SKB dan Mitos Islam Moderat - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
10/07/2008

SKB dan Mitos Islam Moderat

Oleh Hatim Gazali

Karena kemunculannya yang demikian, SKB—walau tidak dikenal dalam tata urutan perundang-undangan di Indonesia—memberikan peluang memunculkan kekerasan dan konflik sosial. Ketika MUI mengeluarkan fatwa sesat terhadap JAI, sejumlah kekerasan dan penyerangan terhadap tempat-tempat ibadah dan rumah-rumah pengikut Ahmadiyah berlangsung semarak. SKB ini potensial disalah-gunakan untuk melakukan kekerasan di Tanah Air. Dia bisa dijadikan sebagai licence to kill oleh sebagian kalangan yang ekstrem. 

Beberapa hari lalu sebuah televisi swasta menayangkan debat hangat tentang SKB Ahmadiyah. Yang dihadirkan adalah kelompok yang kontra dan membela hak hidup Ahmadiyah. Dialog ini tampak kurang kondusif. Di sana-sini teriakan takbir “Allahu Akbar” menggema sehingga tampak mengganggu fokus dan konsentrasi para narasumber yang hadir. Kelompok pertama yang membela hak hidup Ahmadiyah diwakili Usman Hamid dan Abd Moqsith Ghazali, sementara kelompok kontra diwakili Mahendradata dan Adnin Armas.

Sebenarnya, yang dipersoalkan antara yang pro dan kontra Ahmadiyah tidaklah sama. Kelompok pro ingin memberikan perlindungan terhadap hak-hak sipil warga Ahmadiyah, sementara yang kontra Ahmadiyah mempersoalkan teologi Ahmadiyah yang dianggap sesat. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa vonis sesat terhadap Ahmadiyah bukan hanya datang dari kelompok kontra yang hadir di studio saat itu. Jauh sebelum itu, KH. Hasyim As’ary, pendiri Nahdlatul Ulama, berpendapat bahwa ajaran Ahmadiyah berbeda dengan tafsir Islam mainstream di Indonesia.

Hal subtansial yang menyebabkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dinilai sesat adalah pengakuan adanya nabi setelah nabi Muhammad. Jelas, sebagaimana ditunjukkan sejarah, orang yang mengklaim nabi bukanlah fenomena baru. Musailamah adalah salah satu dari orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai nabi. Di Indonesia, Ahmad Mushaddeq beberapa bulan lalu juga telah memproklamirkan diri sebagai nabi, walau akhirnya melakukan pertobatan. Atas klaimnya itu, Mushaddeq telah dinyatakan bersalah dan dipenjarakan.

Sementara, kelompok yang membela hak hidup Ahmadiyah seperti Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) tidak mendasarkan pembelaanya kepada aspek teologis, tetapi lebih kepada hak-hak sipil yang mestinya dilindungi negara. Ini membuktikan bahwa pembelaan terhadap Ahmadiyah bukanlah sebuah justifikasi terhadap kebenaran teologi Ahmadiyah, melainkan sebagai perjuangan agar JAI mendapatkan hak yang sama dalam melaksanakan agama dan keyakinan bangsa Indonesia sebagaimana dijamin UUD 1945.

Penulis berpandangan bahwa AKKBB yang terdiri dari pelbagai LSM dan organisasi masyarakat itu memiliki pandangan yang berbeda dengan Ahmadiyah. Abd. Moqsith Ghazali, salah seorang narasumber dan anggota AKKBB, dalam debat itu menjelaskan hal tersebut. Bahwa dirinya memiliki pendirian teologis yang berbeda dengan Ahmadiyah. Karena itu, ketidaksetujuan FPI dan kelompok-kelompok yang menolak AKKBB tidak menukik pada pokok hal yang dipersoalkan oleh AKKBB. FPI dan organisasi di bawahnya telah menuding AKKBB sebagai anggota Ahmadiyah itu sendiri. Ini tentu perlu klarifikasi. Abdurrahman Wahid yang getol membela hak-hak sipil jemaat Ahmadiyah sebagai warga negara jelas bukan anggota atau simpatisan JAI.

Masa Depan SKB

Terlepas dari pro-kontra di atas, SKB tiga menteri yang melarang JAI menyebarkan ajaran dan keyakinannya telah keluar. Kini ia bergulir sebagai bola liar yang rentan disalahgunakan kalangan-kalangan tertentu. Kendati SKB ini tidak dengan tegas memvonis sesat dan bubar terhadap Ahmadiyah, tetapi kronologi munculnya bermula dari klaim sesat oleh Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) yang terdiri dari unsur kejaksaan, kepolisian, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Agama.

Karena kemunculannya yang demikian, SKB—walau tidak dikenal dalam tata urutan perundang-undangan di Indonesia—memberikan peluang memunculkan kekerasan dan konflik sosial. Ketika MUI mengeluarkan fatwa sesat terhadap JAI, sejumlah kekerasan dan penyerangan terhadap tempat-tempat ibadah dan rumah-rumah pengikut Ahmadiyah berlangsung semarak. SKB ini potensial disalah-gunakan untuk melakukan kekerasan di Tanah Air. Dia bisa dijadikan sebagai licence to kill oleh sebagian kalangan yang ekstrem. Lihat saja reaksi beberapa kelompok masyarakat di Banjarmasin, Palembang, Cianjur, Bekasi dan beberapa daerah lainnya yang menuntut pembubaran Ahmadiyah. Walaupun poin keempat SKB itu telah menyebutkan bahwa negara menjamin keselamatan anggota JAI, peluang kekerasan dan konflik sosial tak bisa ditutupi.

Karena beresikonya SKB ini, Ahmadiyah kini tengah mengajukan judicial review. Jalur-jalur hukum, diplomasi dan dialog tampaknya perlu dikembangkan sebagai pemecah persoalan, bukan dengan aksi-aksi kekerasan. Kekerasan bukan cara terbaik dalam memecahkan perbedaan pendapat dan tafsir atas agama. Kekerasan hanya relevan dalam hukum rimba dan bukan dalam hukum positif di Indonesia.

Mitos Islam Moderat

Kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini telah mencoreng image keberislaman di Indonesia yang dikenal moderat dan demokratis. Bahkan sebagian orang secara ekstrem berpandangan bahwa Islam moderat di Indonesia hanya mitos belaka. Ini, saya kira, karena kelompok-kelompok pro-kekerasan makin berani unjuk kekuatan di tengah diamnya kelompok atau ormas keagamaan yang berhaluan moderat. 

Citra Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang mengembangkan pandangan dan sikap moderat, terkikis oleh aksi segelintir orang yang melakukan aksi kekerasan. Akibatnya, di tengah pergaulan global, umat Islam akan semakin terkucilkan dan terisolasi karena image buruk tersebut. Sejumlah prestasi yang telah dicapai oleh NU dan Muhammadiyah pasca 11 September 2001 untuk menampilkan wajah Islam Indonesia yang ramah dan demokratis tereliminasi oleh kekerasan yang dilakukan kelompok Islam garis keras.

Hal ini membuktikan bahwa membangun Islam rahmat, santun dan anti kekerasan perlu menjadi skala prioritas di masa-masa mendatang. Tentu, tak cukup hanya dengan mengutuk tragedi Monas tersebut, melainkan disertai pula oleh langkah-langkah yang lebih maju. Di antaranya, adalah memberikan pemahaman kepada segenap umat Islam untuk menyikapi perbedaan agama dan tafsir keagamaan secara arif dan nir-kekerasan. Dalam konteks inilah, NU dan Muhammadiyah diharapkan menjadi organisasi terdepan dalam membela hak-hak sipil warga negara Indonesia, meminimalisasi kekerasan dan mengembangkan Islam rahmat lil ‘alamin. Hanya dengan cara inilah eksistensi dan citra Islam sebagai agama yang santun dan ramah akan pulih kembali. []

10/07/2008 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (20)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Bagi yg pengen bubarin Ahmadiyah :

Kita sekerang pakai akal sehat aja deh. Apapun yg terjadi, seseorang yg sudah taat tdk akan masuk k agama lainnya dan meninggalkan kepercayaannya. Jadi percuma bubarin Ahmadiyah krn itu sudah kepercayaan mereka. Ga mungkin gara2 org kyk Mahendradata nyuruh mrk bertobat wah hebat bgt bs ngerubah keyakinan org.

Jd biarkan saja mereka hidup d Indonesia dgn damai urusan gmana nantinya biar mereka yg nanggung.

Posted by Ariel  on  01/03  at  02:03 AM

label “tidak ada nabi lagi sesudahku” yg merupakan potongan matan hadits yang shahih ini, dari tulisan dan berbagai komentar diatas telah membuat pandangan yang sempit tentang Apa itu Nabi?, Siapa yang mengutus nabi itu? apakah nabi itu bisa ditutup/Allah tidak mengirim utusannya lagi? dan apakah setelah ditutup tidak bisa dibuka lagi? Apakah ada yang mustahil bagi Allah? jangankan cuma menciptakan/mengutus nabi Kenapa Allah swt tidak bisa, coba renungkan lagi kalau cuma dengan alasan karena ahmadiyah secara mainstrem saat ini dikatakan sesat/kafir. lalu teologi mana yang di dunia ini dimasa awalnya tidak ditolak oleh maestrem, dan kemudian sekarang menjadi “benar” saat ini?.Mari kita belajar. Menggunakan istilah “Menodai agama “ apa itu agama islam?, berbentuk apa islam itu? apakah agama bisa dinodai, siapa yang memiliki agama islam itu? siapakah yang membuat agama islam itu? dst. selamat menjawab, wassalam

Posted by najam  on  09/06  at  07:25 AM

SKB untuk saya berarti perlindungan terhadap kami kaum Ahmadi. Saya bisa bilang begini karena sudah membaca dengan teliti disemua media cetak dan copynya yang ada di masjid kami. Pada SKB itu kita semua mendapat hak dan kewajiban yang sama.  Bagi mereka yang masih melakukan kekerasan terhadap kami, berarti dia yang bukan muslim. Soal keyakinan akan adanya Nabi setelah Rasullullah SAW itu urusan kami.  Mari kita laksanakan keIslaman kita dengan cara masing-masing.

Posted by tjahjo widodo - Ahmadiyah  on  09/05  at  04:39 PM

dengan keluarnya SKB mengenai ahmadyah dan kelompok yang menentang ahmadyah ini menunjukan bahwa banyak masyarakat yg mengaku umat islam tetapi tidak mengenal arti islam yang sebenarnya.(istilah islam sudah ada sejak Nabi Adam sampai Nabi muhammad.SAW)jadi dengan banyaknya kelompok islam yang menggunakan kekerasan yang tidak sepaham dengan pendapatnya,atau memaksakan kehendaknya inin menunjukan bahwa pemahaman tentang islam masih dangkal.(pemahaman islamnya masih cetek)

Posted by fachruddin busroni  on  08/21  at  08:58 PM

keluarnya SKB menunjukkan lemahnya pemerintah dalam menghadapi tekanan kelompok2 radikal.

kemenangan besar bagi penzdolim.

Posted by banish  on  08/18  at  11:24 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq