Uluran Tangan Watt - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
13/11/2006

Uluran Tangan Watt

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Saya baru dengar kalau Prof. Montgomery Watt meninggal, sebagaimana antropolog Amerika, Clifford Geertz, dari seorang teman. Saya sedih mendengar kabar ini. Sudah lama saya ingin menulis sebuah buku tentang pendekatan yang dipakai oleh Montgomery Watt dalam mengkaji Islam. Entah kapan keinginan itu terlaksana, saya tidak tahu.

Saya baru dengar kalau Prof. Montgomery Watt meninggal, sebagaimana antropolog Amerika, Clifford Geertz, dari seorang teman. Saya sedih mendengar kabar ini. Sudah lama saya ingin menulis sebuah buku tentang pendekatan yang dipakai oleh Montgomery Watt dalam mengkaji Islam. Entah kapan keinginan itu terlaksana, saya tidak tahu. Saya menggemari buku-buku Watt sejak lama. Studinya terhadap sirah atau biografi Nabi sangat menarik. Sebagai seorang Muslim, saya melihat Watt menulis sejarah kehidupan Nabi dengan semangat bersahabat.

Seluruh buku tentang Islam yang ditulis Watt terbit dari semangat yang sama, yakni ingin mengulurkan tangan persahabatan ke dunia Islam. Watt melihat Islam dengan semangat ekumenis, kalau istilah ini boleh dipakai. Salah satu kalimat yang selalu saya ingat dari Watt adalah ketika ia mengatakan di What is Islam?: jika Islam berarti ketundukan kepada suatu kebenaran ultim, kepada Tuhan sebagai sumber kebenaran itu, maka anda boleh menyebut saya sebagai Muslim (tentu dalam esensi). Saya tak ingat persis kalimatnya, tetapi kira-kira begitu.

Kajian Islam di Barat memang terus berkembang. Semula berkembang sebagai bagian dari polemik melawan Islam, kemudian berkembang menjadi salah satu “alat” untuk mendukung dominasi atas dunia Islam pada masa kolonialisme, dan sekarang berkembang lebih jauh sebagai bagian dari usaha masyarakat Barat untuk membangun saling pengertian antar kebudayaan umat manusia.

Watak kajian Islam di Barat kian lama kian simpatik terhadap dunia Islam, sementara konsepsi populer di dunia Islam tentang “orientalisme” (yaitu kesarjanaan Barat tentang dunia Timur, terutama Islam) stagnan, tetap tak berkembang.

Saya sungguh sedih melihat kontras antara dua hal ini: Sementara Barat maju dengan pesat lewat kajian tentang Islam dengan semangat yang kian simpatik, di dunia Islam sendiri nyaris tak ada perkembangan apapun berkaitan dengan usaha umat Islam untuk secara akademik mengkaji kebudayaan dan agama Kristen dengan semangat serupa.

Pada level yang sedikit populer, kontras ini kian menyedihkan. Sementara di pihak Barat lahir “penulis populer” seperti Karen Armstrong yang menulis beberapa buku yang simpatik tentang Islam dan sejarah Nabi Muhammad, di pihak Islam sendiri kita tak menemuka upaya serupa. Sementara banyak umat Islam yang riang-gembira karena melihat ada seorang mantan biarawati (yakni Armstrong) menulis dengan simpatik tentang Islam, mereka sendiri lupa bahwa dari kalangan Islam tak ada upaya yang setimpal terhadap Kristen.

Saya sedih karena karya tentang Kristen dari pihak Islam yang populer di level akar rumput adalah buku-buku “polemik murahan” tulisan Ahmad Deedat dan buku-buku sejenis lainnya.

Tentu, sikap-sikap yang sinis terhadap Islam di Barat masih ada dan tetap bertahan. Sebagaimana sikap itu juga masih mengakar kuat di kalangan Islam. Tetapi, upaya-upaya untuk mengulurkan tangan dari pihak Barat terhadap dunia Islam kurang mendapat perhatian yang cukup, antara lain seperti karya-karya Montgomery Watt ini.

Dengan mengatakan ini, bukan berarti Watt tidak mengemukakan observasi yang kritis terhadap Islam. Watt terlibat dalam penerjemahan sirah Nabi yang termuat dalam karya raksasa Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk. Dalam pengantar atas terjemahannya itu, Watt mengemukakan pandangan yang kritis terhadap sumber-sumber awal sejarah Nabi (baca “The History of al-Tabari: Muhammad at Mecca”, vol. VI). Tetapi kritisisme Watt ini tetap dalam semangat besar untuk mengkaji Islam secara simpatik.

Harapan saya, semoga uluran tangan Watt ini disambut dengan rintisan yang setimpal dari pihak Islam. Selamat jalan, Prof. Watt. []

13/11/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (8)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Argumentasi mas Ulil cukup signifikan. Saya setuju jika kita sama-sama meneliti agama lain yang tentunya dengan semangat kasih. Jika ada banyak perbedaan teologi di sana- sini maka harus diperdebatkan dengan santun dan penuh kasih tidak melulu bertindak destruktif. Memahami kajian perbandingan agama harus dimulai dengan objektivitas keilmuan.Karen Amstrong, Watt, sdh bertindak adil dengan menulis sisi baik dari Islam dari kacamata orientalis.Kecurigaan memang harus jauh-jauh dibuang mulai detik ini. Mas Ulil bravo your study. Saya tunggu kedatangan Anda untuk berdakwah dengan semangat pluralisme dari kampung- ke kampung seperti Gus Dur

Posted by agus dwijono  on  10/22  at  10:01 PM

tepei: “kita tidak punya banyak waktu” lalu dengan alasan itu apakah qt tidak memulai? ‘pengetahuan’ Tuhan itu banyak sekali bahkan tak terhingga. uda brp bnyk qt pelajari tentang ilmu, lalu ada batasankah hingga qt tdk bisa mempelajari agama lain, padahal itu adalah juga ‘ilmu Tuhan’.
-----

Posted by sufi  on  02/20  at  03:02 AM

Saya “cukup” empati terhadap akhi Ulil. Disaat para profesor “orientalis” BARAT sibuk mengkaji tentang agama “ISLAM” kita akhi malah menganjurkan untuk mengkaji tentang agama lain Misalnya KRISTEN. Jangankan kita, para profesor KRISTEN saja sudah kewalahan mengkaji tentang agama mereka. Jangankan untuk “itu”, untuk mengkaji tentang agama kita saja, kita tidak punya banyak waktu. Nah sebaiknya akhi konsentrasi “berjihad” dulu untuk mendalami ISLAM supaya dapat menemukan “KEBEBASAN SEJATI”.

Posted by tepei  on  12/07  at  08:13 AM

Asswrwb. Melihat tulisan bang Ulil kelihatannya kedangkalan dalam melihat dan menganalisa kondisi ummat saat ini. Jelaslah sebagai seorang muslim aqidah adalah suatu hal yang absolut, teringat dengan kisah seorang sales yang tidak pernah laku menjual dagangannya, ternyata dia juga ragu apakah barang tersebut layak untuk di pakai. Melihat ummat lain, adalah suatu keabslutan untuk menjadikan Islam adalah agama yang paling layak dianut sebelum mengajak orang lain menelusuri jalan kebenaran yang kita anggap benar, kasihan bang Ulil… sampai kapan dalam pencarian ini???

Posted by ibnu munzir  on  11/29  at  03:11 AM

Aneh sekali anda, yang terlalu mengagungkan semangat sekular liberalisme.  Islam itu jauh lebih liberal dari yang anda pikirkan. Keterbukaan eropa terhadap ilmu pengetahuan and science (Aviciena, ibnu rush, al jabar etc) dimulai dari islam. Ketertingglan umat islam saat ini disebabkan karena umat itu sendiri tidak mau memahami/menerapkan agamanya dengan baik. Ahli agama yang ada lebih terlibat/terkonsentarasi pada masalah-masalah di wilayah perifer. Sementara muslim-muslim intelectual seperti anda hanya bisa menyatakan kekagumannya terhadap tokoh-tokoh seculer yang sebenarnya tidak banyak membawa kebaikan bagi umat. Dan anda-anda sendiri sekembalinya dari tempat belajar anda tidak mendapatkan pencerahan dan kebaikan untuk umat sendiri. Saya sependapat dengan ikwan Joefry, tentang tanyakan apa yang telah anda berikan bagi agama(umat) dan negara dibidang keahlian anda in peer review journal?  Saya tunggu jawabannya.

Posted by nesya  on  11/28  at  02:12 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq