Teologi Pembebasan Perempuan - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
29/07/2001

Teologi Pembebasan Perempuan

Oleh Nasaruddin Umar

Islam sejak awal ditargetkan sebagai agama pembebasan, terutama pembebasan terhadap kaum perempuan. Bisa dibayangkan, bagaimana masyarakat Arab yang misoginis dan dikenal sering membunuh anak perempuan, tiba-tiba diperintah melakukan pesta syukuran (‘aqiqah) atas kelahiran anak perempuan, meskipun baru sebatas seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor bagi anak laki-laki.

29/07/2001 08:04 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

itulah hebatnya islam, sangat memuliakan wanita. kalau dianggap bahwa islam merumahkan dan menjilbabkan perempuan tentu sangatlah naif, banyak perempuan berjilbab sekarang yang bisa bekerja dan beraktifitas layaknya laki2 namun untuk qudrah memang harus diakui perempuan sebagai ibu dari anak - anaknya yang lebih mempunyai naluri untuk melindungi, membesarkan, mengasuh dan mendidik anak2nya.
akan tetapi kadang saya pribadi tidak habis pikir knapa pada saat laki - laki ingin memuliakan mereka dianggap sebagai pengekangan. contohnya dianjurkan memakai jilbab mereka menolak dengan berbagai alasan dan mereka tidak sadar kalau mereka dijadikan bahan pelecehan oleh laki - laki lain yang memandang wanita sebagai obyek, dengan dalih art, keindahan dan lain sebagainya. juga mereka dengan busana mini sangatlah mengundang birahi para laki2 untuk melakukan pelecehan (seperti yang dialami dewi persik) bahkan diperkosa sementara kita bandingkan dengan para wanita berjilbab yang sangat jarang di lecehkan dijalan.

saya menghimbau kepada semua saudara - saudara marilah kita jaga perempuan - perempuan kita

#1. Dikirim oleh danie  pada  06/08   07:55 PM

Bung Nasaruddin Umar yang disayangi Allah
Membaca tulisan anda, mengingatkan saya pada tesis Ali Syariati mengenai periodisasi kebudayaan; bahwa semua budaya yang dikenal memiliki dua sifat umum. Pertama, setiap budaya, bahkan yang paling terbelakang dan primitif, menganggap bahwa jauh di masa lalu ia memiliki zaman keemasan ( Golden Age) yang adalah masa keadilan, ketenangan dan cinta. Zaman keemasan ini berakhir pada beberapa pokok yang kemudian diikuti dengan kerusakan, kegelapan, dan kelaliman. Kedua, mereka percaya kepada revolusi besar dan revolusi yang membebaskan di masa depan dan kembali ke zaman keemasan, zaman kemenangan, keadilan, persamaan, dan persaudaraan. Kepercayaan ini merata dalam semua masyarakat manusia, dan merupakan manifestasi dari naluri dasar manusia.
Dari cara pandang Syariati di atas, muncul asumsi bercabang. Pertama, bahwa revolusi yang diberikan islam pada kemerdekaan kaum perempuan untuk berkreasi di ruang publik sekaligus untuk mendapatkan hak kemanusiaannya merupakan masa keemasan alias Golden Age dari sejarah “peradaban perempuan”. Hal ini, secara sinkronik dan diakronik segera menemukan masa kegelapannya, setelah sebagian dunia Islam “memangkas” ruang kreasi kaum hawa dengan “mendomestikkannya” di rumah, jilbabisasi, dan seterusnya sebagaimana yang digambarkan oleh Bung Nasruddin. Jadi, sekarang kaum perempuan yang jadi obyek dan sasaran itu tengah menantikan “revolusi yang membebaskan”, yang mungkin saja untuk wilayah Indonesia digelorakan oleh kawan-kawan JIL.
Asumsi kedua, bahwa alih-alih sebagian dunia Islam memenjarakan hak-hak kaum perempuan, justru mereka tengah menapaki jalan revolusi yang membebaskan. Jadi, hari ini terjadi upaya menggiring kejayaan peradaban perempuan di sebagian kawasan Islam menuju kegelapan (Dark Age), dengan munculnya pemikiran feminisme, sekulerisme, bahkan (maaf) liberalisme. Sementara, juga muncul usaha untuk mencapai kejayaan masa lalu dengan pemikiran yang salafi, dan fundamental.
Manakah yang tepat? Atau justru semuanya salah. Semuanya kembali pada tafsir kita atas jajaran ayat Qur’an yang sudah dipetikkan Bung Nasaruddin di atas.Wallahu A’lam.

#2. Dikirim oleh Arif Paijo  pada  24/07   08:39 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq