Suara Mahasiswa - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Suara Mahasiswa

Nilai-Nilai Humanisme Hari Raya Idul Adlha

Oleh Khoirul Anwar *

“Dengan maraknya berbagai aksi kekerasan di Indonesia yang nota bene adalah negara muslim terbesar di dunia, tindak kekerasan, mulai dari teror, perusakan tempat ibadah,  kerusuhan, hingga pengeboman yang kian hari bagai bola salju yang terus menggelinding dan melaju, agaknya hari besar ini patut dijadikan sebagai kontemplasi religius: kenapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tapi di sana-sini terdapat aksi kekerasan? Bukankah Islam melarang manusia bertindak anarkis? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan demikian, dalam hemat penulis, disebabkan oleh kesalahan mereka dalam memahami ajaran Islam yang sebenarnya. Oleh karena itu Idul Adha kali ini jangan hanya dijadikan sebagai “perayaan ritual” an sich, tapi lebih dihayati sebagai hari di mana Allah melarang umat manusia bertindak anarkis.”

09/11/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (9) #

Menyortir Aspek Lokalitas,  Mengambil Aspek Universalitas Islam

Oleh Muzayyin Ahyar*

“Ulil Abshar Abdalla dalam tulisannya yang sangat kontroversial beberapa tahun lalu di harian Kompas, menyatakan bahwa umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan, tegas Ulil, adalah nilai yang sejalan dengan Islam, bukan berlawanan dengan Islam.
Islam dengan pandangannya sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin mendskripsikan keuniversalan Islam tersebut. Allah bukan hanya Tuhan yang diperuntukkan bagi etnis Arab saja, tetapi semua etnis dan suku yang mengakui dzat-Nya dan menjalankan nilai universal yang merupakan the greatest goal dari sebuah praktek yang telah di buat oleh-Nya.”

02/11/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (14) #

Menuju Paradigma Agama Madani Nusantara

Oleh Muhammad Bagus Irawan*

“Islam madaniy mengajak pada titik temu (kalimat sawa’) agama-agama. Semua agama bisa bertemu, dengan mengkaji apa yang bisa kita sumbangkan bagi kemanusiaan dan peradaban. Ada usaha untuk mengambil nilai-nilai universal dalam setiap agama. Wacana Islam madani berpusat pada kasih sayang kepada sesama manusia sehingga Islam menjadi rahmat bagi semua orang, rahmatan lil’alamin. Bukan hanya rahmatan lil mutamazhibin ataupun rahmatan lil muslimin saja. Kesalehan diukur dari kadar cinta seseorang kepada sesama. Setiap pemeluk agama bisa memberikan makna dalam kehidupannya dengan berkhidmat pada kemanusiaan.”

22/06/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (13) #

Dialog Empatik antar Umat Beragama

Oleh Usep Hasan Sadikin*

“Saatnya bagi kita untuk mengucap salam yang tak hanya berarti sapaan, tetapi juga berarti pemberian doa, pengakuan dan penghormatan keyakinan serta perwujudan identitas keagamaan seseorang. Ucapkanlah assalamu’alaikum (damai sejahtera menyertaimu) kepada muslim. Ucapkanlah shalom (damai sejahtera) kepada kristiani. Ucapkanlah namo Buddhaya (terpujilah Buddha) atau namaste (salam kehormatan bagimu) kepada pemeluk Buddha. Ucapkanlah om swastiastu (semoga kita dalam lindungan-Nya) kepada yang beragama Hindu. Begitu pula kepada pemeluk agama lain.”

25/05/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (15) #

Kematian Osama: Harapan Kembalinya Citra Positif Islam

Oleh M. Abdurrahman*

“Momen keberhasilan penangkapan Osama seharusnya merupakan berkah tersendiri bagi Islam. Sebab, sebagaimana yang dikatakan Obama, bahwa Amerika tidak perang melawan Islam. Tetapi perang melawan terorisme. Pernyataan Obama itu secara implisit dapatlah kita maknai bahwa Islam bukan identik dengan terorisme. Islam adalah agama yang cinta damai, Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Mereka yang berbuat teror tidak berhak untuk mengatakan atas nama Islam. Kita dapat berharap, pasca kematian Osama citra negatif tentang Islam lambat laun bisa terpulihkan kembali.”

11/05/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (22) #

Agama dan Kontestasi Kekuasaan

Oleh Abdul Malik Mughni El-Jauhar*

Setiap agama punya doktrin toleransi dan perdamaian. Jadi yang salah selama ini, adalah umatnya, bukan agamanya! Aku hendak menyalahkan doktrinnya, atau kalaupun tak boleh, penyelewengan doktrinnya, sebab umat, tanpa mendapat doktrin untuk berperang, tentu tak akan berperang.

Keyakinan sangat rentan berbuah sebagai sumber konflik, maka solusinya tak cukup dengan wacana toleransi atau pluralisme. Sekularisasi negara mungkin bisa menjadi alternatif untuk menekan konflik-konflik ini. Karena ketika negara bersikap netral, dan tegas dalam melindungi hak berkeyakinan, maka konflik-konflik yang ada pun akan pudar.

25/04/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (9) #

Menyoal Otoritas Fatwa dalam Islam

Oleh Aushof yan Nasher Effendi*

“Sebuah fatwa haruslah menimbang realitas dan sesuai dengan konteks zaman. Fikih bukanlah ilmu pasti, fikih adalah “ilmu sosial” yang selalu berubah seturut tempat dan masa. Yang patut disayangkan adalah jika fikih mengalami bongkar-pasang oleh oknum yang memiliki kepentingan tertentu yang berujung pada jual beli fatwa.”

20/04/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (20) #

Masih Pentingkah Kita Berbeda?

Oleh Haikal Kurniawan

“Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Sesuatu yang nyata, dan harus dijunjung tinggi serta dihargai dan dihormati. Terlebih lagi, perbedaan dan keragaman sudah menjadi bagian dan jati diri bangsa dan negara kita yang berasaskan Pancasila dan bersemboyankan Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

15/04/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (21) #

Otoritarianisme Politik Arab Saudi

Oleh Prio Pratama*

Kerajaan Saudi, adalah contoh buruk bagaimana agama dan para ulamanya ikut campur dalam urusan kenegaraan dan pengaturan publik. Adapun saat ini, mata dunia melihat bahwa loyalitas rakyat pada apa yang didoktrinkan sebagai “konstitusi yang suci” tidak lagi dapat dipertahankan. Demonstrasi yang muncul di Arab Saudi dapat dilukiskan sebagai suara hati nurani manusia yang terdalam yang berteriak bahwa “agama” dan “konstitusi yang suci” semata-mata tidak cukup untuk menjadi dasar pengaturan negara terhadap kebijakan publik. Walaupun masih terkesan takut dan malu-malu, berkumpulnya 12 orang di depan pintu Masjid al Rajhi di ibu kota Riyadl yang menuntut perubahan monarki absolut menjadi kerajaan konstitusional itu, jelas sekali menunjukkan bahwa untuk menciptakan suatu negara yang berkeadilan dan pro rakyat, butuh lebih dari sekedar campur tangan ulama dan undang-undang suci (baca: hukum Islam) dalam menentukan wajah sebuah bangsa. Untuk saat ini, mungkin kita masih sulit untuk memprediksi apakah kelanjutan revolusi di Arab Saudi itu akan berakhir seperti di Tunisia dan Mesir, ataukah kemenangan akan berpihak pada kelompok otoriter dan para ulama konspiratifnya dengan cara “membunuh” suara para demonstran.

24/03/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (27) #

Pernyataan Keprihatinan Komunitas Lintas-Iman

Akhir-akhir ini, di tengah proses demokratisasi yang kita upayakan bersama sebagai jalan menuju Indonesia yang lebih baik, kami dari komunitas lintas-iman menyatakan sangat prihatin melihat gejala semakin maraknya sikap dan perilaku intoleran, khususnya dalam relasi antar-umat beragama di tanah air.

23/12/2004 | Pernyataan Pers, Suara Mahasiswa, | Komentar (10) #

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq