Tuhan Pasca Musibah - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
11/06/2006

Tuhan Pasca Musibah

Oleh Slamet Thohari

Krisis ternyata bukan sekadar kerugian, tetapi sekaligus “berkah” bila kita dapat menyikapinya secara jernih dan menjadikannya sumber inspirasi. Ya, kepedihan memang sedang melanda. Dan tepat di situlah agama sangat dibutuhkan untuk ketentraman. Namun menyikapi krisis secara berlebihan dan meletakkannya dalam kerangka agama semata, tanpa sikap yang kritis, merupakan sikap fatalis yang tidak berarti.

“Dari mana kamu belajar semua ini,” tanya dokter.
“Dari penderitaan,” jawab sang anak.
- Albert Camus

Indonesia kini sedang mendekam dalam “geometri kesedihan” yang amat mendalam. Volume kesedihan itu dirasakan hampir semua orang yang mendiami negeri ini. Lalu bergerilya dalam alam bawah sadar kita anggapan bahwa alam sedang marah karena ulah manusia yang “jahat”. Juga karena manusia lupa Tuhannya. Banyak orang yang kemudian mencaci-maki diri sendiri atas sikapnya yang selama ini dianggap telah ingkar dan tidak menaati apa yang diperintahkan Tuhan dan agama. Semua musibah yang menimpa, sejak gempa dan tsunami di Aceh, gempa bumi di Jogja, dan kemarahan gunung Merapi di sana, dianggap peringatan Tuhan agar masyarakat Indonesia kembali ingat dan berdiri di jalan yang telah ditentukan oleh-Nya.

Tuhan Pasca Musibah

Masyarakat Indonesia tengah mengalami ke-suwunguan-an yang amat mendalam. Tak ayal lagi, agama akan menjadi “senjata ampuh” untuk menjelaskan semua yang dihinggapinnya. Banyak orang tiba-tiba menjadi fatalis, sedemikian tunduk dan patuh pada nasib. Mereka menyerahkan penjelasan semuanya kepada Penguasa alam. Agama menjadi ruang untuk menjawab berbagai persoalan dan pertanyaan-pertanyaan musykil (thorny questions) yang kini hadir. Agama tiba-tiba menjadi medan eskapisme atau pelarian diri, bahkan opium yang menghibur, kalau kita gunakan bahasa Marxian.

Betapa banyaknya imbauan-imbauan yang terlontar di tengah-tengah masyarakat agar kita kembali kepada agama. Khutbah di masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya, selebaran-selebaran, dan kolom-kolom di media massa, menyeru untuk “kembali kepada Allah”. Seruan-seruan itu menjadi sangat seksi, menjadi pegangan, bahkan terkesan mengalahkan pendekatan geologis atau ekademis lainnya. Dalam bahasa Pierre Bourdieu, masyarakat Indonesia kini mungkin sedang mengalami disenhecment of the world. Dunia sedemikian tak berarti, nisbi, dan kosong. Dalam benak setiap orang, hampir tersemat apa yang oleh Heiddeger disebut “kecemasan” atau aungthz. Tuhan hadir tepat waktu, dianggap sebagai “sumber” bencana, dan dalam waktu bersamaan, sekaligus sebagai jalan yang memberi harapan.

Krisis berkepanjangan dan musibah yang seakan tak kunjung berhenti itu telah memberikan agama legetimasi kuat sebagai penjelas keadaan, sehingga membunuh penjelasan-penjelasan yang ilmiah. Dengan cara mereproduksi wacana yang mengukuhkan spirit agama dan Tuhan secara berlebihan, agama yang mestinya menjadi refleksi dan pergulatan personal, kini menjadi spirit dan kesadaran yang kolektif. Ia lalu menjadi system yang mengkolonisasi lebenswelt individu-individu. Kini ada kecenderungan besar, orang sudah tidak lagi berpikir kreatif dalam menyikapi pelbagai musibah.

Dari sinilah, benih-benih kebekuan berpikir menguat dan semakin kukuh. Kecenderungan berpikir yang mengarah pada regimentasi agama terjadi, sehingga mengantarkan kita pada sikap-sikap yang fundamentalistis. Agama lalu menjadi kebenaran mutlak pada semua sektor wilayah publik, dan secara perlahan “menertibkan” pergulatan-pergulatan individu. Agama menjadi modal simbolis (symbolic capital) sebuah pergumulan iman, demi menentramkan semangat kita dalam menyikapi kekosongan hidup.

Musibah dan Spirit Berimajinasi

Namun sebetulnya, perubahan juga selalu diawali oleh krisis. Krisis itu mengertak orang untuk kreatif dan mendorong mereka untuk berimajinasi. Sebelum digunakannya antibiotik secara massif pada abad ke-XX, Eropa awal abad ke-XIV sempat mengalami krisis yang disebabkan penyakit “kematian hitam”. Penyakit itu disebarkan oleh kutu kecil. Orang-orang kalut, kematian menjadi hal yang biasa dan massal. Lebih dari dua pertiga penduduk Eropa habis binasa oleh penyakit ini. Banyak orang yang bunuh diri, membakar harta-bendanya karena putus asa. Namun setelah peristiwa itu, orang berlomba-lomba mencari jawaban ilmiah. Eksperimen-eksperimen baru dalam dunia medis dimulai. Krisis telah turut mempercepat proses reformasi dan gerakan rasionalisasi Protestan saat itu.

Di masa Perang Dunia Kedua (1939-1946) dunia mengalami krisis lebih berat lagi. Sekitar 291.557 tentara AS mati, 357.116 tentara Inggris, dan lebih dari 1 juta tentara China hilang. Lebih dari 3 juta tentara Jerman menjadi korban. Belum lagi negara-negara lain, terlebih negara dunia ketiga. Jutaan orang gugur sebagai korban perang yang paling besar sepanjang sejarah umat manusia itu. Namun di tengah kesuwungan hidup itu, orang-orang Eropa menyikapinya secara rasional. Mereka membuahkan filsuf-filsuf besar seperti Karl Jasper (1883–1969), Jean Paul Sartre (1905–1980), Martin Heidegger (1889–1976), Albert Camus, Martin Burber (1878–1965), Paul Ricouer (1913–...), Maurice Marleu-Ponty (1908–1961), dan Emmanuel Lavinas (1906–1995) (Olson, 1962: viii).

Albert Camus dengan karya-karyanya yang terkenal merupakan refleksi dari banyaknya penderita penyakit sampar di Aljazair. Ketika itu, hidup sepertinya benar-benar hambar, dan kematian menjadi pilihan yang lebih baik. Tak jauh berbeda dengan Camus, Pierre Bourdieu menghasilkan buku-buku hebat seperti Logic of Practice (1973) dan Sociology of Algeria (1971), yang merupakan hasil pergumulan panjangnya dengan krisis di Aljaziar di bawah kekuasaan Balfour (Robin, 1991: 11).

Bom nuklir yang dijatuhkan di Nagasaki dan Hirosima 6 dan 9 Agustus 1945, juga merupakan puncak dari kejahatan Perang Dunia Kedua. Ribuan orang bermata sipit secara serentak lenyap. Tidak ada orang Jepang yang tidak sedih. Tetapi dengan serentak mereka belajar dari krisis, menyikapinya secara lebih rasional. Muncul fisikawan-fisikawan, dan ilmu alam lalu berkembang pesat. Di kemudian hari, itu semua menjadikan modal Jepang untuk tampil sebagai negara maju, setara dengan negara-negara Eropa.

Krisis ternyata bukan sekadar kerugian, tetapi sekaligus “berkah” bila kita dapat menyikapinya secara jernih dan menjadikannya sumber inspirasi. Ya, kepedihan memang sedang melanda. Dan tepat di situlah agama sangat dibutuhkan untuk ketentraman. Namun menyikapi krisis secara berlebihan dan meletakkannya dalam kerangka agama semata, tanpa sikap yang kritis, merupakan sikap fatalis yang tidak berarti. Pada setiap perjalanan hidup, pergulatan dengan Tuhan merupakan urusan yang sangat personal. Meletakkan urusan yang personal itu dalam wilayah kolektif secara berlebihan, terutama pada moment krisis, akan mebunuh ruang berpikir di luar batas agama. Itu merupakan siasat yang kurang baik. Dengan begitu, kreativitas dan imajinasi kita akan tumpul.

Kini semua sedang dilanda musibah. Menyikapinya secara kritis, jernih dan rasional, merupakan bekal untuk membangun negeri ini secara lebih baik. Jogjakarta adalah kota pelajar. Banyak para pemikir rasional dan penulis yang berdiam di sana. Dengan musibah ini, kita berharap Indonesia akan lebih maju dengan berpikir. Semoga!

Slamet Thohari, Alumnus Filsafat UGM, Tinggal di Jogjakarta

11/06/2006 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

perang dunia tentu saja memberikan effek pada pola dan budaya masyarakat Eropa. karena situasi perang dunia saat itu memberikan inspirasi bagi pemikiran-pemikiran sekitar HAM, kebebasan, Demokrasi dan lain sebagainya. banyak filsuf dan pemikir yang notabenenya merupakan repon dan effek dari zeitgeist krisis saat itu. saya stuju dengan Slamet Thohari. asalkan bagaimana krisis dapat digunakan sebagai bahan imajinasi untuk berpikir secara rasional, sebagaimana Mas Slamet ungkapkan. Mas David sebaiknya yang perlu banyak membaca latar belakang para pemikir-pemikir. salam
-----

Posted by MIftah  on  06/22  at  11:06 AM

TUHAN PASCA MUSIBAH. Menurutku Tuhan gak ikut-ikutan mencampuri musibah yang terjadi, karena apa Tuhan sih berdiri diatas semua golongan tanpa pilih kasih, yang beragama maupun yang gak beragama, yang soleh maupun yang mursal, semua pada bae di “mata” Tuhan.

Musibah itu cuma “kerjaan” alam yang risih kepada ulah manusia yang menghuni diatasnya. Jika manusia berbaikhati dan bersahabat dengan alam, alampun tentunya gak macam-macam tingkah lakunya.

Posted by tuhu  on  06/19  at  05:07 PM

Saya bingung dengan artikel yang anda tulis. Sebab banyak pernyataan satu dan lainnya tidak berhubungan. Sebagai contoh,

Pernyataan 1

“Bom nuklir yang dijatuhkan di Nagasaki dan Hirosima 6 dan 9 Agustus 1945, juga merupakan puncak dari kejahatan Perang Dunia Kedua. Ribuan orang bermata sipit secara serentak lenyap. Tidak ada orang Jepang yang tidak sedih. Tetapi dengan serentak mereka belajar dari krisis, menyikapinya secara lebih rasional. Muncul fisikawan-fisikawan, dan ilmu alam lalu berkembang pesat. Di kemudian hari, itu semua menjadikan modal Jepang untuk tampil sebagai negara maju, setara dengan negara-negara Eropa.”

Harus anda ketahui fisikawan-fisikawan top jepang sudah muncul sebelum perang dunia kedua, salah satunya Hideki Yukawa pemenang nobel fisika. Tahun 1800-an akhir Jepang rajin mengirim para pelajarnya ke benua eropa untuk belajar teknologi. Sehingga sebelum perang dunia pertama, Jepang sudah menguasai teknologi canggih. Seperti yang kita tahu dari sejarah Jepang mempunyai angkatan perang darat, laut dan udara yang disegani. Makanya dia bisa menjajah negara yang tidak menguasai teknologi, khususnya teknologi perang. Jadi budaya belajar menguasai teknologi Jepang tidak muncul instant, yaitu ketika mereka amburadul secara fisik oleh perang dunia kedua. Coba deh anda belajar sejarah lagi.

Pernyataan 2

“Di masa Perang Dunia Kedua (1939-1946) dunia mengalami krisis lebih berat lagi. Sekitar 291.557 tentara AS mati, 357.116 tentara Inggris, dan lebih dari 1 juta tentara China hilang. Lebih dari 3 juta tentara Jerman menjadi korban. Belum lagi negara-negara lain, terlebih negara dunia ketiga. Jutaan orang gugur sebagai korban perang yang paling besar sepanjang sejarah umat manusia itu. Namun di tengah kesuwungan hidup itu, orang-orang Eropa menyikapinya secara rasional. Mereka membuahkan filsuf-filsuf besar seperti Karl Jasper (1883–1969), Jean Paul Sartre (1905–1980), Martin Heidegger (1889–1976), Albert Camus, Martin Burber (1878–1965), Paul Ricouer (1913–...), Maurice Marleu-Ponty (1908–1961), dan Emmanuel Lavinas (1906–1995) (Olson, 1962: viii).”

Apa pengaruhnya bagi peradaban bangsa barat, dalam kehidupan ekonomi, polotik, sosial dan teknologi? Menurut saya tidak ada. Coba anda baca lagi buku-buku sejarah. Mungkin hanya segelintir orang saja yang membaca karyanya tetapi karya tsb tidak berpengaruh besar terhadap cara berbudaya masyarakat mayoritas.

Sebenarnya masih ada beberapa kalimat anda yang tidak relevan satu sama lain. Tolong anda lebih teliti.

Salam David D Losong, Alumnus S2 Fisika UI, peminat filsafat.

Posted by David daniel Losong  on  06/16  at  07:06 AM

Setelah membaca artikel anda diatas saya berkesimpulan berbeda dengan anda (Namun menyikapi krisis secara berlebihan dan meletakkannya dalam kerangka agama semata, tanpa sikap yang kritis, merupakan sikap fatalis yang tidak berarti.)

Yang perlu disikapi adalah menyandarkan semua kepada Allah dan tentu tetap bertawakal tantu anda faham konsep tawakal atau anda punya pengertian lain tentang tawakal.

Orang bodohpun faham bahwa kita tetap harus berusaha untuk bangkit karena perbaikan pasca bencan tidak datang sekonyong-konyong seperti pertunjukan sulap yang menipu itu. tetapi tetap kita harus bersandar kepada zat yang maha semuanya “Allah” dan biar Dia yang menentukan semua hasil usaha fisik dan fikiran yang sudah dilaksanakan.

Terima kasih

Posted by sulaiman  on  06/14  at  09:06 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq