Sinetron Religius - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
15/11/2005

Sinetron Religius

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Apa yang disebut sebagai sinetron religius terus memenuhi tabung televisi publik Indonesia. Rasanya tidak satu pun televisi yang alpa dari penayangan jenis sinetron itu. Kemanapun kita hendak memindah channel, di sana kita akan menemukan sinteron tersebut. Sehingga hampir tidak mungkin rasanya kita menghindar dari hidangan kisah yang dianggap bernuansa agama itu.

Apa yang disebut sebagai sinetron religius terus memenuhi tabung televisi publik Indonesia. Rasanya tidak satu pun televisi yang alpa dari penayangan jenis sinetron itu. Kemanapun kita hendak memindah channel, di sana kita akan menemukan sinteron tersebut. Sehingga hampir tidak mungkin rasanya kita menghindar dari hidangan kisah yang dianggap bernuansa agama itu.

Komentar para ustad muda yang meminta pemirsa untuk menyaksikan sinetron tersebut semakin menambah pekatnya aroma keagamaan dalam tayangan itu. Terlebih dalam bulan Ramadan kemarin. Suka tidak suka, para pemirsa seakan dipaksa menonton sinetron itu.

Konon, beberapa sinetron itu benar-benar digali dari kisah nyata kehidupan. Ia bukan hasil rekayasa yang fiktif. Bukan hasil olah imajinasi sang penulis naskah dan sang sutradara. Dan memang, ada banyak kisah yang dituturkan dalam sinetron tersebut. Mulai dari kisah tragis kematian seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya, hingga kisah kegetiran hidup seseorang yang membangkang Tuhan.

Dimensi tragis kematian orang-orang durjana itu ditunjukkan dengan beragam cara, seperti jenazahnya tertolak bumi; dari kuping mereka keluar jangkrik; mati muda tersambar petir; dan meninggal dunia lalu menjadi pocong atau hantu yang menakutkan. Sinteron religius itu seakan hendak mempertontonkan bahwa demikianlah siksa yang akan diterima orang-orang yang menyangkal orang tua dan memprotes titah Tuhan.

Salah satu motif atau tujuan yang hendak dicapai penayangan sinetron itu adalah menyemarakkan dan melebarkan syiar Islam. Pertanyannya, apakah tujuan itu dengan mudah dapat dicapai? Alih-alih mencapai tujuan, ada problem krusial dari sinetron seperti ini. Sinetron-sinetron itu telah terjebak dalam tindak pembanalan terhadap ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Islam versi Nabi Muhammad SAW, tiba-tiba menjadi identik dengan pocong dan demit. Sinetron-sinetron itu telah berhasil menjadikan Islam sebagai agama yang penuh aura magis dan agama yang tidak rasional.

Padahal, kanjeng Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa al-dîn `aqlun lâ dîna liman la `aqla lah. Agama itu rasional; bukanlah orang beragama orang yang tidak bisa memungsikan akalnya secara optimal. Islam hadir di tanah Arab pertama-tama untuk mengoreksi ajaran-ajaran yang irasional tersebut.

Karena itu, ada saatnya kita perlu mendengarkan anjuran dari beberapa ulama MUI. Merancang ulang apa yang disebut sebagai sinteron religius itu adalah cara terbaik yang bisa dilakukan. Dan seyogyanya, para ustad dan mubalig yang mendukung penayangan sinetron itu mulai mengevaluasi diri, karena dukungan beliau-beliau itu akan mempengaruhi opini publik; seakan Islam adalah agama yang mengajarkan hal-hal magis yang tidak rasional. [Abd. Moqsith Ghazali]

15/11/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (29)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Sinetron/tayangan dengan memakai simbol -simbol agama, benar-benar membuat saya terhina. Apa benar penonton Indonesia sebodoh yang ditafsirkan para pembuat film?. Benar-benar mentah, jauh dari logika, miskin investigasi, kacangan dan tidak bermutu. saya yakin pemahamanan sutradara dan produsernya sekaligus bintangnya sangat rendah. Disekolah tempat saya mengajar, tayangan seperti ini dinilai para siswa saya: UNTUK NILAI JELEK AJA BELUM. BELAJAR LAGI YA....
-----

Posted by Zol Viandri Koto  on  08/16  at  05:08 AM

sinetron seperti itu memang perlu ditampilkan tapi tanpa melebih-lebihkan unsur mistisnya. kalau kita perhatikan justru orang-orang yang menonoton malah lebih menyukai adegan mistisnya daripada tujuan pokoknya. kalau emeng ingin menegakan nilai-nilai islam mestinya jangan pake program seperti itu, mestinya kita belajar pada ulama-ulama tempo dulu yang dengan kesabaran serta keikhlasanya terjun berdakwah pada masyarakat.sehinga pada akhirnya masyarakat bisa menerima islam tanpa adanya unsur mistis yang akhirnya nilai syariat islam bisa ditegakkan. bukan seperti sekarang yang malah bikin umat islam jadi dukun dan lebih suka nonton film itu daripada mengamalkan nilai syariat islam karena filmnya disertai dengan pemain-pemain yang seksi. kita harusrealistis bung! syetan gak pernah libur menggoda manusia dari segala sudut. trims !

Posted by roghib al anshori  on  07/23  at  07:08 PM

Film religius indonesia tidak kreatif, terlalu dibuat-buat, terlalu banyak hantu yang dapat membikin anak atau pelajar malas melihatnya.Terlalu fiktif, padahal tidak seperti itu atau tidak ada. filmnya juga terlalu buat bosan, terlalu banyak, berarti ada sebagian yang meniru.

Posted by ananta  on  03/21  at  12:03 AM

Terus terang saya bukan pengamat senetron, namun satu hal yang menjadi kesan saat terperangkap totonan senetron religios di suatu ketika. Saya melihat bahwa agama telah dijadikan begitu sempit pemahamannya oleh sebagaian kelompok, hal ini tentu sangat berbahaya terutama bagi kalangan atau orang-orang yang, mohon maaf, agak lemah pemahamahannya terhadap agama.

Mereka tentu akan menilai bahwa Islam ternyata hanya agama mistis. Meskipun dalam tanyangan tersebut ada upaya rasionalisasi terhadap apa yang hendak disampaikan dari sebuah realitas keseharian masyarakat, namun bagi saya justru tidak rasional. Bahkan terkesan seolah-olah sesuatu yang berada dialam gaib dibawa-bawa dalam alam realitas dunia.

Posted by syukron ma'mun  on  02/19  at  10:03 PM

pada awal-awal penayangannya, saya sangat mendukung pesatnya peran TV dalam penayangan acara sinetron religius, terutama Islam. Namun seiring perkembangannya, konsep religiusnya hilang dan penayangan tersebut melampaui batas. Maksudnya sinetron berjudul keIlahian, namun substansinya 90% mistis,kepercayaan dan kekerasan, serta efek komputer yang amat sangat norak dan amatiran.

Buatlah sinetron yang lebih realistis, mendidik, dan bermoral. Sehingga pemahaman akan pengetahuan keagamaan dapat diterima oleh penonton, terutama anak-anak.

Akan lebih bagus lagi jika diputar sinetron perjuangan dan berkembangnya Agama Islam di dunia dan di nusantara, bagaimana kemudian Islam diterima dengan baik di tengah masyarakat dahulu sampai sekarang.

Posted by Hamonangan A  on  02/12  at  11:03 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq