Shalat - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
04/07/2004

Shalat

Oleh Luthfi Assyaukanie

Shalat bukanlah urusan fikih semata. Sebagai sebuah aktivitas ubudiyah, shalat tak ada kaitannya dengan fikih. Ia lebih dekat dengan tasawuf yang lebih menekankan dimensi spiritual atau dimensi esoteris manusia. Inti daripada shalat adalah bukan bilangan (menjadi dua, tiga, atau empat rakaat), dan bukan pula waktu (menjadi subuh, zuhur, asar, dan seterusnya). Shalat seseorang yang selalu memperhitungkan bilangan, seperti dikatakan Nabi, adalah shalatnya seorang pedagang.

Pernah ada sebuah surat datang ke email saya. Isinya cukup serius tentang pertanyaan-pertanyaan yang hampir seluruhnya menjadi bahan pemikiran saya selama ini. Pertanyaan pertamanya sangat penting dan menohok: sebenarnya shalat itu wajib nggak sih? Boleh nggak saya menjamak shalat sesuka hati saya, maksudnya tanpa ada alasan bepergian (safar) atau hujan (mathar)?

Saya menjawabnya, bahwa dalam Islam, shalat itu memiliki banyak katagori. Ada yang wajib (harus), ada yang sunnah (dianjurkan), ada yang makruh (dibenci), dan ada juga yang haram (dilarang). Islam juga mengajarkan tentang waktu-waktu shalat yang dibagi berdasarkan peredaran kosmis menjadi pagi (subuh), siang (zuhur), sore (ashar), petang (maghrib), dan malam (isya).

Saya juga mengatakan bahwa katagorisasi di atas, sepenuhnya adalah katagorisasi fikih. Para fukahalah yang membuat pembagian-pembagian waktu dan bilangan shalat semacam itu. Para fukaha (ahli fikih) pula yang mengkatagorisasi shalat menjadi “wajib,” “sunnah,” dan “makruh.” Istilah-istilah teknis ini tak pernah dikenal pada zaman Nabi. Definisi terhadap konsep-konsep fikih baru dikembangkan ulama pada abad kedua dan ketiga hijriah.

Disiplin fikih banyak membantu kita memahami kegiatan-kegiatan dan urusan-urusan keagamaan yang kompleks. Berbagai peristiwa keagamaan yang memiliki intensitas dan sifat berbeda-beda dikelompokkan menjadi katagori-katagori tertentu. Ada yang wajib, ada yang sunnah, ada yang haram, ada yang halal, dan seterusnya. Sebagai sebuah upaya penyederhanaan, fikih sangat berguna.

Namun demikian, shalat bukanlah urusan fikih semata. Sebagai sebuah aktivitas ubudiyah, shalat tak ada kaitannya dengan fikih. Ia lebih dekat dengan tasawuf yang lebih menekankan dimensi spiritual atau dimensi esoteris manusia. Inti daripada shalat adalah bukan bilangan (menjadi dua, tiga, atau empat rakaat), dan bukan pula waktu (menjadi subuh, zuhur, asar, dan seterusnya). Shalat seseorang yang selalu memperhitungkan bilangan, seperti dikatakan Nabi, adalah shalatnya seorang pedagang.

Inti dari shalat adalah kedekatan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, zat yang menciptakannya. Dalam hal ini, para sufi adalah orang-orang yang paling mengerti apa makna dan fungsi shalat. Yang saya maksud dengan sufi adalah para “faylusuf” yang betul-betul serius mencari kebenaran. Orang-orang seperti Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, al-Suhrawadi, Mulla Sadra, dan Muhammad Iqbal, adalah para sufi sejati.

Muhammad Iqbal, sufi yang juga seorang penyair, pernah menulis sebuah artikel berjudul “Konsep tentang Tuhan dan Makna Shalat” (The Conception of God and the Meaning of Prayer). Artikel yang kemudian menjadi salah satu bab karya agungnya, Reconstruction of Religious Thought in Islam, merupakan penjelasan paling genuine terhadap fungsi dan makna shalat.

Bagi Iqbal, shalat pada dasarnya merupakan “alat bantu” (agency) bagi manusia untuk merefleksikan kesadarannya akan keberadaan Tuhan. Sebagai sebuah alat bantu, shalat memiliki keterbatasan-keterbatasan. Setiap orang, kata Iqbal, mendapatkan efek kesadaran yang berbeda-beda dari shalat yang dijalankannya. Yang paling bagus adalah orang yang mampu menciptakan alat bantu itu pada dirinya sendiri, sehingga ia selalu berada dalam ruang kesadaran di mana Tuhan tak perlu lagi dipancing untuk selalu hadir. Wallahu a’lam.[Luthfi Assyaukanie]

04/07/2004 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (19)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

shalat memang perlu teratur n di atur, namun ikeadaan kosmis juga sangat berpengaruh mis ketika berada di pesawat, ketika berada di kutub, bagaimana berpuasa sedangkan matahari 3 bulan tidak pernah terbenam? bagaimana mengatur magrib, isya, subuh dst… Allah Maha tahu dari segala ciptaannya… moderat lah sebagai Islam, pelajari ilmunya semua dengan benar dan akurat jangan cuma kulitnya di kuasai lalu berdebat kusir plus tonjok2 kan.. Masya Allah, pandangan umum tentang Islam adalah Islam itu cuma mikirin debat hukumnya saja bukan mikirin maasa depan hidup, sehingga rentan di adu dommmbaaaaa… saya punya domba untuk di adu tuh..

Posted by budi  on  05/31  at  08:13 AM

Assalamualaikum.... Kita manusia memang diberian akal sehingga membedakan dengan makluk 4JJ1 yang lain, tapi jangan sampai kelebihan kita itu menjadikan kita jauh dariNya. Salat itu bukankah wujud kehambaan kita kepada 4JJ1, kalau kita percaya kepada 4JJ1, sesulit itukah untuk mengerjakan salat???
-----

Posted by onizuka  on  07/18  at  08:08 AM

ana sekedar mengingatkan antum, hendaknya antum lebih fokus pada menuntut ilmu agama yang benar berdasarkan AL QUR’AN dan ASSUNNAH berdasarkan pemahaman para shohabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in supaya antum tidak sesat dan menyesatkan orang lain. jazakalloh khoiron

Posted by fajar  on  02/14  at  04:03 AM

Melihat catatan di bawah mengenai seleksi redaksi, saya yakin tulisan saya tidak akan dimuat kecuali anda dan kelompok anda fair, menerima dan menampilkan semua. Anda pasti banyak menerima hujatan yang sejenis..... Tidak dimuat juga tidak apa, karena tujuan saya adalah mengingatkan anda… semoga anda masih besar hati untuk membaca sampai selesai.... Saya bukan seorang alim, saya merasa berdosa jika tidak menanggapi. saya heran dengan anda, apa yang anda mau? Luar biasa sekali kedangkalan pemikiran anda, tulisan anda dengan sangat mudah dijawab dengan sebuah buku tipis yang banyak dijual bebas. Kalau anda masih mau, bukalah Al-Quran anda. Lalu kitab apa saja yang selama ini anda baca? oh saya lupa.... anda seorang penganut faham yang anda bilang “liberal” yang tidak perlu diingatkan lagi.... karena semua inti ilmu agama ada di kepala anda. Dan Astaghfirullah, gara - gara artikel ini yang berbahagia malah kaum non muslim, bahkan membandingkannya dengan nalar dia di agamanya sendiri..... Dan dengan seenaknya membodohkan jutaan umat, dia merasa lebih pintar dari manusia yang jumlahnya jutaan bahkan milyar itu.... (selain kelompok anda seperti dia bilang). Ini jelas suatu pukulan telak bagi kami kaum muslimin ---> gara2 anda… Juga dengan seenaknya anda menganggap remeh para sahabat Rasulullah SAW, Tabi’, Tabi’t tabi’in dan ‘alim ulama yang sebagian masih sempat hidup dengan Tabi’t tabi’in. Yang meneruskan pelajaran dari Rasulullah SAW. Asal tahu saja, semua orang yang nanti jadi sesat karena tulisan anda, jangan khawatir, anda akan ada ditengah-tengah mereka bersama Iblis yang anda cintai.....di jahannam.... Wallahua’lam, semoga anda sadar dan segera bertaubat, ingatkan juga rekan-rekan anda dan tinggalkan kelompok anda itu, Allah Maha Pengampun.

Posted by Fahmi Husein  on  01/28  at  06:02 PM

Nggak bisa dong, shalat tanpa aturan fiqih. Karena fiqih itu ibarat Petunjuk Pelaksanaan. Shalat tidak bisa dengan dimensi spiritual dan tasawuf semata. Dimensi spiritualnya adalah bahwa Allah memerintahkan melaksanakan shalat “sebagaimana kamu melihat Nabi Shalat”. Tapi bagaimana teknis pelaksanaan, tata cara, aturan main (waktu dan rakaat) mesti diatur di dalam ilmu fiqih.

Posted by Ahmad Tanaka  on  01/27  at  12:02 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq