Teori Konspirasi Selalu Meneror Kebenaran - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
15/09/2003

Teori Konspirasi Selalu Meneror Kebenaran

Oleh Redaksi

Tepat hari Kamis, 11/09/03 yang lalu, Radio 68H Jakarta mengadakan diskusi untuk mengevaluasi 2 tahun perang melawan terorisme. Berbagai pandangan, mulai dari analisis suasana geo-politik global di Timur Tengah, sampai persoalan meningkatnya radikalisasi agama di Indonesia dibahas dalam diskusi tersebut. Diskusi tersebut mendatangkan antara lain, Dr Syafii Anwar, Ismail Yusanto dan Musthafa Abd Rahman.

Tepat hari Kamis, 11/09/03
yang lalu, Radio 68H Jakarta mengadakan diskusi untuk mengevaluasi 2
tahun perang melawan terorisme. Berbagai pandangan, mulai dari analisis suasana
geo-politik global di Timur Tengah, sampai persoalan meningkatnya radikalisasi
agama di Indonesia dibahas dalam diskusi tersebut. Diskusi tersebut
mendatangkan antara lain, Dr Syafii Anwar, Ismail Yusanto dan Musthafa Abd
Rahman. Berikut perbincangan mereka:

Dr Syafii Anwar:

Saya melihat tiga respon atau pendekatan terhadap tragedi 11
september 2001 di dunia Islam. Pertama, mereka yang percaya pengeboman
di New York itu dilakukan kelompok Islam radikal, atau dalam bahasa Barat
disebut kelompok fundamentalis Islam. kelompok ini yakin betul dengan keabsahan
pendapatnya, dan mereka mengait-ngaitkan tragedi itu dengan operasi Jaringan
Al-Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin.

Kedua, mereka yang melihatnya sebagai sebuah fakta,
tapi lebih percaya pada teori konspirasi atau teori komplotan. Kelompok ini
percaya teori konspirasi karena tidak percaya kelompok Islam melakukan aksi
dahsyat tersebut. Bagi mereka, tragedi itu tak lebih, dilakukan antek-antek
Amerika, baik Yahudi, Kristen, atau lainnya. Pendekatan kedua ini laris
berkembang di negeri kita.

Ketiga, mereka yang mengambil posisi ambivalen;
mengutuk peristiwa tersebut di satu sisi, tapi pendapat mereka tetap ngambang
alias tidak jelas di sisi lain. Itu disebabkan mereka mempertimbangkan bahwa
itu semua sulit dibuktikan.

Nah, saya sendiri berpendapat bahwa ketiga-tiganya punya
kelebihan dan kekurangan. Saya ingin menambahkan teori atau pendekatan yang
keempat, yaitu pendekatan yang menekankan perlunya verifikasi empirik. Kita tak
bisa begitu saja mengatakan ini dan itu. Diperlukan verifikasi empirik yang
mendalam ketika mengatasi atau menyelidiki kasus tersebut. Saya mengajukan ini karena
ketiga pendekatan tersebut memiliki banyak kelemahan, terutama teori konspirasi
yang sangat populer di Indonesia.

Teori konspirasi adalah teori yang dibangun atas dasar
prakonsepsi, asumsi-asumsi atau bahkan imajinasi yang sudah kita bangun lebih
dulu, dan itu sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dia selalu mengarah
pada apa yang disebut pharanoia within reason. Jadi ada semacam
pharanoia dalam akal pikiran. Teori konspirasi juga biasa mengembangkan apa
yang dalam ilmu komunikasi disebut sistimatically distortion of information,
informasi yang sengaja didistorsi secara sistimatis, sehingga sulit untuk
dipertanggungjawabkan. Teori konspirasi juga mengarah pada terrorizing of
the truth
, meneror kebenaran itu sendiri, karena sulit dibuktikan. Nah, itulah
yang perlu disaring.

Sangat sulit mengatakan siapa pelaku terorisme itu hanya
dengan mengandalkan teori konspirasi.

Terus terang, di kalangan Islam terdapat juga dakwah yang
mengarahkan pada aksi-aksi yang radikal. Ada banyak ajaran yang berangkat dari
asumsi-asumi pembedaan dan pengotak-ngotakan. Dalam bahasa agama, itu bisa
disebut minna waminkum, kita dan mereka, us and them. Ini
disebabkan tafsir atas ayat-ayat Alqur’an yang sudah mengalami proses
radikalisasi.

Ayat walan tardlâ dan lain sebagainya dapat dijadikan
misal. Ayat tersebut secara semena-mena ditransformasikan sedemikian rupa,
ditambahi muatan politik, dan dikeluarkan dari konteksnya yang asli. Lantas dia
menimbulkan state of mind yang cenderung melakukan terrorizing of the
truth
atau terorisme atas kebenaran itu sendiri.

Dalam konteks sekarang, inilah yang mungkin dilakukan
orang-orang yang ingin mencari popularitas diri. Mereka menegasikan bahwa dalam
Islam terdapat bentuk-bentuk radikalisme. Mereka berusaha keras menolaknya.
Padahal, hasil kajian-kajian yang ada --termasuk yang pernah saya lakukan sejak
tahun 1980-1984—memperlihatkan banyak sekali buku-buku dan pamflet-pamflet yang
secara terang-terangan melakukan aksentuasi atas ajaran-ajaran Islam yang
radikal.

Musthafa Abd. Rahman: (Wartawan Kompas untuk kawasan Timur Tengah):

Saya sangat terkejut mendengar lagu Usamah bin Ladin di
Indonesia. Di Timur Tengah sekian tahun, saya justru tidak mendengar Usamah dilagukan.
Usamah terlanjur dijadikan simbol atau inspirator terorisme internasional.
Tentu kata terorisme di sini masih dalam tanda kutip, sebab defenisi terorisme
itu saja sampai sekarang belum final. Di Timur Tengah, masih saja ada polemik
yang tak habis-habisnya tentang apa definisi terorisme.

Saya akan menyampaikan fenomena pertarungan antara Amerika
Serikat dengan gerakan Islam Politik, dan mungkin, sekelumit tentang bagaimana
masa depannya.

Tragedi 11 september 2001 merupakan titik kulminasi
pertarungan antara gerakan Islam Politik dengan Dunia Barat, khusunya Amerika
Serikat. Sesungguhnya, pertarungan sudah dimulai jauh sebelum itu, persisinya sejak
awal tahun 1970-an, ketika meletus perang Arab-Israel pada tahun 1973. Waktu
itu, Presiden Mesir, Anwar Sadat, untuk pertama kalinya mengumandangkan bendera
Islam dalam melawan Israel.

Perang lalu disusul oleh embargo minyak yang dilakukan
negara-negara Arab konservatif seperti Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab atas
Barat. Sebelum itu, perlawanan atas kekuatan Barat di Timur Tengah
dipersonifikasikan dalam wujud Isreal dan itu diusung oleh kekuatan nasionalisme
Arab, baik dalam bentuk Naserisme di Mesir, dipimpin Gamal Abden Naser ataupun
Baathisme, alias kekuasaan Partai Baath di Suriah dan Irak. Khadafisme yang
dipimpin Moammar Qadhafi di Libya juga.

Gerakan-gerakan itu, semuanya memiliki latar belakang
nasionalisme Arab yang kuat. Tapi kekalahan negara-negara Arab terhadap Israel
dalam perang 1967, sungguh menyakitkan. Tanah Arab yang sangat luas seperti
Gurun Sinai, Tepi Barat, Jalur Gaza, Dataran Tinggi Golan, dicaplok. Kekalahan nasionalisme
Arab itu akhirnya memicu bangkitnya gerakan Islam Politik di Timur Tengah.

Dalam perang tahun 1973, Sadat tak lagi mengobarkan
nasionalisme Arab, tapi memilih mengibarkan Islam. Itu kemudian diringi oleh
embargo minyak dari negara Arab konseravatif atas Barat. Pada puncaknya, kita
menyaksikan meletusnya Revolsi Islam di Iran pada 1979.

Ternyata, pertarungan Amerika dan gerakan Islam Politik, di
kemudian hari bukan semakin memuncak. Kenapa?

Pada waktu Irak menginvasi Kuwait, Amerika Serikat dan
kekuatan Barat terpaksa ikut campur dan berperang. Setelah mengusir Irak dari
Kuwait, Amerika bukannya mengevalusi kebijakan politiknya di Timur Tengah, tapi
justru semakin menguatkan cengkramannya. Iniah yang memicu reaksi balik yang
sangat keras, khususnya dari kelompok Al-Qaidah pimpinan Usamah bin Laden.
Selama dekade-dekade terakhir ini, pertarungan terus berlanjut dan semakin
memuncak. Ini ditandai tragedi 11 september 2001. Bagaimana masa depan
pertarungan itu?

Sebagian besar pengamat pesimsis akan ada solusi kompromi
atau damai dalam petarungan dua kekuaatan ini. Kenapa? Amerika semakin
mengukuhkan kebijakan konfrontasinya, misalnya dengan mengeneralisasi semua kelompok-kelompok
yang anti Barat sebagai teroris. Hamas dan kelompok Jihad Islam di Palestina,
menurut versi Amerika, Israel dan negara-negara Barat, adalah teroris. Padahal,
mereka menyebut apa yang mereka lakukan sebagai perang membebaskan Tanah Air
mereka sendiri.

Kelompok Hizbullah di Libanon Selatan, oleh Amerika juga
dituduh teroris. Hizbullah selama ini berperang melawan Israel di Libanon
Selatan demi membebaskan tanahnya sendiri. Amerika tidak berhenti di situ, tapi
menekan Pemerintahan Libanon dan Suriah untuk membekukan aset kekayaan
Hizbullah dan bahkan membubarkannya. Membubarkan Hizbullah atau membekukan
asetnya beresiko luar bisa, karena mereka memiliki kekuatan yang sangat besar.
Susah bagi Pemerintahan Libanon untuk menghadapinya.

Orang-orang Hizbullah sudah masuk parlemen. Mereka memiliki
rumah sakit terbaik di Beirut Barat. Hizbullah juga memiliki sayap militer
yang tangguh dan berpengalaman. Mereka berhasil mengusir tentara Isreal dari
Libanon Selatan pada tahun 2000. Ini adalah situasi krusial di Timur Tengah.

Karena itu, masa depan konfrontasi Amerika dan gerakan Islam
Politik sangat suram dan berwajah pesimistik. Amerika di satu pihak semakin
memperkuat cengkramannya, sementara gerakan Islam Politik juga tidak mau
mundur, ataupun berkompromi. Bahkan, mereka menciptakan kreasi-kreasi baru
dalam melawan hegemoni Amerika dan Barat.

Maraknya aksi bom bunuh diri adalah bagian dari kreasi itu.
Itu merupakan kreasi yang tidak bisa dibendung oleh teknologi canggih
sekalipun. Misalnya Isreal. Dengan sistem keamanan yang berlapis-lapis, mereka
tetap saja bisa ditembus. Aktivis Hamas dan Jihad Islam selalu berhasil
menyusup ke kota-kota besar Isreal. Tidak tanggung-tanggung, mereka berhasil
melancarkan aksi bom bunuh diri yang membawa korban cukup besar. Setiap mereka
melontarkan ancaman, mereka selalu berhasil. Inilah bentuk kegagalan sistem
keamanan atau teknologi militer yang dimiliki Isreal.

Begitu pula yang terjadi di Irak. Pasca jatuhnya Saddam,
rakyat Irak tetap melakukan perlawanan dengan perang gerilya. Hampir setiap
hari, ada saja pasukan Amerika yang tewas. Kalau setahun berjumlah 365 hari,
berarti akan ada sekitar 365 pasukan Amerika yang tewas dalam setahun. Dampak politiknya
tentu luar biasa. Seperti kita ketahui, perlawanan di Irak juga disponsori oleh
kelompok Islam, khususnya kelompok Ikhwanul Muslimin di Irak Tengah, yang
dikenal sebagai basis Islam Sunni.

Ada beberapa kekuatan baru di Irak pascainvasi Amerika. Ada
Islam Sunni, di utara ada Kurdi dan di selatan ada Syiah. Tiga kekuatan ini
merupakan kekuatan baru pascainvasi, dan mereka tertindas pada masa Saddam
Hussein. Mereka anti-Saddam sekaligus anti-Amerika. Seandainya ada loyalis
Saddam yang ikut mendompleng perlawanan Ikhwanul Muslimin di Irak, itu
sesungguhnya hanya sementara saja, untuk menghadapi musuh bersama. Suatu saat,
ketika perlawaan berhasil, mereka pasti akan pecah. Islam Sunni pasti membalas
aktivis Partai Baath yang berideologi nasioalisme. Mencari solusi kompromi
antara gerakan Islam Politik dan Amerika dalam waktu pendek atau menengah, saya
kira sangat susah.

Kalau melihat fenomena beberapa bulan terakhir, invasi ke
Irak justru memicu radikalisme. Tidak hanya di Irak, radikalisme juga meluas ke
Riyadh, Casablanca, dan juga Palestina. Di Irak sendiri Amerika mengalami kesulitan
luar biasa. Kita tahu, menjelang invasi ke Irak, semua kekuatan dunia, termasuk
PBB, didepak oleh Amerika. Sekarang, Amerika mengemis-ngemis supaya kekuatan
negara lain dilibatkan di Irak. Itu sebetulnya untuk menutup kegagalan Amerika
di Irak. Peristiwa ini dipastikan bedampak politik yang serius di Amerika,
khususnya menjelang kampanye presiden tahun depan.

Ismail Yusanto (Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia):

Dalam dunia yang sudah borderless ini, persoalan
aksi dan reaksi atas kekerasan mudah dilihat. Apa yang terjadi di Timur Tengah
bisa disaksikan siapapun yang mengikuti media massa. Keprihatinan, sentimen dan
semangat perlawanan begitu mudah menyebar, sebagaimana mudah menyaksikan
ketidakadilan.

Saya kita, penting bagi kita membuka wacana yang lebih
komprehensif ketika berbicara masalah perang melawan terorisme. Kita jangan
terjebak dalam persoalan reaksi, tapi tidak pernah mengkaji aksi. Reaksi selalu
terjadi setelah aksi. Reaksi perlawanan orang-orang Palestina terjadi karena
ada aksi Israel. Demo anti-Amerika juga reaksi atas langkah Amerika bergerak ke
Irak. Amerika juga menganggap tindakannya reaksi atas peledakan gedung WTC. Itu
merupakan lingkaran aksi dan reaksi.

Ada beberapa poin masalah perang melawan terorisme. Pertama,
dari segi definisi saja kata terorisme sudah sangat pejoratif. Kalau kita
konsisiten dengan definisi terorisme sebagai sekelompok orang yang menempuh
jalan kekerasan dalam mencapai tujuan, mestinya itu juga berlaku untuk semua
orang dan semua kelompok. Tapi nyatanya tidak.

Hamas dimasukkan dalam daftar Foreign Terrorist
Organization
. Padahal, mereka hanya mengupayakan untuk mengusir Isreal dari
wilayah Palestina.

Bagaimana mungkin Hamas dicap teroris, sementara yang
menimbulkan reaksi tidak dicap apa-apa. Sampai saat ini, Israel selalu
menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan. Mereka mengusir penduduk dengan
kekerasan, membunuh tokoh Hamas, dan tokoh Palestina lainnya. Untuk menekan
Yasser Arafat pun dengan kekerasan.

Nah ini yang saya lihat dari AS. Dari definisi saja kita
tidak adil. Ketidakadilan berlanjut sampai masalah penanganan perang melawan
terorisme. Perang melawan terorisme menjadi perang melawan kelompok yang
dianggap sebagai teroris, tidak kelompok lainnnya. Perang hanya melawan Hamas,
tidak melawan Israel. Melawan Syekh Ahmad Yasin, tidak terhadap Ariel Sharon
yang tangannya berlumuran darah. Sharon dulunya adalah arsitek pembantaian
Shabra dan Shatila, dan Kamp Jenin.

Kedua, ada spektrum cukup lebar dalam reaksi umat
Islam atas berbagai persoalan yang berkaitan dengan aksi Amerika maupun Israel.
Ada yang menanggapi biasa-biasa saja, bahkan menganggap itu bukan pesoalan dia.
Ada yang sedikit serius, muncul dalam perbincangan-perbincangan. Tapi ada yang
lebih serius lagi, sampai mengeluarkan statemen, berdemo, ataupun mengeluarkan
petisi. Ada juga yang lantas menempuh langkah kekerasan.

Sekarang sebagian kawan kita menempuh jalur paling kanan.
Mengapa? Karena dalam pendangan mereka, Amerika sudah mengajak berperang, untuk
itu perlu dilayani. Teman-teman alumni Afganistan tidak berhenti mungkin yang
berada di posisi ini. Saya kebetulan punya kontak dengan satu-dua orang di
antara mereka. Mereka mengingatkan koleganya bahwa ketika di Afganistan, waktu
di kamp militer atau pelatihan jihad, tujuannya adalah untuk menggerakkan jihad
di mana-mana. Sekarang muncul masalah yang harus dihadapi; intervensi Amerika
atas Afganistan dan Irak. Ada kasus Ambon dan Poso.

Dalam konteks ini, saya mengira Amrozi atau Imam Samudra
memang sedang menempuh apa yang mereka yakini sebagai kewajiban yang harus
ditempuh seorang muslim, sebagai reaksi atas kezaliman yang menimpa umat Islam.
Bahwa kemudian kejadiannya seperti itu, ini persoalan lain lagi.

Saya kira, kita tidak sependapat dengan apa yang mereka
lakukan di Bali, di Marriott dan lainnnya. Hizbut Tahrir sendiri secara resmi
mengeluarkan pernyataan pada 6 Agustus lalu. Di situ kami mengutuk pelaku
peledakan bom Marriott sebagai tindakan zalim luar biasa. Syariat Islam
melarang dengan tegas, dengan motif apapun, membunuh orang tanpa hak, merusak
milik pribadi dan fasilitas umum, apalagi bila tindakan itu mengakibatkan
jatuhnya korban dan meluaskan rasa takut. Itu sikap kita.

Syafii Anwar:

Menurut saya, tidak adil mengatakan bahwa gerakan radikal
Islam tidak ada. Akar historisnya cukup banyak, mulai dari Kartosuwiryo dan
lainnya. Saya tertarik pada respon Mas Ismail, khususnya tentang radikalisasi respon
kita atas dinamika Timur Tengah. Ini penting sekali. Seperti dikatakan Mas
Musthafa, di Timur Tengah sasaran konflik jelas, yaitu Israel, Amerika atau
apapun kekuatannya. Tapi ketika mentransformasikan itu dalam konteks Indonesia,
persoalannya menjadi lain. Sebab korbannya --kalau kita berkaca pada daftar
korban bom Marriott—adalah sopir taksi, bahkan orang yang tekun beribadah.
Inikan sangat ironis. Saya bertanya, apa yang membuat mereka melakukan tindakan
itu?

Sebagai muslim, saya merasa risau ketika Amrozi cs terus
memekikkan “Allahu Akbar”. Dia juga mengaku tindakannya benar, dan dia merasa
sedang berjihad. Ini lantas menjadi image. Pengalaman saya di Australia
menunjukkan sangat sulit menghilangkan image Islam sebagai religion
of fear
, sebagai agama yang menautkan. Kadangkala saya juga melihat
tendensi politik yang coba mengapitalisasi perkembangan itu.

Mari kita berlaku jujur. Dalam kalangan Islam ada metode
dakwah yang radikal, minna minkum, kita-mereka, us and them.
Sasarannya juga tidak jelas. Konsep dakwah yang fundamental selalu bil hikmah,
dengan kebijaksanaan, wal mau‘idhatil hasanah, dengan teladan
yang baik, wajâdilhum billati hiyâ ahsan, dengan perdebatan yang
bermoral.

Ini yang tidak bisa ditransformasikan secara adil, ditambah
pula dengan penafsiran yang lepas konteks, isolatif, dan tidak mengacu pada
pendapat yang benar. Makanya, ketika dicover media, terjadi proses generalisasi
yang salah. Amerika juga salah. Tapi kelompok Islam politik selalu menuduh bahwa
image itu diciptakan Amerika. Pemimpin Islam juga harus jujur, bahwa ada
dakwah yang radikal, dan itu harus kita atasi dengan baik.

Ismail Yusanto:

Ketika ditanyai wartawan dalam dan luar negeri tentang vonis
mati bagi Amrozi, saya selalu berkomentar, “Kalau betul dia yang melakukan, itu
adalah hukuman yang pantas. Sebab, dalam Islam juga dikenal hukum qisas.”

Tapi kita juga perlu mempertanyakan hukuman apa yang patas
untuk Bush yang telah melakuan pembunuhan luar biasa di Irak. Amrozi mengatakan
bahwa dia keliru. Yang dia sasar adalah turis Amerika, tapi yangbanyak menjadi
korban adalah turis Australia. Ini kekeliruan fatal, dan dia pantas dihukum
untuk itu. Tapi Bush juga keliru. Dia bilang akan ke Irak untuk mencari senjata
pemusnah massal, ternyata tidak ada. Maksud saya, equality ini harus
kita kembangkan. Kalau kita mau perang melawan terorisme, maka harus global,
menyeluruh, bukan sepihak.

Musthafa Abd. Rahman:

Saya ingin bicara mengapa muncul kelompok radikal. Ini
memang agak rumit. Seperti kita tahu, orang kedua jaringan Al-Qaidah bernama
Aiman Al-Zawahiri. Dia adalah pemimpin Tanzimul Jihad sempalan Ihkwanul
Muslimin. Mereka tidak puas dengan Ikhwanul Muslimin karena terlalu akomodatif
pada pemerintah Mesir. Perbedaan aspirasi itu, memunculkan Jamaah Islamiah,
Tanzimul Jihad, dan banyak lagi.

Pijakan ideologis Aiman adalah tokoh Ikhwanul Muslimin tahun
1950-1960. Dia suka karya-karya Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb yang menjadi mainstream
pemikiran pada tahun tersebut. Inilah yang menjadi idola aktivis gerakan Islam sekarang
ini.

Tanzimul Jihad juga mengusung ideologi Pan-Islamisme. Mereka
berambisi mengembalikan kejayaan Islam seperti masa Dinasti Umayyah, Abasiyyah
dan Ustmaniyah. Mereka tidak menerima sistem nation-state karena produk
Barat yang menurut mereka menjadi sumber ketidakadilan di dunia Islam. Mereka
sepertinya belum mengakui adanya perbatasan dengan negara Sudan, Afganistan dan
seterusnya.

Persoalannya apakah ideologi yang berkembang di Timur Tengah
itu menyebar ke Indonesia atau Asia Tenggara? Yang jelas demikianlah yang
terjadi di Timur Tengah.

Perkembangan selanjutnya memang lebih banyak ditentukan
realitas kehadiran Amerika yang begitu kuat. Praktis, saat ini Amerika sudah
menguasai semua cadangan minyak di seluruh dunia, khususnya di Asia Tengah dan
Timur Tengah, yang merupakan tempat 2/3 cadangan minyak dunia.

Melihat hegemoni Amerika yang sudah menguasai semua sumber
rezeki mereka, aktivis Islam seperti mereka akan pusing, lantas mengadakan
perlawanan. Ini ditambah soal ketidakadilan yang dialami rakyat Palestina dan
Irak. Jadi akumulasi permasalahannya sangat rumit. Inilah yang saya kira
membuat pemikiran Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb menjadi idola.

Saya kira, konteks Timur Tengah dan Indonesia memang tak
sama. Di sana, persoalan menjadi jelas; kehadiran pasukan Amerika bisa dilihat
dengan mata telanjang. Di Kuwait, saya menyaksikan bagaimana pasukan Amerika
mejadi tuan di negeri orang. Pangkalan militer Amerika bertebaran di mana-mana.
Di Kuwait ada delapan pelabuhan yang menjadi tempat keluar masuknya logistik
dari Amerika ke Irak. Begitulah realitasnya.

Makanya, tidak bisa disalahkan juga kalau ada perlawanan
terhadap Amerika. Amerika juga tak bisa disalahkan secara total, karena dia
juga punya ketergantungan besar terhadap pasokan minyak. Kita tahu itu sejak
Perang Dunia II. Amerika butuh dana untuk membangun kembali Eropa, Jepang, dan
mesin industri mereka. Amerika juga harus mengamankan Israel. Terlepas kita
setuju atau tidak, inilah faktanya.

Lantas mengapa gerakan Islam Politik diam-diam mengundang
simpati di masyarakat? Pertama, karena faktor Israel. Kedua, kegagalan
pembangunan ekonomi dan politik di banyak negara Timur Tengah. Pengangguran ada
di mana-mana. Kita melihat banyak manusia-manusia perahu, yang akan menyeberang
dari negara Arab sebelah Barat seperti Tunisia dan Maroko ke daratan Eropa. Kita
juga mendengar warga Irak yang terdampar di Indonesia karena mencoba menuju
Australia.

15/09/2003 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (17)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Belajar dari sejarah peradaban manusia barang siapa berkuasa dapat menjadikan dirinya sebagai pahlawan kebenaran. Itulah sebabnya manusia berusaha mendaatkan kekuasaan dengan segala cara hingga menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.
Yang harus disadari dendam dan kebencian akan menghancurkan lingkungan dan bagai bumerang akan berbalik pada yang melemparkannya.

Posted by ibnusomowiyono  on  09/28  at  04:58 PM

Alhamdullilah, ternyata situs ini termasuk yang mendukung kebebasan berpikir dan informasi umat. Selama ini saya selalu berdiskusi tentang adanya radikalisme dalam Islam dengan teman2 dan dengan org2 muslim yg tak saya kenal di Indonesia melalui forum2 diskusi. Mereka selalu menentang adanya istilah Islam radikal atau fundamentalis.

Saya menawarkan fakta bahwa orang-orang yang membom kereta api di Madrid tgl. 11 maret 2004 itu orang-orang muslim dan saya kenal salah satu diantaranya. Mereka kini ada dipenjara. Saya kenal juga seorang kenalan Indonesia yang setelah keluar dari Spanyol lantas menjadi buron di Indonesia karena kasus Poso dsb. Nah ini adalah fakta. Mereka itu saudara2 kita yg berpikiran radikal, saya bilang. Tapi saya malah dituduh dimanipulasi amerika karena yang membom itu adalah org2 yang ingin menjelekan Islam.

Jadi untuk membuka mata sesama saudara kita bhw di antara kita memang ada saja muslim yg beraliran radikal (logis saya pikir) itu susah sekali. Mereka itu asal bicara. Sedangkan mereka tidak mempunyai fakta, sumber bahkan mereka bukanlah org2 yg bergerak di bidang intelejen yang menguasai hal ini, nah bagaimana mereka bisa bicara seenaknya saja? Padahal saya kenal, seorang muslim di sini yg terlibat pemboman 11M, dan saya tau bagaimana pemikiran dia yg radikal, dia sempat ke Indonesia utk melihat pelatihan di kamp JI (jemaah islamiyah) dan dia memang mengkoleksi senjata api di rumahnya. Sedangkan kenalan yg satu lagi, terakhir2 ketemu juga berubah. Tidak mau memandang wanita, bahkan memperlihatkan video perang di Bosnia pada anak2 pengajian.

Beritanya dia itu terlibat keributan di Poso dan menjadi buron polisi. Nah ini kan bukti, saya kenal mereka tapi org2 yg tak tau bukti ini malah membela teori konspirasi. Susah...bagi saya berdiskusi dengan sesama muslim menjadi semakin susah karena pikiran mereka yang tak mau melihat masalah dalam tubuh masyarakat muslim sendiri...Sekian pendapat saya, terimakasih dan

Wassalam.
-----

Posted by nagasundani  on  08/01  at  03:08 AM

Saya bertanya kepada seorang Palestina yang “mengungsi” dan mendapat kewarganegaraan di Negara-Timur tengah.

Pertanyaan saya adalah: Apakah ada orang arab yang tinggal di negeri Palestina dalam pemerintahan israel dan bagaimana keadaan mereka?

Cukup kontroversial juga jawabannya.

Banyak orang islam atau kristen arab yang tinggal dalam pemerintahan israel yang walaupun statusnya adalah warga negara kelas dua namun mereka hidup lebih aman dan tentram dan bebas melaksanakan ibadah mereka masing-masing. Perikehidupan ekonomi nya juga jauh lebih baik dari orang arab yang tinggal di wilayah Palestina.

Kenyataannya 1-2 juta penduduk arab sekarang ini dengan aman tinggal di wilayah pemerintahan Israel. Ketidak amanan mereka dipicu oleh aksi-aksi gerakan perlawanan yang menyusup ke Israel sehingga membuat mereka penduduk setempat yang arab dicurigai oleh pemerintahan israel.

Lalu saya tanyakan kenapa orang arab yang lain enggak gabung jadi satu aja dengan israel dan bikin negara yang demokrasi? Dan kenapa mereka terus berperang dengan Israel?

Lebih kontroversialnya lagi di jawab wah itu sih karena mereka emang seneng aja perang mungkin karena udah benci ama israel.

Memang obrolan saya ini bersikap subjectif dari si orang palestina itu saja. namun juga ternyata memberi masukan lain untuk saya dalam mencari solusi penyelesaian palestina. yaitu Mungkinkah membentuk Satu Negara Demokrasi di Palestina yang mencaklup semua warga arab-Israel dengan pemerintahan yang ADIL?

Posted by thesaintsnow  on  09/08  at  04:09 PM

Memang semua ahkirnya harus berpulang kepada fakta...masalahnya apakah yang teramati sebagai fakta itu adalah yang sebenarnya? lalu adakah “kebenaran” lain yang tidak terungkap atau tidak teramati??? Kiranya kita tidak usah naif, dalam arti memang ada kelompok2 tertentu yang mempunyai kepentingan dan agenda tertentu lalu melakukannya dengan “invisible” atau “dibelakang layar” . Mungkin hanya yang teramati yang ada, tiada yang lain, dan itulah satu2nya kebenaran. Tapi tentunya jangan menutup mata terhadap kemungkinan terhadap “kebenaran” lain yang tidak terungkap.

Posted by Adi  on  06/21  at  06:06 AM

Berdoa juga nggak salah, tapi lebih salah kalau kita melihat kemungkaran merajalela, lantas kita tiduran atawa ikutan larut dalam kemungkaran. Dalam konteks Indonesia, apakah orang-orang Islam di Jakarta nggak ikutan dalam konsiparasi dan kongxkong yang ujug-ujugnya adalah duit dan kekuasaan? Dengan mata kepala, kita lihat para pemimpin kita pada qadalin kite pade, yang ujug-ujugnya mematikan potensi kita pribumi yang sebagian besar beragama Islam. Dalam konteks Indonesia, kita nggak bisa melihat masalah secara parsial tanpa mengikutkan kepentingan ummat Islam secara satu kesatuan dari negara Indonesia.

Kembali kepada kita semua, apakah kita bagian dari kemunafikan? Sekedar mengingatkan, Indonesia amburadul lantaran para pemimpin kehilangan amanah, juga lantaran korupsi sudah semakin brutal.

Posted by lyulka  on  02/03  at  10:02 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq