Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
08/04/2010

Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya

Oleh Saidiman Ahmad

Dengan tidak dicampur-baurnya otoritas politik dan agama, justru kehidupan beragama dan budaya bisa secara maksimal berkembang. Liberalisme, misalnya, berasal dari pengakuan bahwa sebenarnya dunia ini dibangun di atas ketidak-tahuan. Tidak ada yang lebih tahu apa yang terbaik untuk masa depan. Justru karena tidak ada yang lebih tahu di atas yang lain itulah maka diperlukan ruang kebebasan, agar setiap manusia bisa berekspresi. Liberalisme membuka ruang kebebasan di mana setiap budaya, agama dan ekspresi bisa muncul.

Artikel ini sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 7 April 2010

Satu-satunya politikus yang tidak pernah gentar dengan stigma sekuler, liberal, dan pluralis hanyalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Namun, meski Gus Dur telah dinobatkan banyak kalangan, termasuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Bapak Pluralisme, pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-32, isu ini masih dijadikan amunisi dalam kampanye negatif untuk tokoh-tokoh NU tertentu. Pada hari pertama muktamar bahkan muncul isu untuk menjegal calon-calon ketua umum yang disinyalir terlibat atau menganut gagasan-gagasan liberal.

Tidak sedikit orang yang langsung mengambil jarak ketika disodori gagasan pluralisme, liberalisme, dan sekularisme. Pada 2005, Majelis Ulama Indonesia bahkan mengeluarkan fatwa haram terhadap tiga gagasan ini. Akibat fatwa itu masih terasa hingga kini. Di ranah politik, para politikus mendadak menghindari stigma sekuler, liberal, dan pluralis.

Ada sejumlah alasan yang dikemukakan untuk menolak gagasan-gagasan itu. Tulisan ini mencoba memberi jawaban terhadap sejumlah alasan penolakan tersebut.

Pertama, gagasan-gagasan itu dinilai berasal dari “luar”, yakni Barat. Ada asumsi bahwa gagasan luar tidak bisa diterima karena bangsa ini memiliki karakter dan budaya yang unik, sehingga persoalannya tidak bisa diselesaikan dengan memakai metode dan cara-cara luar. Apa yang disebut sebagai “luar” sangat problematik. Lihatlah, misalnya, kelompok-kelompok yang sangat getol menolak gagasan tersebut. Orang-orang yang menolak gagasan “luar” itu biasanya datang dari kelompok yang mengatasnamakan dirinya Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin, Wahhabi, dan seterusnya. Kelompok-kelompok ini pun memperoleh gagasannya dari luar, tidak genuine berasal dari Indonesia.

Letak persoalannya bukan bahwa gagasan-gagasan mengenai sekularisme, liberalisme, dan pluralisme benar-benar berasal dari luar, karena mereka yang menolak juga berangkat dari gagasan yang berasal dari luar. Betapapun Islam adalah agama mayoritas di negeri ini. Islam adalah agama yang tidak lahir di Indonesia, melainkan agama yang lahir di jazirah Arab 14 abad silam. Enam agama yang memperoleh pelayanan negara adalah agama yang berasal dari luar alias agama impor.

Dengan begitu, menolak sekularisme, liberalisme, dan pluralisme semata-mata karena gagasan-gagasan itu berasal dari luar dan tidak sesuai dengan budaya setempat sangat tidak valid dan cenderung mengada-ada. Mereka yang menolak gagasan ini pun menggunakan gagasan-gagasan yang berasal dari luar.

Ke-"luar"-an sekularisme, liberalisme, dan pluralisme juga patut dibincangkan lebih jauh. Ketiga gagasan ini adalah respons terhadap realitas yang dihadapi oleh manusia. Sekularisme merespons absolutisme kekuasaan politik karena klaim otoritas Ilahi. Persoalan semacam ini tidak hanya terjadi di Barat, tapi juga telah lama berlaku di Timur hingga sekarang. Ide mengenai pemisahan agama dan negara adalah upaya untuk membatasi kekuasaan negara agar tidak absolut dan semena-mena. Dalam sejarah Islam, gagasan mengenai pemisahan agama dan negara muncul secara genuine. Sebab, pada dasarnya setiap kekuasaan totaliter tidak mengenakkan dan akan mengundang reaksi penolakan. Barangkali penolakan terhadap absolutisme kekuasaan politik tidak mesti dirumuskan secara filosofis, tetapi gerakan-gerakan semacam itu selalu muncul di setiap masa dengan intensitas yang berbeda-beda. Ini adalah sesuatu yang natural.

Gerakan liberalisme juga muncul di negara-negara muslim. Di Turki, misalnya, kelompok tarekat menggunakan ide-ide liberalisme untuk melawan kekuasaan militer. Mereka berupaya mendasarkan gagasan liberalismenya pada teologi Islam. Bagi mereka, Islam adalah agama liberal karena hanya dengan itulah mereka memiliki kekuatan melawan rezim diktator.

Sudah lama gagasan mengenai pluralisme dianggap sebagai solusi terbaik bagi pemecahan konflik di pelbagai wilayah berpenduduk muslim. Ketika mereka dihadapkan pada pilihan antara damai dan konflik, tidak ada pilihan selain hidup tenang dalam perdamaian. Pluralisme bukan sesuatu yang baru. Ia melekat di dalam kehidupan setiap orang. Sebab, kita semua butuh hidup rukun dan damai.

Kedua, alasan bahwa sekularisme, liberalisme, dan pluralisme akan menggerogoti budaya lokal juga tidak bisa diterima. Pertanyaan utamanya adalah apakah yang dimaksud dengan budaya lokal? Bukankah semua hal yang sekarang mapan di Indonesia pada mulanya berasal dari luar? Bagaimana menentukan bahwa sebuah budaya luar bisa diterima dan yang lain harus ditolak?

Selanjutnya tentang potensi budaya lokal tergerogoti karena sekularisme, liberalisme, dan pluralisme juga patut dipertanyakan. Sejauh ini, baik secara teori maupun fakta, gagasan-gagasan itu justru sangat berguna bagi pengembangan budaya. Dengan tidak dicampur-baurnya otoritas politik dan agama, justru kehidupan beragama dan budaya bisa secara maksimal berkembang. Liberalisme, misalnya, berasal dari pengakuan bahwa sebenarnya dunia ini dibangun di atas ketidaktahuan. Tidak ada yang lebih tahu apa yang terbaik untuk masa depan. Justru karena tidak ada yang lebih tahu di atas yang lain itulah maka diperlukan ruang kebebasan, agar setiap manusia bisa berekspresi. Kesadaran bahwa manusia tidak sempurnalah yang menyebabkan ruang kebebasan dibutuhkan. Liberalisme membuka ruang kebebasan ketika setiap budaya, agama, dan ekspresi bisa muncul.

Jikapun ada budaya lokal yang terancam oleh karena ruang kebebasan yang terbuka, hal itu bukan persoalan yang perlu dirisaukan. Bukankah dunia ini terus berkembang? Segala sesuatu datang dan pergi silih berganti. Yang mampu menyesuaikan dirilah yang akan tetap bertahan. Kita hidup untuk terus-menerus melakukan koreksi terhadap kehidupan yang sekarang kita alami. Kita harus membuka ruang bagi perubahan di masa depan. Itulah hukum dunia.

08/04/2010 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

To : Khomaeni di 9

Sebelum menjawab pertanyaan Saudaraku Khomaeni, maka ISLAM menjelaskan terlebih dahulu soal KETUHANAN yaitu KETUHANAN YANG SATU atau AHAD, dimana yang menyatakan dirinya TUHAN YANG SATU ini atau yang AHAD ini yang MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA baik yang NYATA dan yang GHAIB mengatakan dirinya adalah ALLAH sebuah nama diri atau IDENTITASyang memiliki ASMA UL HUSNA (Nama-nama baik yang diberitahukan ke manusia sebanyak 99 buah asma)

Itu dulu DIPAHAMI. Pemahaman pada SENTRALNYA atau PUSATNYA yaitu tentang ALLAH ini. Saat MEMAHAMI inilah, maka ALLAH mengkategorisasikan : PERTAMA, MUKMININ --artinya yang PERCAYA-- yaitu yang PERCAYA akan EKSISTENSINYA maupun KEMAHAANNYA; KEDUA, KAFIRIN ... Pertama, TIDAK PERCAYA ALLAH bahwa ALLAH itu ADA dan sebagai PENCIPTA LANGIT dan BUMI beserta ISINYA --PENCIPTA ALAM SEMESTA-- maupun SEBAB AKIBAT yang SALING BERTAUTAN itu. Kedua, TIDAK PERCAYA ke MAHAANNYA ALLAH, misal mempertanyakan PEMBANGKITAN MANUSIA setelah MANUSIA telah menjadi TANAH atau TULANG BELULANG. KETIGA, MUNAFIQUN, yaitu suatu kategorisasi ABU-ABU, bila MUKMININ mendapatkan keuntungan maka GOLONGAN INI AKAN MENDEKAT, tapi kalau MUKMININ lagi mendapat KESUSAHAN, maka GOLONGAN ini akan IKUT MENGHANTAM RAME-RAME kaum MUKMININ ini. Orang yang selalu melihat PELUANG UNTUNG DUNIA, siapa yang menguntungkan dirinya maka dia akan mengikutinya. KEEMPAT, MUSYRIKIN, Golongan ini dalam memprofilekan ALLAH yang SATU itu KURANG SREG ... Karena dianggap KURANG, makanya larinya ke KEKUATAN yang BISA MENUTUP kekurangsreg-annya tersebut. Atas keempat hal ini, maka TINDAKAN yang akan dilakukan PASTI BERBEDA dan BERKEMUNGKINAN TABRAKAN. Allah yang menyatakan dirinya SATU-SATUNYA TUHAN itu dan TIDAK ADA YANG LAIN, sekaligus DIALAH PENCIPTA LANGIT dan BUMI berikut isinya --termasuk MANUSIA--, maka menjelaskan RULE of The GAME-NYA ... Dengan mengatakan (gampangnya) Hai MANUSIA SEMBAHLAH ALLAH jangan yang lain karena kalau yang lain, maka kamu akan dimasukkan ke neraka JAHANNAM yang PANASNYA berkali-kali dari PANASNYA MATAHARI dan SAAT di NERAKA kamu TIDAK AKAN MATI dan akan TERUS MENERUS MERASAKAN hal itu ... FOREVER ... Padahal panasnya MATAHARI itu sudah 50 juta derajat Celcius ... Kalau di neraka JAHANNAM ... Yang panasnya berkali-kali dari panasnya MATAHARI ... APAKAH KEBAYANG BESARNYA SIKSAANNYA ? Itulah yang selalu diwanti-wanti oleh ALLAH SWT aar manusia TIDAK MASUK NERAKA, makanya pahamilah TUHAN YANG BENAR dan setelah SEMBAHLAH bagi KEBAIKAN DIRIMU SENDIRI ... tapi jangan lupa bahwa ALLAH itu saat menginformasikan ke manusia ... DIA selalu MENUNJUK yang namanya UTUSAN atau NABI. Jadi jelas kan ? Kenapa MUSLIM SUSAH menerima SEKULARISME atau PLURAISME ?

Posted by HP  on  04/26  at  05:09 PM

Saya punya pertanyaan penting untuk saudara-saudaraku sesama muslim :

KENAPA HANYA ISLAM SAJA YANG KELIHATAN SANGAT SUSAH MENERIMA KONSEP SEKULERISME & PLURALISME. AGAMA-AGAMA LAIN SAYA LIHAT FINE-FINE DAN BAIK-BAIK SAJA MENERIMA KONSEP TERSEBUT.

Mohon jangan dijawab dengan atau dengan jawaban yang mirip dengan argumen-argumen dibawah ini :

1. Karena hanya islam agama yang benar, yang lain agama setan dan akan dimasukin neraka.

2. Islam adalah agama terakhir dan memperbaiki segala kesalahan agama sebelumnya.

Posted by Khomaeni  on  04/20  at  02:45 PM

sebuah rahmatan lil alamin, masihkah harus memelihara phobia akan sesuatu yang dari luar? apakah sesuatu yang dari luar alamin tersebut ? adakah? ataukah hanya penyamaran akan sesuatu yang tak kita sukai tanpa peduli akan kebenarannya? Kekhalifahan Andalusia antarkan kebesaran buat semua Muslim saat itu dengan pluralisme, liberalisme dan juga sekularisme pastinya. Wallahu alam bis sawab

Posted by Iwan CH  on  04/15  at  06:26 PM

Saat kita bicara ISLAM ... WOW ... LUAR BIASA ... Logika ... Alur ... DATA ... FAKTA ... EXACTLY ... CORRELATED ... Menjadi suatu ARGUMENTASI yang KOKOH ... Itu kalau NGOMONG ISLAMNYA ... Tapi kalau ngomong MUSLIMNYA ... WOW ... (GELENG-GELENG KEPALA ... ) Kok BISA ... Punya WARISAN yan HEBAT seperti itu ... TINDAKANNYA BANYAK yang SONGONG ... Tahukah TINDAKAN SONGONG itu apa ? Suatu TINDAKAN yang MAU MENANG SENDIRI ... POKOKNYA ... EMANG GUE PIKIRIN ... Makanya ISLAM TERTUTUP oleh ... Sebagian BESAR MUSLIMNYA ... Jadinya NGGAK KEIHATAN ...

Ambil contoh kecil dan SRTATEGIS ... Mayoritas MUSLIM itu NGERTI BAHASA ARAB ? (Bukan sekedar membacanya)Atau ... Sangat AWAM BAHASA ARABNYA ... ? Jawabannya JELAS ... Sangat banyak alias mayoritas yang AWAM ... Tapi kenapa ... Di MASJID-MASJID --sebagian besar-- ... Al-QUR’AN itu hanya berbahasa ARAB saja ? Sangat jarang sekali ada TERJEMAHANNYA ? Kalau membaca tapi tidak mengerti ? Yang mana kadang tindakannya ... Sangat bertentangan dengan apa yang dia baca ? Apakah ini bukan GEMBLUNG ? Yang IRONIS ... Banyak sekali MASJID-MASJID ... Begitu tersebarnya Surat YASIN ...
Kalau yang ini ada TERJEMAHANNYA ? Padahal kita tahu ... Bahwa SURAT YASIN itu dipergunakan u- TAHLILAN ...Alias u- mendoakan orang yang mati ...
Meskipun isinya WOW ... LUAR BIASA ... Prakteknya ... Sebagai bentuk u- mendoakan orang-orang yang mati ...

Padahal MUSLIM INDONESIA itu ... The BIGGEST MUSLIM on the WORLD ... Jadi kalau MUSLIM INDONESIA ... Yang ACAK ADUT ini ... Berubah menjadi MUSLIM yang SMART ... Pekerja KERAS ... DISIPLIN ... TAAT WAKTU ... Baik u- persoalan DUNIANYA ... Apalagi u- MASALAH AKHERATNYA ... Pasti DAMPAKNYA ...
Akan sangat luar biasa ke DUNIA ISLAM ...

Posted by HP  on  04/14  at  09:36 AM

liberalisme justru penyumbang kehancuran dunia. umat manusia menjadi terkotak-kotak karenanya. artis misalnya “dibebaskan” untuk hidup glamor, seks bebas, dll. tapi presiden, politisi, dan pemuka agama sering “diharuskan” bertingkah laku menjunjung tinggi moral. tak heran, bila makin lama, makin banyak kerusakan dimana-mana, karena terjadi kemunafikan sosial. non muslim bisa maju dengan liberalisme, karena mereka terbebas dari agama yang rancu, membingungkan, dan mengada-ngada. tapi kalau islam yang begitu detail harus diganti dengan liberalisme, tunggu dulu bung. lihat turki, negara ini sudah hampir 100 tahun liberal berkat ulah kemal. tapi yang tejadi sekarang faktanya turki hanyalah pengemis yang meratap-ratap minta diakui sejajar dengan negara eropa, memalukan!

Posted by rama  on  04/13  at  12:24 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq