Simulasi Spiritual dalam Kapitalisasi Agama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
15/03/2004

Simulasi Spiritual dalam Kapitalisasi Agama

Oleh Pradana Boy ZTF

Kita menyaksikan gelombang “religiositas” bertubi-tubi hadir dalam pelbagai bidang kehidupan, ekonomi dengan mengusung perbankan syariah, industri dengan berbagai produk berlabel Islam, dan juga hadirnya berbagai layanan agama dan informasi ruhani secara seluler. Menurut kerangka teori Jean Baudrillard, penampakan semangat religius yang membungkus pelbagai dimensi kehidupan kita ini, tak lain hanyalah sebuah permainan simulasi. Sadar atau tidak, kita sebenarnya telah terjebak pada bentuk kapitalisasi spiritualisme dengan cara mengubah spiritualisme sebagai sebuah tanda.

Belakangan ini, kita menyaksikan gelombang “religiositas” dalam pelbagai bidang kehidupan kita. Di bidang ekonomi, kita menemukan upaya-upaya menyemangati praktik perbankan dengan nilai-nilai Islam, sehingga muncul berbagai perbankan syariah. Di bidang industri, produk-produk kosmetika dan pakaian, sudah diberi “semangat” Islam. Bahkan yang paling mutakhir, adalah kemunculan bentuk multi level marketing (MLM), yang --lagi-lagi-- dengan semangat Islam (syari’ah). Kecanggihan teknologi informasi juga direspon dengan upaya-upaya serupa, dengan bermunculannya berbagai layanan agama dan informasi ruhani secara seluler. Alquran seluler, SMS paket doa, SMS paket hadis, MMS Risalah Doa, dan sejenisnya adalah sebagaian contoh. Semua mengisyaratkan keinginan kuat sebagian umat Islam untuk menampilkan Islam dengan cara populer, sehingga baik sebagai ajaran maupun sebagai komunitas, Islam bisa diterima semua kalangan.

Setidaknya ada dua hal yang perlu dicatat untuk melihat gelombang “religiositas” di atas. Pertama, dominasi kapitalisme yang cenderung western telah melahirkan upaya perlawanan oleh kekuatan-kekuatan tertentu dalam masyarakat dunia. Upaya perlawanan itu, biasanya diwujudkan dalam bentuk melahirkan semacam counter-hegemony atas kekuatan-kekuatan yang sebelumnya telah sempurna melakukan hegemoni. Counter-hegemony ini biasanya dirumuskan dalam upaya untuk mengeskpose segala bentuk localities, baik local wisdom (kearifan lokal), local genius (kecerdasan lokal), sampai dengan local resistance (perlawanan lokal). Hal ini bisa dimengerti, karena kekuatan global yang hendak dilawan, tak jarang telah lebih dulu menghancurkan lokalitas yang dimiliki masyarakat. Pada titik ini, perlawanan muncul untuk kembali menampilkan lokalitas yang (mungkin) telah tergusur oleh kekuatan global yang hegemonik tersebut.

Kedua, secara teoretis, lahirnya semangat islamisasi dan pribumisasi Islam pada pelbagai level, sebenarnya tak lepas dari gejala fundamentalisme agama yang belakangan menguat. Menurut Bassam Tibi, kenyataan ini secara natural bisa dianggap bentuk indigenisasi atau pribumisasi yang berhubungan secara integral dengan strategi kultural fundamentalisme Islam. Ia tak lain adalah penegasan kembalinya budaya lokal untuk menghadapi kapitalisme global dan invasi budaya yang berkaitan dengan itu, yakni “dewesternisasi” (Tibi, 1998: 220). Fundamentalisme agama tidak hanya bermaksud mengembalikan interpretasi agama yang (menurut mereka) telah terkontaminasi bias metodologi dan pemikiran Barat, tapi juga menyangkut upaya-upaya pelahiran budaya tanding yang didasarkan sentimen agama. Kaum fundamentalis yakin bahwa tatanan dunia yang saat ini dikendalikan Barat sudah tidak bisa dipercaya lagi. Karena itu mereka coba memproklamirkan “tatanan dunia baru” yang didasarkan prinsip-prinsip Islam, sebagaimana yang mereka pikirkan, pahami, dan tafsirkan.

Simulasi Spiritual

Menurut kerangka teori Jean Baudrillard, penampakan semangat religius yang membungkus pelbagai dimensi kehidupan kita ini, tak lain hanyalah sebuah permainan simulasi. Masyarakat secara tidak sadar sudah terpedaya oleh simulasi tanda-tanda dan simbol-simbol yang dianggap sebagai bagian dari mereka. Masyarakat kita adalah masyarakat konsumsi, tutur Baudrillard. Apa yang dikonsumsi adalah objek. Ketika kita sedang mengonsumsi objek, maka kita sebenarnya sedang mengonsumsi tanda, dan dalam proses itu, tengah berusaha mendefinisikan diri kita. Konsumsi merupakan sebuah sistem aksi dari manipulasi tanda. Supaya menjadi objek konsumsi, sebuah objek harus menjadi tanda (Baudrillard, 1988: 22). Mengonsumsi suatu objek tertentu menandakan bahwa --bahkan secara tidak sadar-- bahwa kita adalah bagian dari, atau sama dengan orang yang mengonsumsi objek tersebut. Ini pada gilirannya melahirkan sikap bahwa kita berbeda dengan mereka yang tidak mengonsumsi objek yang sama. Sadar atau tidak, kelompok-kelompok yang menjadikan “semangat” Islam sebagai garis demarkasi dalam aktivitas ekonomi dan industri mereka, sebenarnya telah terjebak pada bentuk kapitalisasi spiritualisme dengan cara mengubah spiritualisme sebagai sebuah tanda.

Pada dasarnya, spiritualisme adalah objek yang berusaha didapatkan masyarakat, karena di tengah terpaan sekularisme yang kian kencang, manusia cenderung terdorong untuk kembali pada basis spiritualisme mereka. Hanya dalam konteks ini, kita menangkap spiritualisme tak lagi merupakan objek, tapi sudah disulap menjadi tanda-tanda tertentu. Spiritualisme dalam wujudnya yang objektif, tentu saja tidak menarik konsumen. Karena itu, pernyataan Baudrillard bahwa untuk menjadi objek konsumsi, sebuah objek harus menjadi tanda, menjadi benar. Pada titik inilah, perbankan syariah --misalnya-- bisa dilihat bukan (hanya) sebagai institusi yang bermotif spiritual dan bermaksud memberi nilai-nilai religius pada praktik perbankan. Dia (mungkin) lebih sebagai signifikasi (penandaan) untuk mengelabui masyarakat, dengan muncul seolah-olah lebih islami dan berpihak pada spritualitas. Berbagai MLM syariah mungkin juga bisa dibaca sedemikian rupa. Mereka sebenarnya sedang melakukan kapitalisasi spiritualisme, dan menjadikan spiritualitas sebagai tameng dari industri yang tengah mereka jalankan.

Akibat penyulapan spiritualisme menjadi tanda-tanda, bisa dimaklumi ketika mereka menganggap bahwa praktik-praktik perbankan, multilevel marketing, atau industri yang berada di luar mereka adalah tidak atau kurang islami. Anggapan semacam ini, tentu terkesan sangat picik. Karena jika dilacak lebih mendasar, apa yang mereka sebut perbankan syariah, tak jauh berbeda, atau bahkan tidak berbeda sama sekali dengan perbankan konvensional yang mereka kritik habis-habis. Praktik MLM syariah yang mereka gembar-gemborkan, juga tetap merupakan praktik ekonomi dan perdagangan yang potensial menindas.

Dengan kerangka pemahaman semacam ini, menjadi jelas bahwa motif dari aktivitas ekonomi dan industri mereka, bukan lagi motif-motif religius, tapi murni motif-motif ekonomi dengan memanfaatkan spiritualisme sebagai daya tarik pasar. Barangkali, di sinilah kita dapat menemukan sisi kebenaran pernyataan Lenin: “Agama adalah candu rakyat.” Agama adalah semacam whisky ruhani murahan, yang mana di dalamnya para budak modal menenggelamkan paras kemanusiaanya. Agama, kata Lenin, (terkadang) merupakan sarana yang sengaja dipakai kelas-kelas berkuasa untuk melakukan penindasan dan penipuan pada kelas-kelas bawah. Agama adalah sarana penumpukan kekuasaan dan kekayaan oleh kelas-kelas penguasa dan pemodal (Suseno, 2003: 30).

Sebagai orang beragama, penulis merasa ungkapan Lenin itu sama sekali tak sejalan dengan fitrah agama manapun. Tapi, demi melihat maraknya kapitalisasi spiritualisme belakangan ini, penulis menjadi yakin bahwa dalam setiap agama, selalu terdapat kelompok-kelompok yang melakukan pembodohan dan penindasan atas nama agama. Mungkin, ini dikarenakan agama dan perilaku umat beragama, memang bukan dua hal yang sama.[]

Pradana Boy ZTF, Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), dosen FAI Univ. Muhammadiyah Malang (UMM), dan direktur eksekutif Religious and Social Studies (RëSIST) College Malang.

15/03/2004 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

manusia saat ini bukanlah lagi saling menginetrpretsi antar sesama melainkan iterpretasi akan tanda,bergayalah maka kamu ada

Posted by ian batista  on  06/02  at  10:57 AM

cukup menarik melihat ulasan yang saudara pradana boy ZTF.spiritualisme dijadikan komoditi untuk memperoleh hegemony pada bidang tertentu.saya juga sependapat dengan anda bahwa kegiatan perekonomian beratasnamakan spiritualisme,pada intinya murni untuk memperoleh hegemony ekonomi.Tapi tahukah anda?bahwa anda sendiri telah menikmati produk kapitalisme.sangat naif klo anda menyangkal anda dibesarkan dengan dan dalam lingkungan kapitalisme.mulai dari susu bayi,kendaraan bermotor,komputer,internet(yang anda manfaatkan jasanya pada saat ini)bahkan pendidikan yang anda tempuh adalah produk kapitalisme.Dunia/alam yang kita tempati ini adalah ajang pertarungan kapitalisme,dan kita semua takkan bisa lepas dari hal yang namanya kapita;isme.yang jadi pertanyaan sekarang adalah,siapakah(subyek)yang menjalankan kapitalisme tersebut,dan apa yang dijadikan komoditi kapitalisme tersebut.saya yakin klo dua hal tersebut baik,maka kapitalisme mnjadi sesuatu yg bermanfaat
-----

Posted by komar kosasih  on  06/09  at  02:07 PM

Assalamualaikum wr wb

Menurut pendapat saya, bahwa Islam adalah agama yang fleksibel, tinggal bagaimana kita menjalankan dan niat kita, Apa bener hanya untuk Allah semata atau untuk uang, atau yg lainnya. Hati nurani tidak bisa kita bohongi. Jadi Allah tidak akan menanyakan seberapa pinter kamu menguasai ilmu Allah, tapi menanyakan seberapa banyak kamu berbuat baik menurut ketentuan Allah.  sebab berbuat baik pun juga ada dosanya, tidak hanya jelek saja. Hanya Allah dzat yang maha perkasa. manusia adalah mahkluk yang sangat lemah. Bahwa pada saatnya nanti Islam tinggal simbolnya saja, sedangkan ruh nya itu sendiri hilang. banyak Kyai pinter ngomong tapi nol pelaksanaan, banyak Kyai berceramah mengenai jangan ubud dunya, tapi dia sendiri dunia sebagai sandarannya, dunia selalu ada di hatinya. tanya pada dirinya sendiri ? apa benar semua untuk Allah ?

wassalam

wassalam

Posted by Suprijanto  on  03/25  at  12:03 PM

TANGGAPAN KAJIAN (Tanggapan atas tulisan Pradana Boy ZTF)

Membaca tulisan Pradana Boy ZTF (Simulasi Spritual Kapitalisasi Agama, Jawa Pos 14 Maret 2004), sama sebagaimana biasa membaca ide-ide anak muda yang lagi getol-getolnya bersikap kritis, bisa terhadap apapun, namun kering dari alat analisis-metodologis. Suatu sikap yang jamak terjadi pada seseorang yang sedang menginjak masa puber intelektual. Dalam tulisannya tersebut, Pradana berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu yang diberi label Islam–terutama dalam tulisannya tersebut adalah sistem ekonomi dan perbankan Islam–adalah pengelabuan terhadap masyarakat. Memang dalam hal-hal tertentu, tidak dapat dipungkiri bahwa simbol-simbol agama digunakan untuk memanipulasi sentimen dan emosi orang lain demi kepentingan dan keuntungan pribadi. Namun demikian, penggebyah-uyahan setiap terma-terma agama hanya dijadikan alat manipulasi saja adalah sikap yang jauh dari standar-standar intelektualitas.  Begitulah yang terlihat dari tulisan Pradana tersebut. Setiap penggunaan terma-terma agama digebyah-uyah identik dengan fundamentalisme. Setiap penggunaan terma-terma agama digebyah-uyah sebagai manipulasi terhadap nilai-nilai agama itu sendiri. Namun sampai akhir tulisan, sama sekali tidak dijumpai salah satu contoh saja yang dianalisis secara memadai. Dalam mengkritik perbankan syariah, Pradana sama sekali tidak membedahnya dari sudut pandang perbankan yang ada selama ini, atau menoleh ke realitas empiris tentang eksistensi bank syariah yang ada, sehingga yang tampak akhirnya hanya kritikan sumir belaka. Sebetulnya kalau Pradana mau sedikit meluangkan waktu untuk membaca buku-buku yang terkait dengan perbankan atau ekonomi syariah, dan perlu juga membaca buku-buku ekonomi kapitalis sebagai bahan perbandingan, insya Allah kritikan yang diajukannya bisa tampak sedikit lebih cerdas. Atau malah tidak mengkritik sama sekali, karena mufakat dengan apa yang dibacanya. Hal tersebut misalnya terjadi pada Profesor Frank Vogel, direktur Harvard Law School’s Islamic Legal Studies Program dan Profesor Samuel Hayes dari Harvard Business School. Dalam sebuah buku yang mereka tulis berdua (Islamic Law and Finance: Religion, Risk, and Return, Kluwer Law International 1998), mereka mengakui bahwa: Islamic Finance is not an invention of this century’s Islamic extremist political movements but stems from injunctions found in the Qur’an and the sayings of the Prophet Muhammad.

Kesimpulan yang lain dari kedua profesor tersebut adalah: The centuries-old practice of finance in Islamic form was largely eclipsed during the period of the European colonial empires, when almost the entire Islamic world came under the rule of Western powers. Under European influence, most countries adopted Western-inspired banking systems and business models and abandoned Islamic commercial practices.

Jadi sebetulnya, sistem perekonomian yang berlaku di hampir seluruh negara muslim saat ini tidak terlepas dari pengalaman pahit penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa di masa lalu. Sulit rasanya sistem perekonomian kapitalistik akan tersebar secara meluas tanpa dukungan politik kaum imperialis Barat. Hal yang sama juga berlaku pada sistem perekonomian sosialistik, yang juga berlaku pada negara-negara yang sempat berada di bawah hegemoni sosialisme-komunisme. Beberapa tahun terakhir ini timbul kesadaran di kalangan ekonom muslim untuk mengeksplor sistem ekonomi Islam yang sempat terpendam beberapa lama. Kesadaran tersebut timbul terutama setelah menyadari bahwa sistem ekonomi kapitalistik selama ini hanya menciptakan ketidakadilan. Mulailah kemudian para ekonom muslim mengkaji secara mendalam–secara teoritis dan ilmiah dan berusaha menekan seminimal mungkin faktor sentimen dan emosional–sistem ekonomi Islam dan kemudian membandingkannya dengan sistem ekonomi yang selama ini dipelajari: ekonomi kapitalistik. Salah satu produk konkrit dari kajian terhadap sistem ekonomi Islam tersebut ya perbankan syariah itu.  Setelah beroperasi lebih dari satu dasawarsa, fenomena bank syariah kini berkembang makin meluas. Beberapa bank yang selama ini beroperasi di bidang konvensional kini mulai melirik sektor perbankan syariah seperti Bank Mandiri, BNI, BII, Bank IFI, dan terakhir sebuah bank asing yaitu HSBC juga membuka divisi syariah.  Aset perbankan syariah juga tumbuh cukup mengesankan, dimana pada tahun 2001 sebesar Rp. 2,72 triliun naik menjadi Rp. 5,6 triliun per Juli 2003 (SWA, No 22/XIX/30 tahun 2003). Sentimen positif perbankan syariah tersebut kemudian direspon positif oleh pihak otoritas moneter. Menurut Kepala Biro Perbankan Syariah Bank Indonesia, Hatief Hadikusumo, sejak keluarnya Undang-Undang No. 10 tahun 1998 yang diikuti dengan berbagai kebijakan pendukung, berbagai bentuk kemudahan untuk pengembangan perbankan syariah memang sudah dilakukan BI (SWA, ibid). Dari sekilas info empiris di atas, dimana banyak pihak yang cukup memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang perbankan yang respek dan menyambut positif kehadiran perbankan syariah, rasanya tidak cukup memadai untuk men-discourage dan memicikkan para pengusung sistem perbankan syariah, dimana mereka sendiri mempunyai pengetahuan yang cukup memadai di bidang perbankan konvensional (bahkan mungkin melebihi pengetahuan para pengkritik perbankan syariah) dan telah melakukan kajian yang cukup mendalam sebelum akhirnya benar-benar mantap mengeksplorasi nilai-nilai agama untuk kemudian dikonversi menjadi praktik muamalah yang lebih konkrit–dalam hal ini perbankan syariah–hanya melalui sebuah tulisan pendek.

Noval Adib

Posted by Noval Adib  on  03/19  at  10:03 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq