Urgensi Islam Mazhab Indonesia - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
10/07/2008

Urgensi Islam Mazhab Indonesia

Oleh Abd A’la

Islam dapat berkembang terus di bumi Nusantara karena yang dikedepankan sejak awal adalah coral Islam yang sejuk, ramah, dan mampu berdialog dengan tradisi dan budaya lokal. Beberapa studi menunjukkan, Islam yang datang pertama kali di Nusantara adalah Islam sufistik yang mampu menyapa dominasi mistik yang banyak dianut masyarakat Nusantara melalui strategi dan pola penyampaian yang juga akrab di kalangan mereka. Sejarawan Merle Ricklefs menyebutnya sebagai agama sintesis mistik (mistic syntetism). Dengan demikian, masyarakat Nusantara dapat menerimanya tanpa suatu resistensi berarti.

Dilihat dari sisi manapun, kekerasan dan kekuatan otot yang sering ditunjukkan sebagian kelompok Muslim radikal bertentangan secara diametral dengan prinsip-prinsip Islam. Sebermula sekali, agama ini meletakkan kerahmatan sebagai fondasi keberagamaan, dan seutuhnya sangat menghargai nilai-nilai spiritualitas dan intelektualitas, serta suasana dialogis.

Kekerasan dan sejenisnya hanya akan menjadikan Islam tereduksi sebagai bayang-bayang menakutkan yang kehilangan aspek kemanusiaannya. Kesyahduan beragama lalu berbias menjadi keberingasan, dan pencerahan tersungkur menjadi keangkuhan. Keberagamaan yang sejatinya dikembangkan di atas kecerdasan emosi dan nalar argumentatif berkembang menjadi kekuatan destruktif, berwujud pentungan dan sejenisnya yang tak akan memberi dampak penyadaran dan transformasi nilai-nilai moral luhur Islam.

Model keberagamaan seperti itu bisa saja menjadikan Islam sebagai kekuatan tunggal di negeri ini, tapi kekuatan yang akan berkembang adalah kekuatan yang sangat rapuh. Di atas permukaan simbol Islam terpampang di mana-mana, tapi senyatanya tidak disangga tiang-tiang moral dan nalar agama yang kuat. Keislaman ini mudah ambruk ketika berhadapan dengan kompleksitas persoalan yang dihadapi bangsa. Welfare discourse atau keinginan untuk menciptakan negara gemah ripah loh jinawi sulit tercapai dan tidak mampu tawaran-tawaran penyelesaian yang holistik dan aplikatif terhadap persoalan bangsa yang rumit dan kait mengkait.

Justru yang akan berkembang adalah jatuhnya lebih banyak korban, termasuk di kalangan umat Islam sendiri. Orang-orang Islam yang selama ini dianggap marginal akan kian terpinggirkan. Sementara itu, persolan besar terus menganga karena solusi yang dipaksakan lebih berwujud doktrin-doktrin rigid, bahkan utopis, argumen apologis, dan bayang-bayang masa lalu yang sulit untuk dilabuhkan dalam kekinian. Fenomena semacam itu merupakan realitas yang membelenggu sebagian kelompok Muslim Indonesia saat ini.

Islam Mazhab Indonesia

Keberlangsungan fenomena tersebut tentu sangat mengkhawatirkan eksistensi bangsa, dan umat Islam Indonesia secara khusus. Keberlanjutan hal itu akan membuat Islam tidak mampu mengakar kuat dalam masyarakat luas, tidak mampu menyentuh lokalitas budaya, serta tidak memberikan ruang dialog yang cukup luas bagi pengembangan tradisi luhur bangsa. Umat Islam akan menjadi asing di negeri sendiri.

Padahal, sejarah Islam Indonesia telah memberikan pelajaran berharga untuk pembumian dan pengembangan nilai-nilai Islam yang lebih mengakar. Islam dapat berkembang terus di bumi Nusantara karena yang dikedepankan sejak awal adalah coral Islam yang sejuk, ramah, dan mampu berdialog dengan tradisi dan budaya lokal. Beberapa studi menunjukkan, Islam yang datang pertama kali di Nusantara adalah Islam sufistik yang mampu menyapa dominasi mistik yang banyak dianut masyarakat Nusantara melalui strategi dan pola penyampaian yang juga akrab di kalangan mereka. Sejarawan Merle Ricklefs menyebutnya sebagai agama sintesis mistik (mistic syntetism). Dengan demikian, masyarakat Nusantara dapat menerimanya tanpa suatu resistensi berarti.

Ketika Walisongo menjadi penyebar Islam di tanah Jawa, keislaman semacam itu merupakan strategi dan pola yang terus dikembangkan. Sunan Kalijaga, misalnya, menyebarkan Islam melalui wayang kulit dan cerita wayang yang telah mengalami islamisasi sedemikian rupa. Sunan Muria berdakwah melalui gamelan. Bahkan Raden Paku merupakan pencipta gending Asmaradana dan Pucung, dan Sunan Kudus sebagai pencipta gending Maskumambang dan Mijil (Saridjo et. al, 1982: 23-24).

Selanjutnya, kearifan semacam itu menjadi dasar pengembangan Islam di dunia pesantren. Islam lalu menjadi sesuatu yang akrab dan bagian yang intrinsik dari masyarakat Nusantara. Pada saat yang sama, melalui Islam mazhab Indonesia itu masyarakat menghadapi dan menyelesaikan persoalan mereka secara arif dan self-motivated, baik dalam melawan penjajahan hingga terlibat aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengisinya secara mencerahkan.

Dalam konteks kekinian, Islam mazhab Indonesia tersebut sangat signifikan untuk ditumbuh-kembangkan. Berpijak pada Islam semacam itu, umat Islam Indonesia dapat menjadi Muslim sekaligus menjadi eleman inheren bangsa Indonesia, serta memiliki potensi besar untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa tanpa harus mengalami keterasingan dari kehidupan konkret mereka.

Islam tidak dianggap berhubungan secara antagonistis dengan paham kebangsaan maupun khazanah budaya bangsa. Mosaik budaya bangsa Indonesia yang beraneka dan majemuk tidak menjadi penghalang bagi Islam untuk berdialog dengan sehat. Mekanisme saling meminjam dan mengisi di antara keduanya pun terjadi dengan cara-cara yang beradab. Untuk itu, hubungan antara keislaman dan kebangsaan Indonesia menjadi bersifat komplementer, saling melengkapi, bukan saling menaklukkan.

Itulah misalnya yang pernah dikemukakan pemikir-pemikir Islam terkemuka Tanah Air seperti KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur lewat gagasan Pribumisasi Islam-nya. Juga gagasan-gagasan tentang kontekstualisasi yang diperjuangkan oleh banyak tokoh seperti Almarhum Nurcholish Madjid, Munawir Sadzali, dan lainnya. Islam diupayakan menjadi agama yang fleksibel, mampu berdialog secara sehat dengan kenyataan.

Menjauhi Formalisme

Untuk pengembangannya, umat Islam Indonesia saat ini tentunya perlu menghindari bentuk-bentuk formalisme telanjang sebagaimana dikembangkan generasi awal Muslim Indonesia. Demikian pula mereka jangan sampai terjebak kepada pemaknaan literalistik atas bentuk formal tersebut. Umat Islam perlu menangkap makna dasar dari Islam dan memaknainya secara transformatif ke dalam konteks kekinian.

Demi menggapainya, pengembangan komunikasi kritis adalah niscaya untuk dijadikan dasar rekonstruksi. Memodifikasi komunikasi kritis Habermas (dikutip Sindunata, Basis, November-Desember 2004: 51), umat Islam perlu menjadikan nilai kebenaran sebagai realitas konkret yang dapat diterima bangsa secara keseluruhan. Di situlah diperlukan proses objektivikasi sebagaimana dikemukakan oleh Almarhum Kuntowijoyo. Proses objektivikasi ini berguna untuk menyaring dan menapis unsur-unsur yang dianggap benar secara eksklusif oleh suatu agama guna diangkat menjadi kebenaran bersama tanpa dirasakan lagi sebagai suatu kebenaran yang eksklusif.

Dari kebenaran yang sudah diobjektivikasi itu, keadilan sejati bagi seluruh elemen bangsa perlu dilabuhkokohkan. Pada saat yang sama, umat Islam niscaya harus membangun relasi dan dialog dengan segenap unsur bangsa dan masyarakat dunia secara intens. Konkretnya, dengan nilai-nilai universal Islam dan agama-agama lainnya yang berwujud kebenaran, keadilan, keramahan, dan sejenisnya, umat Islam –bersama umat yang lain –berpeluang besar untuk membangun Indonesia yang sejahtera dan sejuk bagi semua.

10/07/2008 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Bismillahi, Ass, Dien ini sungguh halus masuklah perlahan - perlahan di dalamnya ada Sabar, Iklhlas dan Jihad, bertingkat seperti atmosfer dan memilih ketika berkemampuan dalam pengetahuan, kesejatian ibadah tidak akan dapat membalas MAHA RAHMAN dan RAHIMNYA, JIKA KEMBALI KEPADA YANG SATU ... APAKAH ADA YANG KEDUA, KETIGA ? PENCIPTA LEBIH MENGERTI DARI YANG DICIPTA ... SUBHANALLAHI ! wass

Posted by walikuncung  on  08/09  at  12:47 PM

Yang mulia Adi posting 15-7-2008 0558 AM:

1. Kitab suci berbahasa Arab didalamnya terdapat wujud Al Quran sesuai Yusuf (12) ayat 1,2, Thaha (20) ayat 113, Az Zumar (39) ayat 28, Asy Syuuraa (42) ayat 7, Az Zukhruf (43) ayat 3, yaitu wujud alwah skema siklus manasik haji zamani 10.000 tahunan.
2. Al Quran didalam Kitab suci sesuai Al Waqi’ah (56) ayat 77,78,79, Al Hijr (15) ayat 1, An Naml (27) ayat 1,2, Az Zukhruf (43) ayat 2,3,4, Qaaf (50) ayat 1,2, Al Buruj (85) ayat 21,22, wujudnya alwah skema sesuai Al A’raaf (7) ayat 144,145, yaitu siklus manasik haji zamani 10.000 tahunan penciptaan agama-agama dujuluki langit-langit dan bumi yang dibinasakan oleh nafsu manusia sesuai Al Mu’minuun (23) ayat 71.
3. Al Quran (wujud alwah skema isi kandungan Kitab suci) akan dijadikan dalah bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab, diprotes orang Arab sesuai Fushshilat (41) ayat 44, wujud manasik haji zamani siklus 10.000 tahunan.
4. Semua rahasia manasik haji adalah wujud Risalah Tuhan/Allah (dari Adam globalisasi dahulu ke Adam globalisasi sekarang, sesuai Al Baqarah (2) ayat 30-39 s/d. Al A’raaf (7) ayat 27, Thaha (20) ayat 117) yang wajib disampaikan oleh para rasul/nabi atas perintah Allah sesuai Al Maidah (5) ayat 67 (oleh para rasul), Al An Aam (6) ayat 124,125 (oleh Allah sendiri), Al A’raaf (7) ayat 62,60 (oleh Nuh), 68,65,66 (oleh Hud), 79,75 (oleh Saleh), 93,88 (oleh Syuaib), 144,109 (oleh Musa), Al Ahzab (33) ayat 38,39,40 (oleh Muhammad atau siapa saja), Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28 (oleh rasul yang dirido’i). Penolaknya senantiasa pemuka agama!
5. Umat beragama tidak menyampaikan Risalah Tuhan/Allah keseluruhan, akan tetapi menyampaikan risalah masing-masing utusannya (dilarang sesuai An Nisaa (4) ayat 150,151,152), sehingga terkandung didalam batin/hati penganut agama rasa 100% ARBABAN/BERHALA/KULTUS/MENUHANKAN nabi-nabi sesuai Ali Imran (3) ayat 80, dan ARBABAN kepada pemuka-agama selain Allah sesuai At Taubah (9) ayat 31. Dus antara umat beragama tidak nyambung dan berselisih persepsi agama sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54.
6. Jadi yang salah bukan kitab sucinya didalamnya ada Al Qurannya, dan kenyataannya masih utuh isinya.
7. Yang salah isi Alkitab suci selama 1.400 tahun lebih dibawa oleh umat manusia kearah khilafiah sejak hadits, mazhab, fiqih, sampai kepada fatwa pemuka-agama berpecah-belah menjadi 73 firqah, Nasrani 72 firqah, Yahudi 71 firqah (diantaranya khilafiah Islam Liberal dan Islam Konservatif Adi).
8. Satu-satunya jalam untuk membenarkan menjadi lurus kembali persepsi tunggalnya isi Al Kitab disebut Al Quran, menurut hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw. dan hujjah Kitab suci-Nya, wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menurunkan HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53 pada millennium ke-3 masehi.
7. Agar yang mulia Adi faham persepsi tunggal agama kami dan mudah-mudahan Hari Takwil dibawa oleh mas Adi.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Posted by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  on  08/01  at  04:04 AM

Saudara ADI Yth.
-Keyakinan kami Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru yang diturunkan sejak Musa 1300 seb. masehi sampai Isa awal masehi; demikian pula Al Kitab suci nabi Muhammad saw. (keluarga sesuai Al Fath (48) ayat 29, Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14) yang diturunkan sekitar tahun 600 masehi sampai 1900-2000 masehi, konteks isi kandungan prinsip dasarnya yang disebut Al Quran (Al Qashash (28) ayat 43, Al Baqarah (2) ayat 87, Al Baqarah (2) ayat 2, Al Waqi’ah (56) ayat 77,78,79) yang belum terlukis gambarannya seperti apa, adalah masih utuh tidak berubah.
-Dan para nabi melukiskannya isi kitab-kitab suci itu yang disebut Al Quran itu pada syiar-syiar Allah di-manasik haji, tawaf Kabah, sa’i Shafa-Marwa, wukuf Arafah, mabit Musdalifah dan jamarat Ula, Wusta, Aqaba. Pembuktiannya diantaranya adalah dari do’a nabi dihajar aswad sebelum tawaf:
1. Kami beriman kepada-Mu (Allah), kami membenarkan kitab-Mu (Allah). Konteks “Tawaf” dll. disebut Al Quran.
2. Do’a setentang pintu kabah: Inilah tempat haram-Mu (Masjidil Haram). Pertanyaannya: Apakah pengertian yang disebut Masjidil Haram itu masih rahasia ?
3. Seluruh hadits konteksnya wajib kearah Al Quran ini. 
-Jadi yang salah selama 1400 tahun setelah nabi wafat, manusia mengkontekskan maksud ayat-ayat kitab-kitab suci tersebut diatas, arah kepada khilafiah pendapat-pendapat orang-orang Arab (sesuai At Taubah (9) ayat 97) kepada mazhab, fiqih, dan lain sebagainya sampai kefatwa pemuka-agama (katanya “ulama"). Inilah ramalan nabi bahwa umatnya akan terpecah 73 firqah, nasrani terpecah 72 firqah, yahudi terpecah 71 firqah.
-Untuk mencari kebenaran hakiki itu yang satu (An Nahl (16) ayat 93) kembali semula wajib ber-"hermeutika" dalam artian bukan kitab suci yang mengandung Al Quran yang dikritik, akan tetapi pandangan manusia asal Arab yang salah persepsinya terhadap kepada kitab-kitab suci selama 1400 tahun lebih yang harus
di “hermeutikan”.
-Cara jalan satu-satunya dan tiada duanya adalah wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan Allah menurunkan HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB untuk memenuhi janji-Nya sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53.(Hadits: kembali mengikuti nabi dan keluarga dan sahabat, tingkat kenabian semuanya sesuai Ar R’ad (13) ayat 38, Al Ahzab (33) ayat 6).
-Mudah-mudahkan anda Sdr. ADI adalah pembawa Hari Takwil Kebenaran Kitab atau yang lainnya dan apabila hal ini datang kepada anda, bereslah semuannya (sesuai An Nahl (16) ayat 93),
perselisihan diantara agama-agama (sesuai Al Baqarah (2) ayat 113) dan perpecahan didalam agama (sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54, yudas 1:18,19,20,21).
-Sekian dahulu, lain kali dilanjutkan.

Wasalam, Soegana gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Posted by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  on  07/30  at  03:27 AM

Pertanyaan yang sulit untuk dijawab akan tetapi Komentar cerdas:logis dan wajar untuk dipertanyakan adalah Siti Khadijah dengan Muhmmad sebelum turun wahyu adalah seorang yang baik, patonah, sidik, amin dan lain sebagainya melaksanakan pernikahan dengan cara ritual agama apa dan mereka berdua beragama apa, sedang waktu itu agama Nasrani adalah yang paling kemudian.

jawaban: Secara tidak langsung penulis ini hendak menggiring bahwa Muhammad tidak kawin secara islam karena islam dipersepsikan baru ada setelah kerasulan Muhammad pada usia 40 tahun. Hebat memang jebakan ini, tapi dangkal dan pura2 tidak paham dengan islam. Ini sebenarnya sama dengan model pertanyaan bagaimana Ibrahim menikah. ha ha ha ha ha. benar-benar pertanyaan lucu yang dicoba dianggap serius. orang ini perlu mengaji di surau2 di minangkabau karena ia hanya butuh ilmu mantik, yang sudah katam bagi orang minang.

Posted by irsad  on  07/28  at  04:57 PM

dakwah Islam yang masuk ke Indonesia dengan cara ramah, sejuk dan santun merupakan bukti bahwa Islam memang demikian. Akan tetapi kondisi masa itu umat Indonesia belum Islam. nah, kalo sekarang masih harus rela dengan pendekatan mistik dan berkolaborasi dengan mistik2 itu, jadi dimana letak keostikan Islam itu..apakah mazhab Indonesia yang sdr maksud itu bisa mewakili heterogenitas Indoensia. mazhab madura Aja lum beres..terus, kalo di bilang harus tidak formalistik, justru Islam yang di Organisasi pak Ala itu yang formalistik, simbolistikk...apa itu..pak Ala yg tau..

Posted by Herman  on  07/27  at  12:39 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq