Stop Demo Anti-JIL - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
14/09/2005

Stop Demo Anti-JIL

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Forum Umat Islam Utan Kayu mendemonstrasi kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur, pada 4 September. Mereka menuntut agar kantor JIL ditutup sembari membawa poster-poster yang berisi caci-maki terhadap tokoh-tokoh JIL. Seorang ustad yang terlibat dalam unjuk rasa mengatakan bahwa kehadiran massa tersebut aksi spontan belaka, tanpa ada rekayasa dari pihak mana pun.

Sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Forum Umat Islam Utan Kayu mendemonstrasi kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur, pada 4 September. Mereka menuntut agar kantor JIL ditutup sembari membawa poster-poster yang berisi caci-maki terhadap tokoh-tokoh JIL. Seorang ustad yang terlibat dalam unjuk rasa mengatakan bahwa kehadiran massa tersebut aksi spontan belaka, tanpa ada rekayasa dari pihak mana pun.

Kemudian si ustad menegaskan bahwa dia dan massa tersebut mendukung fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa pluralisme, liberalisme, dan sekularisme bertentangan dengan Islam dan umat Islam diharamkan mengikuti ketiga paham tersebut. Mereka menyokong fatwa itu dan dengan demikian merasa tidak nyaman dengan keberadaan JIL di Utan Kayu, yang dinilai telah menyebarkan liberalisme ke masyarakat.

Dari peristiwa itu, ada beberapa hal yang bisa dibaca. Pertama, fatwa MUI yang mengharamkan liberalisme, pluralisme, dan sekularisme telah menjadi bola liar yang tak mudah dikontrol hatta oleh MUI sendiri sebagai lembaga yang memproduksi fatwa. Dalam kaitan itu, MUI memang pantas dimintai pertanggungjawaban.

Alih-alih fatwa itu akan melahirkan solusi bagi sebuah problem, yang terjadi malah memunculkan problem baru atau justru menjadi problem itu sendiri. Karena itu, selayaknya ada upaya yang lebih elegan dari para ulama MUI untuk mengevaluasi fatwa-fatwanya yang ternyata berjalan secara kontraproduktif di tengah umat. Apakah MUI akan membiarkan umat Islam bertengkar dan berseteru hanya karena fatwa mereka? Apakah MUI akan menoleransi tindakan kekerasan atas nama membela dan mendukung fatwa MUI? Pilihan bagi MUI amat terbatas, yaitu mencabut fatwa yang mengharamkan liberalisme, pluralisme, dan sekularisme sehingga keragaman tafsir atas Islam tetap hidup, atau membiarkan fatwa MUI itu ada sehingga kekerasan atas nama mendukung fatwa itu terus berlanjut.

Kedua, benarkah demonstrasi itu terjadi secara spontan? Tentu saya tidak terlampau percaya dengan suatu peristiwa yang disebut spontanitas. Tak ada demonstrasi yang spontan. Selalu saja ada aktor intelektual yang merumuskan tujuan, arah, dan sasaran demonstrasi. Ada panitia yang bertugas memobilisasi massa, membuat poster, dan sebagainya. Dan jangan lupa, demonstrasi yang terjadi malam itu--karena dilangsungkan malam hari, jelas melanggar aturan--adalah demonstrasi yang bersifat ideologis terhadap Jaringan Islam Liberal.

JIL memang sering menafsir ulang Al-Quran -harap diingat, bukan mengubah Al-Quran. Wajar bila serangan terhadap JIL itu tanda bahwa orang-orang tersebut tak mengerti benar paham liberalisme. Seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif (Koran Tempo, 6/9), mereka mengkritik Islam liberal, tapi apa benar mereka paham Islam liberal sebenarnya? Buya Syafi’i pun mempertanyakan kapasitas pengetahuan mereka tentang Islam liberal.

Lebih jauh, Syafi’i menilai aksi itu tak wajar. “Tak mungkin kegiatan itu dilakukan rakyat biasa,” kata Syafi’i. Sebagaimana Buya Syafi’i, saya ragu kegiatan itu dirancang oleh rakyat biasa. Dan keraguan itu ternyata menemukan pembenaran dari penjelasan beberapa anggota masyarakat Utan Kayu sendiri. Mereka menyatakan bahwa beberapa minggu ini penduduk Utan Kayu telah dibombardir oleh kehadiran para mubalig yang radikal--maaf, terpaksa saya menggunakan istilah ini--yang terus memprovokasi masyarakat Utan Kayu. Dengan provokasi dari para mubalig itu, Utan Kayu yang selama ini tampak tenang dan damai berubah menjadi panas.

Dan saya kira Utan Kayu tidak khas. Coba perhatikan, daerah-daerah yang pada awalnya tampak pluralis dan toleran terhadap berbagai kelompok, agama, etnis, dan organisasi yang ada di lingkungannya bisa berubah menjadi keras dan beringas karena ulah para mubalig radikal. Tanpa memahami konteks lokal sebuah daerah, para mubalig itu lazimnya berceramah secara agitatif yang menyulut emosi massa. Ceramah para dai kondang yang teduh dan toleran di televisi seperti yang ditampakkan KH Abdullah Gymnastiar, Prof Quraish Shihab, Ustad Arifin Ilham, Ustad Tuty Alawiyah, Ustad Luthfiyah Sungkar, dan lain-lain dengan cepat terhapuskan oleh khotbah-khotbah panas para dai radikal itu. Hanya dengan mengantongi satu-dua ayat dan hadis, mereka menyampaikan seruan-seruan panas untuk “menghancurkan” kelompok-kelompok lain.

Saya kira sudah saatnya kelompok-kelompok moderat Islam, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, mulai melebarkan wilayah dakwahnya hingga ke tingkat paling bawah dalam masyarakat. Para kiai pesantren yang memiliki kedalaman ilmu dan kearifan harus keluar dari tempurung pesantren untuk segera menguasai mimbar-mimbar dakwah yang beberapa tahun terakhir telah jatuh ke tangan kelompok radikal muslim--yang menurut KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, telah merusak citra Islam Indonesia di luar negeri. Dan para dai kita mesti dikader dan dididik dengan visi kebangsaan yang kukuh serta sikap toleran yang militan.

(Koran Tempo 8 September 2005)

14/09/2005 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

JIL ataupun bukan atau nama apa saja yang lainnya sama-sama wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menurunkan HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53 dan dengan ini, pasti beres dan dengan yang lain dari ini, pasti tidak beres.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Posted by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  on  07/24  at  08:05 PM

Kelompok radikal akan semakin menjadi radikal kalau semakin dijauhi..! Kita kadang salah juga terlanjur tidak berempati padanya.  Pada tindakan kekerasan yang dilakukannya jelas kita tidak perlu berempati, bahkan kalau perlu kita mengutuknya, tetapi pada pemahaman-pemahaman mereka, pada jalan pikiran mereka, barangkali sesekali harus kita pahami. Jalan kekerasan yang kadang mereka tempuh merupakan puncak pemikiran mereka yang buntu; terbukti jalan kekerasan tidak selalu mereka gunakan untuk setiap keadaan & setiap saat… Terbinanya komunikasi kelompok radikal dengan kelompok-kelompok Islam moderat akan semakin menghambat itikad mereaksi suatu keadaan dengan kekerasan. JIL sendiri sudah membuktikan bahwa mereka sebetulnya bisa dan mau diajak berdialog..  Mereka butuh kita pahami...!insya Allah mereka juga akan memahami kita.
-----

Posted by Soedarso  on  03/31  at  07:04 PM

Saya kebetulan sering mendengar dakwah2 kelompok radikal. Ngeri deh dengerinnya, mereka berbicara penuh nafsu angkara murka kayak kesetanan, bahkan mengeluarkan kata2 kotor yang tidak pantas di muka umum. Bahkan Saya pernah melihat dakwah mereka di dalam bis antar provinsi lewat vcd yang isinya antara lain menantang kaum hawa yang tidak berjilbab untuk datang ke tempatnya untuk dia perkosa! Astagfirullah...Naudzubillah…

Posted by Pencari  on  03/13  at  08:03 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq