah sosok firaun yang lalim,
personifikasi dari kekuatan militer domestik yang menindas, yang
memusuhi para dukun sebagai pemegang otoritas agama era firaun.
Sosok Rhadopis ini mengingatkan saya pada sosok Tunggul Ametung,
penguasa Tumapel yang menindas para brahmana. Kehancuran menjadi
hukuman bagi penguasa-penguasa lalim ini. Lalu Ahmas, pejuang dari
Thebes, mengingatkan pada sosok Arok yang menginginkan kemerdekaan
bagi negerinya. Zaman Ahmas, Mesir dijajah oleh suku luar bernama
Hexos, sebagaimana Tumapel, tanah Arok, dijajah Kediri. Perjuangan
merekalah yang membebaskan tanah dan rakyatnya. Semangat dari
sejarah pembebasan dan perlawanan menjadi gambaran dari semangat
masyarakat Pram dan Mahfouz.

Namun, ada perbedaan besar dari tokoh-tokoh sejarah yang
ditampilkan. Dalam novel sejarah Mahfouz, tokoh-tokohnya dibesarkan
oleh sejarah dan mitos, sementara tokoh Pram adalah mereka yang
dikubur oleh sejarah kekuasaan. Di sini, tampak keberpihakan Pram
terhadap sejarah perlawanan dan korban penindasan. Arok dalam versi
Pram dikisahkan sangat manusiawi dan heroik, berlawanan dengan
sejarah resmi yang menggambarkannya sebagai pemberontak yang licik
dan bengis.

Dalam novel lain, Pram mengisahkan Wiranggaleng Senapati Tuban, anak
petani sederhana dari Alas Kelambis, yang mencoba, meskipun hanya
dengan secauk pasir, melawan arus balik. Demikian juga Minke,
meskipun keturunan bangsawan Jawa, ia sangat membenci feodalisme
sukunya, dan sejarah pun telah mengubur peran dia. Walhasil, baik
Pram dan Mahfouz telah mengisahkan kembali sejarah, bukan untuk
kembali pada sejarah itu, tapi agar menjadi salah satu kekuatan
untuk mengadakan perlawanan dan perubahan. Sejarah yang bergulir
kedepan untuk menyongsong perubahan dan kemajuan.

Sumber:
http://www.korantempo.com/korantempo/2006/05/21/Ide/krn,20060521,38.i
d.html

22/05/2006 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Ketika masih SR saya suka membaca buku sastra kakak; disitu saya kenal nama Pram dan bbrp bukunya. Setelah tragedi 1965 saya dengar Pram di P.Buru. Kemudian ada karya-2 Pram yang bagus namun dilarang. Entah darimana saya berhasil membaca Bumi Manusia. Saya sungguh hanyut ketika membaca novel ini, seolah-olah ada di dalam cerita. Saya ikut sedih ketika Arnelis “dirampas” dan dibawa ke Belanda. Saya pikir belum ada karya sastra sebelumnya yang menjangkau jaman penjajahan.
Konon novel-2 Pram menjadi bacaan wajib bagi para mahasisa Sastra di Malaysia, tetapi di negerinya sendiri justru dilarang. Kawan-2 saya (orang asing) juga membaca terjemahannya, kalau tidak salah berjudul “Mankind”.
Akhirnya masa “kebengisan” tiba: orang-2 berbaju putih merazia toko-1 buku untuk “menyita” buku-2 Pram. Menyedihkan. Oyha, kalau tidak salah di Yogyakarta pernah terjadi seorang mahasiswa diadili dan dihukum karena menjual buku-2 Pram.

Posted by Anton  on  09/18  at  09:33 PM

yang saya tahu bukan alas kelambis, tapi alas kerambil. kerambil itu ya kelapa karena tanah kelahiran wiranggaleng itu penghasil kelapa terbanyak saat itu di sana itu.
-----

Posted by yusup nurhidayat  on  01/02  at  12:01 AM

Sebelum membaca karya Pram, yang ada justru membaca kontroversi di dalam negeri sendiri tentang seorang Pram. Pernah dalam suatu masa ketika masih sekolah dasar, membaca bahwa karya Pram diberangus, dan bagi yang menyimpan karyanya harap menyerahkan pada lembaga hukum negara (entah Kejaksaan atau Kehakiman) yang mengeluarkan fatwa di masa orde baru mengenai karya Pram sebagai karya terlarang. Alih-alih membaca nama seorang Pram dalam pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia, sejak SD sampai SMA.  Kita dikenalkan dengan zaman Pujangga Lama dan Pujangga Baru dan zaman Perjuangan (diwakili Chairil Anwar). Tanpa pernah sekalipun literatur kurikulum menyebut nama dan karya Pram. Justru karena kontroversialnya, sebagai anak muda masa itu, pengen tahu bagaimana karya Pram sampai dia dimusuhi.  Dan entah, diantara keawaman saya, menangis berkali-kali membaca The Mute’s Soliloqui (semoga ga salah eja), dan Kuartet Pulau Buru (Rumah Kaca dll). Padahal saya orang yang jarang menangis. Satu hal yang membuat saya kagum dengan seorang Pram, kemampuannya meretas masa dari sebuah zaman yang mungkin tidak pernah kita ketahui termasuk dari buku pelajaran kita di sekolah. Sebuah riset panjang mengenai ke-Indonesia-an yang tak pernah pupus dari semangatnya, yang bahkan tak mendapat tempat sedikitpun dalam khazanah karya sastra versi pemerintah.  Namun, karya sastra tak perlu proteksi atau pengangkatan nama baik, dia mewakili dirinya sendiri. sekalipun dia dihujat dan dicaci, tapi kebenaran tak buta, dan senantiasa akan dikenang oleh masa, sekalipun penindasan selalu memberangusnya.  Selamat jalan Bung Pram....

Posted by Nirma Hasyim  on  05/23  at  08:05 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq