Syariat Islam - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
23/03/2004

Syariat Islam

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Kalau kita mau menegakkan syariat Islam di Indonesia, sementara itu kita belum mempersoalkan masalah-masalah seperti ini, bisa timbul masalah. Umat Islam mau mengajukan syariat Islam sebagai alternatif bagi kehidupan hukum kita yang dianggap bobrok.

Tulisan ini disalin dari situs Suara Karya, juga dimuat di harian Suara Karya Selasa, 23 Maret 2004:
URL: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=82777

Dalam kampanye Pemilu 2004 ini, beberapa partai Islam masih menjual isu tentang syariat Islam. Dengan kembali menegaskan komitmen memperjuangkan dimasukkannya syariat Islam ke UUD 1945, partai-partai Islam itu berharap mendapatkan dukungan suara masyarakat. Umat Islam sebagian masih berpandangan, agama dan politik adalah satu dan ajaran Islam harus diselenggarakan melalui aparatus negara. Umat Islam ingin agama mencampuri keseluruhan kehidupan publik.

Tapi itu sesuatu yang tidak bisa serta-merta diterima. Itu harus didiskusikan terlebih dahulu: sejauh mana agama dibolehkan mengatur wilayah publik. Wilayah kehidupan publik - wilayah hubungan antarmanusia serta antara manusia dan negara - seharusnya diputuskan melalui musyawarah yang demokratis melalui pertimbangan mendalam (deliberation). Kita tidak bisa, misalnya, sesuatu yang dianggap hukum Tuhan dipaksakan sebagai landasan pengelolaan kehidupan publik tanpa melalui perdebatan.

Dalam syariat Islam banyak hal yang sebetulnya merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh pemahaman manusia, bukan merupakan hukum yang langsung diberikan oleh Tuhan. Kemungkinan seperti itu besar sekali, karena agama ketika berada di tangan manusia ditafsirkan menurut kerangka pemahaman manusia itu sendiri. Tentu saja, itu boleh dikritik, boleh diperdebatkan. Di dalam syariat sendiri, banyak hal perlu dipersoalkan - misalnya perlakuan terhadap perempuan yang diskriminatif. Di peradilan, misalnya, kalau perempuan menjadi saksi, dua orang perempuan sama dengan seorang laki-laki.

Itu berarti di dalam peradilan kapasitas perempuan untuk menjadi saksi itu besarnya separo laki-laki. dalam hukum Islam, kalau ada orang menuduh orang lain berzinah tetapi tidak bisa dibuktikan, dia dikenai hukuman cambuk 80 kali. Ini di Malaysia diperdebatkan.

Jadi, kalau ada seorang perempuan diperkosa, lalu dia mengadu ke peradilan, dia harus bisa membuktikan bahwa dia diperkosa. Pembuktiannya, dalam syariat Islam, dia harus menghadirkan empat laki-laki sebagai saksi - dan itu sangat sulit. Bagaimana tidak, suatu pemerkosaan disaksikan oleh empat orang laki-laki dan laki-laki itu mau menjadi saksi. Itu artinya, kalau ada perempuan diperkosa, dia berada dalam posisi sangat lemah. Jadi apa yang ditekankan dalam syariat Islam hanya pendapat para ahli hukum yang perlu diperdebatkan.

Kalau kita mau menegakkan syariat Islam di Indonesia, sementara itu kita belum mempersoalkan masalah-masalah seperti ini, bisa timbul masalah. Umat Islam mau mengajukan syariat Islam sebagai alternatif bagi kehidupan hukum kita yang dianggap bobrok. Tapi dia ibarat menyodorkan kucing dalam karung. Kita tidak pernah tahu, kucingnya warna apa dan bulunya seperti apa. Sayangnya, mereka sulit diajak diskusi secara kritis. Sekarang, kalau kita mendiskusikan masalah itu secara kritis, lantas dianggap menghina syariat, menghina agama.

Memang, dalam Islam, ide mengenai hukum itu kuat sekali. Dalam Islam ada sejarah pemikiran yang luar biasa kayanya berkaitan dengan masalah hukum. Dalam Islam ada suatu tradisi pemikiran hukum yang begitu kaya menyangkut semua aspek kehidupan manusia, menyangkut jual beli, kehidupan negara, kehidupan kesenian, dan kehidupan pribadi. Apalagi di negara yang masyarakatnya plural, tidak bisa diatur hanya dengan satu hukum agama saja. Hampir semua negara itu plural. Jarang ada negara yang komposisi demografisnya homogen mutlak. Watak kehidupan negara dalam masyarakat modern adalah plural. Taruhlah sebuah negara yang 90% atau bahkan 100% masyarakatnya beragama Islam. Tetapi hidup itu tidak statis. Orang Islam sendiri mempunyai pandangan berbeda-beda, mazhabnya berbeda-beda. Karena itu, kalau kita mau mengatur kehidupan, aturan mana yang mau dipakai: mazhab atau denominasi (dalam Kristen) mana yang mau dipakai.

Karena itu, ide mengenai negara agama harus ditolak. Kalau umat Islam mau mengatur hidup mereka berdasarkan agama, itu hak mereka sendiri, tetapi tidak boleh meminta negara mengatur itu karena negara merupakan lembaga milik publik. Jadi, kalau agama mau mengatur kehidupan publik, harus dibicarakan dulu oleh publik.

***
Ulil Abshar Abdhalla adalah Ketua Jaringan Islam Liberal.

23/03/2004 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (13)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Salam,

Syariat islam tidak boleh dipakai sebagai hukum negara, kalau mau melihat kembali pada sejarah.

Marlah kita kembali melihat sejarah islam. Manakah negara yang menerapkan hukum islam pernah adil, makmur dan sejahtera?

Dari sekian banyak negara islam, hanya ada dua masa saja, yaitu masa khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Harun Al Rasyid. Lainnya, bunuh-bunuhan, darah mengalir di mana-mana. Bahkan pendiri daulah Abbasiah (namanya saya lupa) membunuh satu daulah (marga, klan penguasa khilafah) sampai ke orok-oroknya. Dia mengatas-namakan Islam untuk justifikasi pembunuhan massal ini. Gelarnya cukup mengerikan: Abbas Assafah. Abbas si penumpah darah!

Dari sekian ratus raja, sultan, khalifah, kok cuma dua saja yang rada-rada bener? Tapi mengapa kita tetap ngotot bahwa jalan ini benar?

Ingat, 3 (tiga) dari Khulafaur Rasyidin dibunuh oleh orang Islam sendiri. Musailamah yang Islam itu digelari al Kazab (si pembohong) karena ia membunuh Umar bin Khattab disebabkan ketidak-puasannya kepada Umar. Bagaimana dengan dua khalifah lainnya? Mereka dibunuh oleh sesama sahabat nabi!

Dan semuanya punya dalil yang sah menurut hukum agama. Masya allaaaaah!

Sejarah telah membuktikan selama 14 abad ini, bahwa negara yang pakai hukum islam, kesemuanya bersimbah darah. Gejala FPI, Hizbut Tahrir, DI, TII, MMI, Afganistan. Filipina, Pakistan dst menuju kearah tragedi-2 sejarah ini. Kekerasan yang menghalalkan pertumpahan darah cenderung makin diyakini dan dipraktekkan secara sembunyi atau terang-terangan.

Masihkah kita ingin mengulangi bukti sejarah yang tidak bisa kita bantah ini? Atau, mayoritas orang Islam tidak tahu sejarahnya sendiri? Atau, tidak mau tahu?

Salam,

Sasis
===========

Posted by Setya Ananta Sis  on  09/07  at  07:16 PM

assalaamu’alaikum wr. wb.

Salah satu kesulitan terbesar dalam berargumen yang sehat, ilmiah dan memuaskan disebabkan karena sulitnya mengidentifikasi mana yang fakta dan mana yang opini. Debat tidak akan pernah selesai kalau kita cuma saling melontar opini, karena opini ada sebanyak jumlah manusia di muka bumi. Sebaliknya, kita mesti belajar pada para ilmuwan dan ahli di bidang sains yang dalam perdebatan-perdebatannya cenderung lebih suka kepada fakta daripada opini. Alhasil, perdebatan-perdebatan mereka biasanya berakhir dengan baik, kebenaran teridentifikasi, and no hard feeling…

Susahnya, yang menguasai dunia adalah para politikus, para ahli di bidang bercuap-cuap dan jago merangkai kata. Tidak ada tempat tersisa untuk para ahli ilmu alam yang akan mengajarkan kita untuk berbicara terus terang, tanpa tendensi khusus, tanpa hidden agenda, dan tanpa kata-kata bersayap.

Bagi sebagian orang, susah sekali untuk membedakan mana yang opini dan mana yang fakta. Kalau ada 1 orang yang bilang “A”, maka kemungkinan besar akan ada orang lain yang bilang “A” tanpa mengecek kebenarannya. Padahal, “A” bisa jadi “B”, karena memang cuma opini, dan siapa pun berhak punya opini berbeda.

Berendam di sungai ketika subuh di daerah Puncak biasanya dianggap sebagai pekerjaan yang akan mengakibatkan badan kita kedinginan. Bagi orang Jakarta yang biasa dengan udara panas mungkin memang demikian, tapi belum tentu bagi orang lain. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah itu, barangkali mandi di sungai subuh-subuh itu biasa saja. Barangkali nenek-nenek pun bisa demikian. Apalagi bagi orang Eskimo, barangkali air yang kita bilang “dingin” cuma dibilang “sejuk” oleh mereka.

Itulah relativitas. Karena susahnya menyamakan opini semua orang, muncullah matematika. Para ahli menyederhanakan semuanya dalam angka. Angka saja tidak cukup, karena cuma menggambarkan kuantitasnya saja, lalu muncullah satuan. Kita tidak akan beres berdebat tentang air yang “dingin” atau “sejuk”, karena itu tergantung pada siapa yang mengatakannya. Dengan adanya satuan Celcius, maka kita tidak perlu berdebat kusir. Tinggal taruh termometer, lalu kita dapatkan suhu air itu sekian derajat Celcius. Tidak ada yang berdebat lagi, karena satuan itu sudah disepakati.

Perdebatan tentang rokok, minuman keras dan narkoba pun tidak bisa selesai-selesai karena kita gagal mengidentifikasi fakta dan opini.Tidak perlu jauh-jauh berbicara tentang perkosaan, yang mudah-mudah saja dulu. Sebagian orang suka mengkonsumsi rokok, minuman keras dan narkoba, sebagian lagi tidak. Tapi “suka” dan “tidak suka” itu cuma opini, dan sampai kiamat pun perdebatan ini tidak akan selesai. Kalau saja kita berbicara dengan fakta, maka perdebatan ini tidak akan terlalu panjang. Rokok jelas merugikan, bukan hanya perokok, tapi orang-orang di sekitarnya juga. Ia hanya menebar penyakit. Tidak perlu susah-susah untuk mengambil kesimpulan bahwa rokok mesti dilarang. Demikian juga halnya dengan minuman keras (penyebab kecelakaan lalu lintas nomor satu di negara-negara maju) dan narkoba (apa perlu argumen soal yang satu ini?).

Kalau saja kita mau bicara fakta, sudah pasti ketiga barang haram itu sudah dilarang sejak dulu-dulu. Tidak pernah ada untungnya mengkonsumsinya. Kalau pun ada, maka kerugiannya jauh lebih besar. Memang industri rokok telah menghidupi banyak orang, tapi cobalah lihat ke jalanan. Orang-orang yang tidak punya uang menghabiskan pendapatannya dalam jumlah besar untuk rokok, bukan untuk beli makan untuk anak-istri. Akhirnya mereka semakin miskin. Apa gunanya rokok bagi kita?

Perdebatan tentang Syariat Islam pun berkembang menjadi debat kusir yang tidak ada gunanya. Banyak orang menentangnya hanya karena mendengar nama “Islam"-nya saja. Jika demikian, kenapa kita tidak menentang hukum yang sekarang kita gunakan? Hukum yang kita gunakan sekarang ini adalah warisan Belanda, warisan bangsa-bangsa Eropa yang selalu dipengaruhi oleh putusan Gereja. Kenapa kita harus tunduk pada hukum Gereja?

Perdebatan soal Syariat Islam tidak pernah menyentuh isinya, namun hanya berkutat pada kulitnya saja. Syariat Islam dikatakan pasti akan merusak keharmonisan umat beragama, tapi apa buktinya? Apakah orang-orang yang bicara itu sudah mempelajari Syariat Islam secara keseluruhan? Saya yakin tidak.

Sebagian orang mengenal Syariat Islam sebatas “kalau mencuri, potong tangannya”. Padahal untuk memotong tangan seorang pencuri, tentu butuh bukti-bukti, saksi, peradilan, hakim, dan ada juga hal-hal lainnya. Misalnya jika seorang buruh pabrik mencuri, namun alasannya karena pengelola pabrik itu belum membayar upahnya selama sebulan, maka hukum potong tangan tidak akan dilaksanakan. Sebaliknya, pengelola pabrik-lah yang bersalah.

Sebagian orang lagi mengatakan bahwa Arab Saudi yang menjalankan Syariat Islam pun sampai sekarang tidak maju-maju. Mereka maju karena memiliki cadangan minyak, itu saja. Ini pun opini yang keblinger. Arab Saudi tidak menjalankan Syariat Islam. Sistem kerajaan tidak pernah ada dalam ajaran Islam. Dalam Islam, pemimpin harus dipilih berdasarkan kemampuan, bukan keturunan. Apa yang dilakukan oleh Arab Saudi adalah pelanggaran terhadap ajaran Islam, dan karenanya, kita tidak boleh menjadikan Arab Saudi sebagai parameter keberhasilan Syariat Islam.

Ada juga yang mengkritik kebijakan “hukuman pancung bagi mereka yang membunuh orang lain”. Banyak yang bilang bahwa kebijakan ini tidak manusiawi. Mereka yang berkata demikian biasanya bukanlah anggota keluarga korban yang mengalaminya. Bagaimana pun, kita tidak bisa mengharapkan para keluarga korban akan memaafkan si pembunuh, kecuali bila ia telah menerima hukuman yang setimpal. Jika si pembunuh telah dihukum mati, maka bisa dipastikan anggota keluarga korban tidak akan memendam dendam.

Lalu ada yang membahas masalah hukum pancung. Katanya pancung itu kejam, karena banyak darahnya. Mereka kira banyaknya darah berbanding lurus dengan kekejamannya. Padahal, kalau dipancung, ia hanya akan menderita sepersekian detik sebelum mati. Hukuman mati dengan regu tembak bahkan bisa memakan waktu 7 menit sejak ditembakkannya peluru hingga tewasnya si terhukum. Hukuman kursi listrik juga memakan waktu sekitar setengah sampai satu menit. Hukuman kamar gas bisa bermenit-menit, karena ia bisa saja menahan napasnya dulu, sebelum akhirnya menghirup gas tersebut. Demikian juga hukum gantung. Dari sisi si terhukum, tidak ada hukuman yang lebih baik daripada hukum pancung. Sayang, fakta ini tidak diperhatikan oleh orang-orang yang terlalu sibuk dengan opininya masing-masing.

Jadi, alasan apa lagi yang akan kita kemukakan untuk menolak Syariat Islam? Saya harap fakta, bukan opini....

wassalaamu’alaikum wr. wb.
-----

Posted by Pemerhati JIL  on  03/29  at  05:03 AM

Mas Hamzah Condong Catur dan Mas Nirwan Lioga

Anda dalam berargumentasi kelihatannya marah.Kalau orang marah biasanya nuraninya tertutup.Mas Ulil disuruh keluar dari islam he...he… yang mboten mboten saja, kalau menurut syariat mereka yang keluar dibunuh dong ?Orang ang pengetahuan islam nya begitu baik dan juga menjalankannya dengan bebas anda suruh milih keluar dasi islam.justru karena sangat cinta nya yang mendalam terhadap islam mas lil melemparkan benagai wacana untuk mengajak kita berpikir bukan berzikir saja.Ada waktunya berzikir dan ada waktunya berfikir.

Saya sangat menikmati tulisan tulisan mas Ulil yang sangat cerdas tidak sembarangan, semua yang dikatakan berdasarkan referensi, baik referensi tertulis maupun referensi kenyataan yang dilihat di masyarakat.

Coba mas kasih contoh saya satu negara yang menyebut dirinya negara islam dan menerapkan syariat islam dizaman modern ini yang bisa dijadikan contoh model negara islam? Arab Saudi ? Sudan? Pakistan ? Bangladesh ? Maldives ?Iran ?

Apa kelebihan kelebihan negara negara itu dari negara negara yang menerapkan sistem demokrasi seperti Indonesia yang menghargai pluralisme ?

Bagaimana dengan masalah Syiah dan Suni yang di Pakistan saling bunuh, begitu juga di Irak, orang lagi sembahyang di mesjid di bom.Paling gampang menuduh itu didalangi Yahudi, tanpa melihat akar sejarah nahwa sejak zaman Sayidina Ali kedua komunitas Syiah dan Suni sudah tidak akur dan saling bantai.Saya sangat awam di bidang agama, apakah kalau satu negara yang berisi kedua komunitas tersebut, syariat yang menurut Syariat penafsiran syiah ataukah Suni yang akan dipakai?Kalau sekarang saya bebas merayakan lebaran versi NU dan teman saya merayakan versi Muhammadiyah, teman saya lagi merayakan kedua duanya, nah kalau di Indonesia diterapkan syariat islam versi mana yang dipakai, karena kalau pakai versi yang diluar ketentuan neara mestinya dilarang dan dihukum.Kalau saya tarawih sekarang bebas mau milih yang berapa rakaat, nanti kalau ditetapkan negara maka saya tidak boleh milih rakaat yang sesuai dengan hati nurani saya, karena kalau ketahuan polisi Syariah saya ditangkap kemudian dirangket.Begitu juga kalau saya lagi enggan puasa karena badan tidak enak, ktangkap piolisi Syariah saya akan diinterogasi dan harus membuktikan badan saya tidak enak, memang sih bisa diselesaikan dengan salam tempel, kalau polisi melayu he...he..bukan ngeledek polisi nih, banyak polisi yang baik.

Bagaimana kalau dengan diterapkannya syariat islam saudara saudara saya yang di Papua minta lepas, melalui referendum yang bebas.Tanpa Syariat islam saja Papua/Irian jaya dalam 10 sampai dengan 25 tahun lagi kalau tidak bener ngelolanya bisa lepas.Pulaunya kaya 80% rakyatnya miskin.

OK mas mikir mas, lihat fakta lapangan, jangan berteori, bahwa dengan diterapkan syariat islam secara formal semua beres.Coba terapkan syariat islam mulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri dulu, bisakah kita konsekuen.Misalnya kalau mas Hamzah terpaksa mencuri atau nipu atau apalah yang melanggar syariat islam, kemudian secara suka rela menghukum diri sendiri atau minta orang tua/ saudara melaksanakannya sesuai dengan hukuman yang diberlakukan syariat, seperti Jakfar Umar Thallib mengeksekusi anak buahnya di Ambon yang secara sukarela minta dihukum karena berzinah.

Sebetulnya kita menunggu model NAD yang duluan menerapkan syariat islam buat kita jadikan contoh, sayang saudara kita di NAD keburu mengalami musibah Tsunami, sehingga set back lagi.Mudah mudahan saudara kita diberi ketabahan, tawakal menghadapi musibah.

Apa hukumannya bagi produsen dan pengedar opium, dsb nya, karena di Afganistan, Pakistan barang barang ini banyak sejak Gumuldin Hekmatiyar dan Taliban sampai sekarang.

Wassalam,

Mandra Wage

Posted by Mandra Wage  on  03/25  at  11:03 PM

Assalamualaikum

Dua orang mengajukan argumentasi mengenai syariat islam masing-masing antara Ulil dan E. Ibnu Azis . Ulasan Ulil demikian itu saya mengerti, tapi sayang komentarnya bung Ibnu itu saya tidak mengerti, seharus dijelaskan karena saya yang masih “buta” seharusnya dapat mengambil manfaatnya.  Apakah bung Ibnu dapat menjelaskan dan membuat suatu tulisan di sini agar kita semua memahami, jangan dulu divonis, masalahnya saya kemarin beli buka mengenai Islam, macam2lah terutama yang berdasarkan penelitian secara ilmiah, dan sedikit terbuka pikiran mengapa kita selalu bersiteru. Di sini kan suatu forum yang katanya bebas untuk mengutarkan pikiran kita. Marilah kita berdikusi secara damai, membuat umat kembali ke jalan Allah SWT yang lurus yang diridoi (entah yang mana).

Terima kasih

Wassalam

H. Bebey.

Posted by H. Bebey  on  01/21  at  08:01 PM

Saya hanya seorang awam biasa yang tidak begitu paham agama dan pendidikan formal pun biasa-biasa saja. Namun satu keyakinan saya Allah Maha Besar, Allah Maha Mengetahui, Al Quran itu adalah KalamNya, Tiada keraguan sedikitpun didalamnya. Tidak seperti kitab-kitab agama lain yang telah banyak mengalami perubahan. Apabila Al Quran mengatakan Syariat Islam adalah tuntunan terbaik bagi manusia, maka itulah yang benar!!.  Selain itu kita sendiri telah melihat bagaiman hasil dari pelaksanaan hukum-hukum lain selain Islam baik di Indonesia ini maupun di seluruh dunia. Mengapa harus antipati kepada Syariat Islam, mengapa tidak diberikan kesempatan. Sedangkan syariat yang lain jelas-jelas telah GAGAL! memberikan kesejahteraan dan rasa aman.  Mengapa logika menjadi terbalik???. Sesuatu yang telah jelas keburukannya malah di usung-usung, sedangkan sesuatu yang jelas-jelas berasal dari yang MAHA TAHU, malah dianggap sesuatu yang akan membawa keburukan, bahkan tidak diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa dialah yang terbaik. Manusia ini lemah dan kadang merasa dia lebih tahu dari ayng MAHA TAHU.

Posted by A. R. Yulianti  on  10/26  at  08:10 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq