Home > Kliping Media > Paron

Diadili di Yayasan Hira

Tabloid Paron No. 21, 28 September 1996

Sebuah pertemuan khusus diadakan diam-diam di rumah KH Zainuddin MZ, Rabu pekan lalu. Yang hadir, selain tuan rumah, ada Rhoma Irama, Setiawan Djodi, WS Rendra, KH Noer Muhammad Iskandar, dan H Bagus Sariyanto. Mereka dikenal sebagai pimpinan Yayasan Hira.

Pertemuan silaturrahmi itu meminta "pertanggungjawaban" Rhoma, Ketua II Yayasan Hira, atas pencantuman namanya dalam daftar calon legislatif Golkar. Orang pun menduga-duga bahwa Yayasan Hira terancam pecah. Pasalnya, sejak awal yayasan itu berdiri, ada semacam kesepakatan untuk menjaga sikap netral terhadap kekuatan politik. "Tidak di mana-mana, tapi ada di mana-mana," begitu seringkali KH Zainuddin MZ, Ketua Umum Yayasan Hira, menegaskan sikapnya.

Benarkah Yayasan Hira pecah gara-gara Rhoma berlindung di bawah Partai beringin? "Kami hanya meminta penjelasan dari Rhoma. Kami tetap solid," kata Djodi, Ketua I, mewakili rekan-rekannya, seusai pertemuan. Pengusaha dan pemusik flamboyan ini menegaskan, pilihan Rhoma adalah hak politik pribadi.

Budayawan WS Rendra pun tampaknya mendukung pilihan Rhoma untuk dicalonkan oleh Golkar. "Saya percaya, Rhoma itu orangnya baik dan jujur," kata Rendra, Ketua Bidang Budaya Yayasan Hira.

Rhoma sendiri sebelumnya mengaku coba berkonsultasi dengan KH Zainuddin MZ dan KH Noer Muhammad Iskandar (Pimpinan Pondok Pesantren Ashshiddiqiyyah, Kedoya, Jakarta Barat). Mereka gembira dan mendukung," kata anak purnawirawan ABRI itu kepada Paron. Komitmen Yayasan Hira, lanjut Rhoma, bukan pada persoalan netralitas. "Tapi li’izz al-Islam wal-Muslimin," ia menambahkan.

Yayasan Hira adalah organisasi sosial keagamaan yang didirikan pada 17 Agustus 1991. Yayasan ini cukup unik. Pendirinya, gabungan santri dan seniman. "Juga komentator sepakbola, seperti Dali Taher," kata KH Zainuddin MZ. Dali Taher menduduki posisi Humas.

Boleh dibilang para pendiri Yayasan Hira ini memiliki "umat" masing-masing. Rhoma dengan penggemar fanatik dangdutnya, KH Zainuddin MZ yang dikenal sebagai da’i sejuta umat, WS Rendra dengan "umat teaternya", dan KH Noer Muhammad Iskandar dengan warga pondok pesantren.

Kedahsyatan "umat" Yayasan Hira ini telah dibuktikan dalam tabligh akbar, akhir Januari lalu. Sekitar 300 ribu orang memadati Parkir Timur Senayan, untuk menonton gabungan pertunjukan Rhoma Irama dan Sonet, Djodi dan Kantata Takwa, ceramah KH Zainuddin MZ, dan pentas puisi WS Rendra.

Di deretan Dewan Pembina Yayasan Hira tercantum nama orang-orang kuat di bidangnya masing-masing. Ada Azwar Anas (Ketua), KH Idham Chalid, KH Hasan Basri, KH Ali Yafie, Prof Dr Sri Edi Swasono, dan Probosutedjo.

Tapi, Rhoma harus pentas sendiri di panggung kampanye 1997 nanti. Masihkah pria berjenggot ini menjadi macan kampanye sebagaimana ia tunjukkan ketika mewakili PPP pada 1977? Kita lihat saja.


Laporan terkait:


Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.

comments powered by Disqus

Website ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn.