Ahmad Abdul Haq


Tahun Indonesia Kreatif 2009

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Sabtu, 17 Januari 2009 17:10 WIBTahun Indonesia Kreatif 2009

Tahun Indonesia Kreatif 2009 Saya senang sekali ketika mendengar kabar tahun ini ditetapkan sebagai Tahun Indonesia Kreatif. Kreatif bukan sebuah kata yang baru namun baru 2 tahun terakhir ini mendadak menjadi seksi dan diperbincangkan dimana-mana. Berbagai media menulis dari berbagai angle.

Kenapa seksi? Karena selain Indonesia memang gudangnya kreativitas, baru-baru ini saja kita sadar betapa besarnya peluang ekonomi di industri ini. Kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2002-2006 kontribusi ekonomi kreatif, adalah 6,3% dari total nilai PDB nasional. Dari segi penyerapan tenaga kerja jumlah orang yang bekerja pada sektor ekonomi kreatif sebanyak 5,4 juta dari total jumlah tenaga kerja Indonesia 93,3 juta, atau 5,8% dari total tenaga kerja.

Saya sendiri pertama kali tahu soal ekonomi kreatif saat saya bertanding di London untuk International Young Creative Entrepreneur Award yang diselenggarakan oleh British Council. Inggris mengangkat industri kreatif sebagai salah satu industri andalan setelah pabrik-pabrik yang dulunya menjadi primadona terpukul oleh pabrik-pabrik asal China yang mampu memberikan qualitas yang sama dengan harga yang relatif murah. Akhirnya Inggris terjebak perang komoditas dan kalah. Untung mereka segera sadar bahwa dulu mereka sebenarnya banyak mendapatkan penerimaan pajak dari musik misalnya… sebut saja Rolling Stones, The Beatles dan masih banyak lagi musisi Inggris yang berjaya di dunia termasuk di Amerika. Dari situ, lahirlah pemetaan bahwa industri kreatif bisa menjadi salah satu sektor industri yang bisa diandalkan.

Industri kreatif memang sexy karena pertambahan nilai ekonomi yang dihasilkan cukup signifikan. Ambil contoh industri musik dimana sebuah band yang baru mengeluarkan 1 album bisa mendadak kaya raya seperti Sheila on 7 asal Yogyakarta yang sukses menjual lebih dari 1 juta kopi. Belum lagi dari pendapatan manggung dan iklan.

Keterpurukan lantaran pembajakan yang makin merajarela, tidak menyurutkan kreativitas para pemusik. Muncul teknologi bernama Ring Back Tone. Samsons band pendatang baru langsung sukses menjual jutaan RBT. Puncaknya di tahun lalu, dimana band pendatang baru Vagetoz sukses menjual 5 juta RBT dari 1 album perdana mereka.

Seandainya kita hanya kalikan Rp. 7000 maka band tersebut secara gross sudah menghasilkan 35 Milyar rupiah. Berarti mereka sudah menyumbang pajak 3,5 Milyar tahun lalu.

Industri fashion berkembang dengan pesat. Bukan saja industri tekstil dimana kita hanya menjual bahan, kini kita sudah semakin kreatif memberi nilai tambah untuk tekstil tersebut sehingga bisa menjual dengan harga yang lumayan.

Lihat saja KickFest di Bandung tahun lalu mampu menghasilkan sales lebih dari 16 Milliar dalam tempo 3 hari exhibition dari para Distro papan atas asal Jawa Barat. Dan jangan heran kalau ternyata para pengusaha distro ini dulunya banyak yang mulai dengan modal Rp. 500.000 saja.

Kalau melirik industri film, tahun lalu menjadi tahunnya film nasional. Ayat Ayat Cinta menjaring lebih dari 3 juta penonton di awal tahun dan di akhir tahun hadir Laskar Pelangi yang menembus 4 juta penonton.

Kesuksesan film tidak lepas dari kesuksesan industri penerbitan. Sebut saja Habiburahman El-Shirazy yang sukses dengan novelnya Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Lalu Andrea Hirata dengan tetralogy Laskar Pelangi. Konon para novelis kini sudah sama seperti Rockstar yang saya sebut diatas (Sheila on 7, Samsons dan Vagetoz) mereka menerima ratusan juta sebagai advance royalty novel mereka. Bila novelnya meledak, mereka akan menerima tambahan lagi dari royalty.

Akan semakin banyak penulis baru yang lahir, seiring dengan kemajuan teknologi. Misalnya Raditya Dika yang lahir dari sebuah blog. Mendapat kontrak novel dari Gagas Media dan kini novel tersebut Kambing Jantan sedang diangkat menjadi film oleh sutradara Rudi Sujarwo.

Ada teman saya yang meninggalkan pekerjaan utamanya di sebuah perusahaan kosmetik international karena blog yang tadinya dikerjakan sambilan kini mampu meraup penghasilan yang lebih besar dari gaji bulanannya. Selain itu ia bisa bekerja dari rumah dan dekat dengan anaknya yang masih kecil. Jangan heran kalau nanti semakin banyak minipreneur.

Teknologi memang merubah segalanya. Lewat blog sekarang ibu rumah tangga berjualan kue ulang tahun. Setiap membuat design baru ia upload di blog dan jualannya berjalan lancar.

Web-designer muda-muda berbakat yang mampu menghasilkan penghasilan yang tidak sedikit.

Wah tidak akan habis-habis kalau harus membicarakan kesuksesan para creative entrepreneur di Indonesia. Yang pasti kesempatan terbuka luas. Follow your passion. Kalau kata Nugie: “Ikuti Lentera Jiwamu”

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy