Untung Ada Karen Armstrong - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
02/08/2004

Untung Ada Karen Armstrong

Oleh Ihsan Ali-Fauzi

Karya-karya Armstrong sebenarnya tak istimewa benar. Dalam biografinya mengenai Nabi Muhammad, misalnya, tidak ada perspektif atau pengetahuan yang baru sama sekali. Karyanya tak sebanding dengan karya-karya para sarjana lain seperti Martin Lings, Montgomery Watt atau Maxime Rodinson. Yang disukai para pembaca dari Armstrong adalah pendekatannya yang empatik. Ia paling tertarik dengan aspek-aspek konkret dari kehidupan keagamaan Islam, misalnya, dan mencoba memahami motif-motif terdalamnya.

Ketika peristiwa 11 September terjadi, kaum muslim di AS ketar-ketir. Mereka khawatir, gejolak anti-teroris akan tumpah menjadi kebencian terhadap kaum muslim. Memang ada penjelasan bahwa para teroris itu, sekalipun muslim dan membawa-bawa Islam untuk membenarkan tindakan mereka, tidak mewakili kaum muslim. Tapi bukankah orang sering lupa bertindak atas dasar kepala dingin, apalagi di tengah kemarahan kala itu?

Saya sendiri, yang kebetulan sedang belajar di Ohio, mengalami reaksi beragam. Saya tinggal di perumahan yang disubsidi pemerintah dan dihuni banyak rakyat AS yang miskin. Suatu ketika, seorang tetangga bertanya dengan nada tak ramah: “Anda muslim, ya?” Di lain waktu, istri saya yang kebetulan berjilbab, diolok-olok laki-laki yang memberi isyarat dengan jari tengah bernada melecehkan. Dari negara bagian lain, kami mendengar berita bahwa beberapa toko milik orang Arab dibakar. Di Columbus, ibukota Ohio, sebuah masjid atau Islamic Center diserang orang-orang tak dikenal.

Tapi kami juga tahu bahwa di banyak tempat lain, banyak orang atau tempat khusus milik kaum muslim dilindungi kalangan agamawan non-muslim. Di Athens, sebuah kota kecil di Ohio, misalnya, persis sehari setelah 11 September, Islamic Center didatangi kalangan agamawan yang ingin menegaskan bahwa kaum muslim tidak perlu khawatir. Karena gagal bertemu pengurus yang sedang tidak di tempat kala itu, mereka menempelkan keterangan di pintu Islamic Center, yang menegaskan niat mereka itu.

Khususnya dalam situasi tegang seperti itulah kami merasa beruntung karena ada penulis seperti Karen Armstrong. Penulis Inggris ini dikenal sebagai penulis buku-buku agama yang amat produktif dan hampir semuanya menjadi best-seller. Selain menulis mengenai tema-tema tertentu dalam agama Kristen yang secara khusus didalaminya (ia pernah menjalani hidup sebagai calon biarawati, sebelum akhirnya hengkang), ia menulis mengenai perbandingan dan sejarah agama, biografi Nabi Muhammad dan Budha, dan sebuah sejarah Islam ringkas. Seraya bermarkas di rumahnya di London, ia rajin diundang ke berbagai penjuru dunia, menyebarkan spiritualitas yang baginya tidak harus berbasis agama tertentu. Ia menyebut dirinya monoteis freelance.

Karya-karya Armstrong sebenarnya tak istimewa benar. Dalam biografinya mengenai Nabi Muhammad, misalnya, tidak ada perspektif atau pengetahuan yang baru sama sekali. Karyanya tak sebanding dengan karya-karya para sarjana lain seperti Martin Lings, Montgomery Watt atau Maxime Rodinson. Cukup jelas bahwa ia juga tak menguasai bahasa Arab, hingga sejumlah kesalahan penulisan terjadi dalam bukunya (madrasahs, misalnya, ditulis madaris). Ia hanya mensistesiskan karya-karya terdahulu, dan menuliskannya secara popular dan sederhana.

Yang disukai para pembaca dari Armstrong adalah pendekatannya yang empatik. Ia paling tertarik dengan aspek-aspek konkret dari kehidupan keagamaan Islam, misalnya, dan mencoba memahami motif-motif terdalamnya. Dalam sejarah ringkasnya mengenai Islam, misalnya, ia sempat mendiskusikan beragamnya fundamentalisme modern tanpa mengaitkannya secara tendensius dengan Islam. Ia mencoba memahami fundamentalisme dari dalam, memotret para aktivisnya sebagai pengikut sebuah iman yang merasa terancam oleh otoritarianisme sekular yang mendominasi dunia Islam. Kita dibawa masuk ke dalam pikiran terdalam orang-orang yang bersedia mati, sambil membawa bom di tubuhnya, yang merasa putus asa dengan kelaliman para penguasa.

Katanya, sikapnya banyak dibentuk oleh Marshal Hodgson, bekas guru Nurcholish Madjid dan Amien Rais di Universitas Chicago, yang memperkenalkannya kepada the science of compassion. Dengan bekal itu, katanya, kita bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan, sehingga dalam diri kita ada ruang untuk menerima mereka. Ia juga terkesan dengan Wilfred C. Smith, yang mendirikan Lembaga Kajian Islam di Universitas McGill pada akhir 1950-an. Untuk mengerti Islam sungguh-sungguh, ahli Islam India ini mensyaratkan agar lembaga di McGill itu diisi oleh sedikitnya 50% mahasiswa Islam. Ia juga berprinsip: apa yang saya katakan mengenai Islam baru valid jika kaum muslim sendiri berkata “amin” kepadanya.

Dengan sikap mental inilah Armstrong menulis buku-bukunya. Biografinya mengenai Muhammad disukai banyak orang Islam. Kata Akbar Ahmed – seorang pemuka muslim di AS asal Pakistan – kepadanya, “Buku Anda itu sebuah kisah cinta. Seandainya Anda sempat bertemu Sang Nabi, Anda tentunya akan bersedia menjadi istrinya yang ke-15!” Berkat itu pula Armstrong diundang untuk berceramah pada sebuah acara maulid Nabi! Padahal ia belum pernah menemukan seorang pemuka muslim diundang berceramah di Hari Natal, katanya.

Di AS, karya Armstrong menjadi pembanding yang berarti bagi karya-karya penulis lain seperti Bernard Lewis, yang di AS juga menjadi penulis best seller. Beda dari Armstrong, Lewis adalah seorang esensialis yang melihat Islam hanya dari sudut pandang kaum fundamentalis. Hanya ada satu Islam baginya, dan Islam itu adalah Islam “keras”. Karyanya yang paling tipikal adalah What Went Wrong?, yang ditulis sebelum, tetapi diterbitkan sesudah peristiwa 11 September. Di situ ia menyatakan bahwa Islam sudah dan pada dasarnya memang akan terus berbenturan dengan Barat, kecuali jika perubahan mendasar berlangsung di dunia Islam (yang ia ragukan). Tidak ada kualifikasi mengenai Islam, atau Barat: semuanya monolitik dan tak akan berubah. Karya itu memenuhi nafsu yang bergejolak di dada sebagian rakyat AS: seakan mereka memperoleh konfirmasi mengenai mengapa “Islam” menyerang mereka secara keji.

Berkat karya-karya Armstrong, Lewis tak lagi bertengger di jajaran penulis best-sellers sendirian. Karya-karya mereka kini bisa ditemukan berjejeran di toko-toko waralaba seperti Wall Mart, dengan harga murah. Karya-karya Armstrong juga menandai makin seringnya Islam dibicarakan di luar kampus di AS.

Karya-karya itu memang tidak dalam secara kesarjanaan, tetapi kesederhanaannya justru berguna untuk dibaca kalangan luas. Karya-karya itulah yang turut membentuk pandangan bahwa Islam itu warna-warni. Bahwa bahkan kalangan yang disebut fundamentalis pun memiliki alasan yang membuat kita bisa mengerti mengapa mereka siap sedia bunuh diri. Armstrong mengecam keras peristiwa 11 September, tetapi ia juga mengerti mengapa begitu banyak orang di dunia Islam yang tidak suka sama pemerintahan AS.

Kaum muslim Indonesia semestinya juga bisa belajar banyak dari Armstrong, sambil membaca terjemahan karya-karyanya yang belakangan banyak diterbitkan di sini. Sikapnya mestinya mendorong kita untuk lebih bersikap empatik terhadap pandangan orang lain, baik itu muslim atau bukan. Harus ada ruang dalam hati kita untuk memahami sikap, pikiran dan pilihan orang lain. Mestinya ada sejenis relativisme internal dan eksternal pada diri kita, sehingga kita tidak terpaku pada kepastian-kepastian yang biasanya kita pegang: siapa tahu ada sejemput kebenaran pada orang lain! Bukankah Islam mengajarkan bahwa Kebenaran Mutlak (al-haqq) hanya Allah?

Membaca karya-karya Armstrong, juga Hodgson dan Smith yang memberinya inspirasi, saya terus terang sering kecewa jika bertemu dengan uraian seorang muslim yang terlalu menyederhanakan mengenai pihak lain. Mengenai kehidupan di Barat, misalnya, yang disinggung melulu soal kebebasan seksual dan yang menyerempet itu. Seakan semua orang Barat seperti itu. Seakan itu gejala umum di sana.

Bagi saya, Armstrong telah ikut “menyelamatkan” kaum muslim dari perasaan ketar-ketir mereka di AS. Mudah-mudahan karya-karyanya juga turut mewarnai kaum muslim di tempat-tempat lain. Agar dunia diisi lebih banyak lagi orang yang bersedia membuka diri, ingin memahami orang lain, tidak mau menang sendiri dengan kepastian-kepastian yang absolut.  Dengan begitu dunia rasanya akan lebih damai bagi semuanya.[]

Ihsan Ali-Fauzi, kandidat Doktor pada Ohio University, Amerika.

02/08/2004 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Mengapa yang mulia Ihsan Ali-Fauzi tidak mengatakan:

1. Untung ada Hari Takwil Kebenaran Kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53 pada era globalisasi.
2. Untung ada Hari Kebangkitan Ilmu pengetahuan Agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22 pada era globalisasi.
3. Untung ada Hari Kiamat, yaitu Hari Habis Gelap Terbitlah Terang Benderang Ilmu Pengetahuan Agana sesuai Al Qiyamah (75) ayat 6-15, Al Baqarah (2) ayat 257, Ibrahim (14) ayat 1 pada era globalisasi.
4. Untung ada Hari Al Quran (ialah isi kitab suci sesuai Al Baqarah (2) ayat 2, Al Waqi’ah (56) ayat 77,78,79) dijadikan dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab sesuai Fushshilat (41) ayat 44 pada era globalisasi.
5. Untung ada Hari Penyempurnaan Al Quran Diwahyukan berkat do’a manusia sesuai Thaha (20) ayat 114,115 pada era globalisasi.
6. Untung ada Hari-Hari Allah Lainnya 400 ayat, sesuai Ibrahim (14) ayat 5, Al Jaatsiyah (45) ayat 14 pada era globalisasi.
7. Untung Allah menciptakan Agama Allah setelah agama disisi Allah adalah Islam kaffah dari dahulu sejak Adam, sesuai Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208, An Nashr (110) ayat 1,2,3, tempat semua manusia masuk berbondong-bondong dan menang (Damai Beragama) pada era globalisasi. 
8. Era Globalisasi diramalkan, sesuai Al Isro (17) ayat 104, Al Kahfi (18) ayat 99, Al Qari’ah (101) ayat 4.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Posted by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  on  07/31  at  08:54 PM

Mas Ihsan, artikel Anda menarik sekali. Saya setuju dengan Anda tentang perlunya relativisme cara pandang dan menginternalisasikan sikap toleransi dengan orang yang berbeda dengan apa yang kita yakini. Tidak ada salah dan sulitnya, sebetulnya, untuk bersikap seperti itu. Sebab, toh sikap seperti itu sesungguhnya tidak automatis mereduksi dan mencemari keyakinan kita yang berbeda dengan orang lain. Sikap seperti itu tidak pula berarti membenarkan keyakinan orang lain yang berbeda dengan kita. Hemat saya, sikap seperti itu adalah kesadaran bahwa dalam kehidupan ini ada orang lain yang memiliki keyakinan berbeda dengan kita dan ia berhak atas keyakinannya itu. Sama halnya dengan kita. Itu saja.

Salam buat Anda Mas Ihsan!

Munafrizal
-----

Posted by Munafrizal  on  08/11  at  11:08 AM

Assalamualaikum Wr Wb,

Yth. Bung Ihsan Yth. Bung U A A

Bung Ihsan, ditambah paska 11/9 muslim makin dimusuhi saja, karena itu katanya bagian dari konflik barat-timur.... jadi sudah dari sono-nya.

Baiklah setelah membaca pengalaman Bung di USA marilah kita tengok kembali ke tanah air yang terus berkurangnya jumlah kaum muslim dinegara berpenduduk 210 juta jiw ini. Pada tahun 70-an jumlah kaum non-muslim hanya 4,5 persen dari total penduduk, tapi saat ini mencapai 20 persen dan pertengahan abad ke-21 diperkirakan menjadi 50 persen.

case ini meperlihatkan, bahwa proses pemurtadan sangat gencar terjadi di tanah air melalui berbagai cara a.l; dibidang pendidikan, pengobatan rumah sakit, kegiatan sosial dan keberadaan panti asuhan ditambah lagi digalakkannya kembali promo toleransi beragama melalui infrastructure liberal...(Bung Ihsan, saya bukan anti bertoleransi/liberal...karena, kata orang sederhana pembaca Islam lib bahwa orang yang tidak bertoleransi dalam beragama katanya “iblis” saya disamakan dengan iblis dan dimuat di Islam Lib....hanya oleh karena abdi beda pengejewantahan...he..he..he).

Dijaman orde baru toleransi beragama/liberal memang sangat berhasil meningkatkan pemurtadan dengan dalih pemerataan sehingga Pak Amin rais yang waktu itu maih di UGM merasakannya. Ini bisa dilihat dari menteri kabinet orde baru tsb yang posisi-strategis selalu didominir oleh non-muslim bahkan bantuan IGGI 10 persen untuk kepentingan ibadah non-muslim, pernah pada waktu itu seorang diplomat Malaysia menanyakan kepada saya mengapa banyak diplomat Indonesia non-muslim, bahkan banyak beasiswa keluar negeri diberikan kepada murid SLA non muslim yang katanya nilai rata-ratanya lebih tinggi, padahal menurut sumber yang layak dipercaya kepala sekolah non-muslim tsb memang me-mark-up angka-angka nilai sehingga pada waktu itu lengkaplah sudah pameo pelajar muslim goblok semua.

Saya bukan anti toleransi beragama/liberal tapi fakta dilapangan menunjukkan bahwa infrastructure ini digunakan di Indonesia sebagai aksi pemurtadan terhadap kaum muslimin...ini bisa dilihat tempat ibadah non-muslim dengan bahasa arab bahkan design-nya ada yang memakai rumah adat Minangkabau dll yang jumlahnya makin meningkat.

Jadi kalau karya-karya Armstrong yang katanya disukai pembaca, terutama muslim.... apakah dia juga bisa memahami motif-motif apa yang dipakai pengembala-pengembala nasrani tsb untuk memurtadkan muslim Indonesia?????????????.

Oh....ya..Bung Ihsan...ada orang liberal bilang bahwa kita harus melihat quality muslim itu, bukan melihaat quantiti-nya apakah Bung Ihsan setuju????????...kalau setuju...ya..mungkin pada abad ke-21 diperkirakan muslim Indonesia menjadi minority seperti tersingkirnya kaum muslimin di Philippines dan Singapore.

Wassalammualaikum Wr Wb,

M.Nasir

NB: Pak redaksi...seperti biasa tulisan saya ini tidak dimuat karena saya berbeda...he..he..he.. dan disebut iblis..ha..ha..ha, namun mohon disampaikan kepada Bung Ihsan yang saya tahu jauh di USA mungkin tidak mengikuti banyak-nya kasus pemurtadan di Indonesia...semoga Pak Redaksi dapat Pahala dan sehat selalu sehingga kuat berkiprah di Islam Lib........ammmiiiin.

Posted by muhammad nasir  on  08/11  at  05:08 AM

--Dengan sikap mental inilah Armstrong menulis buku-bukunya. Biografinya mengenai Muhammad disukai banyak orang Islam. Kata Akbar Ahmed – seorang pemuka muslim di AS asal Pakistan – kepadanya, “Buku Anda itu sebuah kisah cinta. Seandainya Anda sempat bertemu Sang Nabi, Anda tentunya akan bersedia menjadi istrinya yang ke-15!” Berkat itu pula Armstrong diundang untuk berceramah pada sebuah acara maulid Nabi! Padahal ia belum pernah menemukan seorang pemuka muslim diundang berceramah di Hari Natal, katanya ---

Pak Ihsan yang baik,

Bagian tulisan anda tersebut mengganggu benar. Empat kata abstrak: chauvinism, pejoratif, misoginis, “derogatory” seakan terengkuh “semua dan sekaligus” untuk memaknainya secara bertubi-tubi. Inilah contoh konteks di mana kata “cinta” mengalami pergeseran secara luar biasa pejoratif. Barangkali saya salah paham, namun, dengan paragraf tersebut, orang akan berpikir bahwa anda (kalau bukan Akbar Ahmed dan Sang Nabi) adalah seorang misoginis tulen.

Jika nona Armstrong menerima pinangan Sang Nabi, niscaya lengkaplah kisah cinta itu… dan larutlah kita dalam menikmati suatu kisah cinta yang “religius” sekaligus dekaden. Kitapun lalu punya sebuah pesta besar yang semakin mengukuhkan ideal “male chauvinism” kita.

Kisah cinta itu akan menjadi salah satu kisah Sang Nabi yang terbaru dan terseru.

Tabik saya, M. Sardarji

Posted by M. Sardarji  on  08/05  at  11:08 AM

begitulah cara umat Islam Indonesia berpikir mas ihsan, mungkin pola paternalistik kepada kyai dan ustadz yg terlanjur mengejala diseluruh persendian umat Islam dipelosok-pelosok daerah di Indonesia yang tidak memberi tempat untuk mampu berkembang dengan membuka nuansa berpikir yang lebih luas dan luwes. jangankan dengan pihak barat, dengan sesama muslim saja sudah saling menuduh dan menydutkan, seperti misalnya Pilpres tahap pertama kemarin, bagaimana salah satu calon habis diposisikan begitu buruk hanya karena dia memberikan ruang kepada sesama warga negara Indonesia yang bukan muslim sebagai bagian dari team suksesnya!!! jadi PR kita masih panjang, jalan keluarnya adalah bagaimana kita bisa menyampaikan pesan agama kepada kaum Muslimin dengan cara yang menyejukan dan tidak menjelimet!!! kalau mas ulil agak njelimet...terlalu teknis..Insya Allah model aa gym musti diperbanyak tuh!!

Posted by Abdul Hadi Tsabit  on  08/05  at  10:08 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq