Sandiwara Mengecam Terorisme? - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
27/12/2005

Sandiwara Mengecam Terorisme?

Oleh Luthfi Assyaukanie

Bagi kelompok yang terakhir ini, melakukan perusakan dengan mengebom, termasuk dengan meledakkan diri, adalah bagian dari jihad. Pengakuan para pelaku bom Bali I seperti Imam Samudra dan Amrozi, sangat terang-benderang bahwa mereka melakukan hal itu karena panggilan jihad.

Ada yang luput dari perhatian kita di tengah gencarnya berita tentang terorisme akhir-akhir ini. Beberapa hari lalu (4/12), sekelompok organisasi Islam “garis keras” mengadakan pertemuan yang menurut saya cukup penting, khususnya karena mereka mendiskusikan tema yang sangat relevan, yakni tentang konsep jihad.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh, antara lain, MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), FPI (Front Pembela Islam), dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), para aktivis Islam itu berpandangan bahwa jihad tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang tidak manusiawi, seperti meneror dan melakukan bom bunuh diri.

Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di tanah air selama ini, menurut mereka, bukanlah jihad, dan karenanya para pelakukanya bukanlah syahid (martir) yang mendapatkan ganjaran surga. Sebaliknya, para pelaku bom bunuh diri itu adalah penjahat yang harus dikecam.
Dari sekian banyak pendapat, yang menarik perhatian saya adalah pandangan Achmad Junaidi Ath Thayyibi, salah seorang ketua HTI, yang mengatakan bahwa pelaku peledakan bom di Indonesia tak sesuai dengan hukum Islam, sebab aksi-aksi itu hanya menyengsarakan rakyat sipil. Menurut dia, dalam Islam, para pelaku teroris yang tertangkap harus dihukum potong tangan atau disalib untuk mempermalukan para pelakunya.

Pandangan semacam Ath Thayyibi itu penting, karena selama ini para tokoh Islam cenderung ragu-ragu dalam mengambil sikap terhadap terorisme dan bom bunuh diri. Bahkan sebagian di antara mereka tampak mendukung, khususnya jika obyek pengeboman adalah tempat-tempat yang dianggap musuh Islam, seperti pengeboman WTC di Amerika atau pengeboman kafe dan diskotek di Bali.

Konsep Kabur

Jihad adalah sebuah konsep Islam yang sangat kabur karena telah menjadi topik wacana berbagai kelompok Islam. Oleh kalangan moderat, jihad diartikan bukan hanya perang, tapi juga berbagai aktivitas yang mengarah kepada kebaikan. Pendidikan, pengobatan, serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya yang dapat memberikan maslahat bagi masyarakat juga bisa dianggap sebagai jihad.

Sementara itu, oleh sebagian aktivis Islam, jihad diartikan sebagai perjuangan fisik bersenjata melawan musuh-musuh Allah. Tidak jelas benar apa yang mereka maksudkan dengan “musuh-musuh Allah.” Tapi, dalam praktinya, “musuh-musuh Allah” yang mereka maksudkan adalah tempat-tempat publik yang secara langsung maupun tak langsung berkaitan dengan dunia Barat dan kemaksiatan, seperti kedutaan besar asing (milik orang-orang Barat kafir), kafe-kafe dan bar (berkaitan dengan maksiat).

Bagi kelompok yang terakhir ini, melakukan perusakan dengan mengebom, termasuk dengan meledakkan diri, adalah bagian dari jihad. Pengakuan para pelaku bom Bali I seperti Imam Samudra dan Amrozi, sangat terang-benderang bahwa mereka melakukan hal itu karena panggilan jihad.

Dualisme makna jihad memang bukan persoalan baru. Dalam wacana pemikiran Islam, ada dua makna jihad yang selalu dipertentangkan, yakni antara jihad dengan cara-cara damai (silmi) dan jihad lewat peperangan (harbi). Sepanjang sejarah Islam, kaum Muslim bersaing dalam memperebutkan kedua makna ini. Sementara kaum “Muslim moderat” berusaha memberikan citra positif terhadap istilah jihad, kaum “Muslim radikal” memberikan citra yang keras dan cenderung negatif terhadap konsep ini.

Jihad Negatif

Menarik untuk dicatat bahwa sejak 50 tahun terakhir, jihad dalam maknanya yang negatif, yakni peperangan, kekerasan, dan terorisme, mendominasi wacana dan pentas politik kehidupan kaum Muslim di seluruh dunia. Dari Mesir hingga Indonesia, kata “jihad” selalu digunakan dan diasosiasikan dengan kelompok atau organisasi radikal.
Di Mesir ada kelompok “al-Jihad al-Islami” yang dikenal, salah satunya, karena berhasil membunuh presiden Anwar Sadat; di Pakistan ada “Harakat ul-Jihad-i-Islami” yang populer karena aksi-aksi kekerasannya; di Indonesia ada “Laskar Jihad” yang dikenal karena keterlibatannya dalam konflik agama di Ambon.

Di dunia Barat dan di dunia luar Islam secara umum, jihad dalam pengertian negatif lebih sering ditemukan ketimbang yang positif. Bagi sebagian orang-orang non-Muslim, jihad bahkan identik dengan perang dan kekerasan.

Kelompok-kelompok Islam keras yang menggunakan nama “jihad” pada organisasi mereka tentu saja sangat berperan penting dalam mendistorsi makna jihad. Tapi, pada hemat saya, mereka bukan satu-satunya elemen dalam menyumbangkan makna pejoratif terhadap jihad. Para tokoh Islam garis keras secara umum juga turut menyumbangkan citra negatif terhadap konsep ini.

Sebelum polisi menggrebek dan menembak mati gembong teroris Azahari, misalnya, kita hampir tak pernah mendengar ada tokoh Islam garis keras yang secara terbuka mengecam terorisme. Mereka bahkan cenderung mendukung atau paling tidak menyetujui tindakan-tindakan pengeboman yang terjadi. Sebagian dari mereka bahkan menyatakan bahwa itu adalah salah satu bentuk jihad dalam melawan Amerika dan Barat.

Sandiwara

Karena itu, pertemuan kelompok-kelompok radikal dengan keputusan mereka menyatakan bahwa terorisme dan bom bunuh diri bukan bagian dari jihad merupakan sebuah langkah maju, meski sangat terlambat. Saya katakan terlambat karena pernyataan ini dikeluarkan setelah begitu banyak peristiwa kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan jihad.
Soal keterlambatan pernyataan itu juga mengundang kecurigaan sebagian orang. Ada yang mencurigai bahwa kelompok-kelompok radikal itu mengeluarkan pernyataan simpatik hanya alasan politis belaka, yakni untuk “cuci tangan” agar mereka tak dikaitkan dengan kelompok Azahari dan para teroris lainnya. Di tengah gencarnya polisi memburu para pelaku teroris, kelompok-kelompok radikal sepertinya ingin mencari selamat dengan ikut-ikutan mengecam para teroris.

Terlepas apakah pernyataan para tokoh Islam radikal itu lahir dari hati nurani dan kejujuran, bagi saya, pernyataan positif itu tetap penting, paling tidak untuk mendukung kampanye anti terorisme dan kekerasan atas nama agama yang dilakukan oleh pemerintah dan tokoh-tokoh Muslim moderat selama ini. Publik akan menilai sendiri apakah para tokoh Islam radikal itu sedang bersandiwara atau memang betul-betul berbicara atas nama kejujuran dan hati nurani. []

27/12/2005 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

jihad memang kata-kata yang semenjak bom bali membuat saya takut!! padahal sebelum itu kata jihat saya artikan sebagai perjuangan . perjuangan menyebarkan agama islam yang saya pilih dengan jalan damai!! namun setelah kasus bom bali ditambah lagi insiden monas keyika mendengar kata jihat saya harus menyeleksidulu jihat yang mana yang dimaksud?

Posted by zaini  on  07/21  at  09:28 AM

Saya mengamati saat ini di Indonesia banyak terjadi kasus pengerahan massa dengan mengatasnamakan agama.  Bahkan pengerahan massa tersebut banyak yang berakhir dengan kekerasan. Sayangnya, kasus kekerasan tersebut yang saya kategorikan sebagai teror atas nama agama tersebut mayoritas dilakukan oleh umat Islam. Memalukan bukan? sebagai contoh sepele dekat tinggal saya, rencana pendirian gereja di sekitar tempat tinggal saya di tanggerang yg kebetulan banyak orang china (dan kebetulan non muslim) mendapat protes dari warga sekitar komplek, bukan warga komplek.  Tapi akhirnya mereka punya solusi sendiri, dengan memakai Ruko sebagai tempat ibadah. Buat pengamat JIL. Mengenai ikhwanul muslimin, saya simpati dengan perjuangannya.  Tapi tahukah bahwa saya merasa bahwa sekarang Ikhwanul Muslimain di Indonesia sudah bertindak tidak adil (walaupun partainya memakai kata adil) dengan membatasi bahkan mencoba menghapus ruang pemikiran kelompok islam yang berbeda. Jika anda melihat daerah di luar tempat tinggal anda (saya asumsikan bandung sekitarnya), pernahkah anda mengetahui bahwa mesjid di daerah-daerah dipakai sebagai ajang sesat-menyesatkan kelompok islam lain dengan kader-kader partai tertentu yang saya lihat adalah berdasarkan ideologi Ikwanul Muslimin. Mungkin implementasi ajaran Ikhwanul Muslimin sendiri telah melenceng dari tujuan agama islam setelah bergerak di area politik. Berbagai kelompok yang ajaran dasarnya berdasar dari Hasan Al Bana malah melakukan tindak kekerasan dan mencoba melibas kelompok yang tidak sepaham. Sudah saatnya kita melihat diri kita sendiri, apakah ajaran islam yang saya pahami dan amalkan memberikan ruang kebebasan bagi agama lain, memberikan ruang bagi saudara sesama islam yang tidak sepaham. Begitu pula bagi yang merasa berasal dari ikhwanul muslimin. Indonesia bukan Mesir, atau daerah timur tengah, bersikaplaha adil, berilah ruang bagi islam yang berciri Indonesia, atau lainya.
-----

Posted by iman  on  03/05  at  08:03 PM

Islam Yes. JIL no.... JIL=ha...ha..lucu deh. Ilmu belum nyampe udah koar-koar.... tiarap dulu mas sebelum ilmunya mantap

Posted by Izzatulisalam  on  09/09  at  10:09 PM

Saya sangat setuju dengan pendapat Anda. Selama ini saya sering merasa heran, mengapa kok mereka (Islam radikal) yang katanya tahu benar masalah Islam kok malah menghancurkan Islam itu sendiri. Apalagi dengan jihad mereka yang belum tentu benar menurut agama. Tetapi mereka yakin sekali bahwa ini adalah panggilan Allah dan mengatasnamakan Islam. Maju terus, Bung!

Posted by Kolani  on  03/27  at  04:03 AM

Dunia ini khan panggung sandiwara - (kutipan textual dari literature grup musik God Bless). Jadi bersandiwara nampaknya syah-syah saja. Apalagi jika sandiwara itu untuk menyelamatkan kehidupan pengikutnya dari kejaran “sana-sini” padahal mereka mungkin tidak terlibat secara langsung, hanya ikatan ukhuwah saja. Jadi ya sudahlah, minimal ada satu langkah maju bahwa pengerusakan demi pengerusakan itu akhirnya hanya akan berujung pada level yang lebih besar lagi, seperti memelihara anak macan kalau tumbuh setiap saat bisa memakan tuannya sendiri. Sama seperti peribahasa guru kencing dengan mercon murid kencing dengan bahan peledak C4.

Pis ajalah dan berbenah diri untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Posted by tatag triyahyo adi  on  02/03  at  07:03 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq