Teks Sebagai Jendela dan Cermin - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
09/04/2006

Teks Sebagai Jendela dan Cermin

Oleh Dr. Ioanes Rakhmat

Teks kuno Kitab Suci (atau teks apa pun) secara metaforis dapat diperlakukan sebagai sebuah “jendela” (atau sebuah teropong atau sebuah lubang kunci atau sebagai sebuah jembatan). Ketika berhadapan dengan sebuah jendela, orang tidak tertawan oleh papan jendela, tetapi membukanya, lalu melalui jendela itu ia memandang ke dunia di luar jendela, dunia yang lain.

09/04/2006 22:40 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Dua pola baca teks kuno, baik yang diakronik-historik atau sinkronik-struktulis, sama-sama subyektif. Bahkan bisa jadi yang pertama yang bersifat sangat subyektif. Dengan melihat teks kuno sebagai jendela atau teropong tidak serta merta sang pembaca dihadapkan langsung dengan kondisi historis penulisan teks lama karena ada jarak terutama waktu yang memisahkan. Pembaca cuma ‘berilusi’ bisa melihat teks dengan merekonstruksi suasana historik pengarang. Pembacaan rekonstruksif ini sangat tergantung dengan posisi ‘kini dan sini’ pembaca. Alih-alih dihadapkan dengan kondisi historis masa lalu, pembaca cuma dihadapkan dengan ‘mesin’ rekonstruksi yang hanya dia sukai atau dianggap benar. Pembacaan teks diakronik-historik dan fenomenologis seperti ini bisa jadi sangat apologetik atau sebaliknya sangat kritis. Tergantung maunya pembaca seperti apa.

Sebaliknya, pola baca sinkronik-struktularis juga bisa jadi sebaliknya, bersifat objektif, paling tidak dari sisi objek telaah kajiannya. Satu sisi pembacaan ini tidak melibatkan dan menghidupkan kembali subjek-subjek pelaku dan penulis teks. Tapi sisi lain mereka juga bisa menghidupkan “the author”, pengarang, tapi dia dianggap hanya sebagai bagian kecil struktur sejarah. Jadi tidak ada pembelaan baginya. Dia tidak lagi authoritatif. Nah, yang tersisa sekarang adalah pembaca. Tapi ini bukan berarti pembaca bisa dengan semena-mena bisa membedah teks sekaligus pengarang. Seperti bedah autopsi, pembaca hanya bisa melakukan pembedahan dengan norma-norma atau rambu-rambu yang berlaku. Di sini lah, letak ‘objektifitas’ pembacaan sinkronik-strukturalis.

Pola baca alternatif lain adalah sinkronik-diakronik-poststrukturalis dan juga hermeneutik. Tapi sekali lagi dua pola baca yang terakhir ini tidak menjanjikan dan menjamin tingkat objektifitas yang tinggi. Bahkan dalam Ilmu alam, nature science, pun yang namanya objektif itu menjadi sesuatu yang anachronistik dan kedaluarsa. Karena masing-masing pembaca dan peneliti tidak bisa terlepas dan melepaskan diri dari ‘personal knowledge’ dan kondisi yang mereka miliki. Dan kita memang dilahirkan sudah dalam jaringan seperti ini. Jaringan teks kultural dan lingual yang punya ‘permainan bahasa’ sendiri-sendiri. So? Masih mau cari makhluk ‘objektif’ itu sama halnya dengan cari unicorn.

#1. Dikirim oleh Abu Hanifah  pada  11/04   04:04 PM

Pendapat Bung Ioannes perlu dicermati dengan contoh di agama Kristen. Jika setiap orang berhak “menentukan” tafsir kitab “suci” maka tidak akan ada “bangunan” keagamaan di dunia ini.

Misalkan Injil, mengapa harus cuma 4 injil yang boleh ada, bagaimana dengan nasib “Injil-2” lain yang dihilangkan di Konsili Nicea tahun 300-an M. Otoritas siapa penghilang Injil tersebut? Agama Kristen ataupun Katholik ada karena tafsir murid Yesus yang kemudian diteruskan oleh Paulus. Betul khan? Yang mendapat Injil itu Yesus, tetapi Paulus yang mentafsirkan Injil sehingga terbentuk agama Kristen seperti sekarang. Toh, terbentuknya lembaga gereja sekarang adalah “tafsiran” kitab Injil dari Paulus.

Sekarang, apakah boleh seseorang menyatakan bahwa Yesus sebenarnya punya anak/cucu, Yesus bukan penebus dosa, Yesus sebenarnya tidak disalib, gereja tidak perlu ada atau Yesus bukan ‘anak’ Allah ?. Nasibnya mungkin bisa seperti itu bisa jadi seperti Dan Brown (penulis Da Vinci Code), yang dicerca habis oleh Katholik Roma.

Jadi setiap orang Kristen harus punya dasar pokok keimanan dan itu ‘hanya’ bisa diperoleh dari penafsiran Paulus tentang Injil. Injil sekarang tidak dapat dihafalkan teksnya, sehingga setiap terjemah akan ada distorsi bahasa. Injil sekarang telah melalui banyak periwayatan dan pengilhaman serta nama penulis Injil banyak yang tidak jelas, namun saya yakin bahwa nilai pokok keimanan Kristiani tidak akan berubah dan tetap masih ada di Injil. Matius, Yohanes, Markus ataupun Lukas, “diilhami” oleh Tuhan untuk menuliskan Injil. Yang perlu dilihat, pasal Injil manakah yang harus dirubah dengan hermeneutika. Apakah prinsip sekali, sehingga jika tidak ditafsir ulang, keimanan Kristen akan goyah ?.

Contoh lainnya (sasaran tulisan Bung Ioannes) adalah Quran. Quran masih ditemukan dalam bahasa aslinya, dan diyakini muslim bahwa Qur’an diturunkan kepada Mohammed, diajarkan kepada sahabat Nabi. Satu fakta, bahwa 6.000 ayat Qur’an ternyata banyak dihafal oleh muslim. Mudah saja jika Utsman bisa mengumpulkan ayat Qur’an yang diajarkan Mohammed berdasarkan hafalan para sahabat. Sejarah kehidupan Mohammed pun banyak terekam dalam tulisan-tulisan Sirah Nabawiyah. Bangunan keagamaan Islam didasarkan pada Quran dan Sunnah (perkataan&perbuatan Mohammed).

Kata Cak Abdurrahman Wahid, Arab bukan Islam dan Islam bukan Arab. Ini yang prlu digaris bawahi.

Untuk tafsir Quran, dalam bahasa Arab, bisa dilakukan dengan mudah sesuai dengan kosakata Arab saat ini, tanpa perlu ditafsirkan ulang. Memang ada ayat yang perlu ditafsirkan terutama berkaitan dengan kehidupan di dunia, dan bukan masalah keimananan atau peribadatan.

Benar bahwa sistem kekhalifahan Islam, diselewengkan menjadi Kerajaan Dinasti Ummayah dan Abbasiyah. Dan di jaman tersebut mungkin juga muncul hadist-hadist palsu. Tapi Quran? tetap saja hanya ada satu versi Quran, walaupun telah berganti-ganti Dinasti. Jika dikomparasikan ke Injil, lihat saja, ada versi KJV (King James Version), Revisi KJV, Yehovah dsb. 

Jadi, hermeneutika pasti sesuai dengan Injil, karena telah melalui banyak periwayatan dan beberapa penulis kitabnya ada yang tidak jelas (lihat versi KJV). Tapi untuk Quran apakah sesuai? Bahasa asli Quran masih digunakan, Quran juga banyak dihafalkan, dan Periwayatan Quran jelas dari Mohammed ke muslim.

Memang sulit diterima bagi logika hermeneutik, bahwa ada suatu kitab tetap asli dan murni sejak diturunkan Allah kepada Mohammed. Tapi sesuai janji Allah, bahwa Quran ini akan dijaga oleh Allah dengan cara-Nya sendiri.  Anda, Bung Ioannes dan saudara JIL serta manusia manapun, tentu boleh saja menafsirkan Quran ulang, bahkan membuat kitab tandingan Quran, sebagaimana berhak dan bolehnya muslim tetap menggunakan tafsir Quran dengan bahasa Arab sekarang.

Perlu diingat Bung, bukan muslim atau FPI, MMI, HT, yang menjaga Quran, namun Allah yang akan “menjaga” kemurnian Quran dengan “cara-Nya” sendiri.

Masih berani mencoba menafsirkan Quran dengan hermeneutika, silahkan saja, tapi ingat ada Allah.

#2. Dikirim oleh Budi  pada  11/04   07:04 PM

Bung Budi,

Nggak usah lah nyari2 kesalahan iman orang lain dengan mengatakan Injil itu ini itu toh sbg Muslim wajib menghargai Injil itu. Ngga usah lah tiba2 cari alibi dgn bilang Injil itu palsu dsb. Biarkan itu urusan yg percaya dgn yg Di ATAs. Tugas Muslim sbg rahmat bagi alam semesta adalah mengayomi dan menghargai kaum Nasrani sebagaimana ditunjukkan Nabi Muhammad SAW, bukan dgn meng-usrek2 kesalahan mereka.

Yg menarik adalah anda mengutip kisah Dan Brown, The Davinci Code. Heran saya, banyak sekali ummat yg mengatakan bahwa setelh membaca cerita ini, “iman” mereka merasa dikuatkan, mereka merasa agama Islam paling benar dan bahkan banyak ustadz menganjurkan buku ini utk dibaca. Perlu anda ketahui, The Da Vinci Code adalah buku DONGENG belaka dan kalau “iman” menjadi kuat karena “DONGENG”, waduh segitu rendahnyakan keimanan Islam? Saya malu dan tercoreng oleh ulah orang2 yg cuma cari popularitas seakan2 sholeh ini. Regardless kontroversi yg terjadi, itu urusan kaum Nasrani. Orang memiliki iman kuat thd Islam karena hidayah, dan hidayah ini dari Allah SWT, bukan dari Dan Brown.

Namun saya salut dengan negara2 maju dimana buku2 semacam ini bisa diterbitkan dgn bebas, termasuk di Indonesia. Saya wondering, kapan kira2 saya bisa ikutan membaca Satanic Verses versi SAlman Rushie ya? Bukankah ini STANDAR GANDA yg diterapkan oleh negara2 yg konon berbasis syariah atau sok sholeh ? Baca Da Vinci Code boleh, moso baca Salman Rushie ngga boleh? PEMBODOHAN kan? Masalah iman nanti luntur apa ngga kan tergantung individu nya !!!

Lagi2, bukti standar ganda kaum FUNDAMENTALIS !!!! Orang ngga ngerti demokrasi kok mau memakai demokrasi sbg kuda tunggangan utk menyalurkan syahwat “berkuasa”. ck,ck,ck…

#3. Dikirim oleh Johan  pada  12/04   01:04 AM

Yang ini tanggapan untuk saudara Rakhmat, kedua cara baca yang ditawarkan itu, baik teks sebagai jendela atau cermin, tetap menunjukkan adanya jarak dan ‘kaca.’ Sangat naif kiranya kalau kita beranggapan bahwa dengan mengandaikan teks sebagai jendela lantas kita bisa melongokkan, menjulurkan kepala kita atau bahkan melompat lewat jendela tersebut dan terlibat langsung dengan teks. Di situ tetap ada pembatas, kaca. Akhirnya hasil baca kita kita juga ditentukan oleh jendela kaca atau kaca teropong yang kita pakai.

Jangan-jangan kita pakai jendela kaca yang berwarna-warni, yang menghasilkan gambaran warna-warni pula. Jadi subjektifitas dengan cara baca ini juga tinggi sama tingginya dengan cara baca yang mengandaikan teks sebagai cermin.

#4. Dikirim oleh Abu Hanifah  pada  12/04   06:04 AM

Tulisan tersebut kurang lebih juga menggambarkan betapa sulitnya menerjemahkan suatu kitab suci sehingga perlu diperlakukan sebagai jendela dan teropong… butuh pandangan dari dunia lain untuk menerjemahkannya. Saya ngak tahu kitab suci yang mana yang dimaksud oleh penulis, sehingga terkesan sangat sulit untuk bisa diterjemahkan dan diaplikasikan. Karena setahu saya kalau kitab suci Alquran sangat mudah untuk memahaminya, karena memang diturunkan dalam bahasa yang sangat baik dan mudah, juga isinya menjadi obat/solusi dalam kehidupan manusia. Memang Alquran juga menggambarkan orang-orang yang tidak bisa memahami AlQuran dengan baik, bahkan tidak dapat dijadikannya obat/solusi tetapi hanya terasa menjadi racun dan beban di kehidupannya. Hal itu mungkin terjadi karena tidak adanya keikhlasan orang tersebut dalam memahami isi Alquran, atau mempelajari Alquran hanya sekedar riset tanpa dibarengi usaha mencari keridhoan Allah, sehingga Allah menjadikan hatinya buta, telinganya tuli, dan matanya pun buta untuk dapat melihat kebenaran isi AlQuran. Mari kita bersihkan hati, telinga, dan pikiran kita supaya dimudahkan dalam memahami kitab suci/Alquran dan tidak buta dari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh Allah

#5. Dikirim oleh A Fauzi  pada  21/04   07:05 PM

Memang sudah “tugas sekaligus kebutuhan” manusia-pemeluk agama mengfungsikan “kitab agama” untuk membangun peradaban yang sehat dan maju. Agama beserta kitab “suci” semestinya bisa menjadi inspirasi sekaligus pendorong modernitas. Persoalan akan muncul ketika manusia “keliru” menafsir teks (“kitab agama”), terlebih jika tafsirannya itu dianggap paling benar sendiri sekaligus menganggap yang lain (pasti) salah, dipaksakan lagi.

Menurut bapak Ioanes Rakhmat dan saya menyetujui itu, bahwa kesalahan awal dan mendasar dalam menafsirkan teks (kitab agama) terletak pada paradigma teks sebatas cermin saja. Hasil dari metode seperti itu jelas kurang bahkan tidak memadai untuk menghadapi persoalan hidup diera modern-global ini. Untuk itu, memang kebutuhan mendesak dan bersifat aktif, bahwa teks (kitab agama) harus ditafsiri secara moderen dengan metode yang baru lagi canggih pula. Ya, disini teks sebagai “jendela atau teropong”. Pada tingkatan ini, memang perlu analisis kritis sejarah teks (kitab agama) secara komprehensif-holistik kemudian menghadapkannya pada permasalahan yang terus berkembang guna merumuskan solusi yang memadai.

Saya ambil contoh ‘kecil’ teks “kitab Islam”. Berikut 3 dalil yang berbicara tentang konsep aurat perempuan. Al-Nur ayat 31 menerangkan “penampakan sesuatu yang menarik dari perempuan ; zinatahunna-ma zhahara minha”. Selanjutnya dikaitkan dengan “hadis Asma” muncul “tutuplah tubuh perempuan (dewasa) kecuali wajah dan telapak tangan”. Ditambah lagi, al-Ahzab ayat 59 “pembedaan ‘identitas busana’ perempuan budak dengan yang merdeka”. Ulama (penafsir) berbeda pendapat, diantaranya mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali “menyetujui apa adanya teks”. Lain dengan mazhab Hanafi, aliran ini melihat teks secara historis-konteks (“teropong”). Inti aurat dalam konteks dalil itu adalah soal fitnah, budaya dan aktivitas perempuan, sehingga sangat terkait dengan kebudayaan manusia (perempuan).

Untuk itu “batasan aurat” tidak bisa diseragamkan karena terkait dengan kemaslahatan budaya perempuan yang plural. Dengan begitu, biarlah masyarakat (perempuan) yang menilai dengan bebas konsep aurat dan berpakaian yang sopan, tak menimbulkan fitnah dan bernilai maslahat. Sejauh ini, ulama kontemporer memang memberikan batas maksimal dan minimal tentang aurat itu, bahkan mereka pun berbeda pendapat tentang batas aurat “media maya” dan “media nyata”. Tapi menurut saya, konsep dasarnya adalah “nilai kesopanan yang berkembang di masyarakat”. Jadi sah-sah saja, boleh-boleh saja misalnya perempuan (muslim) berkerudung atau tak berkerudung bahkan kelihatan betisnya. Toh, martabat perempuan tidak hanya dinilai dari cara berbusananya saja.

Paradigma teks sebagai “teropong” memang akan sangat membantu penafsir menemukan “yang tersembunyi” dalam teks itu sendiri. Penafsir akan mendapatkan inti persoalan sekaligus bisa “mengkreasi teks” dalam menghadapi konteks. Dalam proses ini, bisa saja memunculkan “konsep solusi” yang berbeda. Terpenting disini paradigma teropong menjadi pegangan dalam menganalisis teks ; “kitab agama”. Tak kalah penting mencipta “Teropong Super Canggih”. Pak Ioanes Rakhmat telah memulainya dengan “konsep modern”. Semoga yang lain juga. Salam

#6. Dikirim oleh Sarwanto  pada  22/04   01:04 AM

Sdr. Ioanes, mana jawaban untuk saudara Budi, yang mempertanyakan Koncili Nicea, tentang yang menerima Injil itu Yesus, tentang hermeneutik, dll? Bukankah setiap pertanyaan bemakna ganda -menjawab berarti memberikan pengetahuan dan mencari jawaban adalah mempertajam pengetahuan dan analisa Anda?

Serius dong menjelaskan apa itu Injil, Hermeneutik, apa itu Kanoniasasi dan Konsili-konsili, atau .... emang mau rekreasi dengan artikel dari buku lain? Saya tidak mempertanyakan saudara, tetapi mempertanyakan “mana” jawaban saudara untuk saudara Budi yang seharusnya juga berkat bagi kami yang ada di Indonesia bagian Timur!

#7. Dikirim oleh ridjs suwignyo  pada  23/04   06:05 PM

Jangan samakan Al-Qur’anu Karim dengan koran teks atau semacamnya. Ingat Al-Qur’an adalah Kalamullah.Jadi jangan sekali kali menafsirka Qur’an denga hermeneutika.Ingat Allah SWT. itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.Ingatkah anda dengan cerita iblis yang telah dilaknat AllahSWT.? padahal iblis dulunya adalah pernah menjadi pemimpin para malaikat. Karena kesombanga dan merasa dirinya yang lebih utama dari Nabi Adam As., Ia pun mengabaikan perintah Allah SWT. Karena apa? karena iblis merasa dirinya itu paling utama ,paling benar, dan paling segalanya dari Adam As. sehingga ia lupa bahwa dirinya itu juga mahluk.Oleh karena itu bial kita diberi ilmu yang berlimpah janganlah sekali-kali kita lupa pada yang memberi ilmu,Jadi jangan asal bicara dan membuat umat resah dan saling menyalahkan. Ingat iblis/syaithon itu lebih pintar dan licik dengan berbagai cara agar kita bisa terjerumus kedalam lembah kesesatan dan mengikutinya. Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui!!! Camkan itu!!!

#8. Dikirim oleh santrimo  pada  30/04   10:04 AM

Pendapat Budi, seorang intektual yang sedang menimba ilmu di Liverpool (moga2 pada tempat yang benar yah...???) mengenai tuduhan bahwa hermeneutika hanya dapat diterapkan pada kitab Injil dan bukan pada Quran sepertinya menarik untuk dikaji. Betul bahwa proses kanonisasi dari terbentuknya Alkitab telah bercampur baur dengan sebuah proses politisasi dari apa yang dinamakan konsili nicea pada abad ke 3M, dimana sandiwara politik dengan berbagai pemeran utamanya seperti Konstantin, Arius, Athanasius, dll telah menjerumuskan seakan-akan Injil sebagai sebuah produk politik belaka yang telah kehilangan unsur keilahiannya...begitu juga akan adanya proses pemilahan Injil2 yang kemudian hanya berujung pada 4 pemenang, yaitu MAtius, Markus, Lukas , dan Yohanes...dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang bersifat sosiologis-historis yang bisa mengindikasikan “PALSUNYA” agama Kristen yang telah terdogma seperti sekarang.  dan kenapa semua itu bisa menjadi terbuka???karena adanya suatu proses hermeneutika yang secara vulgar akhirnya membuka sisi lain dari apa yang dinamakan kitab suci ataupun dogma2 agama… tapi amat disayangkan...bahwa apa yang sering digembar-gemborkan oleh orang-orang berpandangan dangkal bin sempit seperti kalian tidak lagi menjadi suatu hal baru bagi orang2 kristen sendiri...Mereka juga telah MENGETAHUINNYA!!!dan apakah unsur historis-sosiologis-politis dalam agama yang mereka anut kemudian membubarkan konsep keimanan yang mereka yakini???sekali lagi sayangnya sejarah membuktikan TIDAK!!!!karena paling sedikit keberanian mereka untuk mengetahui konsep-konsep keagamaan ataupun pandangan mengenai kitab suci secara hermeneutik telah melahirkan agama kami sebagai agama yang tidak ASOSIAL-AHISTORIS-DEHUMANIS, tetapi sebaliknya telah melahirkan suatu konsep keagamaan yang bersifat dinamis seiring dengan denyut jantung perubahan peradaban manusia....seperti yang telah dirumuskan pada konsili vatikan II mengenai pandangan kitab suci sebagai suatu buku yang berisi pengalaman orang-orang beriman yang dapat dijadikan acuan bagi teladan hidup beriman kepada sang Pencipta....dan bukan sebatas BUKU PINTAR yang bersifat statis yang hanya akan menjadi sebuah “tugu pembenaran” bagi kaum malas yang gagal beradaptasi berhadapan dengan denyut peradaban manusia yang terasa makin cepat....jadi kenapa harus takut dengan hermeneutika???

#9. Dikirim oleh yunarto wijaya  pada  05/05   08:06 AM

Agama Kristen memang mengalami sejumlah reformasi, baik yang dilakukan kalangan internal maupun pihak luar. Reformasi Kristen paling akbar adalah yang ditawarkan Islam karena terjadi di dunia yang lebih modern dan juga melewati sejarah panjang. Mulai kehadiran Muhammad SAW yang ingin mengingatkan memposisikan Yesus sebagai Nabi sampai kepada sejumlah perang salib yang terjadi kemudian. Bahkan peradaban dunia sampai saat ini diwarnai oleh tarik menarik antara kedua agama tersebut.  DaVinci Code yg saya nonton di Indonesia dengan sejumlah sensor, (tidak menerjemahkan sejumlah dialog bahasa Inggeris yg memaparkan isu sensitif tentang Yesus) memang hanya sebuah cerita dan mungkin dongeng belaka. Tapi ada pula yang menyatakan sebagai film dokumenter karena berhasil menyarikan sebuah kisah sejarah yang ditafsir nyaris menyentuh akal sehat para intelektual masa kini. Ia mengabungkan dokumen sejarah dengan prasasti yang masih tersimpan di berbagai museum. Tetapi untaian cerita yang mengehebohkan juga menunjukkan pergulatan di kalangan Kristen sendiri tentang hal-hal yang menurut mereka terasa tidak logis. Dogma agama yang dahulu meluncur begitu saja dan sangat sensitif untuk diperdebatkan hanya menyisakan pilihan; tetap patuh dan ke gereja atau meninggalkan begitu saja dan teraniaya dalam penjara kebingungan diri.  Mungkin penganut Kristen yang paling patuh di dunia adalah umat Kristiani di Indonesia. Bahkan lebih patuh lagi adalah mereka yang berada di Jawa. Bahkan lebih patuh lagi adalah mereka yang tinggal di tengah masjid yang ramai. Umat Kristiani di tengah masjid ini selalu beribadah dan ke gereja nyaris sama banyaknya dengan jumlah salat umat Islam yang taat pergi ke masjid. Islam di sini ternyata menjadi rahmat pula untuk kalngan Kristen yang terus mengingat Tuhan setiap kali azan masjid berkumandang.

#10. Dikirim oleh Ali Salim  pada  21/05   05:05 AM

Saya cukup terkejut dengan banyaknya komentar atas tanggapan saya terhadap artikel Bung Ioannes. Tentu saja setiap umat beragama berhak dan wajib menjalankan ibadahnya sesuai dengan perintah agamanya tersebut. Tidak ada maksud dan niat saya untuk mencari-cari kesalahan atau kekurangan pada Injil. Mayoritas umat Kristen (meminjam istilah Bung Yunarto) sekarang ini sudah tahu bahwa teks Injil memang mengalami periwayatan panjang yang mungkin terkontaminasi dengan perkataan manusia selain tentu saja firman tuhan.  Umat Islam pun sudah diperintahkan bahwa terhadap Injil yang ada sekarang, jangan diterima seluruhnya dan juga jangan ditolak seluruhnya, karena didalamnya masih ada nilai-nilai ketuhanan yang diturunkan oleh Allah terhadap Nabi Isa. Masalah kanonisasi dan Konsili Nicea mungkin saja tidak akan merubah keimanan Kristen, namun mari diperhatikan lebih jauh. Masalah Arius dan Athanaus memperdebatkan masalah Isa sebagai Tuhan (oknum Trinitas) sementara yang satu lagi Isa sebagai manusia biasa utusan Tuhan. Perdebatan ini dilatarbelakangi oleh kekuatan kekaisaran Romawi yang saat itu berideologi paganisme. Ini kemudian mendorong para pemuka Kristen saat itu menyerap nilai agama paganisme dan menjadi oknum trinitas serta masuk dalam teks Injil. Padahal dalam manuskrip awal Injil, ayat mengenai trinitas belum pernah ada dan tiba-tiba masuk di Koncili Nicea. Wajar jika Injil kemudian membuat ilmu baru bernama hermeunetics untuk meneliti keabsahan ayat-ayat Injil tersebut.

Tapi apapun, itu adalah urusan saudara yang beragama Kristen, dan saya yakin masih banyak mayoritas umat Kristen atau Katholik belum mendapatkan akses informasi masalah Konsili Nicea sebenarnya. Bagaimanakah dengan Anda, Bung Johan dan Bung Yunarto?
-----

#11. Dikirim oleh Budi  pada  22/05   12:06 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq