Ujian Buat Din - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
01/01/2006

Ujian Buat Din

Oleh M. Guntur Romli

Inisiatif untuk membantu orang yang sedang susah, baik bagi yang mengaku beragama ataupun tidak, tentu akan berbilang kebajikan. Kalau inisiatif itu diamalkan, ia tentu akan berbuah pahala di akhirat dan pujian di dunia. Namun, kali ini nasib baik tidak berpihak kepada Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah). Iktikad baiknya untuk membantu orang susah justru dihujat sumpah serapah.

Inisiatif untuk membantu orang yang sedang susah, baik bagi yang mengaku beragama ataupun tidak, tentu akan berbilang kebajikan. Kalau inisiatif itu diamalkan, ia tentu akan berbuah pahala di akhirat dan pujian di dunia. Namun, kali ini nasib baik tidak berpihak kepada Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah). Iktikad baiknya untuk membantu orang susah justru dihujat sumpah serapah.

Kisah tragis itu bermula ketika Din menggelar pertemuan tokoh-tokoh lintas agama di gedung PP Muhammadiyah, Rabu (21/12) kemarin, tepat empat hari menjelang Natal. Saat itu, salah seorang pengurus gereja berkeluh-kesah karena kesulitan mencari tempat ibadah untuk merayakan Natal.

Respon Din sangat manusiawi dan agamawi, “Kecuali masjid, semua fasilitas Muhammadiyah bisa dipinjam untuk keperluan Natal.” Dengan sedikit penekanan, dia yang berwajah simpatik menambahkan, “Ini perintah Ketua Umum Muhammadiyah kepada seluruh pengurus Muhammadiyah di daerah.” (Jawa Pos, 22/12).

Pernyataan Din itu tampaknya bukan sekadar warta, tapi titah Ketua Umum PP Muhammadiyah. Titah itu sudah semestinya dianggap bijak, simpatik, dan heroik. Ini kejutan baru dan termaju yang pernah dilontarkan Din dalam merespon keadaan sosial-keagamaan kita dewasa ini. Sebab tahun ini, sebagaimana tahun sebelumnya, NU pun hanya menurunkan Banser untuk mengamankan perayaan Natal.

Namun untuk disebut terlalu maju, tentu saja tidak. Lima belas abad lampau, dengan konteks yang agak berbeda, Nabi Muhammad pun telah menyediakan masjidnya di Madinah untuk kebaktian delegasi Nasrani Najran yang dipimpin Abu Al-Harits. Kanjeng Nabi menyediakan satu hamparan di dalam masjid, bukan sekadar menawarkan gedung, ruang pertemuan, rumah, barak, atau tempat-tempat “sekuler” lainnya buat digunakan sebagai tempat kebaktian.

Namun sudahlah! Untuk Din, pernyataan itu sudah bisa dianggap maju, meski menantang arus. Karena itu, tak heran banyak pihak yang kaget dan ragu. Ujaran spontankah atau pernyataan serius? Bisa dimengerti, dengan pernyataan itu, Din telah melawan arus besar konservatisme yang selama ini melingkupinya.

Tapi, dengan mengecualikan masjid dari tawaran acara Natal, Din sudah menunjukkan penilaian yang cermat dan penuh sadar akan kondisinya. Din memang tak ingin membanting kendali, lalu melawan arus. Din mungkin saja sedang bertekad membangun aliansi strategis agar tak terlalu diombang-ambing oleh arus besar yang mengepungnya. Itu artinya, Din memang serius dengan tawarannya.

Selain itu, titah Din juga terhitung lumrah. Ia adalah seorang pemimpin sebuah ormas keagamaan yang selama ini dikenal moderat dan sangat peduli terhadap masalah-masalah sosial anak bangsa. Lebih dari itu, Din adalah Ketua IComRP (Indonesian Commission on Religion and Peace), salah satu wadah komunitas lintasagama di Indonesia.

Kepedulian atas nasib para penganut agama menjadi salah satu titik perhatian IComRP. Ketika beberapa waktu lalu tersiar kabar penutupan rumah tinggal yang terpaksa dijadikan gereja dengan cara kekerasan, Din termasuk orang yang menentang. Ketika tuntutan pengusiran atas JIL menguat, Din ikut menolak sembari berkomentar bijak: “Janganlah dalam kehidupan masyarakat yang plural ini, kita saling usir-mengusir. Kita harus membangun kehidupan bersama yang santun, dialog terbuka, dan betul-betul menerapkan toleransi yang riil.”

Tragisnya, iktikad baik Din justru mendapat penolakan dan hujatan dari dalam dan luar lingkungan Muhammadiyah. Titah Din, dibantah mentah-mentah oleh bawahan, rekan, dan sejawatnya. Mereka seakan-akan tak sudi bila Din berbagi empati dan solidaritas dengan pihak lain. Malang bagi Din, ia tak punya kharisma sekuat Syafi’i Ma’arif, pendahulunya di Muhammadiyah, atau Gus Dur, punggawa NU, yang titahnya tak bisa sekonyong-konyong ditampik lingkungan internalnya.

Tapi yang tetap disayangkan, menghadapi derasnya penolakan dan hujatan, iktikad Din bukan hanya surut, tapi juga tampak kedodoran. Dia seolah menyerah kalah. Padahal, kalau ia benar-benar sadar kalau titahnya akan menebar benih-benih kebajikan dan toleransi, tentu ia tak perlu mudah menyerah.

Karena itu, komitmen Din yang surut absah juga dipertanyakan. Mengapa ia begitu gampang mundur, padahal membangun lembaga keagamaan yang otoritatif, independen, dan moderat, pastilah diperlukan komitmen dan perjuangan yang sungguh-sungguh. Di tengah derasnya arus terorisme dan radikalisme agama, komitmen Din yang sempat menyejukkan hati itu, tentu harus terus-menerus didorong, meski ia tak akan pernah lepas dari ujian. Semoga Din selalu kuat! [Mohamad Guntur Romli]

01/01/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Yah, Din sepertinya hanya politisi dadakan yang betul-betul tidak punya nyali begitu menghadapi tantangan. Begitu takut untuk berpendapat, karena takut tidak populer. Begitu berambisi menjadi presiden tapi visi dan misi tak jelas, dan .... nyali pun tak punya. Saya betul-betul ingin mengetahui sedikit dari pemikiran Din yang katanya PhD yang jurusannya saya tidak tahu untuk mengetahui sedikit dari cara pandangnya.

Posted by myra  on  01/20  at  03:11 PM

Sebagai umat beragama samawai, perintah yang dikeluarkan DIN SYAMSUDDIN jelas menghina agama samawi. Karena agama samawi tersebut semuanya memiliki batas. Yaitu garis yang tidak bisa dilanggar yang ditetapkan oleh kitab suci masing-masing dan fatwa masing-masing pemuka agama YANG BERKOMPETEN (bukan coboy yang yang berkopiah putih)macam orang-orang JIL. Entah apa kata BUYA HAMKA bila ia masih hidup dan melihat anda berkiprah, pak DIN. Sadarlah, semua akan dipertanggungjawabkan nanti. Kembalilah ke hati nurani anda. Itu pun juga jika anda masih punya. Mungkin secara ilmu itu benar (mungkin juga tidak !) Tetapi secara politis itu jelas tidak baik. Jelas sekali anda menolong musuh-musuh islam dan srigala yang berbaju islam yaitu JIL (Jaringan Iblis Laknatullah). Salam sejahtera hanya bagi yang mengikuti petunjuk, bukan menuruti perintah pemberi dana atau atau mengikuti kata hati yang teracuni filsafat dan silau dengan kebudayaan barat, pluralisme, liberalisme.

Afwan jiddan.
-----

Posted by utsman  on  10/21  at  06:10 AM

Pro kontra atas atas sebuah paradigma tidak akan pernah surut dari pentas. Pak Harun Nasution, Cak Nur, Syafii Maarif, Gus Dur, dan masih banyak lagi tokoh bijak lainnya adalah sama-sama telah mendapatkan perlakuan serupa. Semoga kita menjadi lebih bijak sehingga agama akan tetap menjadi nama atas ajaran Tuhan yang mendamaikan.

Posted by Dadi Resmawan  on  01/19  at  07:02 AM

Saya sering merasa heran mengapa Hadist & Ayat-ayat yg menyuruh kita utk bertoleransi kepada umat agama lain (Kristen, Yahudi, Madjusi ataupun Zoroaster ) seperti yg tertera di Al-Quran & Hadist tidak populer atau sengaja tidak dipopulerkan. Tapi malah--maaf--Hadist & ayat Al-Quran (yg saya rasa disalah tafsirkan) berisi pertentangan atau doktrin keunggulan umat yg satu terhadap yg lainnya lebih sering terdengar.

Kita sudah terlalu lama ditidurkan oleh doktrin-doktrin yg menyeret kita pada intoleransi & eksklusifme sehingga berakibat aspek sosial-budaya juga cenderung destruktif. Jangan-jangan bangsa kita sekarang sama nasibnya dgn bangsa-bangsa Mesir Kuno atau Yahudi pasca Nabi Musa (yg tercantum dalam Taurat, Injil & Qur’an) ketika Tuhan telah memberi peringatan akan kasih sayang & cinta kasih sesama tapi kita tidak mau menghiraukannya malah saling menindas kaum minoritas yg lemah.

Posted by T Handayanto  on  01/11  at  11:02 AM

Ass wr.wb Memang benar ada pepatah mengatakan: “Seseorang berbuat baik belum tentu jawabannya baik tapi buatlah yang terbaik”. Mungkin pepatah itu bisa lebih menyemangatkan/membangkitkan semangat Din dalam usahanya membangun toleransi, menghormati pemeluk agama lain. Sebenarnya ga ada salahnya kok Din bersikap seperti itu,ya..mungkin hanya orang-orang yang berpikiran sempit saja yang tidak setuju atas sikap Din. Apa yang dilakukan Din toh..untuk kebaikan kita semua. Jadi buat apa dipermasalahkan… Wassalam,

Posted by ade  on  01/08  at  06:01 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq