Tasawuf Mendorong Keberagamaan Inklusif - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
17/02/2002

Budhi Munawar-Rachman Tasawuf Mendorong Keberagamaan Inklusif

Oleh Redaksi

Karena tasawuf berurusan dengan soal-soal kerohanian, maka agama di sini harus dilihat dalam arti spiritual, arti spiritnya. Manusia sebenarnya punya satu ikatan primordial dengan Tuhan. Maka kata dien dalam al-Qur’an menjadi menarik, karena artinya adalah binding yang berarti ikatan manusia dengan Tuhan. Justru pada segi ini tasawuf memberikan perhatian yang sedalam-dalamnya, bukan dalam arti lahiriyah, seperti syari’ah sudah memikirkan fiqih.

Ada perkembangan menarik di seputar kegairahan masyarakat perkotaan terhadap sufisme. Trend spiritual yang positif ini urgens untuk menepis formalisme keberagamaan masyarakat kita. Demikian analisis Budhy Munawar-Rachman, Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina. Hanya saja, saran Budhy, para penggiat tasawuf diharapkan tidak terjebak pula pada tataran kesalihan simbolik ini. Pada sisi lain, tasawuf juga lebih terbuka “menerima” tafsir kebenaran dari mana pun datangnya. Inilah yang menurut Budhy menjadi potensi pengembangan kehidupan beragama yang lebih toleran dan inklusif. Berikut petikan wawancara Budhy Munawar-Rachman dengan Ulil Abshar-Abdalla) dari Kajian Utan Kayu di Studio Kantor Berita Rradio 68H (14/2/02). Berikut Petikannya:

Dewasa ini muncul banyak kelompok tasawuf, dan banyak tokoh yang menjadi pembimbing di dalamnya, seperti Kang Jalaluddin Rahmat, Dr. Aqil Siraj, dan lain-lain. Anda ‘kan melakukan riset tentang perkembangan ini. Kenapa di kota-kota ini ada kegairahan untuk masuk ke dalam kelompok tasawuf ini?

Sebenarnya gejala yang kita lihat di kota-kota besar seperti di Jakarta dan sebagainya adalah merupakan gejala yang tidak berdiri sendiri. Ini merupakan fenomena global. Pada tingkat ini, kita melihat adanya kebangkitan spirituallitas dan mistik. Munculnya perkembangan gerakan dan pemikiran berkaitan dengan yang biasa disebut new age dan sebagainya. Dalam konteks Islam, yaitu munculnya tasawuf perkotaan, neo sufisme, dan macam-macam nama yang berkaitan dengan fenomena ini. Ini memang berkaitan dengan kebutuhan kerohanian dari masyarakat kota yang rupanya tidak menjadi sekuler. Seperti yang pernah dikatakan oleh sosiolog bahwa masyarakat akan meninggalkan agama, tapi yang terjadi bukan meninggalkan agama tetapi memperdalam dari agama.

Jadi agama bukan terpinggirkan dari masyarakat akan tetapi justru mendapatkan tempat kembali. Kenapa tasawuf menjadi pilihan dan bukan pilihan-pilihan yang lain?

Pilihan memang banyak. Misalnya pada awal tahun 1970-an Harvey Cox menulis The Secular City dan ia sangat yakin, pada awal 1970-an agama sebentar lagi akan ditinggalkan orang. Tapi pada tahun 1980-an ia menulis revisi pada buku Religion in the Secular City, dan pada buku tersebut ia mengemukakan bahwa ada kebangkitan agama dengan fenomena teologi pembebasan, sebenarnya itu salah satu teologi pembebasan. Ekspresi lain yang sekarang banyak ditulis oleh orang, misalnya Fritjof Capra menulis Tao of Fisic tapi sebenarnya itu satu fenomena yang menandai munculnya gerakan ini yaitu mistisisme.

Kalau dalam kontek Indonesia, kenapa pilihannya sufisme?

Mungkin karena ada kejenuhan berkaitan dengan keberagamaan yang formalistis.

Kalau tidak salah, pada pertengahan 80-an atau awal 90-an Naisbitt pernah menulis bahwa agama resmi semakin tidak disenangi orang, dan orang lebih suka kepada agama yang tidak terorganisir, dan itu bentuknya adalah spiritualitas atau sufisme. Kenapa begitu?

Kalau mengikuti Naisbitt, dia membayangkan new age, yang tidak punya kaitan dengan agama dalam arti formal. Naisbitt berkata Organized Religion No, Spiritulity Yes, tapi yang terjadi Organized Religion Yes, Spirituality Yes. Itu fenomena yang kita lihat, terutama di Indonesia dan dunia Islam yang lebih luas. Spiritualitas itu tidak bisa tumbuh subur, dalam dunia Islam, kalau tidak berkaitan dengan Organized Religion, dalam hal ini adalah Islam. Kita bisa lihat, macam-macam spiritualitas yang umum, seperti meditasi, yoga, itu di dunia Islam kurang subur.

Seperti yang anda katakan tadi bahwa sufisme digemari karena orang jenuh dengan agama yang formal, apakah sufisme ini bukan agama formal?

Dari sejarahnya sufisme sebenarnya melebihi formalitas. Sufisme akan masuk pada tahap yang lebih dalam, dan lebih dari syari’ah. Dia merupakan perjalanan lebih lanjut dari syari’ah. Dia masuk pada bidang-bidang yang esoterik bukan lahiriyah saja tapi yang batiniyah. Ciri khas pada sufisme adalah pada yang batiniyah itu.

Artinya yang disentuh di situ adalah aspek-aspek hubungan batin manusia dengan Tuhan, ketimbang ritualnya?

Dari segi interior, manusia yang di situ ada segi psikologis yang paling mendasar, dan lebih dalam lagi segi spiritual.

Bagaimana sebenarnya sejarah tasawuf atau sufisme dalam Islam itu?

Kalau ditanyakan tentang sejarah tasawuf, memang tasawuf muncul sebagai suatu reaksi, karena memang pada saat itu dunia Islam mendapatkan perkembangan yang pesat sekali, sehingga kekayaan mengalir kepusat-pusat Islam dan pada saat itu kemewahan menjadi sesuatu yang tidak terkendali. Tasawuf muncul sebagai reaksi dari kehidupan mewah ini. Dan kita tahu Rabi’ah al-Adawiyah yang pertama kali mengkritik tentang ini, dan ini awal mulanya tasawuf. Dan mereka kemudian mulai memikirkan cara hidup sederhana, cara hidup kontemplasi yang sudah dirintis oleh orang yang hijrah dari Mekkah.

Ada yang kekhawatiran sebagian orang bahwa sufisme adalah pelarian orang yang kurang paham syari’at lalu loncat langsung ke inti agama?

Justru ini yang sudah jelas dalam Islam. Tasawuf tidak bisa lepas dari syari’ah. Bahkan syari’ah itu pintu masuk untuk tasawuf. Tidak ada loncatan sehingga orang bisa masuk ke dunia spiritual tanpa syari’ah. Justru itu kritik dari banyak kalangan pemikir/filosof terhadap tasawuf dewasa ini seperti dari kalangan Perenial Fritjof Schuon. Karena golongan mistik di Barat itu ingin memotong jalur syari’ah itu loncat kepada spiritual. Hal itu seperti membuat pohon cangkokan yang tidak memiliki akar yang dalam. Mungkin tumbuh tapi tidak kuat. Tapi kalau tasawuf dengan syari’ah punya akar yang dalam sekali. Karena syari’ah punya akar primordial yang jauh sekali, yang diyakini dalam iman.

Bisa nggak Anda bercerita sedikit bagaimana pandangan dasar tasawuf mengenai agama atau apakah manfaat agama buat manusia dalam pandangan tasawuf?

Karena tasawuf berurusan dengan soal-soal kerohanian, maka agama di sini harus dilihat dalam arti spiritual, arti spiritnya. Manusia sebenarnya punya satu ikatan primordial dengan Tuhan. Maka kata dien dalam al-Qur’an menjadi menarik, karena artinya adalah binding yang berarti ikatan manusia dengan Tuhan. Justru pada segi ini tasawuf memberikan perhatian yang sedalam-dalamnya, bukan dalam arti lahiriyah, seperti syari’ah sudah memikirkan fiqih. Tapi jauh mengenai itu. Justru setelah syari’ah itu apa, kedalaman apa, hubungan apa yang bisa dibangun manusia dengan Tuhannya yang lebih personal? Karena tasawuf lebih personal. Kenapa orang sekarang lebih banyak membutuhkan tasawuf? Karena orang sekarang lebih banyak bekerja dan banyak hidup pada dunia eksterior, dunia luar, dunia dhahir dan sangat pesat sekali. Karena modernitas adalah dunia yang sangat eksterior. Hampir sepenuhnya eksterior tanpa perhatian sama sekali pada perhatian dunia interior. Karena dunia dalam ini sudah dihapus pada dunia filsafat modern.

Jadi dunia yang menekankan aspek lahiriyah itu maka kebutuhan akan batin menjadi kuat?

Kuat sekali, rupanya ini tidak dibayangkan oleh para kritisi modernitas, yang dulu mengganggap bahwa alternatif dari agama adalah atheisme.

Bagaimana dengan peran mursyid dalam —apa yang disebut sebagai— urban sufism?

Tasawuf itu sesuatu diajarkan oleh Rasulullah SAW, dan para sufi juga mengakuinya. Karena itu memang agama intinya ada pada tasawuf, itu yang selalu dikatakan oleh para sufi. Justru Syari’ah adalah jalan untuk menuju pada inti ini. Peran mursyid memang sangat penting dalam tasawuf, karena para mursyid inilah yang membimbing kita. Karena perjalanan spiritual ini perjalanan yang sulit, jalan yang terjal al-Qur’an menyebutnya, dan harus ada pembimbingnya. Di dalam mistik agama peran mursyid kuat sekali. Tapi tidak semua orang setuju mengenai soal ini. Misalnya Hamka didalam buku “Tasawuf Modern”. Pada akhirnya setiap orang harus menjadi mursyid untuk dirinya sendiri. Ibnu Taimiyah juga termasuk ke dalam tokoh seperti ini.

Ada yang berpendapat bahwa tasawuf adalah bentuk eskapisme dari persoalan duniawi. Bagaimana komentar Anda?

Belajar tasawuf bukan berarti meninggalkan segalanya. Pandangan orang mengenai tasawuf harus menjauhkan diri dari dunia, saya kira, kurang tepat. Tasawuf justru mempertanyakan apakah kita bisa melakukan kehidupan kesufian ini justru di dalam dunia, misalnya di perkotaan. Misalnya nenek moyang kita yang di desa lebih mudah mendapatkan atmosfer yang bagus tetapi kalau kita bisa mendapatkan pengalaman keruhanian ditengah kota itu suatu prestasi yang lebih besar.

Apa kira-kira pandangan dasar tasawuf terhadap kebenaran dari kelompok lainnya?

Memang menarik, karena ide-ide tasawuf bisa kita temukan tidak hanya pada orang-orang muslim, justru kita di sini bisa mengatakan tasawuf adalah disiplin keislaman yang lebih terbuka terhadap kebenaran dari agama lain, segi-segi yang universal dalam agama. Sehingga orang yang belajar tasawuf sebenarnya akan terdorong untuk menjadi lebih terbuka, lebih pluralis dan lebih kosmopolit. Bagaimana memulainya? Saya kira dengan penjelasan tadi bahwa tasawuf dengan kehidupan itu sendiri sebenarnya tidak terpisahkan. Artinya jika seseorang belajar tasawuf dia tidak hanya belajar agama saja akan tetapi dia belajar bagaimana hidup ini.

Anda belum menjelaskan kelompok-kelompok tasawuf yang berkembang sekarang ini?

Yang sekarang berkembang sangat pesat adalah Tarikat Qodiriyah Naqsabandiyah, saya kira paling besar. TQN orang menyebutnya. di Jawa Timur ada sangat besar. Di Jawa Barat Pondok pesantren Suryalaya yang mewakilinya. Di Jakarta juga mengikuti tasawuf sebagian besar dari TQN ini. Nanti selanjutnya ada Tarikat Naqsabandiyah yang juga besar pengaruhnya di Sumatera. Dan saya kira mereka ini yang membawa Islam pertama kali di Nusantara. Kekuatan yang ada pada tasawuf inilah yang mengeliminasi kesan bahwa Islam diperjuangkan melalui jalur ekspansi. Setelah masa ekspansi itu selesai, sebenarnya Islam berkembang kedaerah-daerah termasuk ke Indonesia itu tidak lewat faith tapi lewat tasawuf.

Sejarawan Anthony Reid pernah menyebut sebagai penetration pacific, yang artinya masuknya Islam secara damai.

Iya, bisa dibayangkan kondisi Indonesia pada saat itu yang masih kuat pengaruh Hinduisme dan Budhisme, kemudian bisa menjadi bangsa Muslim. Kalau tidak karena kerja keras para sufi yang kita sebut “Walisongo” itu, saya kira, tidak mungkin terjadi.

Artinya menurut Anda, tasawuflah yang paling mempunyai potensi terbuka terhadap segala kebenaran dari agama-agama lain sehingga melalui tasawuflah kita bisa membangun dialog antar agama. Bagaiamana anda bisa menjelaskan ini?

Karena di dalam tasawuf sebenarnya, kita menemukan kebenaran yang sama. Kebenaran yang bukan merupakan rumusan dogmatis. Kalau teologi biasanya orang bisa berdebat mengenai teologi, tetapi kalau pengalaman iman orang tidak bisa berdebat. Orang yang bisa sharing kekayaan pengalaman itu dipunyai oleh para sufi, para mistik, para guru Yoga, para Budhis, para guru Zen di Jepang, para Taoism di China. Agama sebagai pengalaman menjadi kategori yang sangat penting, dan lebih penting daripada agama sebagai rumusan.

Apakah kita bisa mengatakan bahwa dengan tasawuflah orang bisa sempurna agamanya?

Para sufi akan mengatakan seperti itu, yang memungkinkan para penganut disiplin lain akan setuju. Para filusuf banyak yang tidak setuju dengan ini. Dan juga para pemikir modern seperti Arkoun juga tidak setuju. Itu merupakan klaim yang berlebihan dari para sufi. Saya kira lebih baik kita mengatakan ada banyak jalan menuju Tuhan.

Saya melihat ada gejala yang sedikit mengkhawatirkan, agama sebagai sumber konfrontasi antar-kelompok. Apakah kita bisa mengatakan bahwa perkembangan tasawuf yang makin populer ini bisa menjadi solusi yang positif ?

Kita boleh berharap begitu. Sejarah yang akan mengujinya apakah tasawuf tidak menjadi eksesif, atau menjadi agama baru, atau tidak lebih menjadi yang formalisme dan juga dogmatis. Ujian paling besar dari perkembangan tasawuf di Indonesia adalah apakah dia mampu menunjukan wajah Islam yang lebih inklusif? Seharusnya tasawuf mampu lulus ujian. []

17/02/2002 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

menurut saya (lafaji el-Haq)
tasawuf adalah cara berbelit-belit mempelajarai islam. kalau ada cara yang lebih praktis, mudah, dan lebih dijamin kebenarannya, yaitu belajar langsung Al-Qur’an dan al-Sunnah, buat apa mempersulit diri menempuh jalan berliku-liku seperti tasawuf.

Posted by lafaji  on  10/29  at  12:13 PM

dari yg saya tahu slama ni, oarang yg sdh terlanjur tenggelam pada dunia tasawuf akan lupa pada koridor-koridor syari’ah. mereka sering menciptakan hukum sendiri dalam berhubungan dengan Tuhannya. bagaimana menurut anda tentang hal itu??

Posted by me  on  03/30  at  09:35 AM

Dalam benak saya yang awam, tasawuf adalah jalan untuk menjaga hati, pikiran, sikap,dan tindakan dari segala dosa. Mungkin akan berat menjalaninya jika tetap masih hanyut pada kehidupan duniawi yang sarat dengan kebutuhan sejalan dengan sifat manusia yang lemah. Dalam pikiran saya, posisi itu seperti kita menjejakkan kaki pada dua perahu. Satu kaki di atas perahu yang berjalan ke utara, satunya lagi pada perahu yang berjalan ke selatan. Apakah itu mungkin? Bagaimana? apakah saya salah? Atau adakah penggambaran yang lebih tepat dari yang saya pikirkan? Terima kasih bagi yang mau membantu saya
-----

Posted by azis  on  02/10  at  11:03 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq