Tentang Iman - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
09/01/2006

Tentang Iman

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Ada iman lain yang lebih konkret bentuknya, karena ia berhubungan dengan situasi tertentu, yaitu iman sebagaimana dihayati oleh kelompok masyarakat tertentu, di tempat tertentu, di suatu masa tertentu; misalnya iman orang-orang Jawa, di Wonogiri, pada awal abad 20. Menurut saya, inilah iman yang jauh lebih memikat untuk ditelaah, sebab ia lebih berbentuk.

Saya rasa akan amat sulit untuk merumuskan bagaimana wujud dan bentuk iman itu pada masing-masing perorangan. Untuk mempermudah pembahasan, saya ingin meminjam tiga istilah yang sering dipakai dalam pendekatan semiotika atau strukturalisme, yaitu “langage”, “langue” dan “parole”. Langage adalah bahasa sebagai sistem yang abstrak; langue adalah bahasa sebagai mana dipakai oleh kelompok tertentu; parole adalah cara berbahasa orang-perorang. Saya ingin memakai tiga istilah untuk untuk mencoba mendekati masalah iman ini; tentu peminjaman istilah dari bidang kajian ke kajian yang lain bukan tanpa masalah; tapi ini sekedar peminjaman untuk mempermudah agar suatu telaah bisa bekerja.

Iman biasanya ditakrifkan sebagai “percaya kepada Allah, malaikat, rasul, kitab-kitab, hari akhir, dan ketentuan Tuhan, entah ketentuan yang mujur atau malang”. Takrif semacam itu tentu mudah diajarkan, mudah diikuti, dan sebagai rumus juga mudah untuk dikaji. Tetapi, saya rasa, takrif iman semacam itu tidak berkata apa-apa kalau kita menjumpai orang-perorang. Setiap orang tentu punya caranya sendiri iman kepada Allah dan yang lain-lain itu. Iman seperti dalam takrif itu adalah mirip bahasa sebagai “langage” dalam konsepsi Saussurean. Seluruh umat Islam di dunia melaksanakan iman dalam cara yang “umum”, universal, abstrak dan lazim seperti dalam takrif di atas. Tapi iman yang universial seperti itu adalah iman yang tidak konkret karena tidak berpijak pada penghayatan masing-masing masyarakat, masing-masing perorangan dalam keadaan tertentu yang nyata. Iman sebagai “langage” adalah iman yang tidak terkait dengan konteks.

Ada iman lain yang lebih konkret bentuknya, karena ia berhubungan dengan situasi tertentu, yaitu iman sebagaimana dihayati oleh kelompok masyarakat tertentu, di tempat tertentu, di suatu masa tertentu; misalnya iman orang-orang Jawa, di Wonogiri, pada awal abad 20. Menurut saya, inilah iman yang jauh lebih memikat untuk ditelaah, sebab ia lebih berbentuk. Masyarakat Islam dalam sejarahnya yang panjang menakrifkan iman dalam cara yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Konsepsi tentang Allah dalam pikiran Imam Asy’ari terasa tidak begitu konkret bagi orang-orang Minang di Sumatera Barat; konsepsi ketuhanan a la Mu’tazilah tentu sangat asing dari cita rasa seorang Jawa Muslim setengah abangan di Gunung Kidul. Setiap masyarakat, secara diam-diam, merumuskan caranya sendiri-sendiri untuk iman, dan dari sanalah muncul cara beriman yang mungkin sejajar dengan bahasa dalam pengertian “langue”.

Tentu ada iman dalam pengertian yang sejajar dengan bahasa sebagai “parole”, dan inilah iman pada level perorangan. Beberapa hadis mengindikasikan bahwa iman itu “mulur mungkret” (yazidu wa yanqushu), serupa karet yang mengembang dan mengkerut, up-and-down. Pada tingkatan ini, iman nyaris mustahil bisa dirumuskan dengan jelas. Iman dalam pengertian yang personal ini, bagi saya, sifatnya cenderung eksklusif, licin, dan menghindar dari rumusan yang serba baku.

Tentu ada orang-orang tertentu yang pura-pura ingkar bahwa imannya terus-menerus mengalami proses “mengembang-dan-mengkerut” dengan cara mengikatkan diri pada rumus-rumus yang pasti yang dibuat oleh kaum teolog. Orang-orang fundamentalis biasanya mencoba untuk mencari bentuk iman yang serba pasti, positivistis, dan dapat menjadi dasar untuk perumusan suatu ideologi perubahan sosial yang mencakup bidang-bidang kehidupan yang luas. Tetapi usaha kaum fundamentalis ini akan sia-sia belaka. Iman sebagai “parole”, sebagai dialek pribadi orang perorang, menurut saya, tidak bisa dibuat rampat, persis, sebangun untuk semua orang. Ambisi kaum fundamentalis ke arah itu bisa menjadi ancaman yang besar. Iman sebagai “parole” adalah wilayah di mana pribadi-pribadi muslim menemukan kebebasan untuk merumuskan cara mereka masing-masing untuk memahami siapa itu Allah. Kalau iman pada level ini hendak ditata rapi agar sesuai dengan iman sebagai “langage”, maka yang timbul adalah pengingkaran atas iman sebagai tindak-kebebasan. Bagi saya, iman adalah tindak pembebasan dan kebebasan sekaligus.

[Ulil Abshar-Abdalla]

09/01/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Ia percaya bahwa Atasan itu ada dan memiliki kekuasan. Ketika berbicara dan memohon kepada seorang Atasan untuk mendapatkan kenaikan gaji, ia menggunakan bahasa-bahasa yang dapat dipahaminya. Ia menghormati dan memperlakukan atasannya sesuai dengan yang ia imani tentang atasannya.

Ia percaya bahwa Tuhan itu ada dan memiliki kekuasan, Maha Mulia. Ketika ia sholat tergesa-gesa karena dipanggil bos, ketika berdo’a kepada Tuhan dengan menggunakan bahasa yang dia tidak mengerti dan berpakaian yang tidak terhormat, maka yang telah ia lakukan hanyalah pemudaran iman. Ia tidak menghormati dan tidak memperlakukan Tuhannya sebagai mana tekt iman yang ia miliki. Maka ia pun hanya ber’doa kepada sesuatu yang tidak ada. Karena tidak ada Tuhan yang lebih rendah dari bosnya.

Mari kita berhati-hati dalam menerapkan iman karena iman bukan sekedar imajinasi.
-----

Posted by ganedio  on  01/26  at  02:02 AM

Ketika seorang pembaca berita di televisi menghadap sebuah kamera siaran langsung, ia harus ber"iman" bahwa dia sedang berhadapan dengan jutaan pemirsa bukan hanya berhadapan dengan seorang kameramen. “Iman"nya sangat bermanfaat untuk mengontrol dirinya agar melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.

Iman sangat penting dimiliki oleh manusia yang selalu behadapan dengan masa depan yang belum diketahuinya. Iman akan membawa kebahagiaan dan ketenteraman batin dalam menjalankan dan menikmati kehidupan di dunia ini dan di surga.

Makan baso di jalan membutuhkan “iman” bahwa baso itu tidak mengandung racun.

Bagaimana ketika Nabi Adam a.s. dikeluarkan dari Surga karena tidak memiliki iman yang teguh. Beliau akan kurang berbahagia di surga karena mengkhawatirkan akan nasibnya di masa depan setelah memperoleh bisikan Iblis. Beliau memakan buah yang dilarang untuk dimakan. 

Iman memiliki tanda-tanda kebenaran dan tidak memiliki bukti untuk tidak membenarkan. Jika anda beriman akan adanya surga, maka anda tidak akan memiliki bukti bahwa surga itu tidak ada.

Posted by ganedio  on  01/26  at  12:02 AM

iman bagi saya harus membumi dan dipahami bahwa itu merupakan hal yang diimani. menjelaskan iman bukan saja dengan hal yang baik2 saja. romo sindhunata terkadang menjelaskan iman dengan mengejek jatidiri kita apakah kita sudah beriman apa belum dengan air kata-kata yang sedikit porno untuk dibaca orang beriman pada umumnya. menjelaskan iman haruslah berkonteks, bukan sekedar berawang-awang dan meraba-raba apa iman itu. iman haruslah dari hati dan orang yang beriman biasanya terikat secara moral pada keimanannya. orang beriman belum tentu harus sholat setiap hari yang mungkin saya sebut sebagai positivisasi iman. orang beriman bagi saya adalah orang yang mampu menegakkan keadilan di dunia.

Posted by Lukmono  on  01/24  at  04:01 AM

Menanggapi tulisan Sdr Ulil mengenai Iman, kita seperti diajak untuk mengenal diri kita lebih jauh, kalau perlu mempereteli barang-barang yang ada dalam diri kita, sehingga kita merasa menyakini dan haqul yaqin atas apa yang menjadi kehidupan di dunia ini terus bergerak dan berputar pada posisinya. Iman menjadi suatu mahluk yang harus dijaga dan dibersihkan setiap hari, setiap saat agar senantiasa mengkilat dan keluar cahayanya untuk memberikan pencerahan pada dirinya juga orang atau mahluk lain di sekelilingnya.

andi suandi.

Posted by andi suandi  on  01/15  at  09:02 PM

Ada-ada saja bung Ulil. Maksud hati hendak menjelaskan tentang iman yang konkret, eh malah bikin tidak jelas. Dari awal tulisan sampai akhir, maaf atas ketidaktahuan saya ini, saya belum menangkap iman lain yang lebih konkret bentuknya seperti di Wonogiri pada awal abad 20. Mana penjabarannya? Bagaimana mau menjelaskan bentuk iman yang konkret kalau tulisan bung saja belum konkret begitu kok.

Peminjaman istilah semiotik untuk kasus ini juga abstrak. Bagaimana mengkonkretkan bahasa, atau dialek yang bisa didengar tapi tidak bisa dilihat saat dituturkan? Mungkin akan lebih tepat kalau istilah ini bung Ulil gunakan untuk menggambarkan agamanya mereka yang menyembah patung. Di Cina sang tuhan digambarkan sebagai orang sipit tapi di negeri lain matanya belo. Di barat tuhannya digambarkan bule berambut pirang padahal aslinya orang asia tulen dari tanah Arab (Ibrani). Apa ini yang dimaksud dialek tadi? Hanya Ulil yang bisa menjawabnya.

Posted by enrustir  on  01/13  at  05:02 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq