Tentang Konsep Rujhan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

07/05/2009

Tentang Konsep Rujhan Usulan Kerangka Berpikir untuk NU

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Setiap masyarakat selalu mengandaikan sebuah “doxa”, yaitu semacam kebenaran tersembunyi yang jarang dikatakan tetapi disepakati oleh semua anggota dalam masyarakat bersangkutan. Tegaknya sebuah orde sosial di manapun biasanya selalu mengandaikan adanya doxa semacam itu.

Tulisan pendek ini merupakan usulan saya untuk mencari rumusan yang relatif ideal yang dapat dipakai untuk menampung keragaman pemikiran dalam tubuh NU saat ini. Karena sumber bacaan generasi baru NU makin berkembang dan berasal dari tradisi yang berbeda-beda, keragaman ini di masa-masa mendatang bukan kian berkurang tetapi akan makin mengalami pendalaman dan perluasan.

Kalau NU tidak mengembangkan kerangka yang tepat untuk menanggapi perkembangan semacam ini, maka akan timbul polarisasi yang membahayakan organisasi itu di masa-masa mendatang. Perspektif yang dipakai oleh Kiai Hasyim Muzadi sejauh ini, menurut saya, sama sekali kurang tepat. Menuduh bahwa pemikiran liberal tidak sesuai dengan kerangka berpikir NU bukanlah cara yang baik untuk menangani fenomena pemikiran.

Kerangka lain yang saya usulkan ini bersumber dari tradisi fikih yang selama ini menjadi “kekayaan intelektual” dalam NU sendiri. Dalam fikih, kita kenal tiga istilah yang dengan modifikasi tertentu, bisa kita pakai sebagai pendekatan alternatif—yaitu rajih, arjah, dan marjuh.

Ketiga istilah itu berasal dari konsep yang dikenal dalam usul fikih sebagai “rujhan”. Dalam usul fikih, kita kenal pula istilah yang luas dipakai oleh para fukaha, yaitu “rujhan al-dalil”, keunggulan sebuah dalil. Dalam tradisi ushul fikih sendiri, istilah “rujhan” didefinisikan sebagai “al-dhann al-mustafad min dalilin aqwa min ghairihi”. Yakni: suatu tesis yang didasarkan pada dalil tertentu yang lebih kuat tinimbang dalil yang lain (baca “Mu’jam Mustalahat Usul al-Fiqh” karangan Qutb Mustafa Sanu, 2002, hal. 216).

Kata kunci dalam konsep tentang rujhan ini adalah dua, yaitu al-dhann yang bisa kita terjemahkan dalam pengertian modern sekarang sebagai tesis atau hipotesis, dan “al-dalil”, atau bukti penguat sebuah tesis/hipotesis. Suatu kondisi “rujhan” terjadi saat sebuah tesis didukung oleh dalil atau bukti yang lebih kuat ketimbang tesis lain yang tidak didukung oleh tesis serupa.

Sutau tesis yang didukung oleh bukti atau dalil yang paling kuat disebut dengan tesis “arjah”, yakni tesis yang paling kokoh karena dalilnya sangat kuat. Di bawah itu adalah tesis yang “rajih”, yaitu tesis yang disokong oleh sebuah dalil yang kuat, meskipun tidak sekuat yang pertama. Sementara tesis yang didukung oleh bukti yang lemah disebut sebagai tesis yang “marjuh”.

Konsep rujhan ini dipakai oleh para sarjana fikih klasik sebagai strategi untuk menampung keragaman dalam sebuah mazhab. Dengan konsep semacam ini, ruang pemikiran dalam fikih diperluas. Keadaannya akan menjadi lain jika konsep yang dipakai berbeda, misalnya haqq dan batil, dua konsep yang sering saya jumpai dan dipakai oleh kalangan Islam radikal di Indonesia saat ini. Dengan pendekatan yang cenderung dualistis seperti itu, ruang perdebatan dipersempit, dan sikap yang muncul ke permukaan adalah absolutisme.

Meskipun belum sampai ke tingkat itu, perspektif yang dipakai oleh Kiai Hasyim Muzadi sejauh menyangkut liberalisasi pemikiran dalam NU lebih mendekati ke pola berpikir yang dualistis itu, atau, kalau mau memakai istilah yang agak sedikit “keren”, pola berpikir dengan kerangka oposisi biner.

Konsep rujhan sama sekali berbeda. Dalam kerangka semacam ini, dimungkinkan sebuah gradasi dan nuansa yang lebih kaya, bukan hitam putih. Tesis yang “marjuh” bukan berarti langsung dikeluarkan sama sekali dari wilayah “kebenaran”. Apa yang disebut kebenaran mencakup tiga hal itu sekaligus, yaitu tesis yang arjah, rajih, dan marjuh.

Tentu kita semua tahu bahwa konsep rujhan ini adalah konsep fikih yang biasanya dipakai di luar apa yang disebut dengan wilayah “ma’lum min al-din bi al-darurah”, yaitu hal-hal yang secara aksiomatik sudah diterima sebagai “kebenaran yang tak terbantahkan” dalam agama. Istilah ini mungkin bisa disetarakan dengan konsep “doxa” sebagaimana dipahami oleh antropolog-filosof Perancis, Pierre Bourdieu. Setiap masyarakat selalu mengandaikan sebuah “doxa”, yaitu semacam kebenaran tersembunyi yang jarang dikatakan tetapi disepakati oleh semua anggota dalam masyarakat bersangkutan. Tegaknya sebuah orde sosial di manapun biasanya selalu mengandaikan adanya doxa semacam itu.

Apa yang disebut dengan “doxa” dalam sebuah masyarakat, entah masyarakat agama atau non-agama, selalu terbatas. Wilayah non-doxa biasanya jauh lebih banyak, luas, dan terus berkembang. Pendekatan “rujhan” lebih tepat dipakai dalam konteks wilayah non-doxa ini. Karena rujhan bergerak pada wilayah non-doxa, maka watak rujhan memang relatif, sebab fondasi pokok konsep ini adalah “dhann” yang ingin saya terjemahkan sebagai “the approximation of truth”, atau penghampiran atas sebuah kebenaran. Hasil akhir dari rujhan bukanlah Kebenaran dengan “K” besar, tetapi hanyalah perspektif yang hendak mendekati kebenaran itu.

Kerangka inilah yang saya usulkan kepada teman-teman, entah di PBNU atau di luar PBNU, untuk melihat kergaman pemikiran dalam tubuh NU sekarang ini. Wilayah perdebatan yang menimbulkan keragaman pemikiran dalam NU sekarang ini, menurut saya, lebih banyak menyangkut wilayah non-doxa itu sendiri. Bahkan kasus Ahmadiyah yang seolah-olah di permukaan merupakan wilayah “doxa”, yaitu soal finalitas kenabian, jika ditelisik lebih dalam bukanlah murni “doxa”. Finalitas kenabian sendiri, saya sepakat, adalah wilayah “doxa”, tetapi bagaimana “doxa” ini ditafsirkan dan dimaknai, bukanlah bagian dari wilayah “doxa” itu.

Kerangka rujhan ini tidak dengan mudah menuduh bahwa pemikiran tertentu sudah keluar dari NU. Dengan kerangka ini, paling jauh kita hanya mengatakan bahwa pendapat tertentu adalah “marjuh” dalam kerangka ke-NU-an, atau rajih, atau arjah. Ke-NU-an tidak semata-mata dibentuk oleh hal-hal yang ‘arjah” atau “rajih” saja, tetapi juga mencakup hal yang “marjuh” pula.

Supaya tidak disalah pahami, saya ingin menambahkan catatan penting di akhir tulisan ini. Mungkin ada teman yang mengatakan bahwa kerangka yang saya usulkan ini elitis, terlalu “intelektual”, bahasanya abstrak, serta tak mudah dipahami oleh kalangan nahdliyyin awam.

Keberatan semacam ini bukan sekedar hal yang sifatnya “iftiradli” atau pengandaian saja. Keberatan semacam ini sering saya dengar di banyak kalangan, terutama dari kalangan terpelajar yang jelas merupakan bagian dari “kelas elit” dalam masyarakat NU. Memang di mana-mana saya melihat ada kecenderungan yang mengarah kepada semacam “populisme intelektual”. Elitisme dipandang sebagai hal yang jelek.

Tentu saja konsep yang saya ajukan ini bukan untuk dikemukakan kepada warga nahdliyyin biasa. Ini adalah kerangka konseptual yang dengan sengaja saya lempar ke kalangan elit intelektual NU. Di mana-mana selalu saja ada segolongan orang yang merasa bersalah menjadi bagian dari “elit” lalu mengingkari ke-elitan-nya dengan menonjolkan semacam “populisme intelektual”. Ini gejala yang lumrah di mana saja, dan karena itu tidak terlalu mengherankan saya.

Tetapi haruslah diingat bahwa apa yang disebut dengan doktrin Sunni yang menjadi anutan NU tidak bisa dilepaskan dari dasar-dasar intelektual yang sangat elitis. Kitab-kitab yang dikaji oleh santri di pesantren banyak sekali yang bersifat “elitis”. Warga NU di desa-desa tentu tak membutuhkan kitab semacam “Jam’ al-Jawami’” atau “Al-Ashbah wa al-Nadha’ir”, apalagi kitab yang sangat sangat “lebat” dan kadang susah ditembus dan dipahami seperti kitab ushul fikih karangan al-Razi, “al-Mahsul”. Dasar doktrin Sunni yang termuat dalam kitab-kitab seperti al-Irshad karangan al-Juwaini, atau Kitab al-Tamhid karangan al-Baqillani jelas tidak mudah dipahami oleh warga Sunni biasa. Tetapi bangunan doktrin Sunni tidak bisa dilepaskan dari fondasi yang elitis semacam itu.

Kerangka yang saya usulkan ini adalah pendekatan pada level konseptual untuk melihat keragaman pemikiran dalam NU. Ini adalah usulan untuk para elit NU agar mereka menghindari kerangka yang cenderung dualistis dan dikotomis seperti dipakai oleh Kiai Hasyim Muzadi.

Dalam kerangka yang saya usulkan ini, saya tidak keberatan jika ide-ide liberal yang dikemukakan oleh anak-anak muda NU dianggap “marjuh” dalam kerangka tradisi NU. Tetapi ia bukanlah di luar tradisi itu. Bagi saya, selain tradisi NU bukanlah hal yang statik, tradisi itu juga menyediakan ruang yang luas sehingga bisa menampung hal-hal yang “arjah”, “rajih”, dan bahkan “marjuh”.[]

07/05/2009 | | #

Komentar

Komentar Masuk (19)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

sebuah grand design dari seorang Ulil untuk mengembangkan NU yang lebih progresif dan sholikh li kulli zaman wa makanin. NU yang dibawa pak hazim tidak peka jaman lebih cenderung berfikir “selamat”, tidak mau mengambil resiko..lebih nyaman di dalam posisi nyaman. hal ini menyebabkan Nu terkesan nyaman-nyaman saja tidak berkembang dan statis. bahkan mungkin akan menuju kepada watak puritan dan fundamental.. wa’aaluh a’lam bi showab

Posted by yunus  on  07/12  at  09:00 AM

kebebasan berpikir kreatif itu memang penting, namun kebenaran yang dilakukannya belum tentu benar menurut orang lain yang sama-sama berfikir kreatif. sebagai contoh teori darwin “ asal mula manusia dari seekor kera”. cara berfikirnya saya akui bagus, namun darwin harus mendengarkan kreatifitas orang lain, hal ini sebagai koreksi hasil ijtihadnya benar atau salah.
begitu juga dengan kelompok JIL yang terkenal dengan pikiran-pikiran yang cemerlang dalam menyuguhkan gaya penafsiranmya. JIL harus mendengar konsep penafsiran orang lain, hal ini juga untuk koreksi JIL dalam berkarya benar atau salah.
setiap manusia itu masih ada cela kekurangannya. orang yang tahu akan kekurangannya, pasti dalam melangkah selanjutnya akan berhati-hati lagi dalam melangkah. sebaliknya orang yang tidak peduli dengan masukan ide atau pemikiran kreatif orang lain, maka dia akan terjerumus dalam kesombongan. jika kesombongan masih dipelihara, maka jangan ditanya kalau banyak orang yang mencela, menfitnah atau bahkan mengkafirkannya. karena ini adalah sunatullah. saya berkeyakinan “ orang yang sombong akan dijauhi manusia baahkan Tuhannya”.
semoga hal ini bisa direnungkan dan bermanfaat.

Posted by zainul75  on  06/04  at  09:31 PM

Aku kira soal rujhan ini tetap saja bicara soal analisis teks, tranmisi (naqli)dan otoritas. mengapa Imam Nawawi merajihkan 20 masalah dalam qaul qadim al Syafi’i, juga soal naql dan otoritas tadi. Padahal Imam Syafi’i konon sudah bilang : “La Aj’alu fi Hillin Man Rawa ‘Anni Madzhabi al Bagdadi"(tidaklah halal bagi siapa saja yang mengambil pikiran Bagdadku).
Ketika aku bilang ke Kiyai ttg adanya pengaruh sosial mengapa al Syafi’i merubah pandangan Baghdadnya ketika di Mesir, kiyai tadi bilang, bukan soal tempat, tapi soal dalil. Sebagai “muharrir al mazhab” Imam Nawawi memiliki otoritas untuk menseleksi dalil-dalil.
Aneh sekali, tapi juga positif, mengapa Ramya al Jamarat qabla al Zawal akhirnya diapresiasi NU, meski Nawawi-Rafi’i dan yang lain-lain melarangnya. Dll.

Makasih
Husein M

Posted by Husein Muhammad  on  05/27  at  04:17 PM

“Tegaknya sebuah orde sosial di manapun biasanya selalu mengandaikan adanya doxa semacam itu” adalah kesimpulan Ulil.

Saya pikir NU punya tradisi Rujhan yang sangat “lentur” dan sudah lama diterapkan dalam menghadapi berbagai masalah.

Ulama NU sudah sangat tahu “batas” kapan kerangka Rujhan digunakan jika masuk wilayah furu’ dan kapan harus ditolak jika memasuki wilayah Ushul.

Mencampuraduk wilayah furu’ dan ushul bagaikan mencampur doxa dan non-doxa.

Apalagi, tanpa memerinci sebabnya, Ulil menunjuk bahwa kasus Ahmadiyah “seolah-olah merupakan wilayah “doxa”, padahal jika ditelisik lebih dalam bukanlah murni “doxa”.

Terlihat bagaimana arah wacana ini untuk mengaburkan mana “wilayah” ushul/doxa dan mana wilayah furu’/non doxa.

Lebih jauh lagi dibahas bahwa wilayah doxa itu sendiri kabur karena proses penafsiran dan pemaknaan.

Ulil menulis, finalitas kenabian sendiri, saya sepakat, adalah wilayah “doxa”, tetapi bagaimana “doxa” ini ditafsirkan dan dimaknai, bukanlah bagian dari wilayah “doxa” itu.

Jadi, menurut saya kerangka Rujhan ini bukan barang baru, bahkan justru sudah sangat diketahui bagaimana penggunaannya dalam tradisi NU.

Posted by ifan  on  05/25  at  03:18 PM

saya kira tulisan Kang Ulil ini adalah sebuah wacana yang bagus bagi kita warga NU.Membicarakan sebuah wacana pemikiran tidaklah salah walau itu berasal dari barat,hikmah toh tidak hanya berasal dari al-qur’an dan hadis.pemikiran para filsuf/intelektual baratpun tidak semuanya jelek,bahkan terkadan merupakan sebuah interpretasi dari doktrin2/ajaran agama kita.Yang menjadi persoalan adalah kekurangpahaman para elit-agama kita(elit2 NU dalam hal ini) dalam memahami arah sebuah pemikiran.Kejumudan paradigma berfikir para elit agama kitalah yang secara tidak disadari telah menutup pintu menuju sebuah “peradadan yang lebih baik”.Selain itu selama ini jabatan ketua organisasi islam (dalam hal ini PBNU) dikuasai bukan untuk sebuah pengabdian tulus,tapi demi sebuah keinginan menumpuk harta dengan cara menjadi pendukung cabup,cagub,capres.Dengan dalih mendukung kader NU.NU yang selama ii telah kembali khitah di bawa lagi ke ranah politik…

Posted by agus ramadhan universitas sunan giri surabaya  on  05/19  at  07:55 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq