Tmir, Salat di Mesir - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
14/05/2006

Tmir, Salat di Mesir

Oleh Hamid Basyaib

Dalam perjalanan dari bandara Kairo ke Alexandria, lokasi perjamuan ilmiah yang saya ikuti bulan lalu, saya disupiri Tmir. Setelah lolos dari hiruk lalu lintas Kairo dan memasuki jalan tol, saya mulai membuka percakapan dengan pria 35 tahun berbadan tegap dan berkumis itu.

Dalam perjalanan dari bandara Kairo ke Alexandria, lokasi perjamuan ilmiah yang saya ikuti bulan lalu, saya disupiri Tmir. Setelah lolos dari hiruk lalu lintas Kairo dan memasuki jalan tol, saya mulai membuka percakapan dengan pria 35 tahun berbadan tegap dan berkumis itu. 

Bagaimana pendapat Anda tentang pengeboman tiga gereja di Alexandria yang terjadi dua hari sebelumnya? Sorot riang dari bola mata Tmir yang besar segera redup. Ia sangat sedih mendengar aksi keji itu. “Itu adalah perbuatan orang-orang yang punya pikiran lain”, katanya. Sebagai Muslim, kata Tmir, ia menjalankan salat lima waktu dan sering pula membaca Quran. “Saya pikir, dengan cara itu saya telah menjadi Muslim yang baik,” tambahnya. “Selanjutnya saya bekerja. Seperti saat ini”.

Tmir tak habis pikir pada perbuatan para pengebom itu. Apa yang mereka inginkan? Apa yang ingin mereka katakan dengan membunuh? Sejak kecil ia telah bertetangga dengan orang-orang Koptik dan Yahudi di Kairo. Kenyataan itu sama sekali tak mengganggunya. Segala perbedaan yang ada di antara keluarganya dan warga Muslim lainnya dengan warga-warga non-Muslim itu tak pernah memunculkan masalah serius apapun.

Tmir lalu terdiam. Ia seolah sedang merenungi banyaknya kekerasan atas nama Islam yang terjadi belakangan ini di negerinya. Ia seperti ingin bicara lebih banyak, tapi mungkin pula merasa harus santun pada tamunya. Mobil Korea yang dikendarainya melaju kencang di tengah jalan tol yang bergelombang. Tiba-tiba ia bertanya amat sopan, apakah saya keberatan jika ia minta waktu lima menit untuk salat Magrib.

Setelah saya jawab, “tentu saja tidak, silakan”, ia menepikan MPV-nya. Saya agak tegang. Di manakah ia akan salat di tengah jalan yang gelap gulita dan dengan tepian penuh gundukan pasir itu?

Tapi Tmir tak ragu sedikit pun. Ia berwudu dengan setengah botol air mineral, lalu menggelar sajadah hanya satu meter di luar badan jalan; satu-satunya bidang yang cukup rata. Tiada seorang manusia lain pun di sekitar kawasan berdebu itu.

Sesekali saya mencuri pandang, menyaksikannya salat. Sungguh mengharukan melihat supir sederhana itu sedemikian setia menjalankan apa yang baginya kewajiban yang tak tertawar. Tak jarang Tmir mengeraskan bacaannya.

Namun saya tak pernah bisa menangkap jelas suara Tmir. Surah apa sajakah yang dibacanya selain Alfatihah? Konsentrasi saya selalu buyar. Deru mesin mobil dan truk-truk besar yang melaju kencang, selalu menggulung suara Tmir. Lalu mengempaskannya ke balik gunung-gunung pasir dan langit malam.

Seusai dia salat, saya tanya apakah dia tak menjamak salatnya. Tmir tersenyum jenaka.  “Tidak, dong,” jawabnya. “Saya kan lagi kerja...”.

Tmir pasti tak berniat menggurui saya. Tapi saya memetik kearifan darinya: ia yakin ia adalah Muslim yang baik, dengan salat dan rajin membaca Quran, dan dengan bekerja sebaik-baiknya. Ia minta waktu untuk salat, tapi tak mau memanfaatkan peluang itu untuk lebih lama menyita waktu pelanggannya. Dengan tegas dan rileks, ia memutuskan tak menjamak salat, dan akan melakukan Isya’ di Alexandria saja—atau sepulangnya ke Kairo.

Kami melanjutkan perjalanan dengan membisu. Masih dua jam lagi. Tmir memacu mobil kian kencang, menembus lorong malam. Saya tenggelam dalam apa yang baru saja terjadi: bacaan-bacaan salat Tmir digulung oleh mesin truk-truk besar, yang menderu-deru hanya satu meter di sampingnya. 

Dua hari sekembali saya ke Jakarta, tiga bom meledak di Alexandria. Saya segera teringat Tmir. Ia yakin ia adalah Muslim yang baik, dengan salat dan bacaan Qurannya. Dan bekerja sebaik-baiknya. Bukan mengebom sekeras-kerasnya untuk menimbulkan korban sebanyak-banyaknya. []

14/05/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

thx for the quality of exploration & discussion and many things that could reveal relationship between moslem & non moslem, that will helps the world to develop into better condition that people from all religion could live in harmony. People will live based on spirit of love and affection on top of superiority of faith & wisdom, that will help people to love & forgive rather than to argue & becoming fanatics to what they believe without living on a prayer as well as they eat, breath..etc… Its so important against manipulation of power, politics, money talking, spirit of command and conquer that destruct civilizations & humanity. I just believe instead of God’s glory, God would like to see people’s happiness, serenity, joy rather than cry, war, poverty...etc… We human who praise & pray should achieve it, not against the spirit to create & form better world, better civilizations and give religions to unite & collaborating…

thx & proviciat to this sites.
-----

Posted by Jimmy Basuki  on  11/13  at  02:12 AM

Muslim-Koptik di Mesir [Sebuah Potret]

Catatan Ahmad Ginandjar Sya’ban

Ada yang menarik dari pola interaksi umat Muslim dan umat Koptik di Mesir. Koptik (Coptic/ al-Qibth) merupakan salah satu sekte Kristen kuno yang sampai di Mesir pada abad pertama masehi di bawah tangan rasul Marcus (Rifaat Abd al-Hamid, al-Fikr al-Mashri fi ‘Ashr al-Masihi: 2000).

Contoh kecilnya, yaitu simpati yang kerap kali disampaikan oleh keduanya saat salah satu dari mereka sedang merayakan hari suci. Ketika umat Muslim merayakan Idul Fitri, banyak dari kalangan umat Koptik yang memberikan simpati, baik sekedar memberikan ucapan, memberikan kartu dan karangan bunga tanda selamat, memberikan hadiah, hingga ikut serta hadir dalam perayaan tersebut. Pun ketika umat Koptik merayakan hari raya Natal (id al-milad al-majid), tak sedikit dari umat Muslim yang memberikan simpati serupa (Nehdat Misr, edisi 6 Januari 2006).

Justeru, yang lebih menjadikannya menarik adalah para pembesar agama kedua belah pihak yang melakukan hal-hal simpatik tersebut. Dr. Sayyed Thanthawi, Grand Syeikh Al-Azhar, kerap kali bersimpati dan menziarahi gereja-gereja Koptik, sama halnya seperti Poppe Sanouda, pucuk pemimpin spiritual umat Koptik Mesir, yang sering berkunjung ke lembaga Al-Azhar dan masjid-masjid.

Bahkan, Syeikh Thanthawi membolehkan shalat di dalam gereja. Hal ini beliau lakukan berulang kali bersama para ulama Al-Azhar lainnya pada waktu-waktu dewan Al-Azhar diundang berbuka puasa bersama di gereja-gereja Koptik. Dewan ulama Al-Azhar berbuka puasa di gereja tersebut, sekaligus shalat berjama’ah di sana. Tidak bersama para Babawât tentunya (Nehdat Misr, edisi 12 Maret 2005).

Dalam salah satu petikan wawancaranya di mingguan Nehdat Misr (edisi 12 Maret 2006), Syeikh Thanthawi mengatakan bahwa nahnu ka abna al-wathan al-wahid, fa ‘alayna an nahfazha wathanana (kita bersama adalah anak bangsa yang satu, maka wajib bagi kita untuk bersama-sama menjaganya). Syeikh Azhar yang dikenal moderat ini juga menegaskan bahwa perbedaan agama bukan menjadi alasan untuk sebuah perselisihan. Lana ma lana wa lahum ma lahum, nahnu abna min al-abb al-wahid Ibrahim (bagi kita agama kita dan bagi mereka agama mereka, kita adalah anak-anak dari ayah yang satu, Nabi Ibrahim).

Fenomena saling bersimpati ini rupanya sudah mengakar tradisi. Bahkan semenjak zaman nabi Muhammad dan masa penaklukan Mesir—yang waktu itu menjadi anak peradaban Romawi—di bawah komandan Amru bin Ash. Ketika Nabi Muhammad tiba di Mesir untuk pertama kalinya, pihak Mesir menghadiahkan seorang gadis Koptik bernama Morrient (Maria al-Qibthiyyah) yang kelak dinikahi oleh Nabi. Pun pada masa penaklukan Mesir, Amru bin Ash dengan keras melarang pasukannya untuk menganiaya penduduk setempat, merusak rumah-rumah serta sarana sosial yang ada.

Maka hingga sekarang, situs-situs peninggalan orang Yunani, Yahudi dan Koptik sebelum masa penaklukan Islam sebagian masih terawat dengan baik. Beberapa synagog Yahudi, gereja-gereja kuno dan situs-situs Yunani-Romawi masih utuh, hal yang menandakan jika pada masa pendudukan Islam hampir tidak ada pengrusakan.

Sewaktu Al-Mu’tashim, salah satu pucuk pemimpin dinasti Abbasiyyah (8 M) yang terkenal dengan ashr al-tarjamah al-ilmiyyah (masa penerjemahan besar-besaran), hendak mendirikan perpustakaan Bayt al-Hikmah di Baghdad, beliau mengundang ilmuwan-ilmuwan Yahudi, Kristen dan Zoroast untuk menerjemahkan literatur-literatur berbahasa Yunani, Ibrani, Suryani, Romawi dan Persia. Tak ketinggalan diundangnya juga ilmuwan Koptik Mesir untuk menerjemahkan beberapa literatur Neo-Platonis (Hellenistyc) yang dahulu berkembang di Alexandria (Ahmad Amin: Dluha al-Islam, 1998).

Pada masa dinasti Shalahuddin al-Ayyubi (11 M), orang-orang Koptik dan Yahudi Mesir ikut serta memerdekakan Palestine yang waktu itu diduduki tentara Salib. Hal ini, menurut novelis Irlandia Lorenz Deriell, dalam salah satu novelnya yang berjudul Alexandria, adalah karena orang-orang Romawi melarang orang-orang Koptik untuk memasuki kota suci Palestina, sebab mereka memandang orang Koptik sama kafirnya dengan orang Muslim dan Yahudi (el-Cairo News/ 23 Mei 2006).

Saat dinasti Muhammad Ali Pasya memimpin Mesir (18 M), ia menyerahkan urusan administrasi keuangan pada orang Koptik. Begitu juga puak penerusnya, Cadeve Ismail Pasya dan Cadeve Fuad Pasya yang banyak mengangkat orang-orang Koptik menjadi menteri kerajaannya (el-Cairo News/23 Mei 2006).

Keharmonisan Muslim-Koptik justeru semakin menghangat sewaktu revolusi 1952 meledak dan menggulingkan raja Farauq II yang korup. Dalam film monumental Tsawrah Yuliu (Revolusi Juli) digambarkan ribuan orang Mesir (umat Muslim memakai pakaian identitas kemuslimannya dan umat Koptik memakai pakaian identitas mereka) berjibun memenuhi jalanan sambil bergandengantangan antar satu sama lain. Saat itu semboyan yang terkenal adalah misr awwalan, islam wa masihiyyah fi ma ba’d (bangsa Mesir utama, identitas agama Islam dan Kristen selanjutnya) dengan simbol bulan sabit dan salib Koptik yang menyatu.

Saat teori Clash of Civilization yang digulirkan Samuel Huntington menggegerkan dunia, para cendikiawan Mesir dari unsur Muslim dan Koptik bersama-sama meraksinya. Adalah Milad Hanna yang kemudian menurunkan buku dengan tajuk Qabul al-Akhar (Attechment the Other/ Menerima yang Lain) yang kemudian mendapat nobel perdamaian.

Pun, adalah Morad Wahbah, Lweiss Owd, Ramses Owd, Ghali Syukri, Samuel Sabri, Phillip Gallab, Yunan Labib dan sederet filosof Koptik-Mesir lainnya yang bersama-sama filosof Muslim-Mesir (semisal Zaki Naguib Mahmoud, Athef Iraqi, Hassan Hanafi, Abd al-Halim Atheyya, Saleh Qanswu dll) merancang bangun proyek al-falsafah al-arabiyyah al-haditsah (filsafat Arab modern).

Itulah sedikit potret pola interaksi antara Muslim dengan Koptik di Mesir yang sangat harmonis. Sebuah pola yang mengedepankan kebersamaan dan menghargai yang lain, menjadikan perbedaan sebagai sebuah peluang untuk sama-sama saling belajar. Sejak jauh hari orang Mesir sadar betul bahwa sebuah bangsa tidak akan berdiri kokoh tanpa ditopang oleh asas saling menghargai.

Sayang, pola interaksi yang harmonis di atas, yang telah turun temurun selama berabad-abad lamanya, tiba-tiba terguncang oleh ledakan bom di tiga gereja Koptik di Alexandria. Selama berabad-abad puak nenek moyang bangsa Mesir telah membangun “rumah laba-laba” Muslim-Koptik dengan sangat susah payah, tiba-tiba rumah sulaman itu sekarang harus terkoyak.

**Ahmad Ginandjar Sya’ban, peminat kajian lintas peradaban, tinggal di Cairo Mobile: (+20)104858448

Posted by Ahmad Ginandjar Sya'ban  on  05/26  at  09:06 AM

Fenomena Tmir, kiranya pelu kita dialogkan dengan lebih tajam, baik dari sisi Tmir dan pandangannya tentang Islam. atau dari sudut Syariat yaitu Tmir dan Salatnya (karena mengapa ia tidak mau menjamak shalat, apakah karena ia tidak mau atau ia mempunyai pendapat lain tntang jamak tersebut).

salam untuk Tmir

Posted by saepullah  on  05/17  at  06:06 PM

Saya sangat bangga dengan kepribadian saudara ku TMIR. Seandainya banyak TMIR lainya di INDONESIA TERCINTA dan seluruh dunia. YA ALLOH hamba memohon agar TMIR selalu terlindungi hatinya, dan terjaga kepribadianya. Dan hamba memohon agar rakyat INDONESIA sama seperti beliau.

Posted by ghadzi  on  05/17  at  09:06 AM

Semoga kita semua mendapat hikmah dari artikel ini, dan semoga dapat memberikan kita semua pencerahan diri.

Sebelumnya maaf aku mau bertanya, apa hikmah yang penulis dapatkan dari kejadian itu? Dan apakah ada perubahan dalam diri penulis setelah mengalami kejadian tersebut?

Posted by rasman  on  05/16  at  01:06 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq