Syekh Yasin al-Fadani dan Nasionalisme Indonesia - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

05/08/2009

Syekh Yasin al-Fadani dan Nasionalisme Indonesia

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Informasi dari Martin van Bruinessen ini menarik karena memperlihatkan sosok Syekh Yasin bukan saja sebagai seorang alim yang mempertahankan doktrin Sunni di tanah haramain, tetapi juga seorang nasionalis yang memiliki kecintaan pada tanah air. Tahun saat madrasah Dar a-’Ulum itu berdiri, yakni 1934, jelas merupakan periode di mana gerakan-gerakan nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan di tanah air sedang mencapai tahap kematangan.

Kemanapun orang Padang pergi, di situ akan berdiri warung makan, begitulah kesan umum di masyarakat. Tetapi kaidah ini tidak berlaku bagi tokoh yang akan saya ulas dalam tulisan ini, yakni Syekh Yasin al-Fadani. Ia menuntut ilmu hingga jauh ke Mekah dan merintis sebuah madrasah yang mencetak banyak ulama dari Indonesia.

Sebuah informasi menarik saya temukan dalam buku karangan Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia (1995) berkenaan dengan sosok Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani (meninggal 1990), seorang alim asal Padang yang tinggal di Mekah dan pendiri madrasah yang terkenal, Dar al-’Ulum al-Diniyyah.

Sebelum madarasah itu berdiri, ada madrasah lain yang cukup terkenal di Mekah, yaitu Madrasah Shaulatiyyah. Madrasah ini didirikan oleh seorang tokoh perempuan dari India, Shaulah al-Nisa’, pada 1874, karena itu disebut Shaulatiyyah. Pengelolaan madrasah itu diserahkan kepada seorang ulama militan yang dikenal karena polemik-polemiknya melawan para misionaris Kristen di India, yaitu Rahmatullah ibn Khalil al-’Utsmani.

Banyak pelajar Indonesia yang menjadi murid madrasah itu, termasuk Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani. Ada suatu kejadian di madrasah tersebut yang membuat Syekh Yasin marah dan kemudian memutuskan untuk keluar. Pada suatu hari, seorang guru di madrasah itu merobek koran berbahasa Indonesia yang dibaca oleh sejumlah mahasiswa asal Indonesia. Guru itu juga mengejek aspirasi nasonalis orang-orang Indonesia dengan mengatakan bahwa bangsa bodoh yang memakai bahasa seperti itu tak akan bisa meraih kemerdekaan.

Kejadian ini disaksikan langsung oleh Syekh Yasin, dan tentu saja membuatnya marah dan memutuskan untuk keluar dari madrasah itu. Ia kemudian terlibat dalam usaha-usaha untuk mendirikan madrasah terpisah guna menampung mahasiswa asal Indonesia. Berdirilah Madrasah Dar al-’Ulum al-Diniyyah pada 1934. Ada sekitar 120 santri Jawa (istilah Jawa saat itu mencakup seluruh kawasan Indonesia, Melayu, bahkan juga Thailand Selatan) yang pindah ke madrasah baru itu, termasuk Syekh Yasin sendiri. Belakangan, Syekh Yasin menjadi mudir atau direktur madrasah tersebut hingga dia wafat pada 1990.

Semasa dia masih hidup, banyak jamaah haji Indonesia yang selalu menyempatkan mampir di madrasah itu. Syekh Yasin juga memelihara relasi dengan sejumlah kiai di Indonesia, bahkan menuliskan semacam “thabaqat/tarajum” atau biografi sejumlah kiai di tanah air.

Dia sempat hadir dalam Muktamar NU ke-26 di Semarang pada 1979. Pada kesempatan itulah dia menyempatkan diri untuk mengunjungi sejumlah pesantren di Jawa Tengah, antara lain pesantren milik kakek saya, KH. Muhammadun, dari Pondohan, Tayu, Pati. Meskipun saya tidak melihatnya sendiri, konon Syekh Yasin menulis tarjamah atau biografi singkat Kiai Muhammadun menurut tradisi thabaqat yang kita kenal dalam khazanah historiografi Islam klasik.

Kunjungan Syekh Yasin ke pesantren kakek saya itu meninggalkan kenangan yang mendalam pada diri saya. Saat itu, saya berumur 13 tahun. Tentu saja saat itu saya belum mengerti mengenai sosok Syekh Yasin, meskipun namanya selalu saya dengar melalui pengajian yang disampaikan oleh ayah saya. Tetapi ribuan orang yang datang ke pesantren kakek saya saat itu untuk betemu dan melihat langsung sosok Syekh Yasin membuat saya berpikir bahwa tentu sosok ini bukanlah main-main.

Di kalangan santri Indonesia, Syekh Yasin dikenal sebagai “benteng” doktrin Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah di tanah haramain berhadapan dengan kampanye agresif ideologi Wahabi yang disokong oleh pemerintah Saudi. Salah satu bukunya yang dikenal di kalangan pesantren adalah al-Fawa’id al-Janiyyah yang berisi ulasan mengenai kaidah fikih (qawa’id al-fiqh).

Informasi dari Martin van Bruinessen ini menarik karena memperlihatkan sosok Syekh Yasin bukan saja sebagai seorang alim yang mempertahankan doktrin Sunni di tanah haramain, tetapi juga seorang nasionalis yang memiliki kecintaan pada tanah air. Tahun saat madrasah Dar a-’Ulum itu berdiri, yakni 1934, jelas merupakan periode di mana gerakan-gerakan nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan di tanah air sedang mencapai tahap kematangan.

Dengan demikian, kita patut mengenang Syekh Yasin sebagai seorang patriot yang cinta tanah air Indonesia, selain sebagai seorang muhaddits (pakar hadis), dan faqih (ahli mengenai hukum Islam). Hal ini juga memperlihatkan dengan baik sekali bahwa tidak ada pertentangan antara aspirasi nasionalisme dengan ajaran Islam.

Kecintaan pada tanah air yang diperlihatkan oleh seorang alim dengan kaliber seperti Syekh Yasin tentu cukup menjadi bukti bahwa Islam dan nasionalisme bukanah dua hal yang harus dipertentangkan. Semangat inilah yang kemudian dipertahankan oleh Nahdlatul Ulama (NU) hingga sekarang—semangat cinta tanah air. Semangat ini makin relevan untuk digaungkan kembali saat ini di tengah-tengah ramainya sejumlah gerakan Islam yang hendak mendirikan negara khilafah akhir-akhir ini.[]

05/08/2009 | | #

Komentar

Komentar Masuk (12)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Sebenarnya Martin mendapatkan informasi, di antaranya, buku H. Aboebakar, Sedjarah Hidup KHA Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar Jakarta: Panitya Buku Peringatan Alm. KHA Wahid Hasyim, 1957). Jadi, info yang dikemukakan Ulil sekunder.Nasionalisme yang ditunjukkan pada peristiwa di Madrasah Saulathiyah itu dah dituturkan di buku ini.Jadi gak ada yang baru yang dikemukakan Ulil.

Posted by sunarwoto  on  10/12  at  07:56 PM

celakanya,,,,untuk menutupi kegagalan yg dibalut dg nasionalisme semu tadi..mentri mutusin bahwa HAJI TAHUN ITU DIBATALKAN KARENA DI MAKKAH SEDANG TERJADI WABAH PENYAKIT GANAS lah...dalah itu kan keputusan gila. jauh tidak seperti syech yasiin dg Darul ulumnya(kakek saya salah satu civitasnya).
pada waktu itu jelas org makkah yg belum mengenal emas hitam minyak yaa rada piye...karena tergatung dg warzuq ahlahuu minatstsamar oot… termasuk khidmah pd hujjaj. apalagi klo lhat riwayat tentang terjaganya tanah haram dri penyakit ganas (tho’uun). malah ada seorang ibunyai yg kebetulan masih ada hub drh dg mntri td bilang yooo...kok wani temen batalke wong arep haji??. padahal nggak ada waba’ di makkah waktu itu.ALLOHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHUU…

Posted by syafimisbah  on  10/10  at  10:02 PM

kalau soal nasionalisme sih saya jg pernah dengar cerita ...alkisah ketika pd tahun 1951 m dlm kabinet negri kita ada seorang mentri dari NU ,terkait soal haji ke baitulloh , sudah banyak orang yg mendaftarkan diri… pada priode2 sebelumnya sarana transportasi di angkut kapal belanda ,,,lah mentri satu ini ndak mau pake kapal tersebut (MUNGKIN ALASAN NASIONALISME PASCA AGRESI) ,padahal tranportasi waktu itu yg sampai ke jeddah adalah punya belanda tadi. akhirnya mentri tadi cari kapal lain ..yaa jelas nggak ada.! bahkan nego lagi dg kapal belanda tadi nggak kelar

Posted by syafimisbah  on  10/10  at  09:42 PM

assalau’alaikm,
akhi wa ukhti ingat Allah telah menitipkan kita alam ini,hubbul wathon minal iman: cinta tanah air merupakan bagian dari iman.kita berhak dan wajib membela dalam kapasitas sebagai sipil membela negara dari segala ancaman baik luar,dalam moril dll.wassalam ana suka bersahabat.

Posted by hendi  on  09/29  at  09:15 PM

Untuk mempertahan nilai nasionalisme yg dianut Syekh Yasin dan untuk membentengengi faham faham wahabi, dan pola khilafah dan radikal tak karuan sdh saatnya sahabat ulil menggomandoi NU apalagi disaat sekarang figur Cerdas , Berani, Ikhlas dankemampuan managerial sangat dinanti guna kemaslahatan NU dan Bangsa ke depan . Monggo, nyatoreh, silakan pasang niat yang lurus bismillah kita berjuang

Posted by hasyim hadrawi  on  09/16  at  11:44 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq