Tamu Allah - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
27/02/2005

Tamu Allah

Oleh Abd A'la

Para jamaah haji yang mulai berdatangan saat ini pada dasarnya merupakan tamu Allah. Mereka datang mengunjungi Baitullah untuk “bertemu” dan “berjumpa” Sang Tuan Rumah, Allah Sang Pencipta alam semesta dan seluruh isinya. Dalam perjumpaan itu, mereka seyogianya bisa berkomunikasi dan berdialog intens dengan Sang Pencipta.

Para jamaah haji yang mulai berdatangan saat ini pada dasarnya merupakan tamu Allah. Mereka datang mengunjungi Baitullah untuk “bertemu” dan “berjumpa” Sang Tuan Rumah, Allah Sang Pencipta alam semesta dan seluruh isinya. Dalam perjumpaan itu, mereka seyogianya bisa berkomunikasi dan berdialog intens dengan Sang Pencipta.

Melalui dialog itu, suatu transformasi nilai diharapkan bisa mengalir deras. Sehingga, sepulang dari ibadah nanti terjadi suatu perubahan signifikan dalam sikap serta perilaku para tamu Allah tersebut.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ibadah haji adalah transformational journey yang membuat umat Islam seharusnya bisa terlahirkan kembali dan kehidupan mereka tercerahkan. Pertemuan dengan Allah meniscayakan terjadinya transformasi dahsyat dalam diri mereka, yaitu penemuan kembali ajaran Islam yang substantif.

Penemuan kembali ajaran berarti kembalinya para hujjaj, mereka yang telah mengerjakan haji kepada kehidupan fitri. Suatu kehidupan yang dapat mengantarkan mereka kepada sikap serta pandangan yang menekankan kesetaraan seperti saat mereka lahir yang tidak ada perbedaan satu dengan yang lain.

Namun, persoalannya, tidak setiap orang yang menunaikan ibadah haji dijamin bisa selalu menemukan Tuhan dan menjumpai-Nya. Sebab, tanpa mengabaikan realitas adanya mereka yang benar-benar menjadi �abd mun"b, manusia yang kembali kepada jalan Tuhan secara total, kita masih melihat sikap serta perilaku banyak orang yang telah berhaji yang tidak mengalami perubahan signifikan.

Meski telah menunaikan rukun Islam yang kelima, ada di antara mereka yang tidak mampu menyentuh nilai-nilai substansial ibadah haji dan mengontektualisasikan dengan kehidupan konkretnya. Bahkan, tidak jarang di antara mereka yang menjadikan haji sekadar simbol status sosial, simbol ketaatan keagamaan, dan sejenisnya.

Kenyataan itu menuntut umat Islam, khususnya para jamaah haji, untuk mem-baca kembali makna serta tujuan ibadah haji. Secara substansial, haji merupakan perjalanan napak tilas terhadap monoteisme Ibrahim (as) yang kemudian diaktualisasikan kembali oleh Nabi Muhammad (SAW). Ibrahim adalah bapak monoteisme yang menegaskan bahwa tauhid adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri karena kebenaran akhirnya hanya satu.

Jika kebenaran hanya satu, tentu Tuhan pun harus esa. Ini pada satu pihak. Pada pihak lain, monoteisme merepresentasikan pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Keesaan Tuhan meniscayakan adanya kemanusiaan yang tunggal, yaitu kesederajatan umat manusia.

Dengan demikian, ajaran substansial monoteisme merupakan keimanan yang akan membentuk moralitas sosial-kemanusiaan yang kukuh dalam setiap orang yang meyakininya.
Ajaran Ibrahim tersebut kemudian dielaborasi lebih jauh oleh Nabi Muhammad. Dengan berpijak pada Alquran, beliau menegaskan tentang Tuhan Yang Mahaesa sebagai zat yang transenden, tapi sekaligus imanen. Ia melampaui segala yang ada, tapi sekaligus “berada di samping” manusia dan selalu menyertai kehidupan mereka.

Ia adalah yang absolut yang memiliki kebenaran mutlak yang tak mungkin diganggu gugat, tapi sekaligus merupakan Tuhan yang sangat dekat yang selalu mau berdialog dengan manusia.

Allah akan selalu mendialogkan kebenaran yang bersifat universal tentang keterkaitan monoteisme dan kemanusiaan universal. Karena itu, manusia harus menerima kebenaran tersebut dan menjadikannya sebagai pijakan dalam perjalanan kehidupannya.

Ritual-ritual haji pada prinsipnya merupakan simbol yang bisa mengantarkan manusia untuk mengingat kembali tentang intensitas perjuangan Ibrahim yang didukung penuh keluarganya dalam mengangkat monoteisme tersebut. Ritual dalam sa�i �misalnya� menggambarkan tentang usaha tak kenal lelah Siti Hajar untuk mempertahankan kehidupan dalam rangka mendampingi serta mendukung perjuangan Ibrahim dalam pencarian kebenaran yang berujung pada monoteisme. Sedangkan ibadah kurban menjadi simbol tentang keyakinan dan ketabahan Ismail dalam mengemban kebenaran ajaran tersebut.

Salah satu inti monoteisme Ibrahim yang diabadikan dalam haji adalah persamaan dan kesederajatan manusia serta keharusan manusia untuk menghormati perbedaan. Khotbah Rasulullah pada haji wada� menggambarkan secara utuh tentang nilai-nilai universal tersebut.

Dalam haji ini, Nabi secara tegas menyatakan tentang keharusan manusia menghormati jiwa dan harta benda manusia yang lain. Nilai-nilai semacam itu diabadikan dalam ritual ihram yang mewajibkan mereka yang sedang berhaji untuk berpakaian sama sebagai lambang kesetaraan seluruh manusia tanpa harus melihat latar belakang etnis, suku, maupun status ekonomi mereka yang berbeda.

Melalui pelaksanaan yang sungguh-sungguh terhadap ibadah-ibadah haji, umat Islam diharapkan mampu menangkap pesan-pesan perenial tersebut dan melaksanakannya secara utuh serta istikamah sepulang haji. Mereka diharapkan mampu menjadi manusia kafah yang bisa meniru sifat-sifat Allah Yang Mahabijaksana, adil, damai, dan kasih.

Pada saat yang sama, mereka dituntut meneladani Rasulullah SAW yang terkenal dengan kejujuran, kepengasihan, serta kesederhanaannya, selain mencontoh pula keberadaannya sebagai rahmat bagi sekalian alam semesta. Jadi, melalui haji itu, mereka dituntut menemukan ajaran-ajaran Tuhan yang sangat menekankan pada pengembangan solidaritas sosial, keadilan, kesederajatan, perdamaian, serta ajaran sejenis yang signifikansinya sebanding dengan ajaran tentang ketauhidan.

Menarik sekali bahwa haji diwajibkan hanya sekali sepanjang hidup manusia sebagaimana hal itu dicontohkan secara konkret oleh Rasulullah. Karena itu, signifikansi haji bukan terletak pada dimensi kuantitas, tapi pada aspek intensitas manusia dalam berdialog dengan Allah serta kemampuan menangkap makna dan nilainya yang perlu diaktualisasikan terus-menerus sepanjang hidup.

Alangkah indahnya seandainya setiap orang yang berhaji mampu menjadikan hajinya sebagai wahana untuk dialog dengan Allah. Melalui dialog itu, dia mau mempertanyakan keberagamaannya yang selama ini dijalani; kekurangan dan keterbatasannya. Jika dia tulus mau mengakui kekurangannya itu, Sang Pencipta pasti akan menunjukkannya ke jalan yang lurus, kepada kehidupan yang lebih sempurna.

Jika setiap orang Indonesia yang berhaji mampu berdialog dengan Allah dan mewujudkan pesan-pesan Ilahi yang diterimanya, kehidupan di negeri ini pasti terasa lebih indah. Kedamaian akan lebih membumi secara nyata. Pada saat yang sama, kekerasan pasti tidak akan terus merebak. Minimal akan berkurang.

Konkretnya, seandainya mereka semua mampu menangkap substansi nilai ibadah haji serta bertekad mengembangkan nilai-nilai tersebut, tentunya sekembali ke tanah air mereka akan menjadikan keadilan, persamaan, dan solidaritas sosial sebagai pijakan kukuh dalam merengkuh kehidupan.

Lebih dari itu, mereka tidak akan melakukan haji berkali-kali ketika dia masih menemukan di sekelilingnya banyak manusia yang lemah yang perlu diberdayakan. Dia pasti mengutamakan mengembangkan nilai-nilai haji di tanah air semacam perdamaian dan solidaritas sosial antar sesama umat manusia daripada berhaji ke Makkah untuk yang kedua atau ketiga.

27/02/2005 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Pelaksanaan haji merupakan cerminan multikulturalisme yang ada dalam dunia Islam. Jutaan umat Islam dari berbagai negara yang memiliki latar belakang etnis berbeda mampu membaur menjadi satu di bawah payung solidaritas keislaman. Harusnya ini menjadi pemicu kepada siapapun yang melaksanakan haji ketika sampai di masyarakat mampu membaur, tidak elitis, bisa menolong sesama melalui landasan solidaritas keislamannya.  Hal ini karena setiap muslim dituntut untuk meningkatkan kesalehan hidup, baik itu kesalehan individu maupun kesalehan sosial. Tetapi sayang, hingga detik ini masih banyak umat Islam yang lebih mengutamakan kesalehan individunya daripada kesalehan sosial-nya. Padahal salah satu parameter untuk mengukur ketaatan kita terhadap ajaran agama adalah seberapa besar fungsi (kontribusi) kita terhadap sesama.  Dalam konteks masyarakat Indonesia, tampaknya haji tidak hanya dipahami sebagai pelaksanaan rukun Islam yang kelima melainkan lebih dari itu. Haji juga dimaknai sebagai peningkatan status sosial dalam masyarakat. Dalam artian, masyarakat yang telah melaksanakan haji hanya untuk memburu gelar haji di depan nama mereka. Bahkan ada sebagian yang merasa banggga dengan melaksanakan haji berkali-kali. Lebih dari itu ‘kadang’ melaksanakan haji ditujukan untuk menghapus kesalahan-kesalahan masa lalu. Makanya tidak heran jika banyak para koruptor ataupun penyakit masyarakat menunaikan ibadah haji guna menghilangkan stereotipe jeleknya.. Sebagai masyarakat yang masih terjebak dalam formalisme dan simbolime agama, masyarakat Islam Indonesia mudah tertipu oleh penampilan luarnya.  Betapa tidak, seseorang yang sudah bergelar haji – terutama yang berhaji lebih dari satu kali-pastilah mempunyai kedudukan sosial yang lebih tinggi di masyarakat.  Mereka sangat dihormati oleh masyarakat karena perubahan statusnya bukan karena amal ibadahnya.  Karena faktor inilah menyebabkan masyarakat Indonesia lupa terhadap hakekat kehidupan ini. Kenyataan ini dapat dilihat dari banyaknya masalah sosial yang seharusnya mampu dipecahkan umat Islam malah dibiarkan ‘seolah-olah’ bukan tanggung jawab mereka. Banyaknya umat Islam yang hidup di bawah garis kemiskinan, banyaknya anak jalanan yang tidak mampu melanjutkan pendidikan harusnya mampu menggugah rasa solidaritas kita sebagai umat Islam dengan tidak hanya mengedapankan kesalehan individu tetapi juga kesalehan sosial.  Bagi orang yang tidak hanya terjebak pada simbolisme agama tentunya masalah-masalah kemanusiaan ini sangat penting. Melaksanakan haji cukup hanya sekali, toh lebih dari satu hukumnya hanya sunnat. Penulis sependapat dengan Abd. A’la, biaya yang dihabiskan untuk haji berkali-kali akan lebih baik apabila disantunkan kepada orang-orang lemah untuk dijadikan modal produktif agar mereka tidak lagi mengalami kesulitan hidup. Nah, hal yang demikian ini sedikit kita temukan di negara Indonesia.

Ach. Baidowi Amiruddin, Sosiologi Agama & LPKM Introspektif UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
-----

Posted by ahmad baidowi amiruddin  on  03/05  at  05:04 PM

Pada awal kelahirannya, islam mendahulukan aqidah( pemahaman), baru ke syariat. sekarang, dominasi keberislaman di dasari oleh syariat ke aqidah(pemahaman). itulah yang menyebabkan mereka tidak mampu menyentuh nilai-nilai substansial ibadah haji dan mengontektualisasikan dengan kehidupan konkretnya. Begitu banyaknya fenomena yang menunjukan peribadatan seseorang tidak tertransformasikan kedalam gerak sosial secara kongkret, sehingga membuat seseorang itu hanya shaleh secara individual. Mudah-mudahan saja kelak, penyimpangan itu dapat diluruskan kembali. sehingga tidak ada lagi yang ngaji-ngajian, sholat-sholatan, haji-hajian, puasa-puasan.

Posted by ady  on  03/04  at  12:04 AM

Pada awal kelahirannya, islam mendahulukan aqidah( pemahaman), baru ke syariat. sekarang, dominasi keber-islaman di dasari oleh syariat ke aqidah(pemahaman). itulah yang menyebabkan mereka tidak mampu menyentuh nilai-nilai substansial ibadah ritual seperti haji dan mengontektualisasikan dengan kehidupan konkretnya. Mudah-mudahan saja kelak, penyimpangan itu dapat diluruskan kembali. sehingga tidak ada lagi yang ngaji-ngajian, sholat-sholatan, haji-hajian, puasa-puasan.

Posted by ady iskandar  on  03/02  at  12:04 AM

Komentar:  Tamu Allah

Para jamaah haji yang mulai berdatangan saat ini pada dasarnya merupakan tamu Allah. Mereka datang mengunjungi Baitullah untuk “bertemu” dan “berjumpa” Sang Tuan Rumah, Allah Sang Pencipta alam semesta dan seluruh isinya. Dalam perjumpaan itu, mereka seyogianya bisa berkomunikasi dan berdialog intens dengan Sang Pencipta.

Oleh Abd A’la

Assalamualaikum Saat pertama saya pergi naik haji, ketika menapak tilasnya, hati saya terharu, nangis, disamping saya ingin bertemu dengan Sang Pencipta (pada dasarnya merupakan tamu Allah, untuk “bertemu” dan “berjumpa” Sang Tuan Rumah, Allah Sang Pencipta alam semesta dan seluruh isinya). Saya merasakan dan mencoba berdialog mengenai apa yang saya alami, seperti saat tawaf, di mana banyak umat lemah terinjak-injak, menunjukan keegoisan umat terutama mereka yang datang dari wilayah lain, (saya mencoba menolong, tapi apa daya saya tidak mampu sebab jauh dari rombongan saya terhalang oleh banyaknya barisan), banyaknya copet, dan juga kebenaran akan cerita mengenai percobaan “penculikan” jenazah nabi (?) sebab yang saya tau dasar dari mesjid itu (Madinah)adalah bebatuan, bukan pasir, bagaimana membuat terowongan dalam gumpalan batu tersebut. Saya disuguhi informasi bahwa kalau saya solat di mesjid dsini dapat bonus sama dengan sekian ribu kali solat di mesjid biasa, dst.

Pada kesempatan ke dua perjalanan napak tilas terhadap monoteisme Ibrahim (as) yang kemudian diaktualisasikan kembali oleh Nabi Muhammad (SAW) itu, saya heran rasa haru saya tidak timbul, mungkin karena saya sudah mengetahui kondisi apa yang akan dihadapi terhadap orang lain. Mungkin itulah sebabnya kita tidak boleh lama-lama di sana. Di saat itu saya mengalami peristiwa / pertunjukan orang yang berkelahi disekitar ka’bah, mungkin karena tempat yang ia dapatkan seenaknya direbut orang baru datang (keegoisan), dengan demikian, ajaran substansial monoteisme merupakan keimanan yang akan membentuk moralitas sosial-kemanusiaan yang kukuh dalam setiap orang yang meyakininya, ternyata tidak tercapai.

Allah akan selalu mendialogkan kebenaran yang bersifat universal tentang keterkaitan monoteisme dan kemanusiaan universal, mungkin ini yang membekas pada diri saya sepulangnya dari sana, sehingga saya mencoba bergabung dengan JIL untuk menimba pemikiran para ahli yang bersebrangan, yang sebenarnya itu tidak boleh terjadi seperti apa yang kita saksikan sekarang di dunia ini, sehingga apa yang diharapkan yaitu salah satu inti monoteisme Ibrahim yang diabadikan dalam haji adalah persamaan dan kesederajatan manusia serta keharusan manusia untuk menghormati perbedaan, ternyata sangat sukar tercapai. Pesan-pesan perenial yang diharapkan tersebut, menjadi manusia kafah yang bisa meniru sifat-sifat Allah Yang Mahabijaksana, adil, damai, dan kasih, belumlah tercapai malahan pada diri saya timbul pikiran lain yaitu bahwa nabi Muhamad telah menunjukan pemikiran sangat jauh, beliau merupakan seorang ekonom hebat, mewajibkan para umat berhaji, berapa juta umat berbondong-bondong dalam setahunnya pergi berhaji maupun berumroh, sambil berwisata. Dan ini saya laksanakan karena saya mengharapkan ampunan dosa yang telah saya buat dan tentunya dapat masuk surga (?).

Bagaimana saya ingin melaksakan pengembangan solidaritas sosial, keadilan, kesederajatan, perdamaian, serta ajaran sejenis yang signifikansinya sebanding dengan ajaran tentang ketauhidan, sedangkan dilain pihak justru kebalikannya yang selalu mengatasnamakan Allah, sehingga timbul pemikiran, yang mana kebenaran yang benar itu?

Bagi mereka yang melakukan haji berkali-kali ketika dia masih menemukan di sekelilingnya banyak manusia yang lemah yang perlu diberdayakan. Saya mencoba tidak berkehendak naik haji lagi karena sekarang saya mengutamakan mengembangkan nilai-nilai haji di tanah air semacam perdamaian dan solidaritas sosial antar sesama umat manusia, sebab pada naik haji ke satu dan ke dua itu saya rasakan perbedaannya sangat sedikit. Logislah apabila saya berkesimpulan bahwa saya diberi kemampuan oleh Allah naik haji, mungkin hanyalah karena untuk memuaskan ego yang tersinggung dilecehkan oleh pendapat masyarakat kalau belum menyandang gelar “H” maka tidak ada artinya dan mungkin juga demi menjawab kekecewaan orang tua (ayah) dan kakek saya yang belum mampu naik haji saat itu, dan alhamdulilah dapat melaksanakan impian mereka yang telah tiada dengan menghajikan mereka. Wassalam

Posted by H. Bebey  on  02/28  at  08:04 PM

Satu hal selalu menyedihkan daku mengingat ibadah Haji yakni kenyataan bahwa semua lokasi ibadah itu sudah di ‘perbagus’ oleh arsitek-arsitek modern sehingga berbeda dengan lokasi asalnya. Selain itu persaudaraan Islam memanggil dalam persatuan dan kesatuan namun kebangsaan modern membatasi perpindahan manusia dengan paspor dan visa. Untuk ritual Haji itu bermakna sedalam yang dialami para sahabat Nabi SAW tentu lokasi ibadah juga penting sebab itu menjadi setting pengalaman spiritual yang diberikan ritual tersebut. Bagaimana komentar para ahli?

Salam Bram

Posted by Bramantyo Prijosusilo  on  02/28  at  01:03 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq