Tantangan Pluralisme dan Kebebasan Beragama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
17/07/2006

Tantangan Pluralisme dan Kebebasan Beragama

Oleh Muhamad Ali

Juli ini, Universitas Paramadina mengadakan Ceramah Memperingati Wafatnya Nurcholish Madjid (Cak Nur) dengan tema Islam dan Kemajemukan Indonesia. Salah satu subtemanya adalah Masa Depan Kebebasan Beragama di Indonesia.

Juli ini, Universitas Paramadina mengadakan Ceramah Memperingati Wafatnya Nurcholish Madjid (Cak Nur) dengan tema Islam dan Kemajemukan Indonesia. Salah satu subtemanya adalah Masa Depan Kebebasan Beragama di Indonesia. Diskusi ini bertujuan menyebarluaskan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya sikap optimis menghadapi kemajemukan bangsa sebagai penyokong proses demokratisasi, menyebarluaskan wacana pluralisme yang berbasis pesan-pesan dasar Islam, menumbuhkan sikap keberagaman yang terbuka, serta membangun jaringan inteligensia muslim antarkampus di Indonesia.

Tujuan di atas sangat penting di tengah pertentangan wacana dan gerakan politik dan masyarakat sipil dewasa ini dalam menyikapan pelbagai aliran agama dan politik yang berbeda (the Other). Meski revolusi komunikasi dan informasi telah meningkatkan kesadaran akan kemajemukan masyarakat pada semua kelompok masyarakat, masih banyak kelompok orang yang belum menganggap kemajemukan sebagai kenyataan yang positif dan punya basis Islam yang mendasar.

Mengenal kemajemukan (pluralitas) tak sama dengan mengakui, memahami, dan menyakininya sebagai kenyataan yang mengandung kebajikan (pluralisme). Karena itu, perjuangan menyebarluaskan nilai-nilai positif kemajemukan, tidak akan pernah kehilangan relevansi dan urgensinya. Sebab, kenyataan sosiologis negeri ini menunjukkan bahwa eforia reformasi telah membuka peluang kebebasan dan pengungkungan atas kebebasan sekaligus. Suara-suara bising (noisy voices) muncul dari hampir semua individu dan kelompok yang pernah terkekang beberapa dekade sebelumnya. Ekspresinya bisa muncul berupa ceramah dan tulisan penuh kecaman dan hujatan, maupun aksi bersenjata, pemboman, penyerbuan massal, intimidasi fisik dan psikologis, serta pemaksaan mengikuti aliran agama utama. Semuanya menimbulkan hilangnya rasa aman dan damai di bumi pertiwi Indonesia.

Kenyataan itu diperkuat pula oleh pemahaman sempit sebagai orang akan makna pluralisme, sekulerisme, liberalisme, dan perkembangan aliran-aliran keagamaan di Indonesia. Akibatnya, sikap terbuka dan pluralisme dalam bermasyarakat menjadi makin sulit terwujud. Pluralisme misalnya, telah diyakini bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar kepercayaan (akidah) Islam. Ini diperparah kenyataan bahwa pemahaman makna dan maksud pluralisme dan kebebasan beragama tingkat elit dan kaum terdidik pun masih bermasalah. Disinilah pentingnya meluruskan kekeliruan berpikir (fallacies) tentang pluralisme.

Anggapan pertama menyebut pluralisme bukan berasal dari Islam dan tidak pernah muncul dalam sejarah pemikiran Islam yang otoritatif. Ayat-ayat tertentu dijadikan alasan membenarkan anggapan ini, seperti ketidakrelaan kaum Yahudi dan Nasrani terhadap Islam; hanya Islam agama yang ada disisi Allah, dan anjuran jihad fi sabilillah terhadap syirik dan kekufuran. Ayat-ayat itu diambil secara parsial dan tekstual, tanpa memperhatikan sebab-sebab dan konteks diturunkannya.

Padahal, sebagaimana dijelaskan Gamal al-Banna dalam Al-Ta’addudiyah fi al-Mujtama al-Islamy dan Muhammad Sachedina dalam the Islamic Roots of Democratic Pluralism (2001), Alquran merupakan fondasi otentik pluralisme. Alqur’an telah mengakui perbedaan bahasa dan warna kulit, kemajemukan suku -bangsa, mengakui perbedaan kapasitas dan intelektualitas manusia, serta mengajak berlomba dalam kebajikan dan membiarkan sinagog-sinagog, gereja-gereja, masjid-masjid, dan tempat-tempat ibadah lainnya tetap berdiri kokoh. Bahkan, Alqur’an mengakui kebebasan berkeyakinan (untuk beriman atau tidak), serta masuk dan keluar dari agama tertentu. Alqur’an juga sudah menjelaskan bahwa Nabi dan manusia manapun tidak mesti ampuh memberi petunjuk pada manusia lain, atau menyatakan sesat dan kufur kepada manusia lain.

Penganut Yahudi, Kristen, dan Islam, adalah saudara seiman dan sebapak, yaitu Ibrahim. Selain terhadap Yahudi dan Kristen, Islam juga bersaudara dengan seluruh penganut agama yang tidak sombong dan emoh berbuat kerusakan. Tuhan menurunkan ratusan ribu nabi dan rasul yang tidak sempat diceritakan. Karenanya, tak ada alasan untuk mengkafirkan dan mengutuk Konfusianisme, Buddhisme, Ahmadiyah, dan sebagainya. Alquran juga sudah menjelaskan, tidak ada pembedaan mendasar antar para Nabi, dan perbedaan dan perselisihan antarumat beragama hendaknya diserahkan langsung kepada Dirinya kelak.

Pandangan ini menawarkan pemahaman lebih komprehensif dan menolak ayat-ayat tertentu dijadikan legitimasi kekerasan atas nama Tuhan. Pandangan ini juga mencoba melihat ayat-ayat Alquran dalam konteks tertentu, mengambil intisarinya, ketimbang rincian-rincian yang dapat berubah sesuai perkembangan zaman dan tempat.

Pluralisme juga tidak berarti membenarkan semua atau menganggap tak bernilai semuanya (nihilistik). Sebab faktanya, ada saja manusia-manusia beragama yang ingkar karena kesombongan mereka. Juga ada manusia-manusia perusak yang mengklaim diri telah berbuat kebajikan di muka bumi. Namun manusia tetaplah dinilai Tuhan berdasarkan akal, hati, dan perbuatannya. Manusia tidak punya hak untuk menghakimi iman manusia-manusia lain. Manusia hanya dilihat dari aksi lahiriahnya, baik yang bajik maupun tidak bajik.

Anggapan keliru lain adalah menganggap bahwa kebebasan beragama hanya terjadi ketika orang belum masuk Islam. Menurut anggapan ini, orang bebas masuk Islam atau tidak, tetapi ketika sudah memeluknya, aturan-aturan dan pembatasan-pembatasan Islam wajib ditegakkan dengan cara paksaan dan kekerasan sekalipun. Pemahaman seperti ini bisa mengarah pada pembenaran tindak pengrusakan dan kekerasan. Padahal dalam ayat la ikraha fiddin, sama sekali tidak ada kalimat “masuk” agama. Artinya, tak ada paksaan dalam agama juga berarti tidak adanya pemaksaan dalam cara beragama dan berbakti kepada Tuhan, serta tidak adanya paksaan dalam memeluk agama dan aliran tertentu. Kebebasan beragama bersifat menyeluruh sekaligus terkait dengan hukum negara yang berlaku.

Anggapan lain menuduh paham kebebasan beragama merupakan konsep HAM sekuler Barat yang bertentangan dengan Islam. Padahal, kebebasan beragama tidak sekadar HAM Barat yang harus dilindungi, baik oleh Universal Declaration of Human Rights (1948), Pancasila dan Konstitusi kita, tapi juga merupakan kehendak Tuhan yang Ia sendiri enggan mengubahnya. Analisis pelbagai ayat Alqur’an dan teladan Nabi Muhammad membuktikan tidak perlunya pesan-pesan Tuhan disampaikan dengan tindak kekerasan dan pemaksaan. 

Karena mayoritas penduduk Indonesia muslim, muncul juga anggapan kalau kelompok-kelompok Islam berhak mewujudkan hukum yang ekslusif bagi orang Islam sendiri di luar hukum negara. Kesalahan persepsi tentang “hak mayoritas” ini diidap oleh banyak aktivis partai dan gerakan yang mengklaim diri memperjuangkan Islam. Namun sejarah membuktikan, risiko yang akan ditanggung umat Islam dan bangsa Indonesia, akan lebih besar daripada manfaat yang diimpikan dari anggapan itu.

Karena itu, penting menyimak fakta bahwa bukan hanya Kitab Suci yang perlu dijadikan landasan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, tapi juga unsur Hikmah. Dalam banyak ayat, kata Kitab dan Hikmah sering digandengkan, karena Kitab saja tak akan memadai demi menjawab permasalahan manusia. Hikmah adalah wawasan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan menggunakan nalar, dan keterampilan mengelola perbedaan dan menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan, dengan bercermin pada sejarah. Hikmah bisa pula berarti falsafah atau kecenderungan untuk selalu menjemput kebenaran dan seni menikmati perbedaan. Karena itu, selain berpegang pada Kitab, umat Islam juga perlu kebijaksanaan yang ditampung dalam konsep Hikmah.

Dengan demikian, jelaslah bahwa pluralisme bukan barang asing bagi Islam. Kebebasan beragama pun bukan sekadar doktrin Barat sekuler yang tidak punya preseden normatif dan historis di dalam Islam. Namun, perjuangan mewujudkan pluralisme dan prinsip kebebasan beragama di Indonesia, tampaknya tidak akan pernah mudah. Namun, agenda untuk menyokong tumbuh-kembangnya sikap terbuka, saling menghormati, dan sama-sama berjuang menegakkan keadilan dan kesejahteraan hidup bersama, tetap perlu kita jadikan agenda utama.

Muhamad Ali adalah dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, alumnus MSc Islam dan Politik di Edinburgh University, Inggris, dan kini kandidat Doktor Sejarah di University of Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat.

17/07/2006 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (6)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Yah, memang banyak orang yang berpikiran begitu. tapi tolong, jangan kaitkan orang Yahudi atau Kristen dengan kebebasan seperti itu. Saudara Rudiana tampaknya memang berniat untuk membenci. Dan hal itu sangat tidak efektif bila digunakan untuk mencapai kedamaian. Sekarang begini saja, Saudara kan tidak ingin dipaksa menganut suatu ajaran, Saudara boleh menganut ajaran Islam. Nah, itu pun sudah diklasifikasikan sebagai kebebasan, hak Saudara. Konyol sekali kalau Saudara menyangkal hal itu atau mengatakan bahwa kebebasan itu milik kaum Yahudi. Saudara mau menerapkan ajaran agama Saudara secara “strict”, ya itu sih terserah saudara. Kebebasan itu melekat di dalam diri tiap manusia, tidak ada hubungannya dengan kaum Yahudi atau agama manapun. Sekarang sih, esensinya, manusia ingin hidup aman dan tentram. jadi, urusi urusan masing-masing dulu, baru boleh melangkah ke komunitas yang agak besar. Begitu saja. Pangkal perseteruan antara umat Islam dan Kristen selama ini mungkin hanyalah itu. Dan perlu Saudara ketahui, Yesus juga seorang Yahudi [bangsa Yahudi dan “beragama” Yahudi] dan Ia menentang sistem di komunitas masyarakat saat itu yang salah, bukan dengan membenci. Saya rasa ini bersifat universal. Soal setuju atau tidak dengan kebijakan-kebijakan kontroversial Pemerintah AS atau Israel, seperti yang telah terjadi di Irak dan Palestina, wah saya dan Saudara sama-sama sependapat. Jadi harap dicamkan bahwa kebebasan itu melekat di dalam diri manusia, bahkan Saudara sendiri. Ya kalau Saudara masih terus-terusan bersikap begitu, kapan selesainya, nih masalah. Sampai nanti matahari menggembung dan menelan Merkurius dan Venus masalah ini tak akan selesai-selesai, dong. Bersikaplah lebih dewasa, bukankan Saudara tahu bahwa membenci, di mana pun itu, adalah perbuatan buruk? Tuhan saya, Saudara, dan kita semua, tidak AKAN pernah mati. Salam.
-----

Posted by G.H. Pranadita  on  07/28  at  05:07 AM

Pluralisme adalah hasil pemikiran Orang Yahudy bangsa yang telah membunuh Tuhan kamu. Di Islam tidak ada Pluralisme, Yang ada Demokrasi yang Jujur dan Adil. kalau Pluralisme berjalan dengan baik di Seluruh Dunia makan orang yahudi akan lebih mudah nguasi Dunia. Sebenarnya di Al Qur’an tidak ada Anti siapun, dan harus saling harmonis dengan tetagga walaupun tetangga itu non Muslim (maaf kafir.Tapi sebenar tidak ada yang benci, tapi karena ada sikap adu Domba, dan Provokasi dari orang kristennya sdendiri jadi bisa terjadi. Seperti Kasus Hipnotis orang islam yang dipaksa masuk kristen cukup banyak. di Islam haram hukumnya memaksa orang lain masuk Islam, tapi dikristen Misiionaris cukup memaksa. salah satunya itu. Terus orang Kristen/penduduk yang mayoritas kristen pada Radikal seperti di luar negeri, tapi kenapa banyak yang nyebut orang islam radikal itu semua kami tak nerima. Radikal mana 300 Kristen Amerika yang menhabisi Irak, Libanon, Palestina, bahkan mereka memperkosa ibu hamil. Di Islam semua kelakuan itu tidak Boleh. Jangan itu Kencing tidak dicucipun akan dapat Siksa kubur. apa lagi nyakitin orang (maksiat) Dunia ini tidak akan damai semasih ada orang Yahudi. (kaum yang membunuh Tuhan kamu) jadi kita selalu di adudomba olehnya. Seandainya islam ngga adapun Kristen -sama kristen akan di Adu Domba. Yahudi juh=ga benci kristen sampai Tuhannya dibunuh.

Posted by Cecep Rudiana  on  07/27  at  06:07 AM

Saya, sebagai salah satu penganut Katolik selalu berusaha memercayai kemampuan saudara-saudara Muslim untuk menjaga iklim yang dicita-citakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia ini, terutama karena Islam adalah agama yang memberikan corak paling tegas di dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Tetapi kita harus terus-menerus merefleksikan [oh, ya. refleksi amat penting] segala kejadian yang terjadi di dalam masyarakat. Nyatanya saja rakyat Indonesia sangat akrab dengan sentimen agama yang nantinya sangat mungkin diwujudkan melalui kekerasan dan anarkisme.

Saya jadi berpikir, katanya Islam memandang pluralisme dan sekularsime sebagai sesuatu yang sudah terintegrasi di dalam Islam sendiri. Tapi lha nyatanya? Nihil.

Muhammad Ali tidak memberikan solusi-solusi riil yang memiliki pengaruh yang signifikan, paling tidak di dalam lingkungan terkecil di dalam masyarakat. Dan terus terang saya sangat mengidam-idamkan hal itu.

Menurut saya ajaran Islam di Indonesia sudah banyak mengalami perubahan. Pada satu sisi, perubahan ini sangat mengkhawatirkan bagi pencapaian suasana yang kondusif di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Misalnya saja sikap anti-Kristen yang ditunjukkan oleh beberapa kelompok Islam reaksi dari agresi Amerika dan sekutunya. Sangat tidak masuk akal! Tetapi di sisi lain ada baiknya bahwa Islam di Indonesia sudah mulai dapat berusaha menanamkan nilai-nilai demokrasi di dalamnya. Saya berharap saudara-saudara Muslim dapat menjaga kepercayaan kami sebaik mungkin agar bersama-sama kita dapat mewujudkan Republik yang bersatu, tanpa kavling-kavling agama. Salam.

Posted by G.H. Pranadita  on  07/19  at  05:08 AM

Saya sangat setuju dgn kalimat “Alqur’an juga sudah menjelaskan bahwa Nabi dan manusia manapun tidak mesti ampuh memberi petunjuk pada manusia lain, atau menyatakan sesat dan kufur kepada manusia lain” karena memang Allah yg memperingatkan Nabi untuk tidak memaksakan ajarannya kepada kaumnya.

Hanya Fir’aun yg memaksakan suatu ajaran kepada kaumnya, memfatwa mati, mengejar2x mereka yg tidak percaya pada kepercayaan Fir’aun..lho kok persis seperti kelakuan ormas2x Islam garis keras di negeri kita ini ya. Kenapa mereka mencontoh kelakuan Fir’aun bukannya Nabi? Apakah mereka sudah kehilangan hidayah? Sudahkah mereka membaca Al Quran bukan sekedar mengaji? wallahualam bish”awab.

Posted by Ahmad Arief  on  07/18  at  06:07 AM

Setuju sekali dengan yang dikatakan saudara Abu Fatih. Hanya yang orang yang berfikiran sempit atau dangkal yang memahami sepilis dengan semangat berkobar. Seandainya semangat itu ditujukan untuk hal yang lebih penting, barangkali umat islam tidak terintimidasi dinegri sendiri. Kasihanilah diri anda.

Posted by LIA  on  07/18  at  04:07 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq