Vocal Minority - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
02/09/2001

Vocal Minority

Oleh Burhanuddin

Persentuhan Islam dengan sekulerisme, dalam sejarahnya, adalah pertarungan antara doktrin ideal dengan realitas. Pengalaman Turki menunjukkan bahwa Kemal Ataturk terlalu “bernafsu” mencangkokkan ide sekuleristik itu pada masyarakat yang secara kultural memiliki resistensi tinggi. Indonesia, sejak “zaman baheula,” sudah tercerahkan oleh debat publik mengenai tema sensitif ini, bahkan jauh sebelum Cak Nur berpolemik dengan Mohammad Roem, Prof. Rasyidi hingga Daud Rasyid. Para founding fathers kita: Soekarno yang berdebat panas dengan M. Natsir soal “api vis-à-vis abu Islam” hingga Mohammad Hatta yang menurut sebagian kalangan fanatik dicap “pengkhianat” karena menghilangkan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Jurgensmeyer, dalam magnum opus-nya, Nasionalisme Religius
Versus Nasio-nalisme Sekuler
, menyatakan bahwa sekulerisme adalah hadiah
terbesar dari dunia Kristen. Tentu saja, Kristen yang dimaksud adalah tradisi
Lutherian —yang oleh Samuel P. Huntington disebut paling potensial menyemai
benih demokrasi.

Persentuhan Islam dengan sekulerisme, dalam sejarahnya, adalah
pertarungan antara doktrin ideal dengan realitas. Pengalaman Turki menunjukkan
bahwa Kemal Ataturk terlalu “bernafsu” mencangkokkan ide sekuleristik itu pada
masyarakat yang secara kultural memiliki resistensi tinggi. Indonesia, sejak
“zaman baheula,” sudah tercerahkan oleh debat publik mengenai tema sensitif
ini, bahkan jauh sebelum Cak Nur berpolemik dengan Mohammad Roem, Prof. Rasyidi
hingga Daud Rasyid. Para founding fathers kita: Soekarno yang berdebat
panas dengan M. Natsir soal “api vis-à-vis abu Islam” hingga Mohammad
Hatta yang menurut sebagian kalangan fanatik dicap “pengkhianat” karena
menghilangkan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Kalau dirunut jauh ke belakang, Nabi Saw —yang menjadi sumber
tradisi kedua setelah Al-Qur’an— mempunyai sejarah yang bertolak belakang
dengan Yesus. Yesus adalah figur pembebas dari “gembala-gembala” yang tertindas
yang justru dikejar-kejar penguasa. Pengalaman Nabi Saw menunjukkan dua fakta:
fase Mekkah di mana beliau hanya memiliki otoritas spiritual menunjukkan
kegagalan dakwah, sedang fase Madinah di mana beliau tidak hanya berbekal
otoritas spiritual, tapi juga dibaiat sebagai pemimpin pemerintahan menunjukkan
kesuksesan dakwah.

Hal itulah yang dibaca sebagai keterkaitan agama dengan negara (al-diin
wa al-daulah
), hingga orang sekaliber Yusril Ihza Mahendra memberi analogi;
memisahkan Islam dengan politik bagaikan menceraikan gula dari manisnya. Bagi
kelompok yang percaya pada argumen ini, negara dilihat sebagai instrumen untuk
menubuhkan (embodied) syariat Islam. Demonstrasi yang baru-baru ini
dilakukan Front Pembela Islam, Laskar Mujahidin dan Persaudaraan Pekerja Muslim
Indonesia (PPMI) bertitik tolak pada argumen ini.

Alih-alih mereka memikirkan realitas sui generis Indonesia
yang dibingkai dari kemajemukan background agama, kultural, ras dan
etnik, kelompok-kelompok tersebut juga menafikan pluralitas di antara kelompok
Islam. Muslim Indonesia tidak monolitik. Muslim disini adalah sebuah gambaran
masyarakat yang menjunjung tinggi kemajemukan dan menghargai kearifan
lokal-tradisional. Muslim “jenis” ini tidak berambisi menyelesaikan persoalan
“di sini dan kini” dengan perspektif tradisi Arab yang kental, apalagi yang
cenderung anakronis. Mereka adalah mayoritas diam (silent majority),
yang hanya bersuara ketika pemilu digelar. Fakta lagi-lagi berbicara; Pemilu
1999 menunjukkan kekalahan telak partai-partai Islam. Itu berarti mereka yang
teriak-teriak soal syariat Islam adalah vocal minority yang tidak
memiliki akar di masyarakat. Wallahu a’lam!

02/09/2001 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Kalau kita mau setback ke sejarah hidupnya peradaban2 dunia, sesungguhnya vocal minoritylah yang selalu mengusung kebenaran dan akhirnya sukses menjadi vocal mayority.

Lihat nabi Isa dengan golongan hawariyyunnya, baca sejarah nabi Muhammad yang didukung oleh minoritas militan, tengok pula kebangkitan Eropa yang dimulai dengan sosok2 yg merupakan kelompok minoritas pemikir dan ilmuan yang berani melawan hegemoni gereja.

Nah, apakah kita masih menilai kekalahan partai Islam berarti konsep yang diusung yaitu menegakkan negara Islam atas dasar hukum syariah tidak relevan dengan zaman, atau justru pendapat yang menyalahkan politik Islam adalah ekspresi keputusasaan semata?

Mari fikir kembali. Apakah rela perpolitikan kita umat selalu dipegang oleh sosok yang tidak ngerti agama, dan hanya memikirkan kemaslahatan politik semu duniawi, tanpa melihat target2 lebih besar dari dakwah Islam?
-----

Posted by june hard  on  03/07  at  04:03 AM

Adalah fakta bahwa di Indonesia partai Islam dan suara pendukung syariat Islam minoritas secara kuantitatif.  Mengapa? Sebenarnya bukan persoalan klaim kebenaran ideologis, melainkan pendekatan kultural yg dilakukan tidak cukup elegan. Nilai-nilai Islam itu universal, dan tidak berarti identik dengan realitas kultural Arab, di mana Islam lahir, tumbuh, dan berkembang. Saya seorang muslim yang tidak terikat mazhab apa pun. Mengamati kecenderungan gerakan Islam politik, jujur, saya tidak simpati. Cita-cita syariat Islam, negara Islam, dan lain-lain justu setback. Ide-ide ini menjadi gagal ketika dihadapkan pada realitas global kekinian. Dunia yang bebas, modern, dan sekuler.  Di Indonesia, sebagian besar masyarakat masih miskin secara ekonomi dan sosial. Solusinya bukan lah konstitusi Islam. Namun kebijakan pendidikan. Masyarakat yang terdidik, akan mampu menghadapi perubahan global. Isu-isu ini yang semestinya diperjuangkan. Anehnya, bicara soal pendidikan, gerakan Islam malah sibuk pro kontra sejauh mana proporsi pendidikan agama dalam UU Pendidikan Nasional. Bukan mengkaji kurikulum secara komprehensif.  Kesimpulannya, bukan nilai-nilai Islam yang perlu direformasi. Islam sudah amat sempurna, luhur, dan visionis. Mindset pelaku-pelaku Islam politik ini lah yang harus dirombak total. Sehingga nilai-nilai Islam mampu hidup dan bersinergi dengan budaya Indonesia. Bagaimana prospek Islam politik dalam Pemilu depan? Analisa saya tidak jauh berbeda dengan Pemilu lalu. Bahkan bisa jadi menurun drastis.

Posted by e setiadi  on  09/25  at  04:10 AM

Jika partai Islam dan suara pendukung syariat Islam adalah vocal minority, apakah itu berarti suara tersebut salah?

Apakah realitas majemuk umat Islam menyebabkan syariat Islam mustahil, tidak boleh, dan tidak perlu diusahakan untuk berlaku?

... pikirkan dan hati-hatilah membuat keputusan…

Posted by Isnan Zulfida  on  09/12  at  04:10 PM

Semoga Allah memberkati kita semua, amien!

Salam sejahtera

Saya selalu menasbihkan Islam dengan matahari. Seperti matahari, maka ia selalu akan menaburkan benih berkah yang melimpah. Ghazali bilang -Imam terfavorit saya-, andai saja apa yang tersinari oleh cahayanya [malah] mengkerut-keriput maka sejatinya, nurani yang menjadi stamina inti segala pikiran itulah yang sedang ‘bermasalah.’ Seperti seorang buta saja, tak bisa melihat tetapi hanya akan mampu melihat dengan mata hati nurani yang jernih, bening.

Islam yang saya yakini identik dengan kepluralitasan yang sempurna. Saya merasa jatuh cinta kepada Islam justru karena adanya kabel elastisitas semua komponen Islam ini. Sehingga mampu bertahan dalam rentang skala berabad-abad.

Syari’ah, adalah salah satu komponen-komponen itu. perlu disebut bahwa ia memiliki dua tubuh yang berlainan, ‘variabel konstant’ dan ‘variabel berubah-ubah.’ Saya pikir ini penting saya sebut disini agar jangan lagi ada pengkaburan sekaligus penggenaralisasian tak beraturan terhadap ‘syumuliah’ Islam. kesatuan pondasi hukum dalam fokus yang seharusnya lalu jangan diinterpretasi sebagai pencegah, penggugat, atau peruntuh tiang kemajemukan yang ada. penghargaan terhadap keberagaman apapun, justru dalam porsi yang seimbang dinilai sebagai potensi keistimewaan tertunggal dalam Islam.

Lalu masalahnya adalah “how long we prepare our selves 4 it?” saya pikir, [lagi-lagi] fleksibelitaslah yang dalam hal ini menemukan konvergensinya. Sejauh kita belum siap secara mental, kultural, dan struktural maka jangan coba ditubuhkan secara paksa dalam kerangka struktural yang bobrok. Alih-alih mengangkat derajat tinggi Islam malah akan -secara tidak disadari- meng-abuse-nya dari dalam.

Pesan saya kepada rekan-rekan semua, tegakkanlah dahulu “Islam” di dadamu! [saya sertakan tanda kutip untuk membedakannya dari pemahaman Islam yang ‘membimbangkan.’]

Sekian, salam!

Posted by aby mikasyah  on  07/29  at  10:08 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq