Tentang Orientalisme - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
14/06/2004

Tentang Orientalisme Surat kepada Kawan

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Kawan, surat Anda tentang peran orientalis dalam pengkajian Islam sangat baik. Poin yang perlu ditambahkan kepada ulasan Anda adalah: jika umat Islam merasa keberatan dengan studi-studi orang barat atas “dunia timur”, maka ada baiknya orang Islam melakukan “orientalisme terbalik”, yakni timur melakukan kajian atas barat. Dengan demikian akan terjadi proses belajar yang saling memperkaya antara wetan dan kulon.

Salam,

Kawan, surat Anda tentang peran orientalis dalam pengkajian Islam sangat baik. Poin yang perlu ditambahkan kepada ulasan Anda adalah: jika umat Islam merasa keberatan dengan studi-studi orang barat atas “dunia timur”, maka ada baiknya orang Islam melakukan “orientalisme terbalik”, yakni timur melakukan kajian atas barat. Dengan demikian akan terjadi proses belajar yang saling memperkaya antara wetan dan kulon. Hassan Hanafi telah memulai hal itu melalui studinya yang masih agak mentah dan dangkal, “Pengantar atas Oksidentalisme”.

Saya sendiri menikmati kajian orang barat atas Islam dan dunia timur secara luas. Memang kajian mereka jauh lebih menarik, memikat, dan thought provoking. Saya bertaruh, hingga sepuluh tahun mendatang, saya tidak yakin adakah penulis muslim yang bisa menulis buku populer dengan gaya yang memikat, tetapi dengan erudisi intelektual yang mendalam, seperti yang diperlihatkan oleh Karen Arsmstrong, History of God. Membaca buku ini sama nikmatnya dengan buku membaca Abu Hayyan al-Tauhidi, Al-Imta’ wa al-Mu’anasah. Kapan penulis modern Islam bisa menulis seperti kedua orang itu: tak usah mengutuk orang lain?

Contoh karya orientalisme yang memukau dan enak dibaca adalah buku Diana L. Eck, Encountering God, suatu kajian yang penuh dengan simpati tetapi juga kritis atas pandangan ketuhanan dalam tradisi Hinduisme dilihat dari sudut pandang teologi Kristiani. Buku ini sedap sekali dibaca, dan sekali lagi saya bertaruh, belum tentu dalam waktu satu dekade mendatang ada seorang penulis muslim yang bisa melakukan studi teologi sebaik dan dan sememikat seperti dilakukan oleh Eck.

Kajian-kajian Sachiko Murata atau William C. Chittick dalam bidang mistik Islam, masyaallah, kok bisa orang-orang di “luar” Islam mengkaji mistik sebaik itu, bahkan dengan mutu yang susah ditandingi oleh orang Islam sendiri.

Buku yang membuat saya jengkel karena menyebarkan “kecurigaan” yang berlebihan pada kaum orientalis serta kaum intelektual Muslim di dunia Islam adalah karangan Dr. Muhammad al-Bahy yang berjudul, al-Fikr al-Islamy wa Shilatuhu bi al-Isti’mar al-Jadid (al-Gharby). Buku ini telah diterjemahkan oleh Penerbit Dewan Dakwah dan kerap dipakai oleh Daud Rasyid untuk menyerang Cak Nur, atau K.H. Syukron Makmun untuk menyerang Gus Dur dengan tuduhan yang “klise” di mana-mana, yaitu bahwa mereka yang sering disebut sebagai “pembaharu Islam” sejatinya hanya antek orientalis.

Salam

[Ulil Abshar-Abdalla]

14/06/2004 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (14)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Saya sampai sekarang masih berusaha mencerna pola pikir kita2 terutama dalam melihat mereka diluar kita (baca: islam). Saya lebih suka menggunakan pendekatan bukti/ evidents, bukan persepsi. Karena persepsi kita pada dunia barat yang negatif justru akan membuat kita apriory pada apapun output yg mereka keluarkan. Seperti persepsi kita pada orang yg kita kagumi yg selalu positif, membuat kita membenarkan apapun yg keluar dari mulutnya. Ingat, mereka bukan Rosuulullah lho…

Terus terang saya suka tulisan2 Mas Ulil dan saya sangat menikmati membacanya; namun demikian, dibalik pemahaman keagamaan saya yang terbatas, saya juga punya segepok ketidaksepahaman dengan pola pikir dia. Beberapa kali saya menghadiri ceramah2 yg diberikan oleh ustadz2 yg oleh sebagian kita disebut sebagai “islam kanan”, saya menikmatinya sebesar saya asyik membaca artikel2 JIL. Saya aktif membuka situs JIL seaktif saya membuka situs Hidayatullah, Hizbut Tahrir, Gus Dur atau Padhangmbulan. Sekali lagi, saya punya segudang ketidaksetujuan dengan poin2 mereka. Bagi saya itu fine, saya mencoba melihat isinya, bukan orangnya; boleh nggak setuju - itu fitrah karena tiap orang berbeda - tapi saya tetap menghormati mereka, tidak men-judge yg lain jelek, sesat, kafir.. apa parameternya? Bukankah kita sama2 sedang berkelana mencari kebenaran; kita sama2 gak tau siapa diantara kita yg ibadahnya diterima, siapa yg akan masuk surga. Bahkan kita gak tau siapa, yg mana yg islamnya bener2 islam. Al Qur’an bicara semua hal secara umum; tiap kita punya interpretasi. Siapa yg paling benar? Habib Riziek? Ulil? Quraish Shihab? Bukankah kita semua gak tau siapa yang paling benar...? Kenapa tidak kita mendengarkan mereka semua; kita cermati, tangkap semua pesannya, kaji… Allah memberi kita otak untuk berfikir. Saya nggak yakin kalau potensi berpikir saya lebih rendah dibanding orang2 yg saya sebut diatas tadi. Saya percaya Allah memberi kebebasan kita menggunakan potensi terbesar tersebut secara maksimal. Selebihnya, sampai yg serba maha memanggil saya menghadapnya; bukankah saya masih dalam fase terus mencari jalan yg diridhoiNya…
-----

Posted by Moh Subagio  on  07/06  at  01:08 AM

mas ulil yang baik saya sangat setuju dengan mas Ulil. ngomong-ngomong sat ini, ahir-ahir ni saya melihat tulisan mas Ulil kok kelihatan reaksioner dan gegabah. mas Ulil semakin kelihatan pemarah dan maaf seperti “Fundamentalis”

Posted by Imam M Ridwan  on  06/29  at  03:07 AM

Saya sangat berharap pemikir-pemiki baru, baik dari kalangan Islam dan agama lainnya, bermunculan di Indonesia.  Percaturan dunia telah dan akan selalu berubah, Indonesia akan semakin terpuruk dalam ketertinggalan bila terus berkutat dengan masalah primordial. Percekcokan tentang agama, suku dan sub-kultur justru akan membuat Indonesia kehabisan waktu dan tenaga untuk mengatasi masalah mendasar: kemiskinan dan keadilan sosial, serta bejibun masalah lain.

Generasi hibrida baru sangat diperlukan. Sebuah generasi yang berpandangan terbuka, yang mengatakan: “mari berdialog” untuk memecahkan masalah, dan masing-masing berani untuk ‘menggeser paradigma’ lama, menggantinya dengan paradigma baru yang selaras dengan tuntutan jaman. Generasi baru yang berani mengakui dan berlapang dada akan akan adanya ‘perbedaan pendapat’.  Generasi dinamis yang berani menantang status quo karena status quo sangatlah tidak produktif dan tidak lagi bisa ditolerir oleh zaman yang serba kompetitif.  Bukankah untuk memenangkan kompetisi (hellooooo ...  globalisasi tidak bisa ditarik mundur!) berarti .....

Oh ... panjang dan banyak yang harus kita pikirkan bersama. Favorit saya: membuka mata, membuka pandangan, membuka diri, karena sikap ingin benar sendiri sangatlah tidak produktif dan harus diganti dengan paradigma “win-win” (kecuali Anda sedang main sepakbola!).

Salam, Socratessa

Posted by Socratessa  on  03/16  at  04:03 PM

Saya heran kok seorang pemikir seperti Anda bisa-bisanya kagum atas karya dari orang-orang macam demikian. Saya pikir anda akan bersikap obyektif dan tetap meletakan buah karya pemikiran mereka itu dalam suatu “mizan” atau timbangan nalar sehingga bisa diukur apakah buah karya demikian patut dikagumi atau tidak. Jangan asal kagum. Atau jangan-jangan anda baru membaca satu-dua buku demikian. Kejengkelan anda terhadap karya orang (ex. karangan Dr. Muhammad al-Bahy yang berjudul, al-Fikr al-Islamy wa Shilatuhu bi al-Isti’mar al-Jadid (al-Gharby)) yang pendapatnya berseberangan dgn pendapat anda menempatkan diri anda bukan seorang ilmuwan sejati yang berusaha keras mencari kebenaran. Carilah titik perbedaan antara orientalis dan orang-orang yang kontra terhadapnya, lokalisir, dan berilah komentar serta penyelesaian dgn didasarkan pada norma kebenaran. Bukannya malah malah terikut arus dan kemudian “jengkel”.

Posted by dicky r h  on  10/26  at  10:11 AM

Harusnya kita berterima kasih terhadap kerja keras para orientatalis. Bukankah dengan membaca karya mereka, kita justru makin bisa melihat diri kita (Timur). Kalau yang melihat kita hanya diri kita sendiri, bagaimana mungkin kita bisa melihat secara utuh. Apakah anda bisa melihat punggung anda sendiri tanpa bantuan apapun. Beruntunglah kita, karena ada yang mau meminjamkan cermin pada kita agar kita bisa melihat punggung kita. Boleh saja kita beranggapan bahwa diantara para orientalis ada yang punya maksud negatif untuk ?mencelakai? timur. Tapi saya kira tidak semua orientalis bersikap demikian itu, diantara mereka saya yakin juga ada yang pure ? yang semata mata demi ilmu ?  Ada ungkapan “if you know only england, you don’t know england” - tafsiran bebasnya: jika anda sebagai orang timur hanya mengenal timur, maka sesungguhnya anda tidak begitu tahu apa sesungguhya timur itu”. Berangkat dari pemahaman ini saya pribadi setuju saja jika kita harus melakukan studi tentang barat (oksidentalisme) sebagai reaksi terhadap orientalisme. Mungkin dengan begitu kita bisa mempelajari sisi baik mereka dan menghindari sisi negatifnya.  Barat relatif berhasil dalam berbagai bidang di timur, karena mereka mengenali timur dengan baik, maka mereka pandai melihat peluang. Nah, saya rasa ada baiknya juga kita mempelajari mereka agar kita tahu bagaimana harus bersikap ketika bertemu dengan segala sesuatu yang berbau barat.  Jadi bukan langsung apriori terhadap barat. Toh tak semua yang dari barat itu buruk, sebagaimana tak semua yang dari timur itu baik.

Posted by erham budi mahatma  on  10/24  at  01:11 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq