Tuhan Pasca-Tsunami - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
13/01/2005

Tuhan Pasca-Tsunami

Oleh Novriantoni

Ketika rumusan teologis yang dikemukakan mengasumsi bahwa bencana Aceh adalah refleksi dari kemurkaan Tuhan, di situ secara eksplisit sudah terkandung nada-nada yang menyudutkan dan menyalahkan rakyat Aceh yang kini menjadi korban (blaming the victims). Sebaliknya, ketika bencana ini dianggap sebagai “ujian” Tuhan untuk umat manusia yang Dia cintai, sebagaimana yang dikatakan sejumlah kutipan kitab suci (perhatikan betapa beratnya ujian itu!), secara implisit kita juga sedang terlibat dalam proses menyalahkan Tuhan (blaming God). Kedua kecenderungan tadi tentu bukanlah rumusan teologis yang bisa dianggap elegan dan ideal tentang bencana alam.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompas, 14 Januari 2005

Jum’at (7/1) kemarin, salah seorang teman yang kini telah menjadi “kiai muda” di Tangerang, menumpahkan kegundahan hatinya soal diskursus tentang Tuhan yang berkembang setelah bencara gempa dan tsunami melanda kawasan Asia Tenggara (26/12), khususnya Aceh sebagai kawasan terparah. Melalui pembicaraan via telepon, dia menyatakan gerah akan khutbah “kiai-kiai Orba” (istilah teman kita tadi) yang sempat dia dengar siang Jum’at itu.

Sudah bisa diduga, dalam bencana besar seperti gempa pemboyong tsunami yang menewaskan tak kurang dari 100.000 orang Aceh ini, akan banyak sekali orang yang tidak puas dengan sekadar penjelasan ilmiah. Keterangan para ahli gempa dan tsunami soal lempengan-lempengan bumi yang bergeser setiap tahun, lantas bergetar, menelan dan lalu memuntahkan air yang sedemikian dahsyat tidak dianggap memadai untuk memuaskan dahaga keingintahuan mereka.

Makanya, selalu ada banyak orang yang terobsesi untuk tahu lebih dalam tentang penyebab terjauh dari semua itu dengan melontarkan pelbagai ultimate questions. Kalau sudah berpikir soal penyebab terjauh, perbincangan tentulah sudah masuk ke ranah filsafat atau teologi. Lantas muncullah pertanyaan: sejauh apa peran Tuhan di dalam “menghajar” sedemikian banyak korban itu? Pada titik inilah spekulasi-spekulasi teologis berlangsung dengan begitu liarnya.

Dan, benar saja. Menurut teman tadi, di masyarakat kita, kini ada beberapa spekulasi teologis yang semarak bermunculan pascagempa dan tsunami yang mengentakkan nurani dunia itu. Pertama, bagi “kiai-kiai Orba” yang punya corong untuk berkhotbah di masjid-masjid itu, bencana sebesar ini tak lain adalah hukuman Tuhan atas kealpaan dan kesombongan kita selama ini. Lebih spesifik, mereka bahkan menyebut bencana ini sebagai akibat atau buah dari pertikaian antara pelbagai elemen anak bangsa di Serambi Mekkah yang tidak kunjung usai.

Dengan elaborasi yang cenderung menyederhanakan, mereka menyayangkan TNI dan GAM yang saling bunuh. Sementara itu, rakyat Aceh juga tak kunjung taat terhadap Ibu Pertiwi, NKRI. Demikianlah tafsiran teologis yang sepenuhnya spekulatif dan kental aroma pemikiran ala Orba itu menggema di sebagian masjid.

Kedua, berbeda dengan logika hukuman tadi, tafsiran kedua justru beranggapan bahwa tragedi ini justru bersifat ujian, bukan hukuman. Di beberapa tempat, kita dapat menemukan selebaran yang mengatakan antara lain, bencana Aceh merupakan “ujian” Tuhan untuk mengukur keteguhan dan konsistensi rakyat Aceh dalam menjalankan syariat Islam. Hm….

Sekarang, ketika kita sedang bergulat dengan proses evakuasi dan rehabilitasi Aceh, muncul pula isu-isu yang menguatkan kesan bahwa Tuhan sedang menguji konsistensi dan keteguhan rakyat Aceh dalam menjalankan syariat Islam dan menjaga status Aceh sebagai Serambi Mekkah. Isu pemurtadan, kristenisasi, dan adopsi diembuskan sebagian pihak yang mungkin sedang menangguk di air keruh. Tak heran, dalam sebuah pertemuan dengan ribuan alumni Pondok Modern Gontor di Jakarta Convention Center, Jumat (7/1) lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun merasa perlu menanggapi isu-isu yang tidak bertanggung jawab itu. Secara reaktif beliau lantas menegaskan, “Pemerintah akan sekuat tenaga menjaga status Aceh sebagai Serambi Mekkah!”

DEMI mencermati diskursus tentang Tuhan dan prasangka tentang keterlibatan-Nya dalam bencana terakhir ini, Freedom Institute bekerjasama dengan Jaringan Islam Liberal melangsungkan diskusi soal “Tuhan Pacsa-Tsunami” yang bertempat di Freedom Institute, Selasa (11/1) lalu. Diskusi yang bertepatan dengan hari milad Ulil Abshar-Abdalla ke-38 itu beranjak dan bertolak dari keprihatinan yang mendalam akan rumusan “teologi bencana alam” yang berkembang dan populer di tengah masyarakat dewasa ini.

Baik Goenawan Mohamad maupun Syamsurizal Panggabean yang bertindak sebagai pembicara dalam diskusi itu sama- sama prihatin akan rumusan teologis yang tidak sungkan- sungkan mengekspos “intervensi” Tuhan yang berlebihan dalam kiamat kecil itu. Kecenderungan seperti itu gampang sekali kita simak dari khotbah-khotbah Jumat, pengajian di majelis taklim maupun majelis zikir, atau ceramah keagamaan di sejumlah televisi.

Intinya, telah muncul rumusan teologi tentang bencana alam (tidak murni buatan manusia seperti tragedi Poso dan Maluku) yang pada akhirnya tetap terjebak di dalam dua perangkap teologis yang mengharukan: entah mengambinghitamkan korban bencana sendiri ataupun menyalahkan Tuhan yang dianggap sebagai pihak yang tak pandang ampun dan tak kenal belas kasihan menghajar hamba-hamba-Nya. Kedua kecenderungan itu rupanya juga bagian dari pandangan teologi masyarakat kita yang cenderung fatalistik.

Ketika rumusan teologis yang dikemukakan mengasumsi bahwa bencana Aceh adalah refleksi dari kemurkaan Tuhan, di situ secara eksplisit sudah terkandung nada-nada yang menyudutkan dan menyalahkan rakyat Aceh yang kini menjadi korban (blaming the victims). Sebaliknya, ketika bencana ini dianggap sebagai “ujian” Tuhan untuk umat manusia yang Dia cintai, sebagaimana yang dikatakan sejumlah kutipan kitab suci (perhatikan betapa beratnya ujian itu!), secara implisit kita juga sedang terlibat dalam proses menyalahkan Tuhan (blaming God). Kedua kecenderungan tadi tentu bukanlah rumusan teologis yang bisa dianggap elegan dan ideal tentang bencana alam.

Untuk itulah, kita diajak membuat rumusan teologis yang tidak gegabah dan potensial menambah luka dan duka rakyat Aceh sekaligus berpandangan elegan dan fair terhadap Tuhan sendiri. Itulah rumusan teologis yang sekarang sedang kita cari dan kita kehendaki.

Hanya saja, persoalannya tidaklah segampang yang kita kira. Sebagaimana dikemukakan Ulil Abshar-Abdalla dalam diskusi itu, godaan bagi agama (diwakili oleh pemuka agama ataupun juru khotbah tadi) ataupun ilmu pengetahuan untuk menjelaskan sejumlah misteri yang terkandung di dalam dunia ini teramat besar. Makanya, sejumlah misteri dan absurditas yang terkandung di dalam pelbagai peristiwa di dunia ini keduanya coba diterangkan baik oleh agama maupun ilmu pengetahuan.

Secara psikologis, manusia tidak pernah betah menjalankan hidup dengan menyisakan sejumlah misteri karena misteri adalah kegelapan. Dan, kegelapan pada hakikatnya adalah situasi yang cenderung dibenci. Untuk itu, kegelapan itu coba diterobos dan diterangi, baik dengan penjelasan ilmu pengetahuan maupun penjelasan agama atau teologi.

Tetapi, sudah nyata bahwa penjelasan ilmu pengetahuan dan penjelasan agama memang berbeda. Kita bisa memahami sebuah misteri secara lebih pasti dan dapat memverifikasinya secara ilmiah dengan perangkat dan metode yang disediakan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, penjelasan agama tak jarang justru menjelma menjadi deretan spekulasi yang tiada henti. Dan, naifnya, kita tidak pernah kunjung bisa memverifikasi sisi kebenarannya kecuali meyakini saja. Kita sesungguhnya tidak pernah bisa menanyakan kebenaran “versi Tuhan” akan bencana Aceh, apalagi mendialogkannya secara langsung.

Karenanya, para sosiolog cenderung mengatakan bahwa “kebenaran agama” tidak pernah bisa dibuktikan dan bersifat prapengalaman. Walaupun sedang berspekulasi secara liar, dia selalu saja diimani sebagai kebenaran yang hakiki, sekalipun belum dibuktikan. Di sinilah problematisnya spekulasi- spekulasi tentang Tuhan dalam tsunami kemarin.

TIDAK seorang pun yang bisa membuktikan kalau Tuhan ikut aktif mengintervensi peristiwa tsunami yang kemarin menghantam kita. Siapa yang tahu pasti kalau hal tersebut ditujukan untuk memberi “pelajaran” kepada rakyat Aceh yang ironisnya justru taat beragama? Makanya, sembari melakukan proses evakuasi dan rehabilitasi Aceh, kita juga dipanggil untuk mencari rumusan teologi bencana alam yang lebih mengena. Sembari itu, ada baiknya kita juga tidak terlalu lancang dan sok mengerti soal apa sebenarnya yang dimaui Tuhan dari bencana ini.

Klaim atau perasaan bahwa kita tahu tentang apa yang dimaui Tuhan dalam bencana kali ini, sekalipun bersandar pada argumen dan landasan firman-Nya, sesungguhnya merupakan bentuk kesombongan yang tiada tara.

*** Alumnus Universitas al-Azhar Mesir, aktivis Jaringan Islam Liberal

13/01/2005 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (20)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Saya rasa, berita tentang bantuan yang begitu banyak di Aceh hanya digunakan untuk lahan cari uang. Karena bukti di lapangan belum terlealisasi dengan jelas. Satu tahun sudah kita lalui dengan hasil yang sangat minim sekali di lapangan.
-----

Posted by jupri  on  01/01  at  09:01 PM

Ikutan memikirkan tsunami ada seorang kawan memberi penerangan. Gini katanya: “Renungkan bahwa di gempa dan tsunami itu Tuhan menggerakkan alam dengan lebih dahsyat daripada lukisan Kitab Suci. LEBIH DAHSYAT!”

Di masa Nabi Nuh a.s sekapal beliau selamat dan diberi waktu bersiap. Ummat Nabi Luth diberi peringatan dulu. Fir’aun berkali diperingatkan, dan jahiliyah Arab di masa Nabi s.a.w satu-dua yang dikutuk secara personal sedang sebagian besar bertobat dan masuk Islam.

Jadi sebelum merenungkan tsunami dengan menggunakan tolok bayangan teks Kitab Suci hendaknya dicamkan lebih dahulu bahwa di Kitab Suci kejadian semacam tsunami ini tidak dikisahkan. Sekali lagi TIDAK DIKISAHKAN. Nyatanya juga gempa dan tsunami merenggut nyawa orang berbagai agama bangsa dan status kehartaan. Jadi orang beriman dan kafir sama-sama tewas.

Oleh karena itu teks yang ada tidak dapat serta merta digunakan untuk memahami tsunami ini. Tsunami ini dibuat oleh Tuhan yang ‘baru’ yang menyatakan bahwa semua manusia sama dihapadanNya. Kita hidup bukan karena kita pantas, berhak, atau deserve untuk hidup. Dan yang tewas juga bukan karena mereka pantas tewas. Di luar benar salah rahmat Tuhan itu.

Hidup adalah misteri besar apalagi Tuhan dan hidup perlu dipertahankan bersama-sama oleh semua orang dan semua ummat beragama. Itu hikmah tsunami. GAM, TNI, Muslim, Hindu, kaya, miskin, semuanya dipanggil serentak oleh Tuhan yang satu. Keadaan ini juga TIDAK PERNAH pernah dilukiskan Kitab Suci. Tak ada lukisan di mana berbagai kaum di berbagai negara dikenai ‘hukuman’ bencana alam yang sama.

Tsunami membuktikan dengan nyata bahwa kita SESAT bila menggunakan kitab suci secara harafiah senantiasa. Sebagai ayat Tuhan terdahsyat zaman ini tsunami menjelaskan bahwa kepadaNyalah kita wajib bersyukur atas setiap detik karunia kehidupan ini. Tsunami mengatakan bahwa setiap orang apapun agamanya seyogyanya islam dalam penghayatannya. Tsunami mengatakan bahwa masyarakat boleh Islam atau kafir atau Hindu dan boleh suka perang atau suka bisnis pariwisata boleh pula suka bikin ikan asin semuanya sama di hadapan Tuhan kalau kena panggilan berangkat bareng ya berangkat bareng.

Masih ada yang mau bersikeras agamaku paling benar? Kata tsunami fatamorgana belaka kebenaranmu sendiri itu! Emangnya kebenaran itu onde-onde yang kalau engkau emplok aku tak kebagian? Tuhan Maha Besar melampaui agama dan onde-onde. Mungkin Yang Maha Kuasa sedang memperbarui diri atau up-dating image karena manusia pada salah paham beragamanya masih setaraf pokrol dan parpol. 

Mungkin tsunami patut dibaca bahwa Tuhan lebih suka dimiliki bersama seperti anjuran JIL. Janganlah Tuhan dianggap onde-onde dan diemplok dewek apalagi sambil ngumpet lalu koar-koar ‘Akulah dan kamilah pengemplok onde-onde sejati! Yang lain onde-onde palsu!’ Sedangkan onde-onde yang asli sudah habis diemploki yang ahli koar itu.

Nyatanya tsunami juga berkata bahwa kaum kafir sedunia serentak dengan ikhlas menggalang dana untuk korban tsunami. Nah lho di situ ada pula ikhlas dan kafir melekat pada orang yang sama. Bantuan kafir sungguh banyak dalam bencana ini.

Terimakasih oh saudara-saudara kafir! Kami cemooh kekafiranmu tapi kamu mengajari Apa makna iman dan Islam jika itu membuat tinggi hati?  Jadi siapa yang Islam dan siapa yang kafir Pak Kiai?

Inilah makna tsunami itu. Inilah teologi yang kalian cari, yakni teologi yang kalian sudah kembangkan. Artinya JIL betul Tuhan itu milik semua agama maupun non agama dan semua itu milik Tuhan. Tsunami adalah bukti dukungan Tuhan pada perjuangan JIL?

Salam Bram

Posted by Bramantyo Prijosusilo  on  01/29  at  03:02 PM

Kesimpulan Sdr. Novriantoni bahwa “Klaim atau perasaan bahwa kita tahu tentang apa yang dimaui Tuhan dalam bencana kali ini, sekalipun bersandar pada argumen dan landasan firman-Nya, sesungguhnya merupakan bentuk kesombongan yang tiada tara”, seyogyanya ditinjau kembali. Paling tidak, jangan sampai terjebak untuk merasa/mengakui bahwa pendapat tersebut adalah yang paling benar. Memang benar untuk ukuran manusia biasa, tidak mungkin mengetahui tentang “kemauan” Tuhan dibalik sebuah peristiwa. Tetapi untuk ukuran manusia pilihan-Nya, segala ketidakmungkinan bisa saja terjadi, tidak ada kata mustahil baginya. Sebab, Tuhan Maha segala-galanya, Maha Kuasa pula bila memberikan percikan ilmu-Nya kepada hamba yang dipilihnya. Termasuk didalamnya mengertikan suatu peristiwa yang akan terjadi nanti (ngerti sak durunge winarah).

Sebuah gambaran nyata, bila kita menjumpai seorang anak tanpa dosa harus dibunuh, saya sangat yakin seyakinnya bahwa sikap yang akan kita ambil adalah memprotes dengan sangat kerasnya. Bila perlu, memperjuangkannya untuk mendapat keadilan, atau bahkan melawan pembunuhnya. Mengapa? Akal sehat tentu akan mengatakan bahwa membunuh adalah dosa besar. Membunuh adalah perbuatan biadab. Membunuh adalah tindakan manusia yang hilang akalnya, dan seterusnya dan sebagainya. Pokoknya akal sehat kita tidak akan terima alasan apapun.

Tetapi sebaliknya, protes yang demikian hebat itu justru merupakan kesalahan yang sangat “fatal” untuk ukuran manusia pilihan-Nya, khususnya Nabi Musa. Padahal masalahnya hanya sepele, cuma “bertanya” mengapa anak yang tidak berdosa harus dibunuh. Tidak sampai memprotes apalagi menghakimi pembunuhnya. Sampai akhirnya harus “gugur” berguru kepada Nabi Khidzir sebagaimana yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Selanjutnya beliau ngrumangsani (merasai dan meyakini keberadaan diri), sadar-sesadarnya kalau hamba itu tetap saja hamba yang apes hina nista tempatnya salah dan dosa. Sekalipun diri beliau telah diangkat sebagai rasul-Nya, ternyata tidak jaminan kalau beliau itu melebihi segala-galanya. Masih harus berguru kepada orang lain.

Dua contoh di atas menggambarkan bahwa mengaku ngerti “kemauan” Tuhan dibalik suatu peristiwa, untuk ukuran manusia biasa adalah sebuah kesombongan besar. Sebab, tidak tahu secara pasti peristiwa yang sebenarnya, tetapi ngaku-ngaku ngerti. Sok tahu. Padahal ilmu yang telah dipelajarinya baru se-molekul air dibanding lautannya. Atau karena membela harga diri gengsinya saja yang dikedepankan, sehingga berani “merasa ngerti” suatu yang benar-benar tidak diketahuinya.

Sebaliknya untuk ukuran manusia pilihan-Nya, adalah hal yang lumrah, dan sangat mungkin terjadi. Oleh karenanya, bukanlah sebuah kesombongan bila “SALAH SATU” diantara kita (umat manusia sak jagad) dimengertikan “kemauan” Tuhan di balik sebuah peristiwa, khususnya gempa dan tsunami di Aceh. Atau bahkan telah dimengertikan bencana yang akan lebih hebat lagi, yang sebanding dengan peristiwanya Nabi Nuh.

Di lain pihak, di balik kemengertiannya atas suatu peristiwa, yang ada dalam hatinya, hanya “sak derma” (sekedar) menjalani saja. Sekedar menyampaikan berdasar petunjuk-Nya. Tidak ada rasa/perasaan mengerti, tidak merasa hebat, apalagi merasa lebih dari segalanya. Sebagaimana yang dilakukan Nabi Khidzir terhadap Nabi Musa, “membunuh seorang anak”-nya dalam rangka menjalankan kehendak Tuhan. Bukan atas dasar kemauan beliau sendiri, apalagi merasa lebih hebat dari Nabi Musa—konon beliaunya adalah rasul-Nya.

Walaupun demikian, saya sependapat dengan ungkapan Sdr. Novriantoni “kita dipanggil untuk mencari rumusan teologi bencara alam yang lebih mengena”. Sebab, bagaimanapun, sebuah peristiwa--apalagi sangat besar untuk ukuran sekarang--, “pasti” ada penyebab lain yang melatarbelakanginya. Senada dengan hukum aksi-reaksi, dimana ada aksi pasti ada reaksi yang mengikutinya. Lantas aksi apa gerangan sehingga muncul peristiwa gempa-tsunami tersebut ?

Sangat naif kiranya bila jawabannya adalah menyalahkan Tuhan. Sangat kurang bijak pula bila lantas berasumsi tidak selayaknya menimpa masyarakat yang justru taat beragama—apalagi mendapat sebutan “Serambi Mekah”. Tidak etis pula bila mendewakan ilmu pengetahuan untuk mencari akar permasalahannya sampai memutusinya. Sebab, bagaimanapun hebatnya ilmu pengetahuan ciptaan manusia, tidak akan pernah sebanding sedikitpun dengan ilmunya Tuhan. Tidak pada tempatnya pula bila menempatkan pertikaian antara GAM dan TNI maupun pembangkangan atas NKRI dianggap sebagai penyebabnya. Lantas …?

Sebelum membicarakan lebih lanjut akar-masalahnya berdasar kacamata tafakkur-billah dan pengalaman selama mendalami “Ilmu hakekat”, ada baiknya mencermati peristiwa penciptaan yang dilakukan manusia sendiri. Saya yakin, kita semua menyadari dan membenarkan bahwa diciptakannya robot adalah demi kepentingan penciptanya, manusia. Tetapi apa yang terjadi bila si robot tersebut tidak mau patuh atas instruksi penciptanya, atau malah saling merusak—saling bunuh—satu sama lain? Jawaban “gegabah” akan mengatakan hancurkan saja. Sebaliknya, jawaban yang mentafakuri dan menganalogi kebijakan Tuhan akan mengatakan diperbaiki dulu moralnya, dibuatkan “robot super” untuk membimbingnya menuju kebaikan. Bila tetap membangkang instruksi si robot super—konon si robot ini bisa disebut juga dengan utusan/khalifah/rasul—maka selayaknya mendapat peringatan kecil. Bila tidak mau berubah, diberi peringatan berikutnya yang agak besar, dan seterusnya dan sebagainya. Hingga sampailah pada finalnya, bila tetap saja membangkang bahkan berani membunuh si robot super, barulah dihancurkan.

Gambaran nyata tentang penciptaan robot di atas, memang tidak etis bila dibandingkan dengan proses penciptaan manusia dihadapan Tuhan. Namun demikian, setidaknya, ada hikmah yang sangat luar biasa bila mau mentafakurinya. Apalagi di dukung dengan fakta sejarah yang diberitakan Al-Quran. Betapa Maha Bijaksana-nya Tuhan dalam membimbing umat/hamba-Nya—dengan tiada henti menurunkan utusan/rasul (juru bicara)-Nya.  Sebaliknya, betapa “murka”-Nya pula terhadap umat yang memusuhi membangkang melecehkan apalagi sampai berani membinasakan utusan-Nya.

Rumusan Bencana

Paradigma bencana yang sampai saat ini diyakini masyarakat luas adalah bahwa penyebab kejadiannya adalah Tuhan semata. Sekalipun dibalik peristiwa tersebut “ada kemungkinan” makhluk lain (bangsa ginaib) yang menggerakkannya, tetap saja diyakini datangnya dari Tuhan. Baik bencana yang menimpa dunia sekarang, masa yang akan datang, ataupun dimasa-masa lampau, semisal yang menimpa kaumnya Nabi Nuh yang secara logika sulit diterima akal sehat.

Oleh karenanya, melihat sejarahnya manusia—walau dalam bentuk sederhana dapat dianalogikan dari kisah robot diatas—maupun fakta yang tertulis dalam “kitab suci” yang berada di Lauh Mahfud—hingga karenanya tidak akan dapat menyentuh/menjangkau kandungan makna Al Quran kecuali orang-orang yang disucikan [sendiri oleh-Nya] (QS. 56:79)—maka setidaknya, ada 5 rumusan bencana yang melatarbelakangi kejadiannya. Baik yang terjadi masa lampau (kisah kehidupan para Nabi), masa sekarang maupun masa-masa yang akan datang. Kelimanya adalah :

Pertama, watak manusianya sendiri yang suka membuat kerusakan dan pertumpahan darah.  Membuat kerusakan yang dimaksud bukan sebatas merusak dunia dan seisinya, melainkan merusak hukum-Nya yang mengatakan bahwa “Aku hendak menjadikan khalifah”, dirusaknya dengan mengatakan “khalifah Tuhan telah berkahir”, atau “tidak ada lagi kahlifah Tuhan di bumi”. Telah berakhir sesuai dengan keyakinan masing-masing kaum yang merusak. Buktinya, kaumnya Nuh tidak mengakui ketentuan Tuhan tersebut (kerasulan Nabi Nuh). Kaum Aad, kaum Firaun, kaum Yahudi juga mengingkarinya dengan tidak mengakui khalifah-Nya yang ada ditengah-tengah mereka. Kaumnya Isa Al Masih mengatakan Rasul Tuhan yang terakhir yaa Nabi Isa sendiri. Kaumnya Muhammad SAW mengatakan hal yang sama, khalifah Tuhan telah berakhir. Berakhir seiring dengan wafatnya Muhammad SAW. Padahal “hukum abadi” Tuhan tersebut tidak mengatakan sampai kapan berhenti dibuatnya khalifah. Sementara akal manusia terlanjur dibuat tak berdaya oleh sejarah, retorika, maupun warisan budaya nenek moyang.

Oleh karena wataknya yang tetap saja dalam membuat kerusakan, tidak mau mengikuti seruan rasul yang selalu ada ditengah-tengah kamu (kamu dalam arti nenek moyang, kita sekarang, dan anak-anak cucu sampai kiyamat) (makna QS. 3:101, QS. 4:170), maka selayaknya pula bila dihancurkan sendiri oleh Penciptanya.

Kedua, karena merusak “hukum abadi” tersebut, akibatnya, wacana tentang Tuhan hanyalah sekedar wacana. Tidak dapat dibuktikan hingga hakkul yakin. Tuhan hanya sekedar istilah saja. Sebab wacana Tuhan yang “sebenarnya” hanya di dapat dari khalifah Tuhan tersebut. Lagi-lagi, akal pikiran dibuat tak berdaya oleh sejarah, retorika, maupun warisan budaya nenek moyang. Contoh kecilnya, ketentuan yang mengatakan “pikirkanlah apa yang Dia ciptakan, tetapi jangan memikirkan Dzat-Nya”, tidak pernah digagas sampai tuntas. Memang benar Dzat Tuhan itu tidak dapat dan bahkan dilarang untuk dipikirkan. Sebab wilayah Dzat Tuhan itu bukan pada dataran akal pikiran maupun panca indera, melainkan wilayahnya hatinurani-roh-rasa.

Sebaliknya, perintah “dzikkrullah” itu bukan wilayah akal, melainkan wilayah hatinurani-roh-rasa. Terus, bagaimana mungkin hatinurani bisa berdzikir bila si hati belum mengetahui Wujud yang harus didzikiri? Sementara perintah-Nya “bertanyalah kepada ahli dzikir bila kamu tidak mengetahui bagaimana caranya berdzikir (QS.21:7)”, tidak pernah dilaksanakan dengan benar. Hanya duga-duga dari tempat jauh, katanya-katanya, atau hanya kira-kira sendiri. Lagi-lagi, akal pikiran dibuat tak berdaya oleh sejarah, retorika, maupun warisan budaya nenek moyang.

Sementara si akal sendiri kalau ingin mencapai kemerdekaaan yang “sejati”, tentu akan berusaha memahami bahwa Tuhan—yang telah memperkenalkan diri dengan nama Allah maupun 99 nama/istilah/sebutan lainnya, maupun yang disebut-sebut oleh hamba-Nya dengan berjuta-juta istilah/sebutan—adalah Dzat Yang Wajib Wujudnya. Maka, Sang Wujud itulah yang seharusnya dikenali disembah selanjutnya dijadikan tujuan hidup. Bukan nama, istilah, sebutan, angan-angan kosong, maupun kira-kira saja.

Sebaliknya, logika cerdas tentu akan mengatakan bahwa setiap nama/istilah/sebutan pastilah ada musamma (pemilik nama)-nya. Air, wujudnya yaa seperti itu. Gendruwo, juga seperti itu (bagi yang pernah di-wedeni). Malaikat, hanya para rasul-Nya saja yang telah dimengertikan wujudnya. Tuhan…? Pasti pula ada wujudnya. Sedang istrumen yang dapat digunakan untuk mengenali-Nya bukanlah akal-pikiran, melainkan hatinurani-roh-rasa. Akal pikiran hanya membenarkan kalau Dia ada Wujud-Nya, dan membenarkan pula kalau ingin mengetahui bagaimana Wujud-Nya, satu-satunya cara hanya bertanya kepada ahlinya, ahli dzikir. Beliau telah dipercaya Tuhan untuk menunjukkan Jati Diri-Nya. Dialah khalifah/rasul/utusan-Nya. “…Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu perihal Al-Ghaib (Dzat/Wujud-Nya yang ghaib), akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara (melalui) rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya…” (QS. 3:179).

Ketiga, manusia lupa sama sekali atas kesaksian yang telah diberikan di hadapan Tuhan ketika masih berada di alam arwah. Padahal di alam itu (ketika itu masih berupa arwah) benar-benar melihat Tuhan dan meyakini seyakin-yakinnya, sehingga berani berkata “qaalu balaa syahidna”, benar, Engkau (dalam arti Wujud Dzat-Nya) adalah Tuhan kami.  Anehnya, sekarang ini sudah lupa, tidak mau berusaha mengerti, apalagi merasa cukup perihal pengetahuan ketuhanan yang telah dimiliki padahal hanya se-molekul air. Naifnya lagi, kalau diberi tahu pengetahuan dari langit (sebagaimana rangkaian tulisan ini), diterimanya dengan membusungkan dada, sombongnya didahulukan. Bahkan berani mengklaim membawa ajaran baru, ajaran sesat menyesatkan dan sebagainya.

Keempat, menyembahnya kepada Tuhan tidak sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Sebab, yang disembah adalah wilayah asma/nama/istilah/sebutan, padahal nama/istilah/sebutan tersebut tidak bisa apa-apa. Yang bisa segalanya, yang menciptakan manusia, dan juga yang seharusnya disembah hingga ainul yakin adalah Dzat-Nya.

Sementara yang dikehendaki Tuhan, yang hak disembah adalah Wujud Dzat-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. 20:14).  Jadi Aku (dalam arti Wujud Dzat-Nya) inilah yang seharusnya disembah. Bukan nama-Nya/istilah-Nya/sebutan-Nya. Oleh karenanya, Sunan Bonang dalam “Suluk Wijil” mengkritik mereka yang “menyembah” Tuhan tetapi tidak mengetahui hakekat yang disembahnya. “Endi ingaranan sembah sejati. Aja nembah yen tan ketingalan…… sembahe siya-siya”. (Mana yang dikatakan bersembah yang sesungguhnya. Jangan menyembah kalau tidak mengetahui/ melihat hakekat yang disembah…...Sebab, bersembahnya tidak ada gunanya).

Kelima, ngamuknya “lelembut” sejagad untuk mengambil bagiannya. Ini yang sama sekali tidak dapat diantisipasi dan dideteksi oleh manusia. Secanggih dan sehebat apapun peralatan yang dimiliki manusia, tidak akan pernah sanggup menandinginya. Sedang yang terhindar dari ngamuknya lelembut tersebut adalah mereka yang mempunyai ilmu “sangkan paraning dumadi”. Yaa ilmu Nubuwah. Yaa ilmunya para wali (Wali Sanga). Ilmunya Imam Mahdi. Ilmunya Satriya Piningit. Ilmunya Ratu Adil. Juga ilmunya Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud…..Nabi Muhammad SAW.

Kesimpulan

Kelima rumusan bencana diatas benar-benar adanya. Benar-benar terjadinya. Benar-benar saya yakini keberadaannya yang dimulai dari Nabi Adam sampai kiyamat. Dan benar-benar saya praktekkan pula sejak sekarang sampai mati nanti. Percaya atau tidak, mutlak menjadi urusan ANDA. Bila percaya, bersegeralah untuk mengantisipasi, mereaksi dan njeguri ilmunya. Bila tidak percaya, bersiap-siaplah menghadapi sunnatu al-awwalin-Nya. Kenyataan sekarang membuktikan, bencana makin hari makin ramai. Sampai suatu ketika nanti, persis sebagaimana yang melanda kaumnya Nabi Nuh. Perahunya pun sekarang sudah ada, wujudnya berupa “jamaah”.

Oleh karenanya, selayaknya disadari, bahwa nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan pernah kembali seperti semula. Bila kematian sudah dilalui, penyesalanlah yang abadi, sebab tidak akan bisa kembali ke dunia lagi untuk mengikuti jalan kebenaran-Nya.

Posted by Roni Djamaloeddin  on  01/22  at  07:02 AM

Assalaamualaikum Wr. Wb

Yang saya tau adalah seluruh alam raya beserta makhluk2nya semuanya ada didalam kekuasaan Allah swt yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Jadi seluruh kejadian dialam semesta ini diatur dan telah digariskan-Nya sebab dialah yang Maha Kuasa agar senantiasa seluruh ciptannya senantiasa sujud kepada-Nya dan jangan menganggap hidup ini tidak adil ketika bencana menimpa aceh yang notabene daerah yang syariat islamnya dipegang teguh karena Allah swt itu Maha Adil, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Dan Maha Kuasa . Kita sebagai manusia hanya bisa mengambil hikmah dari bencana tersebut karena Allah pasti punya rencana dibalik kejadian itu semua

Posted by Saeful Anwar  on  01/20  at  05:01 AM

apapun yang terjadi dengan alam disekitar kita bukan jaminan untuk merubah kita menjadi nonhuman tetapi apapun yang terjadi itu menandaskan pada diri kita bahwa apapun yang terjadi kita tetap “manusia” dan tidak lebih dari sekedar “manusia”.

manusia tempatnya salah dan dosa !

Posted by agus srimuladi  on  01/18  at  07:01 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq