Ulama Arab dan Ulama Indonesia - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
15/10/2008

Ulama Arab dan Ulama Indonesia

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Karya ulama Indonesia tak perlu dipandang sebelah mata. Walau hidup di “pulau terasing”, para ulama Indonesia telah menghasilkan karya monumental bahkan dengan kualitas ekspresi dan elokuensi yang tak kalah dengan ulama Timur Tengah. Dengan kualitas yang mumpuni itu, kebiasaan untuk selalu bertanya soal-soal dalam negeri ke ulama Arab tak perlu dilakukan. Bukan hanya karena yang tahu hakekat persoalan itu adalah ulama Indonesia sendiri, melainkan juga karena mutu dan kualitas ulama Indonesia ternyata setara bahkan dalam beberapa hal melebihi ulama-ulama Arab.

15/10/2008 15:09 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (39)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

Saya sangat sependapat dengan pemikiran di atas, kalau saya pikir ceramah yang disampaikan para ulama lokal kadang-kadang lebih bermutu dari ceramahnya para habib, apalagi tulisan di situsnya JIL sangat mencerahkan dan menyejukkan, saya yakin di masa datang kalau pendidikan formal masyarakat makin maju, JIL akan dapat menjadi mahzab mayoritas dalam beragama di bumi pertiwi tercinta.....

#1. Dikirim oleh Teguhseno  pada  15/10   04:01 PM

Ulasan yang mulia Abdul Moqsith Ghazali yang mengatakan ulama asing (ajam), tertutama sekali Indonesia adalah terunggul dapat dibuktikan oleh hujjah Allah, hujjah nabi Muhammas saw., hujjah Kitab Suci-Nya sebagai berikut:

1. Al Baqarah (2) ayat 4,5: Orang (asing Indonesia) yang mendapat petunjuk dan beruntung ialah orang-orang (asing “Indonesia") yang beriman kepada apa yang telah turun (wahyu), dan yang beriman kepada apa yang telah turun sebelumnya (wahyu) dan beriman kepada apa yang akan turun (wahyu kepada orang asing “Indonesia” pada akhirnya = wa bil aakhirati hum yuuqinuun).
-Kata akhirat diayat ini bukan kearah pengertian setelah mati, tetapi kepada konteks pada akhirnya diera globalisai, millenniaum ke-3 masehi di “Indonesia”.
-Konteksnya kepada datangnya Allah pada akhirnya menurunkan konsep Hari-Hari Allah, untuk kepentingan penyempurnaan penyelesaian kondidi perselisihan persepsi agama-agama sebanyak tidak kurang dari 400 ayat memenuhi Ibrahim (14) ayat 5, Al Jaatsiyah (45) ayat 14.

2. Fushshilat (41) ayat 44: Allah akan menjadikan Al Quran (isi kitab suci Al Waaqi’ah (56) ayat 77,78,79, Al Baqarah (2) ayat 2 yang dinamakan Kitab-Allah memenuhi Al Ali Imran (3) ayat 23,79) kedalam bahasa asing “Indonesia” (pada awal millennium ke-3) selain dalam bahasa Arab dan diprotes oleh orang Arab sesuai At Taubah (9) ayat 97.

3. At Taubah (9) ayat 97: Orang-orang Arab itu paling sangat kekafirannya dan (paling sangat) kemunafikannya dan lebih wajar bahwa mereka (orang-orang Arab itu) tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya (Muhammad saw.) Dan Allah Maha mengetahui (siapa orang-orang Arab itu) lagi Maha Bijaksana (kepada orang asing “Indonesia’).

4. Orang mengatakan bahwa “ulama” adalah warosatul “anbiyaa”.
Sifat Allah dan Rasul/Nabi semuannya hanya menyampaikan Satu Risalah Tuhan/Allah Yang Tunggal dan penolaknya senantiasa adalah pemuka agama:
a. Al Maidah (5) ayat 67: Para rasul hanya menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
b. Al An Aam (6) ayat 124,125: Allah sendiri hanya menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
c. Al A’raaf (7) ayat 62,60: Nuh hanya menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
d. Al A’raaf (7) ayat 68,66: Hud hanya menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
e. Al A’raaf (7) ayat 79,88: Saleh hanya menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
f. Al A’raaf (7) ayat 93,75,76: Syuaib hanya menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
g. Al A’raaf (7) ayat 144,109: Musa diperintah langsung hanya menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
h. Al Ahzab (33) ayat 38,38,40: Muhammad melalui jibril dan siapa saja (diantaranya yang mulia Abdul Moqsith Ghazalai) wajib hanya menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
i. Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28: Rasul yang dirido’a wajib menyampaikan hanya Risalah Tuhan/Allah.

5. Pada kenyataannya sampai hari ini para ulama yang mengaku “warosatul anbiyaa” tidak pernah menyampaikan hanya Risalah Tuhan/Allah, akan tetapi menyampaikan Risalah seorang nabi/rasul yang sangat dilarang oleh An Nisaa (4) ayat 150,151,152.
Menyampaikan seorang Nabi/Rasul mengakibatkan mengandung sifaT ARBABAN/KULTUS/MENUHANKAN didalam hati sesuai Ali Imran (3) ayat 80, dan ARBABAN (kepada ulama Arab) sesuai At Taubah (9) ayat 31.
a. ARBABAN mengakibatkan musrik mandek kepada jalan yang lurus sesuai Al Hajj (22) ayat 31.
b. ARBABAN wajib dibunuh oleh hujjah ilmu pengetahuan agama sesuai At Taubah (9) ayat 5.
c. ARBABAB adalah najis sesuai At Taubah (9) ayat 28.
d. ARBABAN wajib diperangi oleh hujjah ilmu pengetahuan agama sesuai At Tabubah (9) ayat 36.
e. ARBABAN jangan dido’akan ampunan agar tidak musrik sesuai At Taubah (9) ayat 113. 
f. ARBABAN tidak ada ampunya untuk tidak musrik sesuai An Nisaa (4) ayat 48,116.

6. Salah satu yang terpenting dari Hari-Hari Allah yang akan diturunkan Allah kepada orang asing “Indonesia” awal millennium ke-3 masehi adalah Penggenapan Janji-Nya Tentang Hari Takwil Kebenaran Kitab yang wajib ditunggu-tunggu akan tetapi dilupakan oleh “para ulama Indonesia” untuk memenuhi Al A’raaf (7) ayat 52,53. (mudah-mudahnya diturunkan kepada yang mulia Abdul Moqsith Ghazali).

7. Sekali lagi kami do’akan agar Hari Takwil Kebenaran Kitab diturunkan Allah kepada yang mulia Abdul Moqsith Ghazali yang memandang Indonesia paling lebih unggul dari pada apa yang datang dari luar negeri.

8. Agama Hindu, Buddha, Islam, Nasrani, Konghucu, Ahmadiyah dan lain sebagainya telah datang berangsur sejak ratusan tahun yang lalu, semuanya bershahadatain dan mengakibatkan perselisihan persepsi agama-agama pecah belah sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54 (sesat sampai suatu ketika).
Padahal sebelum mereka datang masuk semuannya di Nusantara telah ada spiritual tunggal yaitu Penghayat Kepada Ketuhanan yang Maha Esa memenuhi Az Zumar (39) ayat 45 Shahadat Tauhid dan bukan Shahatain.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millenniuam ke-3 amsehi.

#2. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  16/10   10:19 AM

Ulama Indonesia atau non_Indonesia itu tidak penting, juga Arab ato non Arab, apalagi barat ato non_barat, yang penting bagaimana kadar intelektual dan reputasi keilmuan yang dihasilkan, apakah sahih atau tidak jika dipandang dari sudut metodologi keilmuan yang telah disepakati secara muktabarah di kalangan otoritas ilmu yang bersangkutan. Jika bener-bener sahih, mestinya ya ... bisa dijadikan rujukan. gitu kali ya.

Tentang kondisi kehidupan berbangsa, sepatutnya dalam iklim demokrasi di Indonesia, sah-sah saja bertanya kepada siapa pun termasuk pada ulama-ulama Timur tengah, meskipun sering-sering bertanya juga tidak apa-apa, yang penting ada jawaban dan solusi jitu. hm ...

#3. Dikirim oleh atik bintoro  pada  16/10   01:10 PM

Soal tanya menanya atau bertanya, telah diatur oleh hujjah Allah, hujjah nabi Muhammaad saw. dan hujjah Kitab Suci-Nya dalan Yunus (10) ayat 94: Wajib hukumnya menanyakan kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu, yaitu kepada orang-orang Nasrani, Yahudi, Hindu, Buddha, Konghucu dan lain sebagainya.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

#4. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  17/10   03:37 AM

ada betulnya tulisan anda, ulama indonesia boleh bersaing dengan ulama arab, namun kendalanya bahasa kita ini bukan bahasa dunia alias lokal, oleh karena itu saran saya hendaklah para ulama nusantara ini menulis buku atau kitab dengan bahasa internasional arab atau inggris, seperti cak nur pemikirannya hanya dikenal di indonesia saja, begitupun quraisy shihab,di dunia internasional tak nampak sama sekali dalam percaturan intelektual. dan ada baiknya kalau pak Moqsith atau para intelektual jil lah yang mulai ngarang buku yang berkaliber internasional melalui dua bahasa di atas. dan selamat untuk jil yang telah mengungkap hal baru ini, dan semoga dikembangkan terus

#5. Dikirim oleh Budiono  pada  17/10   11:04 AM

saya kira apa yang disampaikan ca’moqsith tadi benar sekali, bahwa ulama indonesia khususnya yang dari NU setara dengan ulama’ arab. kita juga tau bahwa KH. sahal sering menerbitkan kitab yang layak dibaca khususnya di pesantren. semestinya kitab yang di karang kiai sahal dan kiai afifuddin menjadi rujukan dan di baca di pesantren. jadi nanti ketahuan, bahwa karya ulama indonesia menjadi referensi pada ulama-ulama non indonesia

#6. Dikirim oleh mas deede  pada  17/10   01:30 PM

tak sependapat jika dibanding bandingkan saya hanya ingin ulama seluruh dibumi ini bersatu dan tidak harus membeda-bedakan pola fikirnya,islam tetap islam dan tujuannya satu bertakwa kepada Allah

#7. Dikirim oleh sujak  pada  18/10   01:49 AM

saya hanya ingin berkomentar singkat saja, hari ini anda akan mengatakan tidak perlu belajar al-islam ke timur tengah (saudi), tapi saya yakin suatu saat anda akan mengatakan untuk belajar al-islam datanglah ke amerika atau eropa dan australia, waspadalah!!!!!!!!

#8. Dikirim oleh ghulam  pada  19/10   10:07 AM

menanggapi tulisan mas abdul, sy beranggapan kita tidak bisa serta merta menghilangkan ulama arab karena biar gimanapun ada hal-hal yang memamg perlu kita “rujuk” ke ulama arab untuk sekedar referensi atau perbandingan kita saja. tapi sy tdk setuju dengan menjiplak abis semua pandangan ulama arab begitu saja. karena pada intinya agama itu harus dilhat juga kontektualnya jg, dan pada akhirnya kita dituntut untuk menggunakan akal kita dalam menelaah semua keadaan.

#9. Dikirim oleh dodosumekar  pada  20/10   10:45 AM

Ilmu Islam, tidak bisa tidak, harus mengacu kepada al-Qur’an + Sunnah.

Karena Al-qur’an & sunnah berbahasa Arab fusya, maka seorang ilmuan Islam yang mumpuni adalah yang fasih berbahasa Arab, mengerti kaidah-kaidah dan juga mengerti budaya Arab.  Sehingga sang ilmuwan dapat menginteprestasikan Sumber Alqur’an dan hadist, dengan cara yang benar, tidak tercampur dengan hal-hal yang bukan islam.

Karena Ulama timur-tengah berbahasa ibu Arab, maka sangat wajar mereka lebih mumpuni dalam pengetahuan ke-islaman.  Ulama Indonesia, juga mampu, menjadi ilmuawan yang mumpuni, selama dia memiliki ilmu Bahasa Arab yang mumpuni.

Itu saja, jadi dari mana asalnya gak soal asal didasari dengan Ilmu bahasa arab yang sempurna.

Saya juga ingin mengatakan bahwa terjemahan Alqur’an bukan al-qur’an, terjemahan hadist juga bukan hadist.  Lebih-lebih yang telah ditafsirkan.  apalagi yang dikutip oleh Sugana kusuma, si Manusia aneh.

#10. Dikirim oleh islam komplit  pada  22/10   01:16 PM

saya sangat setuju dengan uraian yang di paparkan sahabat moqsith,dari dulu ulama indonesia sangat terkenal dengan paparan dan keilmuan yang tinggi,kita tidak perlu minder dengan ulama timur tengah,kita harus bangga dengan kemampuan bangsa sendiri,namun,persoalanya apakah kemampuan ulama kita harus teruji dalam penguasaan berbagai disiplin ilmu.
untuk menjadi seorang ulama yang mumpuni tidak saja menafsirkan quran dan hadist dengan otak sendiri,tetapi harus dengan referensi dari yang lain.kemampuan dalam tata bahasa arabpun harus betul-betul cakap.
namun sahabatku,bahwa sebagai seorang santri yang selalu taat dengan perintah guru,yang selalu rujukannya kitab kuning,maka timur tengah jangan ditinggalkan begitu saja.dalam isilah pesantren salaf,meminta keberkahan itu perlu,karena dengan tawasul itu salah satu diantaranya adalah tempat baraokahnya ulama terdahulu yaitu di timur tengah.
ulama indonesia pun yang ilmunya mumpuni dari dulu sampai sekarang yaitu timur tengah.

#11. Dikirim oleh ardani  pada  22/10   05:05 PM

Terkait artikel ini saya cuma pgn komentar :
“Kalo mau tau cara bikin gudeg yg bener, datang dan belajarlah sama orang jogja, begitu juga kalo mau tau cara bikin empek-empek yg bener, datang dan belajarlah sama orang palembang..” jangan belajar bikin gudeg sama orang palembang ato belajar bikin empek-empek sama orang jogja, pasti keblinger..

Untuk sdr “Soegana Gandakoesoema” :
Dari komentar anda orang bisa tau sejauh apa kualitas pemahaman anda akan islam, saran saya : lebih baik diam, drpd kita tidak paham apa ttg apa yg kita sampaikan........

#12. Dikirim oleh harrismon  pada  24/10   01:55 PM

jgn lupa bahwa imam bukhari bukan org arab. hampir kebanyakan ulama hadith bukan dr org arab. cuma, hanya saja quran itu diturunkn dlm b.arab, maka eloklah kita memahami b.arab. dan org yg paling memahami b.arab ialah org arab. cuma org arab tidaklah maksum sehingga menjadi kiblat dlm konteks keilmuan.

#13. Dikirim oleh fahmi malaysia  pada  27/10   04:28 AM

Jangankan hasil karya ulama indonesia yang berbau islam. Karya leluhur kita seperti raden jayabaya dan lainnya jangan dipandang sebelah mata juga. Yang jelas kita harus menghargai hasil karya anak bangsa.

#14. Dikirim oleh Jabrail  pada  27/10   07:10 AM

setuju

tapi ingat.

agama ini berasal dari sana.
Tuan rumah pasti lebih banyak tau daripada tamu.

yang penting berlandaskan Al-Quran dan as-Sunnah..

dan dengan pemahaman yang benar!!!

#15. Dikirim oleh aditya  pada  27/10   11:15 AM

seperti kata gusdur, begitu saja kok repot…
Siapaun karyanya, apapun bentuknya jika masih bersumber pada alquran dan al hadist, bagi saya ga masalah (bukankah kita dituntut untuk mencari kebenaran/ilmu dimanapun tempatnya ) yang penting karya2 tersebut tidak membingungkan sang pembaca (mudah di cerna, dipahami, dan dapat dijadikan sebagai sumber inspiratif bukan hanya sekedar bacaan), karena seringkali manusia suka melebih-lebihkan “karyanya” agar terlihat lebih hebat dari yang lain (mungkin saja.

#16. Dikirim oleh izoil  pada  27/10   11:39 AM

Sejak Wafat Rasulullah SAW, terjadi tragedi perseteruan penunjukkan Khalifah antara Ali CS dan Abu Bakar CS (Padahal dahulu mereka satu Nafas dengan Rosul), mengapa mereka Yang dianggap sebagai Penyangga islam/ penerus amanat Rosul, hanya karena Ego, gengsi dan sikap tak jelas lainnya merapuhkan imannya yang selama itu terjaga dan akibatnya umat islam sekarng terpecah belah menjadi beberapa golongan dengan argumentasinya masing2. lalu mengapa kita mesti percaya dengan orang arab?

#17. Dikirim oleh aryadwipangga  pada  27/10   03:04 PM

#16 : (si pengagum gus dur) Kalo gak mo report kok masih harus mengacu ke al-qur’an dan As-sunnah, itu mah report banget, kudu hati-hati bung .....

Ya karena udah mengacu ke Al-qur’an dan As-sunnah, maka patokannya bukan lagi “(mudah di cerna, dipahami, dan dapat dijadikan sebagai sumber inspiratif bukan hanya sekedar bacaan)” Patokannya adalah “yang benar harus dikatakan benar, yang salah ya harus salah”.

Kata pepatah, katakan benar walupun benar itu pahit, katakan salah, walaupun salah itu manis.

#18. Dikirim oleh islam komplit  pada  28/10   09:12 AM

sebenarnya sudah ada beberapa karya anak bangsa kita yang akhir-akhir ini unjuk gigi di dunia internasional (arab), dan mereka ini akademis dari berbagai univ di Mesir, setau saya ada 5 anak bangsa yang kesemuanya alumnus dari beberapa univ2 di mesir yang telah di terbitkan karyanya:
1- al-Marhum DR. Nahrowi (betawi) dari Al-Azhar Univ( al-Imam as-Syafi’i Baina Qaul al-Qadim wa al-Jadid). th terbit sekitar 80 an. dan kitab tersebut tidak asing lagi di mesir sebab sudah menjadi rujukan di dunia akademik khususnya yang membahas tentang fiqh syafi’i.
2- DR. Sayyid Muhammad Aqil al-Mahdaly (Bugis) dari ‘Ain Syams, dan masya Allah beliau ini telah mengarang lebih 50 judul buku tentang aqidah dan filsafat dan diterbitkan oleh Darul Hadits Mesir. dan sekarang Dosen di Kolej University Insaniah Kedah. Malaysia. dan beliau tercatat sebagai mantan rektor universitas tersebut.
3- DR. Surahman Hidayat (sunda)dari al-Azhar Univ. tesis masternya dipublikasikan oleh Darul al-Salam Mesir. (at-Ta’aayusy as-Silmiyyu Baina al-Muslimin wa Ghayruhum fi Daulat Wahidah). skr beliau menjabat ketua dewan syariah pusat PKS.
4- dan yang terbaru adalah DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni (Bugis) dari Cairo Univ. thesis master beliu (Masail alal-I’tiqadiyah Inda al-Imam al-Qurthubi) di cetak oleh Muassasah al-’Alya Mesir th 2006,2008. dan Thesis Ph.D (Mauqif az-Zaidiyah wa Ahli as-Sunnah Min Aqidah al-Bathiniyah wa Falsafatuha) tahun ini under proses cetak di Darul Kutub al-Ilmiah, Bairut. dan beliau sekarang staff dosen aqidah filsafat di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).
di samping itu ada juga kalangan anak bangsa yang bukan dari akademik yaitu ust Nuruddin al-Banjari, karya beliau ini dalam bahasa arab tak terbilang jumlahnya dan di cetak di negeri seribu menara. yang jelas ini merupakan satu bukti bahwa mereka ini di akui dan di terima pemikirannya, karena rata2 karya atau buku beliu di cetak ulang di sana. ini beberapa anak bangsa yang perlu kita banggakan. sebab mereka ini membawa nama negara Indonesia di persada dunia. dan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kitab atau buku yang terbit di timur tengah silahkan buka : http://www.neelwafurat.com.

#19. Dikirim oleh maturidi  pada  28/10   11:39 AM

#18 : “yang benar di katakan benar, yang salah di katakan salah” anak kecil juga tahu, tapi yang jadi masalah siapa yang harus di percaya untuk mengatakan yang benar dan siapa yang mau mengaku untuk dipersalahkan. Karena semenjak sepeninggal Rasulullah SAW keutuhan islam sudah terpecah, dan semuanya mengaku ajarannya benar. jadi sampai kapan kita harus berantem tentang arah islam kemana harus “berkiblat” yang benar, bukankah semestinya kita berunding untuk mencapai titik temu dengan tidak mengedepankan ego, sekiranya ajaran islam itu mudah di terima oleh semua lapisan masyarakat bukan hanya untuk orang yang berpendidikan saja tetapi untuk mereka2 yang sekarang sedang bingung terhadap aliran2 islam yang bertebaran dimana2, bagaimana mereka mau mengadu tentang permasalahan hidup sesuai islam sementara para ahlinya sibuk beragumentasi.
dan satu hal lagi, saya bukan pengagum gus dur, saya hanya mengutip kata2nya saja.

#20. Dikirim oleh izroil  pada  29/10   03:01 PM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq